Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Untung Rahman Sadar.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Aku meminta ayah untuk menjempautku pulang, karena aku sudah memutuskan meminta bantuan ayah untuk membawaku keluar dari rumah ini, dengan begitu Mas Rahman pasti akan mengerti maksud kedatangan ayah.


Setelah menghubungi ayah, aku kembali bangkit dan mengambil koper besar yang ada di atas lemari pakaian, dan tanpa berpikir lagi, aku segera memasukkan semua pakaian aku dan Satria.


Setelah selesai dengan urusan pakaian, aku coba menghubungi Mas Rahman, agar segera pulang.


{Assalamualaikum, Mas. Bisa pulang cepat! Ayah dan Ibuku datang} Itulah pesan yang aku kirim pada Mas Rahman.


Namun seperti biasa, jika Mas Rahman tengah pergi bersama Selvi ia tidak akan mungkin membalas pesan dari ku, jangankan membalas di baca pun tidak.


Tidak masalah, yang penting aku sudah memberi tahunya kalau ayah dan ibuku hendak datang menjemputmu ku.


❄️❄️❄️❄️


"Astaghfirullah."Rahman mendorong Selvi sampai wanita itu terjerembab ke belakang.


Rahman hampir melakukan sesuatu yang mungkin akan membuatnya menyesal seumur hidup, ia kembali di sadarkan ketika bayangan Via dan Satria melintas di benaknya.


"Apa yang aku lakukan,"gumam Rahman, sambil memegangi kepalanya.


"Kau kenapa Man, kenapa mendorongku?"tanya Selvi dengan sangat kesal.


"Maaf Sel, apa yang kita lakukan salah."


"Salah apanya? Bahkan kita belum melakukan ciuman itu, kau sudah mendorongku, ada apa Man?"


Ya, mereka hampir saja berciuman. Atau mungkin bisa melakukan lebih dari itu jika Rahman tidak segera tersadar.


"Maaf Sel, aku harus pulang,"ucap Rahman dan ia ingin membuka pintu mobil.


"Pulang, tidak bisa seperti itu Man, kau belum mengantarku ke Toko kan?"


"Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu Sel, aku takut terjadi salah paham antara kita."


Melihat Rahman yang sepertinya merasa bersalah membuat Selvi semakin geram.


"Apa karena Via?"


'Ya, aku merasa sangat bersalah pada Via, meskipun ciuman itu belum terjadi antara aku dan Selvi, tapi aku tetep merasa bersalah karena aku sempat mengharapkan ciuman itu dengan Selvi,"batin Rahman.


"Rahman, kau jangan merasa bersalah seperti itu. Kita tidak melakukan apa-apa kan, Via juga tidak tahu apa yang kita lakukan di sini, seandainya kita melakukannya Via tidak akan tau, jadi lupakanlah Via, fokuslah denganku yang saat ini berada di hadapanmu, aku yakin kau juga menginginkan itu, bahkan lebih. Lakukanlah aku siap melakukan apapun,"ujar Selvi dan wanita itu mengalungkan tangannya di leher Rahman.


Bug.


Rahman kembali mendorong Selvi ke belakang.


"Selvi, apa-apaan ini. Apa kau sudah gila!"bentak Rahman dengan emosi.


"Gila! ya, aku memang tergila-gila padamu Man, dan aku sangat yakin kau juga menyukai dan menginginkanku kan,"ucap Selvi dengan nada menggoda, bahkan wanita itu sampai menyingkap dress merah yang ia kenakan sampai terpampang dengan jelas paha putih mulus yang ia miliki.


"Selvi apa yang kau lakukan!"Rahman semakin membentak Selvi.

__ADS_1


"Aku milikmu Man, aku tau, sudah sangat lamakan kau tidak melakukannya dengan Via, jadi, lakukanlah denganku,"kata Selvi yang semakin berani dengan menurunkan lengan dress yang hanya satu tali melingkar di pundaknya.


"Kau sudah gila Sel,"Rahman semakin marah, ia benar-benar tidak habis pikir jika Selvi bisa melakukan hal menjijikan seperti itu.


Bagaimana jika ada orang lain yang melihat mereka, pasti akan semakin rumit.


Rahman memaksa keluar dari mobil itu, meskipun berulang kali Selvi menahannya.


Rahman yang semakin geram dengan kelakuan Selvi, segera menghempaskan tubuh wanita itu sampai terjengkang ke belakang Lalu ia keluar dari mobil Selvi.


"Rahman!"


Bahkan teriakan wanita itu pun sudah tidak dipedulikan lagi oleh Rahman, ia tetap pergi meninggalkan wanita itu.


❄️❄️❄️


Rahman sampai di Rumahnya dengan menggunakan taksi online.


"Via,"ia berteriak memanggil nama Via dari luar sambil mengetuk pintu.


Namun ternyata pintunya tidak dikunci hingga Rahman bisa masuk secara langsung.


Belum ada Rohim, Aminah dan Alvian di sana, karena mereka terjebak macet hingga terlambat datang.


"Via,"Rahman kembali memanggil nama istrinya dan mengedarkan pandangan di seluruh Ruangan bahkan Dapur, namun ia tetap tidak menemukan Via tengah beraktivitas di sana.


Tidak ada tempat lain yang biasa dihuni oleh Via selain kamar.


Ya, wanita itu akan berlama-lama di dalam kamar jika ia sudah menyelesaikan semua pekerjaan Rumahnya.


Rahman membuka pintu kamarnya, dan ia sangat terkejut ketika melihat sebuah koper besar berdiri tegak di samping lemari.


"Koper, untuk apa Via menurunkan koper ini? Apa ia tengah bersih-bersih,"gumam Rahman.


Ia tidak langsung melihat Via di kamar, tapi Rahman mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, sepertinya Via tengah mandi atau membersihkan Satria karena Satria pun tidak ada di atas ranjangnya.


Tok.


Tok.


"Via, kau ada di dalam."Panggilnya sambil mengetuk pintu.


Namun Via masih belum menyahuti teriakan Rahman karena ia tengah fokus membersihkan Satria di sana.


Hingga Setelah menunggu beberapa menit Via pun keluar dari kamarnya, Rahman yang tengah duduk di sisi ranjang memperhatikan Via yang baru keluar dari Kamar mandi.


Tentu dia menangkap aura lain dari istrinya itu, tidak ada senyum yang terukir sedikitpun di sudut bibir istrinya, seperti biasa ketika menyambutnya pulang.


"Via, untuk apa koper ini kau turunkan?"tanya Rahman yang memang sejak tadi sudah penasaran dengan koper itu.


"Kau sudah pulang Mas, tumben sekali. Biasanya kau akan memakan waktu seharian dan semalaman jika sudah bersama Selvi,"sahut Via yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan Rahman.


"Tidak, aku hanya ingin cepat pulang saja, kau belum menjawab pertanyaanku untuk apa kau turunkan koper ini?"

__ADS_1


"Sepertinya kau tidak membuka pesanku Mas, jika kau sudah membuka pesanku tentu kau tahu koper Ini untuk apa,"sahut Via dengan datar tanpa melihat Rahman sedikitpun.


Hatinya sudah terlanjur terluka, bahkan untuk melihat Rahman pun Via


sudah tidak mau.


"Pesan!"


'Jadi tadi Via mengirim pesan, aku lupa kalau tadi mematikan nada ponselku, hingga tidak ada notifikasi apapun,' gumam Rahman dalam hatinya.


Rahman segera merogoh ponsel yang ada di saku celananya, dan ia membaca pesan yang beberapa jam lalu Via kirim.


"Untuk apa Ibu dan Ayah ke sini?"tanya Rahman yang sudah mulai merasakan cemas.


"Kau sudah membaca sepenuhnya kan Mas,"sahut Via masih tanpa melihat Rahman.


Rahman segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Via.


"Untuk apa kau meminta ayah dan ibu menjemputmu?"


"Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku Mas."


"Hanya untuk berkunjung, beberapa hari saja kan, kenapa harus meminta ayah dan ibu menjemputmu dan membawa koper sebesar ini?"


Via sudah enggan menjawab pertanyaan Rahman. Karena ia lebih fokus mengganti pakaian Satria.


"Via jawab pertanyaan ku?"kata Rahman, yang semakin di landa kecemasan.


"Aku ingin pulang ke Rumah orang tuaku Mas, dan kau pasti mengerti dengan apa yang aku katakan ini, sebentar lagi ayah dan ibu sampai."


"Tapi apa alasannya Via, aku tidak mengijinkanmu pulang."


"Aku sudah tidak perlu izin darimu Mas."


"Via!"Rahman menyentuh pundak Via, namun wanita itu segera menepisnya dengan kuat.


"Jangan pernah menyentuhku lagi Mas."


"Via, kita bisa bicara baik-baik, Tampa kau harus meminta ayah menjemputmu, apa ini karena Selvi?"


Via sudah tidak lagi mengindahkan perkataan Rahman.


"Via, sudah ku bilang. Aku tidak punya hubungan apapun dengan Selvi, jadi tolong jangan libatkan Ayah dalam masalah ini."Rahman bener dilanda kecemasan dan ketakutan, jika Rohim datang benar-benar ingin membawa Via.


"Tidak ada hubungan apa-apa? Lalu ini apa Mas?"Via bertanya sambil menunjuk sebuah foto dari ponselnya.


Bersambung..


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️


__ADS_2