
Selamat! Membaca 🤗
Via memulai pencariannya di lemari pakaian milik Rahman. Namun di sana ia tidak menemukan apapun selain tumpukan baju dan celana.
Tujuan utama Via adalah obat yang beberapa hari lalu ia lihat di Nakas, dan Rahman mengatakan jika itu obat untuk Jubaidah yang baru ia tebus dari Apotek.
Karena Via tidak menemukan apapun di kamarnya dan benda-benda pribadi milik Rahman, ia memutuskan untuk menghubungi Rania, menanyakan tenteng obat yang sering di konsumsi oleh Jubaidah.
(Ini Mbak, obat yang sering Ibu konsumsi, terutama ketika dadanya sakit.)
Satu pesan dari Rania, di sertai foto botol obat yang Jubaidah minum setiap harinya.
Via, memperhatikan botol tersebut, dan di sana ia menemukan kejanggalan.
Contoh botol yang Rania kirim sangat berbeda dengan botol obat yang Via lihat.
(Apa ada jenis obat lain yang Ibu konsumsi selama sakit?)Tanya Via, lewat balasan pesan Teks.
(Tidak ada Mbak, itu satu-satunya obat yang Ibu minum, itu dari Dokter yang merawat Ibu, dan Mas Rahman yang selalu mengambilnya.)
Setelah mendapatkan keterangan dari Rania, Via semakin yakin jika ada sesuatu yang di sembunyikan Rahman.
Dan sesuatu yang di sembunyikan itu menjurus ke hal yang negatif dan tentu memakan korban, Via lebih mendukung jika Rahman melakukan pelaporan pada Jubaidah dan mengumpulkan semua barang bukti atas kejahatannya dulu, daripada Rahman yang diam-diam membalas dendam pada Jubaidah.
POV VIA.
Sesungguhnya aku sudah sangat lama merasa ada sesuatu yang aneh dengan Mas Rahman, di saat dia memilih untuk tidak mengungkapkan kebenaran pada Jubaidah dan lebih memilih diam serta bersikap biasa saja. Tentu orang tidak akan mudah memaafkan dan melupakan kekejaman orang lain apalagi jika itu di lakukan pada keluarga kita.
Hari ini, aku menemukan fakta, yang semakin menguatkan dugaanku. Bukan aku ingin jadi sok pahlawan dan sok baik, karena nyatanya akupun pernah menjadi korban Bu Jubaidah bahkan ia dengan tega berniat mengorbankan aku di ritual tidak jelas untuk kesembuhan Mbak Rohmah. Di sini, aku hanya ingin menolong suamiku dari jurang kebencian dan dendam, aku tau perasaan Mas Rahman, karena jika aku menjadi dia tentu aku tidak akan mungkin sanggup memaafkan Jubaidah begitu saja.
__ADS_1
Tapi, kita tidak boleh main hakim sendiri, dengan cara membalas dendam sesuai apa yang ada di hati dan pikiran kita.
Aku ingin Mas Rahman Kembali ke jalan Allah, mengikhlaskan semua yang terjadi, jangan ia mengotori tangannya hanya untuk menghukum orang-orang yang kejam, karena sudah ada yang berhak melakukan itu semua, aku harus menarik Mas Rahman dari lingkaran hitam ini, ia harus menjadi Mas Rahman yang sesungguhnya.
Aku harus mencegah sebelum semuanya terlambat.
❄️❄️
Di tempat lain.
Suara rintihan memenuhi seluruh ruangan, bukan hanya rintihan tapi ada juga suara teriakan dan erangan seseorang.
Rintihan dan erangan itu saling bersahutan.
Ia adalah Jubaidah dan Rohmah.
Ya, di sinilah kedua wanita itu berada, tentu saja Rahman yang membawa mereka, di tempat yang di klaim Rahman sebagai tempat yang layak untuk Jubaidah dan Rohmah.
"Roh, Rohmah! apa itu kau? Rohmah! jawab Ibu, itu kau kan!"seru Jubaidah, yang sangat mengenali suara teriakan Anak kesayangan.
Meskipun Jubaidah tidak bisa memastikannya secara langsung, karena mereka berada di ruangan berbeda, namun Jubaidah sudah sangat mengenali suara itu dan ia yakin jika itu benar Rohmah.
Tidak ada sahutan dari ruangan sebelah, karena Rohmah terus saja berteriak tanpa menimpali panggilan dari Jubaidah.
Dengan susah payah, Jubaidah menarik kakinya yang sudah sangat lemas tak bertenaga menuju ruangan tersebut. Namun, sebelum ia sampai ke ruangan di mana Rohmah berada, Jubaidah sudah lebih dulu tersungkur karena ia tidak kuat dan sangat lemah.
Ia hanya merintih sambil memanggil nama anaknya itu agar bisa mendengar suaranya.
Di tengah keputus asaan dan ketidakberdayaannya Jubaidah mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan selama satu Minggu, yaitu sebuah ponsel dan itu adalah milik Rahman.
__ADS_1
Jubaidah melihat ponsel Rahman terjatuh ketika lelaki itu tengah membaringkannya di sebuah karpet lusuh, Jubaidah yang saat itu sadar meraih ponsel itu secara diam-diam tanpa diketahui Rahman dan ia langsung mematikannya. Sadarnya Jubaidah tentu tidak diketahui Rahman, karena yang Rahman tahu wanita itu masih pingsan sejak ia membawanya dari kontrakan. Namun ternyata Jubaidah sudah sadar ketika berada di tengah perjalanan dan ia menyadari jika yang membawanya adalah Rahman, dan Rahman tidak membawanya ke Rumah Sakit melainkan ke bangunan kosong yang pengap ini.
Jubaidah ingin melayangkan protes kepada putranya tapi ia melihat ekspresi mengerikan dari Rahman, hingga ia mengurungkan dan memilih pura-pura pingsan sampai Rahman pergi dari sana.
Satu Minggu pasca Jubaidah di bawa ke tempat itu oleh Rahman, Rahman belum mendatanginya kembali. Tapi sebelum ia pergi, Rahman meninggalkan beberapa makanan ringan dan air minum. Namun karena Rahman tak kembali lagi, makanan yang lelaki itu tinggal sudah habis beberapa hari yang lalu hingga membuat Jubaidah kelaparan di bangunan kosong tersebut, dan hari ini. Jubaidah dikejutkan dengan suara Rohmah yang sebelumnya tidak ada di sana, ia sempat berpikir, kapan ada orang masuk ke bangunan itu dan membawa Rohmah ke sana!
Setelah mengaktifkan ponsel Rahman, yang Alhamdulillah masih terisi daya setengahnya, membuat Jubaidah memiliki harapan untuk bebas dari sana. Jubaidah baru berani membuka ponsel itu, setelah satu minggu Karena ia merasa takut jika harus jika Rahman mengetahuinya.
Sampai sekarangpun Jubaidah belum tahu dan tidak mengerti apa maksud Rahman mengurungnya seperti ini. Yang di rasakan Jubaidah sekarang hanyalah takut, takut, dan takut.
Namun secara tiba-tiba ponsel itu berdering, menandakan jika ada seseorang yang melakukan panggilan.
Seketika Jubaidah terkejut karena yang menelpon Rahman adalah Via.
sebenarnya, ini adalah kesempatan emas bagi Jubaidah untuk pergi dari sana namun gengsinya masih terlalu besar untuk meminta bantuan pada Via.
Di tempat lain.
Via yang mendapati pesan yang ia kirim pada Rahman 1 minggu yang lalu semuanya centang dua. Menjadi antusias untuk menghubungi nomor itu, karena! dengan dua tanda centang dua seperti itu, berarti ponsel Rahman saat ini tengah aktif. namun ternyata yang via hubungi bukanlah Rahman melainkan Jubaidah yang tengah disekap oleh suaminya.
Bersambung.
❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🤗
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya