
Selamat! Membaca π€
Apa! Baper.
Bisa-bisanya Mas Rahman mengatakan kata baper padaku, astaga! Aku benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi Mas Rahman.
Dan jika saja aku ini tak sekuat baja mungkin aku sudah bunuh diri sejak 2 Tahun yang lalu.
"Mas, jika seandainya posisi kita ditukar bagaimana perasaanmu? apa kau masih bisa mengatakan jika aku ini baper dengan apa yang keluargamu katakan dan lakukan padaku? Selama ini keluargaku tidak pernah merendahkan dan mencacimu Mas, bahkan Mas ALvin saja yang tidak menyukaimu masih bisa menghormatimu sebagai Adik iparnya, jadi kau tidak pernah merasakan bagaimana rasanya direndahkan Mas."
"Via, kenapa kau jadi memperpanjang masalah ini, ibu hanya memintamu untuk membantunya membersihkan meja, tapi kenapa kamu malah merembet ke Mas ALvin dan keluargamu yang ada di sana."
"Sudahlah mas, aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Ini sudah larut aku mau pulang."
"Via! Aku bilang berhenti, aku tidak mengizinkanmu pulang,"teriak Mas Rahman ketika aku sudah mulai melangkah menjauhi Rumah Ibu.
Namun karena hati dan otakku sudah dipenuhi amarah, aku tidak memperdulikan teriakan Mas Rahman
Terserah ia mau berkata dan menilaiku seperti apa, mungkin saja keluarganya akan semakin menyudutkan dan menjelek-jelekkanku di depan Mas Rahman aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka.
"VIA!"Mas Rahman kembali teriak.
"Rahman, berhenti!"
Dan aku juga mendengar suara ibu yang berteriak, sepertinya wanita itu memberhentikan Mas Rahman yang ingin mengejarku.
Tapi itu hanya dugaanku saja, karena aku tidak melihat secara langsung, aku tidak mau memberhentikan langkah dan memutar kepalaku untuk melihat mereka.
Aku terus saja berjalan menyusuri kegelapan Malam menuju Rumahku sendiri.
βοΈβοΈβοΈ
"Nak, Via, mau ke mana malam-malam seperti ini. Bawa Satria pula, kenapa kau hanya jalan berdua dengan Anakmu yang masih bayi ini?"
Di perjalanan aku bertemu dengan Ibu Nunung yang tengah berada di teras Rumahnya, aku senaja melewati Rumah Ibu Nunung, karena Rumah Ibu Nunung lah satu-satunya yang terlihat rame karena pintunya pun masih terbuka, sepertinya ada Keluarga besar Ibu Nunung yang tengah berkunjung.
"Aku mau pulang ke Rumah bu, dan aku dari Rumah Ibu Mas Rahman."
"Lalu di mana Rahman, kenapa dia tidak mengantarmu pulang?"
"Mas Rahman masih di Rumah Ibunya bu, karena Mas Rahman harus menemani Ibu Jubaidah."
"Astagfirullah, bukankah di Rumah Ibu Mertuamu itu sedang ramai orang, dan Rudi juga baru pulang kan untuk apa Rahman menemani Ibunya dan membiarkan Istrinya jalan sendiri bersama Bayi di malam hari seperti ini."
"Tidak apa-apa bu, Mas Rahman tengah repot di sana. Lagi pula jarak Rumah ku kan tidak terlalu jauh jadi aku bisa pulang sendiri,"kataku yang menutupi kenyataan Mas Rahman yang tidak mengantarku pulang.
"Tetap saja hal itu tidak bisa dibenarkan Via, harusnya suamimu itu mengantarkanmu dulu pulang, jika memang ia masih mau menemani ibunya dia kan bisa kembali lagi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu,"
aku yang tidak mau keceplosan ingin segera menyudahi obrolanku dengan Bu Nunung, aku juga melihat jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan pukul 22:00.
Karena di sini adalah perkampungan, di Jam segitu sudah sangat sepi.
"Kalau begitu biar Seno yang akan mengantarmu pulang,"kata Bu Nunung menawarkan kebaikan.
"Tidak perlu bu terimakasih banyak. Lagi pula jarak Rumahku ini sangat dekat sebentar lagi sampai."Tolakku dengan halus.
"Tapi di ujung jalan sana kau akan menyeberangi Jembatan, Via. kau tahukan desas-desus di kampung ini, yang mengatakan kalau Jembatan itu terkenal angker. Jadi biarkan Seno yang mengantarmu pulang."
Tampa menunggu persetujuan dariku, Bu Nunung segera memanggil anaknya yang bernama Seno.
Seno sendiri adalah aanak tertua dari Bu Nunung, usianya sama dengan Mas Rahman, Mas Rahman juga pernah bercerita jika Seno teman sekolahnya. Dan aku pun sudah sering bertemu dengan Seno.
"Iya bu!"
Seno keluar dari dalam ketika Bu Nunung memanggil namanya.
"Seno, kau bisa tolong antar Via sebentar untuk pulang ke Rumahnya. Ibu khawatir karena ini sudah gelap dan sepi, apalagi Via akan menyeberangi jembatan di ujung jalan sana dan membawa Satria."
Aku melihat wajah bingung pada Seno.
"Kenapa kau malah bengong Seno, cepat antarkan Via pulang."Kata Bu Nunung menepuk pundak Seno yang diam memperhatikan aku.
"Ah, iya bu. Tanpa bertanya apapun lagi Seno mengiyakan permintaan ibunya
Aku takut akan menimbulkan fitnah jika aku jalan berdua saja dengan Seno, meskipun niat Lelaki itu baik untuk mengantarku pulang, tapi jika ada warga yang melihat, mungkin saja mereka bisa salah paham.
Aku Wanita bersuami, jadi harus pandai menjaga Nama.
"Tidak perlu, Mas Seno tidak perlu mengantarku pulang. Aku bisa pulang sendiri, dan aku cukup berani melewati Jembatan itu ibu tidak perlu khawatir,"kataku.
"Maaf, Via. Memangnya di mana Rahman, kenapa kau tidak bersamanya?"
" Rahman masih berada di Rumah ibunya, dia tidak mengantarkan Istrinya, malah menemani ibunya di sana."
Ibu Nunung yang menjawab pertanyaan Seno.
"Mas Rahman tengah sibuk, jadi tidak bisa mengantarku pulang."Kataku yang juga menyahuti pertanyaan Seno.
Aku pun segera pamit kepada btu Nunung dan Seno.
Tapi Seno mencegah langkahku.
Dia berkata akan mengantarkanku sampai Rumah, tapi lagi-lagi aku menolak tawaran baiknya itu.
__ADS_1
Dan sepertinya Seno mengerti dengan penolakanku itu, kemudian ia memanggil Adiknya yang bernama Rina.
Ia mengajak Adiknya Rina untuk mengantarkan aku pulang.
Rina yang dasarnya memang Gadis baik tentu tidak menolak ajakan kakaknya itu.
Karena ada Rina di antara kami, aku pun mengiyakan tawaran baik Seno.
Karena sebenarnya, aku juga merasa takut jika melewati Jembatan yang di Klaim Angker itu.
"Terimakasih Mas Seno, Rina,"ucapku setelah sampai di depan Rumah.
"Sama-sama Mbak, apa Mbak Via berani sendirian di Rumah. Apa aku perlu menemani Mbak Via di dalam?"tawar Rina.
"Terimakasih Rin, tapi Mbak berani kok di dalam. Jadi Rina tidak perlu menemani Mbak."
"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di dalam ya. Aku dan Rina pulang dulu."Kata Seno dan disahut dengan anggukan oleh Rina.
Tapi setelah mengatakan itu Seno masih belum melangkahkan kakinya, membuatku jadi bingung sendiri.
Aku yang ingin membuka pintu kembali menghentikan gerakanku karena melihat Seno yang masih berdiri memperhatikan aku.
"Ada apa?"tanyaku yang kebingungan.
"Mas Seno ingin memastikan, Mbak Via masuk ke dalam Rumah dulu, baru dia akan pergi,"sahut Rina.
"Huss! Anak kecil jangan banyak bicara,"kata Seno sambil mencubit kuping Adiknya.
"Tapi itu benar kan Mas! Mas Seno ingin memastikan Mbak Via, masuk dengan selamat kan! Dan setelah itu, baru Mas Seno pergi. Persis seperti dulu Mas Seno mengantar pulang pacarnya,"Kata Rina Sambil tertawa.
"Diam!"Seno dengan cepat membekap mulut Adiknya itu.
Aku hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kakak beradik itu. aku jadi mengingat tentangku dan Mas Alvian, dulu aku juga sering sekali menjahili Mas Alvian seperti itu.
"Baiklah kalau begitu. Aku masuk dulu ya, kalian hati-hati di jalan. Sekali lagi terimakasih."
"Baik, mbak juga hati-hati ya di dalam, titip salam pada Satria, katakan padanya jika aku yang mengantarnya pulang,"sahut Rina sambil terkekeh kecil.
"Baiklah! Mbak akan mengatakan jika dia sudah bangun."
Bersambung....
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita iniπ
Minta dukungannya ya π€
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini π
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ