
Selamat! Membaca 🤗
Rahman mendorong paksa rumah reot Mbah Gede, namun karena rumah itu dikunci Rahman tidak bisa langsung masuk.
Jubaidah, Selvi dan Mbah Gede cukup terkejut dengan suara pintu yang dipaksa dibuka.
"Siapa itu Tante?"
Mbah Gede dan Jubaidah sudah memasang kuda-kuda tanda waspada.
Pertama-tama yang Mbah Gede dilakukan, ia mengintip ke celah lubang pintu yang sudah ia sediakan untuk mengintai seseorang yang ada di luar.
Mbah Gede melihat 2 lelaki yang berdiri dengan wajah emosi, salah satunya sangat Mbah Gede kenali.
"Dia putramu!"
Ujar Mbah Gede dan tentu saja perkataan itu sangat membuat Jubaidah terkejut setengah mati.
"Puu. Putraku! Apa maksud Mbah, Rahman?"
Mbah Gede mengangguk.
Dengan gerakan cepat Jubaidah menahan pintu dan kembali memasang beberapa kunci di sana.
"Rahman, kenapa Rahman datang kesini! Apa yang dia lakukan! Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau jika Rahman mengetahui apa yang telah aku lakukan,"racau Jubaidah dengan panik.
Begitu juga dengan Selvi.
"Mbah, tolong kami, apa yang harus kami lakukan?"
Mbah Gede berpikir sejenak, matanya melirik melihat Jubaidah seolah meminta persetujuan wanita itu tentang apa yang tengah ia pikirkan saat ini.
"Apa rencana Mbah Gede?"
"Pergilah dari pintu belakang, saya akan membantu pelarian mu tidak akan terlihat oleh Rahman."
Sementara di Luar sana, Rahman dan Wisnu berusaha keras mendobrak pintu dengan kekuatan full. Hingga akhirnya pintu berhasil di buka dan di saat yang bersamaan.
Rahman dan Wisnu tercengang melihat keadaan di dalam rumah itu karena di sana Mbah Gede tengah menyiksa Alvian yang terikat.
"Vian."Dengan sedikit berlari, Wisnu menuju Alvian, ia ingin membebaskannya, namun dengan mudah Mbah Gede menghalau Wisnu dengan cara menghempaskan tubuhnya.
Rahman menatap Mbah Gede dan tatapan mereka saling bertemu.
Rahman mengingat dengan jelas siapa pria tua itu.
"Kau!"geram Rahman dan langsung maju mencengkram kerah baju Mbah Gede.
"Kau pria Tua, yang sudah memperdayaku atas perintah wanita laknat itu kan?"marah Rahman yang masih mencengkram leher Mbah Gede.
Dengan mudahnya, Mbah Gede juga mendorong Rahman sampai lelaki itu terpental.
Rahman tidak tinggal diam, ia tidak mau mengulangi kesalahannya yang kedua kali.
Rahman kembali bangun dan langsung menghajar Mbah Gede dengan brutal.
Di saat Rahman tengah bertarung dengan Mbah Gede, Wisnu melepaskan ikatan Alvian.
"Wanita Iblis itu, kabur!"kata Alvian yang masih mengatur nafasnya dan menahan rasa sakit di wajahnya.
"Siapa maksudmu!"
"Siapa lagi jika bukan ibu kesayangan si bodoh itu."Sahut Alvian Sambil melirik Rahman, yang masih fokus dengan Mbah Gede.
__ADS_1
Dengan brutal Rahman menghajar Mbah Gede secara membabi buta.
"Rahman! Hentikan! Ini negara hukum kau tidak boleh main hakim sendiri,"teriak Wisnu memperingatkan.
Namun peringatan dari Wisnu hanya di anggap angin lalu oleh Rahman, karena lelaki itu semakin menggila. Ia merubah posisi dengan naik di atas tubuh Mbah Gede dan melayangkan beberapa pukulan di wajah Pria sepuh itu, namun anehnya, seperti apapun Rahman menghajarnya, Mbah Gede tidak terlihat kesakitan sama sekali. Ia malah tertawa terbahak-bahak seolah meledek Rahman yang tidak mampu membuatnya sakit apalagi mati.
Mungkin saja Mbah Gede memiliki ilmu kebal secara dia dukun sakti
Rahman mengibaskan tangannya yang terasa kebas dan sakit. Ia bangun dan mengambil sebilah parang yang tersedia di sana.
"Rahman, jangan!"teriak Wisnu, dan ia berlari ingin menghentikan Rahman.
Namun Alvian mencegahnya.
"Biarkan saja dia melakukan apa yang ingin ia lakukan, lebih baik kita kejar dua Iblis wanita yang kabur."
"Vian, apa kau sudah Gila! Jika sampai Rahman membuat dukun itu mati ia akan mendekam di penjara selama beberapa tahun."
"Memang susah bicara dengan seorang pengacara,"keluh Alvian dan melepaskan pegangannya.
Rahman yang semakin di kuasai emosi. Mulai mengayunkan parang dan ingin ia tancapkan di dada Mbah Gede. Namun dengan cepat, Wisnu menahan tangan Rahman.
"Istighfar Rahman! Jangan gegabah seperti ini, kau bisa membunuhnya."
"Lepaskan, biarkan aku membunuh pria tua ini."
Rahman dan Wisnu saling berebut parang.
"Alvian, cepat bantu aku, kenapa kau malah diam di situ,"kata Wisnu yang mulai kewalahan menghadapi Rahman yang semakin kesetanan.
Benar apa yang di katakan kyai Yusuf, jika Rahman akan di kuasai dendam setelah ia ingat segalanya.
Alvian yang terlihat biasa-biasa saja, melenggang dengan santai.
"Merepotkan saja!"
Untung saja Wisnu ikut serta, jika tidak! entah apa yang akan Rahman lakukan di sana, dengan Alvian yang malah terlihat mendukung kegialaan adik iparnya itu.
Di saat Wisnu lengan, Rahman dengan mudah menepis tangan lelaki itu sampai terjungkal kebelakang.
"Punggungku,"ringis Wisnu dan ia melirik Alvian, "Astaghfirullahaladzim! Alvian, Kenapa kau diam saja cepat cegah Rahman!"Teriak Wisnu.
"Iya-iya!"
Sebelum Alvian sampai, Rahman sudah terlebih dulu menyabetkan parang tepat di perut Mbah Gede.
Alvian dan Wisnu terbelalak melihat pemandangan nyata di hadapannya.
Bukan pemandangan mengerikan akibat ulah Rahman yang mungkin saja bisa membuat tubuh Mbah Gede terbelah menjadi dua bagian dengan darah yang mengalir deras. Tapi, yang membuat mereka tercengang bahkan Rahman sendiri serasa berada di dunia sihir.
Mereka melihat Mbah Gede tertawa terbahak-bahak. Ya, tidak terjadi apa-apa dengan lelaki itu, jangankan mati tergores sedikitpun tidak.
Parang yang besar dan mengkilap itu bagai mainan anak-anak bagai Mbah Gede.
"Vian, katakan jika yang aku lihat ini tidaklah nyata."Kata Wisnu yang terbengong dan tidak mempercayai apa yang ia lihat saat ini.
Rahman yang masih belum menyerah kembali mengayunkan parang secara berulang-ulang di setiap bagian tubuh Mbah Gede.
Namun Rahman hanya mendapatkan lelah tanpa hasil apapun.
"Cukup, Rahman, percuma kau melakukan seperti apapun, dia tidak akan mati dengan semudah itu."Kata Alvian.
Mbah Gede bangkit, dan ia mengusap-usap seluruh bagian yang tadi di tebas oleh Rahman.
__ADS_1
"Anak muda, apa kau sudah lelah! Tidak ingin mencobanya lagi, padahal saya masih ingin menikmati itu, karena seranganmu bagai pijitan yang mampu merenggangkan otot-otot saya yang tegang!"kata Mbah Gede dengan senyum mengejeknya.
"Kurang ajar!"geram Rahman dan kembali ingin menyerang.
"Tahan Rahman, bukan seperti ini cara menghadapi dia, dia dukun hebat dan kebal terhadap senjata apapun. Kita gunakan cara lain."Bisik Alvian.
"Di mana wanita Iblis itu?" tanya Rahman.
"Dia sudah kabur!"Sahut Alvian.
Dan di saat itu Mbah Gede coba menghipnotis Rahman dengan berbagai mantra yang ia kuasai.
Mbah Gede yang sempat merasa khawatir jika Rahman ingatannya sudah pulih, menjadi lega ketika melihat lelaki itu diam seperti orang yang bingung dengan memperhatikan sekitar.
Mbah Gede mengulas senyum karena ia pikir Rahman sudah terpengaruh oleh manteranya.
"Jubaidah Ibumu, ibu yang paling kau sayangi lebih dari siapapun. Dan tidak ada orang lain yang kau percayai selain Jubaidah Ibumu."Kata Mbah Gede, yang menanamkan Kata-kata itu di otak Rahman.
"Hi! Brengsek! Kenapa kau diam seperti patung! Jangan dengarkan kata-kata dukun ini,"kata Alvian yang mengguncang tubuh Rahman.
"Dengarkan kata-kata saja, kau hanya percaya pada Jubaidah!"Mbah Gede kembali mempengaruhi Rahman dengan ilmu hitamnya.
"Rahman! Sadar, jangan dengarkan dia."
"Lepas!"
Rahman menepis kuat tangan Alvian,"tentu saja saya lebih mempercayainya dan Ibu dari pada kau Mas Vian."Kata Rahman.
Alvian frustasi.
"Dasar gila! Kau percaya semudah itu dengan omong kosong Iblis ini! Rahman, mereka mencoba Menumbalkan Via untuk kesembuhan Rohmah, dan kau malah percaya dengan mereka!"geram Vian.
Alvian beralih pada Mbah Gede ingin memusnahkan Pria tua itu, tapi dengan mudah Mbah Gede menghempaskan Alvian sebelum lelaki itu menyentuhnya.
❄️❄️❄️❄️
Alvian dan Wisnu kembali dengan keadaan seperti orang linglung karena ulah Mbah Gede.
Sementara Rahman menemui Jubaidah atas tuntutan Mbah Gede.
(Saya sudah mengembalikan putramu seperti dulu, berperanlah seperti biasanya)
Itulah pesan yang di berikan Mbah Gede pada Jubaidah, dan membuat wanita itu lega seketika.
Rahman menemui Jubaidah di rumah kontrakannya. tanpa rasa curiga Jubaidah menyambutnya dengan hangat.
"Rahman, kau sudah kembali? Ibu sudah masak untukmu ayo makan!"
Rahman mengangguk.
Jubaidah senang luar biasa, karena Rahman tidak membencinya senyum kemenangan terpangpang nyata di wajah wanita itu.
Tanpa ia sadari Rahman menatapnya dengan tatapan tidak biasa.
"*Tersenyumlah selama kau masih bisa tersenyum, karena setelah ini, senyuman itu akan berubah menjadi rintihan yang akan membuatmu memohon untuk di musnahkan dari muka bumi ini."
Bersambung*...
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️