
Selamat! Membaca 🤗
Via yang tengah berbicara dengan kedua orang tuanya seketika panik setelah mendapat kabar dari Rania.
"Astaghfirullah! Kenapa Alvian bertindak sampai sejauh ini,"kata Aminah yang juga ikut panik dengan kabar yang di sampaikan Via.
"Sepertinya aku harus kesana sekarang Bu,"
"Pergilah. Tenangkan kakakmu."
"Ayah akan mengantarmu,"sahut Rohim.
"Tidak perlu Yah, bukankah Ayah harus ke Toko, karena sebentar lagi Pak Waruk datang. Kasihan beliau sudah jauh-jauh datang tapi tidak bisa bertemu dengan Ayah, jika Ayah mengantarkan aku, biar aku pergi sendiri saja,"kata Via dan ia beralih pada Aminah.
"Aku titip Satria ya Bu, mungkin Mas Rahman tidak bisa menjaga Satria karena ia sedang sakit, tapi jika dia sudah bangun Ibu suruh dia pulang saja."Kata Via.
"Kau yakin mau pergi sendiri?"
"Yakin Bu, Yah. Di sana juga ada Mas Alvian kan, jadi Ibu dan ayah tidak perlu khawatir aku akan baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu, berhati-hatilah di jalan."
Tujuan Via datang ke sana bukan karena khawatir dengan Jubaidah atau Rohmah, dia lebih mengkhawatirkan Alvian, khawatir lelaki itu berbuat yang lebih anarkis lagi, dan tentu akan merugikan dirinya sendiri, Via sangat tahu seperti apa sifat Alvian, lelaki itu sangat sulit dikendalikan dan memiliki emosi yang tinggi, sangat berbahaya jika dihadapkan dengan wanita seperti Jubaidah yang sama-sama memiliki temperamen yang buruk.
Via masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas, namun ketika ia membuka pintu ia mendapati Rahman yang sudah terbangun dari tidurnya, dan lelaki itu tengah duduk di pinggir ranjang dengan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing dan wajahnya pun terlihat sangat pucat.
Via tidak memperdulikan Rahman, bahkan untuk menyapa pun tidak ia lakukan, Via hanya melihat Satria dan anak itu pun masih tertidur pulas. Setelahnya Via mengambil tas yang tergantung di sisi lemari dan ia bergegas untuk keluar.
"Kau mau ke mana?"dengan cepat Rahman menahannya.
"Aku mau keluar sebentar Mas, kau sarapan dan minum obat, setelah itu cepat pulang."Sahut Via.
Namun Rahman masih menahan tangannya.
"Pergi ke mana?"
Via yang tidak mau banyak berbicara dengan Rahman menunjukkan pesan yang ia terima dari Rania beserta video yang Rania kirim.
"Apa-apaan ini!"Rahman tentu saja terkejut melihat Ibunya yang histeris dan ada banyak polisi di rumahnya.
"Mas Alvian membawa polisi untuk mengusir Ibumu dari rumahku Mas, jadi aku harus ke sana untuk menenangkan Mas Alvian. Dan kau segeralah pulang untuk menenangkan Ibumu itu agar ia bisa secara baik-baik pergi dari rumahku tanpa harus membuat Mas Alvian marah."
"Via, apa kau yang meminta Mas Alvian mengusir Ibu?"
Via hanya tersenyum kecut, meskipun ia tidak pernah meminta apalagi menyuruh Alvian melakukan semua itu, tapi Via enggan untuk menjelaskannya pada Rahman, ia sudah tidak peduli lagi sekalipun Rahman salah paham padanya dan menganggapnya jahat atau kejam karena telah mengusir ibunya.
__ADS_1
"Terserah kau mau berpikir apa tentangku Mas, yang jelas aku harus segera ke sana dan membawa Mas Alvian pulang." Kata Via sambil menepis tangan Rahman yang masih menggenggam lengannya.
"Aku ikut!"Pinta Rahman.
"Baguslah, kau memang harus menenangkan Ibumu itu agar dia bisa menerima kenyataan jika rumah itu bukan miliknya, dan kau harus segera mencarikan tempat tinggal untuk Ibu dan kakakmu."
Kata Via kemudian ia melangkah meninggalkan Rahman yang masih terdiam di tempat.
"Bukankah kamu masih sakit Man."Kata Aminah yang mendengar jika Rahman ingin ikut bersama Via.
"Aku sudah baikan Bu, dan aku harus tetap ke sana untuk menenangkan Ibuku."
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan. Ibu sudah memesankan taksi online untuk kalian menuju ke sana."
"Kenapa Mas Rahman tidak naik motor saja, kau datang ke sini pakai motor kan Mas?"
"Via, Rahman sedang tidak sehat, tidak baik jika mengendarai sepeda motor,"sahut Rohim.
"Kenapa semua terlihat seperti membela Mas Rahman,"keluh Via dalam hatinya.
Namun ia kembali teringat dengan percakapannya tadi dengan Aminah dan Rohim, jika mereka harus membantu Rahman mengingat kembali masa lalunya dan ibu kandungnya. Setidaknya itu kebaikan yang terakhir kali mereka lakukan untuk mendiang ibu kandung Rahman, mengingatkan kembali Rahman pada Ibu yang telah melahirkannya sebelum Via dan Rahman benar-benar berpisah.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Di sepanjang perjalanan,
"Via!"
"Ada apa Mas? Apa kau ingin meminta agar Ibumu tetep tinggal di sana?"
"Tidak! Aku akan mencarikan tempat untuk Ibu, kau jangan khawatir soal itu."
"Baguslah!"sahut Via, yang terlihat seperti orang yang kejam karena membiarkan kakaknya mengusir ibu mertuanya. Namun Via tidak memperdulikan itu semua sekalipun Rahman marah dan benci padanya.
"Via, lihatlah aku. Kenapa kau terus mentap jalanan, apa jalanan itu jauh lebih menarik dariku?"
Via langsung menoleh, ia tidak menyangka jika Rahman bisa bicara seperti itu.
"Kau ini kenapa Mas!"
"Apanya yang kenapa?"Bingung Rahman.
Via menatap lekat Rahman, ada yang lain dari lelaki itu. Bisanya Rahman akan ketar-ketir jika Jubaidah dalam masalah, tapi apa ini! Dia nampak begitu tenang dan seperti tidak terjadi sesuatu pada Ibu kesayangannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa."Via segera membuang pandangannya.
Namun sesuatu yang tak terduga dilakukan oleh Rahman.
Lelaki itu menyandarkan kepalanya di pundak Via, sambil merengkuh kuat tangan istrinya.
"Mas! apa-apa ini!"
Via berusaha menjauhkan dirinya.
"Diamlah sebentar, kepalaku sakit dan aku lelah."Kata Rahman yang menahan Via dengan kuat.
"Kau lelah tapi masih bisa menahanku sekuat ini Mas."
"Tapi tidak harus seperti ini Mas, apa kau tidak malu!"
"Tidak!"sahut Rahman dengan entengnya.
"Suaminya sedang sakit ya Bu, kebanyakan suami memang seperti itu Bu, suka manja jika sedang sakit, jadi Anda tidak perlu malu sayapun sering seperti itu dengan Istri saya,"sahut Sopir taksi yang sejak tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan Via dan Rahman.
Rahman tersenyum mendengar ucapan Sopir taksi itu.
"Terima kasih Pak."
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Setelah 40 Menit.
Via dan Rahman tiba di kediamannya.
"Om Rahman! Tante Via!"teriak Putri dan segera berlari menghampiri keduanya.
Wajah anak itu nampak sangat ketakutan, mungkin karena beberapa polisi dan kegaduhan yang tercipta di sana membuat Putri ketakutan.
"Tidak apa-apa sayang!"Via segera menenangkan Putri dengan cara memeluknya, tentu saja ia tidak akan tega melihat anak kecil yang nampak syok seperti itu, karena biar bagaimanapun juga Putri tidak tahu apa-apa dalam persoalan keluarganya.
Suasana benar-benar sangat gaduh dengan Jubaidah yang terus saja berteriak bahkan wanita itu sampai mengambil sebuah benda tajam yang ia acungkan kepada polisi yang hendak membawanya pergi.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️