
Selamat! Membaca 🤗
Setelah Rahman memberi keputusan sepihak bahwa ia tidak akan memberi uang bulanan pada Via, wanita itu pun menjadi bingung dan memutar otak untuk menutupi semua kebutuhan bulanan dan biaya berobat Anaknya.
POV Rahman.
Sebenarnya aku tidak tega dan merasa sangat kasihan pada Via jika aku tidak memberinya uang bulanan.
Tapi aku juga, lebih tidak tega lagi jika membiarkan Ibuku tidak melakukan pengobatan.
Aku memilih untuk memberikan uang bulanan kepada Ibu Karena aku tahu jika Via pasti bisa menutupi kebutuhan bulanan kami dan biaya berobat Satria, karena selama ini dia selalu mampu membayar tagihan yang ada di Rumah dan biaya berobat Satria, meskipun ia selalu protes jika uang yang aku berikan itu kurang. Tapi ia masih bisa menutupinya.
Aku yakin jika Via masih memiliki uang tabungan hasil ia bekerja selama beberapa tahun yang lalu.
Wajar donk jika ia menggunakan uang tabungannya, toh itu untuk biaya kebutuhannya juga. Berbeda dengan Ibu yang sudah tidak memiliki tabungan apapun.
Ini juga aku lakukan agar Via sadar. Karena mulai sekarang ia harus benar-benar bisa belajar hemat.
Dan ini juga aku lakukan untuk menepati janjiku kepada Ibu, sebelum aku menikah dengan Via.
Ibu meminta aku untuk tetap mengutamakannya dari apapun, dan tentu aku harus menepati janjiku pada Ibu.
Hingga tibalah di saat aku menerima gaji dari Pabrik tempatku bekerja, dan aku memberikan semua uang itu pada Ibu, bahkan aku lupa sampai tidak menyisakan uang bensin Motor ku untuk satu bulan kedepan.
Tapi sudah lah, uang itu sudah berada di tangan Ibu seutuhnya, aku tidak mungkin bisa mengambilnya kembali karena Ibu pun tidak akan mungkin memberikannya meskipun aku menggunakan alasan untuk bensin ku selama satu bulan.
Biar nanti aku minta sama Via saja, aku yakin uang tabungannya masih banyak, dan tentu bisa bahkan lebih untuk menutupi uang bensinku selama satu bulan.
❄️❄️
Malam hari.
Aku lagi-lagi di buat kesal oleh Via karena ia tidak masak untuk makan malam, memangnya dia pikir aku ini makan apa jika ia tidak masak. Jangan karena aku tidak memberi ia uang bulanan dia jadi tidak masak seperti ini, sungguh menjengkelkan.
"Via, apa kau tidak masak?"tanyaku dengan nada yang lembut. Namun harus kalian tahu jika sebenarnya aku tengah menahan kesal.
"Tidak!"sahutnya dengan ketus.
"Kenapa? Kau tahu kan aku belum makan, dan kau juga tahu kan jika aku mempunyai penyakit Maag jadi aku harus makan malam."
"Aku tahu."
"Lalu, kenapa kau tidak masak?"
"Lalu kenapa kau tidak makan di Rumah Ibumu saja."
Astaga!
__ADS_1
Aku benar-benar merasa kesal dengan jawaban Via, masa dia menyuruhku makan di Rumah ibuku sedangkan di Rumah ku ada seorang Istri!
"Kamu apa-apaan Via? Kenapa kau malah menyuruhku makan di Rumah Ibu, kau ini Istriku kan! Jadi kau yang harus memasak untukku,"kesalku.
"Kau lupa satu hal Mas, jika aku ini Isteri yang tidak kau nafkahi."
"VIA!"Bentakku. Bisa-bisanya ia bicara seperti itu, aku hanya baru bulan ini saja tidak memberikan ia uang kenapa dia bisa semarah dan sampai mengatakan jika aku tidak menafkahinya.
Via menatap ku tajam tepat beberapa detik setelah aku membentaknya.
Lalu ia menghampiriku yang tengah berdiri di sisi meja makan.
"Tidak ada makan malam, atau sarapan untuk satu bulan kedepan Mas, jika kau merasa lapar dan takut kalau penyakit Maag mu kambuh, kau numpang makan saja pada Ibumu."
"Apa kau marah karena aku tidak memberi mu uang bulanan?"
"Tidak! Aku hanya kecewa saja padamu mas, yang tidak pernah memikirkan anak dan Istrimu."
"Tidak memikirkan bagaimana maksudmu?"
"Sudahlah Mas, aku tidak mau berdebat dengan mu karena aku lelah ingin beristirahat,"kata Via dan ia segera berlalu menuju Kamar.
Kenapa dia seperti itu?
Apa dia juga tidak makam malam?
Aku memutuskan untuk memasak sendiri, namun ketika aku membuka Rice cooker dan Kulkas, tidak ada apapun yang bisa di makan dan di masak di sana. Via benar-benar keterlaluan.
Karena lapar setelah seharian aku bekerja dan tidak mungkin jika perutku ini tidak di isi Nasi. Akupun memutuskan untuk pergi ke Rumah Ibu.
******
"Makan malam! Sudah tidak ada apapun di meja Rahman, kami di sini sudah makan malam, dan Kakak mu memasak hanya untuk porsi kami ber 4 saja,"kata Ibu. Setelah aku mengutarakan niat kedatanganku di Rumah Ibu malam-malam begini.
"Mas Rahman bisa makan dengan ceplok Telur Bu, bukankah persediaan Telur cukup banyak di Kulkas."
Sahut Rania yang tengah menonton TV.
Dan itu bagai hembusan angin dari surga bagiku.
"Tolong! Buatkan Mas ceplok Telur ya!"pinta ku pada Rania dengan penuh harap.
Rania pun mengangguk antusias dan ia langsung beranjak dari duduknya ingin menuju Dapur.
Namun.
"Tidak! Rania."
__ADS_1
Tiba-tiba Ibu menghentikan langkah Rania.
"Kenapa Bu?"
"Iya Bu kenapa?"sahutku yang kebingungan.
"Itu Telur untuk Stok selama satu Minggu kedepan, jika kau menggorengnya tentu Stok Telur di Kulkas akan berkurang."
Jawaban Ibu semakin membuatku bingung.
"Memangnya kenapa Bu jika Telurnya berkurang? Jika di masak sudah pasti berkurang kan, tidak mungkin jika bertambah."
Akhirnya Rania mengatakan apa yang ingin aku katakan pada Ibu, ia sudah mewakili pertanyaan dan kebingunganku.
"Justru karena Telur itu akan berkurang jika di masak, Ibu khawatir jika tidak akan cukup untuk satu Minggu kedepan. Kalian tahukan jika Putri sangat menyukai Ceplok Telur ia tidak bisa jika makan tanpa Telur."
"Astaga Bu, Telur di sana masih banyak. Jika di ambil 1 atau 2 butir saja, masih banyak sisahnya. Mbak Rohmah juga masih bisa membelinya besok kan, sekarang Mas Rahman lapar Bu, apa salahnya jika di masak dulu 1 butir."
Aku mengangguk, mendukung ucapan Rania. Dia memang adikku yang paling pengertian.
Tapi tidak di sangka, meskipun Rania sudah berkata seperti itu bahkan ia sampai memohon. Ibu tetep tidak mengijinkannya untuk memasak Telur yang ada di Kulkas itu meski hanya satu Butir saja.
Tentu saja hal itu sangat membuatku kecewa.
Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena keputusan Ibu mutlak tidak bisa di ganggu gugat.
"Memangnya Istrimu itu tidak masak Man, sampai kau harus minta makan di sini!"
Mbak Rohmah masuk dari pintu depan dengan menjinjing kantong plastik berwarna putih,
dari aromanya!
seperti Martabak spesial yang di jual di depan jalan yang sudah sangat terkenal kelezatannya.
Mencium aroma itu perutku semakin tidak terkendali, cacing-cacing di dalam sana sudah protes meminta benda dari Aroma yang kuat itu di masukan kedalam perutku.
Bersambung....
❄️❄️❄️❄️❄️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1