Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Izinkan Saya, Membawa Kembali Putri Tercinta Saya.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Rahman terkejut setengah mati ketika melihat sebuah foto yang ada di ponsel Via, foto dirinya bersama Selvi di dalam mobil.


Rahman sangat ingat apa yang ada di foto itu, kejadian yang baru saja ia alami dengan Selvi, tapi kenapa bisa menjadi sebuah foto?


Dan kenapa bisa sampai di tangan Via?


Rahman benar-benar frustasi, menjelaskan seperti apapun pada istrinya, tentu Via tidak akan percaya karena di foto itu terlihat kemesraan antara mereka berdua.


"Via, tolong percaya padaku. Foto ini tidak seperti apa yang kau lihat, aku tidak melakukan apapun dengan Selvi."


"Sudahlah Mas, sebentar lagi ayah dan ibu datang, lebih baik kau bersiap-siap untuk menemui beliau."


"Tidak Via, aku tidak mengizinkanmu pulang."


Suara mobil terdengar dari luar, dan sudah bisa dipastikan kalau orang tua Via sudah tiba.


"Itu pasti ayah. Mas, aku mau membuka pintu dulu,"kata Via dan melangkahkan kaki keluar Kamar.


Namun dengan cepat Rahman menahannya, dengan cara memeluk Via dari belakang.


"Tidak, aku tidak mengizinkannya Via."


"Kau jangan egois seperti ini Mas, aku kan sudah bilang jika aku akan membebaskan mu dari rasa bosan yang melanda hatimu ketika bersamaku."


"Tidak, aku tidak mau Via, tolong tetap di sini."Rahman semakin kuat merengkuh Via.


Namun semakin kuat juga Via melepaskan diri.


"Keputusanku sudah bulat Mas, aku akan tetap pergi. Dan aku akan melepaskan semuanya, pasti ibumu akan senang Mas, jadi seharusnya kau bersyukur dengan menyerahnya aku,"kata Via setelah ia berhasil melepaskan pelukan Rahman, dan segera keluar membuka pintu untuk orang tuanya.


"Assalamualaikum. Via, ini Ibu nak,"suara Aminah terdengar sangat khawatir dari balik pintu.


"Waalaikummusalam,"sahut Via sambil membukakan pintu untuk orang tuanya.


Via sedikit terkejut karena Alvian ikut serta bersama orang tuanya.


"Via, maafkan ibu yang lama untuk menjemput mu nak."Ucap Aminah yang langsung menghamburkan diri memeluk putrinya.


"Tidak apa-apa bu, aku senang ibu datang."


"Kau baik-baik saja kan sayang?"Aminah mengusap wajah pucat putrinya, hatinya semakin teriris melihat mata sembab anaknya kesayangan.

__ADS_1


Via menunduk, tentu saja ia tidak baik-baik saja. Karena jiwa dan hatinya saat ini hancur lebur.


Via semakin memantapkan hatinya untuk berpisah dengan Rahman, setelah ia melihat Foto kemesraan suaminya dengan Selvi, dan foto itu tentu di kirim oleh Selvi secara langsung.


"Dimana si Brengsek itu, aku akan membuatnya menyesal pernah terlahir di dunia ini,"kata Alvian, yang sudah geram dan menahan emosinya sejak dalam perjalanan tadi, karena Aminah menceritakan apa yang terjadi pada Adiknya. Di tambah lagi ia melihat kondisi Via yang pucat dan lesu.


"Vian, tenangkan dirimu. Bersikaplah layaknya tamu, jangan bersikap tidak sopan,"ujar Rohim memperingati putranya. Padahal hatinya pun sangat marah pada Rahman, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang.


Berbeda sekali dengan Alvian yang benar-benar geram tidak bisa menyembunyikan kemarahannya, Jika saja tidak ada Rohim dan Aminah di situ, tentu ia sudah menerobos masuk dan menyeret Rahman lalu menghajar laki-laki itu sampai babak belur, tapi sekeras apapun Alvian, dia akan selalu mendengarkan omongan orang tuanya terutama Rohim.


Sekuat hati Alvian menahan amarahnya agar tidak emosi ketika berhadapan dengan adik iparnya nanti.


Via mengajak keluarganya masuk ke dalam dan duduk di ruang keluarga.


"Di mana Rahman?"tanya Rohim pada Via, namun wajah nya ia alihkan ke sembarang arah, karena lelaki tua itu tidak sanggup melihat raut letih, lelah, sedih dari wajah putrinya.


"Semenderita apa kau di sini Putri ku, hingga ayah sampai tidak melihat wajah Via, putri kecil ayah yang dulu."


"Ada di kamar yah, biar aku panggilkan."


Via berlalu dan masuk kembali ke dalam kamarnya, dan di dalam kamar Rahman tengah menggendong Satria.


"Mas, ayah ingin bicara denganmu."


Rahman menarik nafasnya dalam-dalam, apa yang harus ia katakan, lebih-lebih lagi ia mendengar suara Alvian.


"Via, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya,"pinta Rahman.


"Mas, tolong jangan mempersulit keadaan. Temui ayah, setelah itu semuanya akan selesai. Kau bisa menjalani apa yang selama ini Ibumu inginkan, dan aku bisa menjalani kehidupanku seperti sebelumnya."


"Via, apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, hingga mengambil keputusan ini seorang diri?"


"Lalu bagaimana denganmu, apa kau mencintaiku, mas?"


"Tentu saja, dan aku yakin kau tahu seperti apa aku mencintaimu,"sahut Rahman dengan yakin, dan ia berharap jika Via akan luluh dengan kesungguhannya.


Namun, Via malah mengukir senyum tipis yang di paksakan.


"Jika kau benar-benar mencintaiku, tentu kau tidak akan pernah melakukan semua ini padaku mas, tidak akan menggoreskan luka di hatiku. Kau tidak mencintaiku mas, tapi kau hanya membutuhkanku. Yang kau cintai hanya ibumu dan ibumu tidak pernah mengharapkanku, aku menantu yang tidak pernah ia harapkan dan inginkan, mungkin aku masih bisa bertahan dengan ibu dan Mbak Rohmah, karena aku sudah terbiasa di perlakukan buruk oleh keluargamu selama dua tahun lebih, yang penting kau tetap mencintaiku aku akan sanggup menghadapinya, tapi aku tidak akan sanggup dan bertahan jika hatimu kau berikan pada wanita lain. Aku menyerah menjadi istrimu mas. Tolong lepaskan aku, biarkan aku menjalani kehidupan seperti sebelum aku mengenalmu."


Perkataan Via benar-benar menusuk hati Rahman, dan saat itu juga lelaki yang bernama Rahman ini menyadari kesalahannya selama ini.


Namun menyesal pun sudah tidak ada gunanya karena semua sudah terlambat.

__ADS_1


❄️❄️


Dengan langkah gontai dan penyesalan yang luar biasa memenuhi hatinya, Rahman berjalan menemuimu mertuanya.


Alvian sudah mengepalkan tangannya ketika melihat Rahman berjalan ke arahnya, jika tidak ada Rohim dan Aminah sudah pasti ia layangkan kepalan tangan itu di wajah Rahman.


Rahman berjalan mendekat dan mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.


"Rahman. Saya ingin bicara denganmu,"ujar Rohim, masih dengan nada suara yang begitu tenang.


"Kalau begitu, ibu permisi dulu ingin membantu Via berkemas."Kata Aminah dan berlalu dari Ruangan keluarga meninggalkan Rahman bersama Alvian dan Rohim.


"Rahman, tentu kau sudah tahu maksud kedatangan saya kan? Dua tahun yang lalu saya datang ke Rumah ini dengan penuh senyum dan kebahagiaan untuk mengantar Putri tercinta kami yang sudah kami besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta, untuk memulai kehidupan baru bersama orang yang ia cintai. Via gadis kesayangan kami, apapun kami lakukan demi kebahagiaannya termasuk menikahkannya denganmu karena Via saat itu sangat mencintaimu, saya berharap Via mendapatkan kebaikan yang berbeda di saat kami melepaskannya untuk mu, apa kau tau Rahman. Di saat kau datang meminang Via dan kami dengan senang hati menerimanya, sebenarnya hati kami merasa sedih karena harus melepaskan putri kecil kami.


Tapi sekali lagi, apapun kami lakukan demi kebahagiaan Savia Putri tercinta kami."


Rahman hanya bisa menunduk mendengarkan apa yang di katakan Rohim, Lelaki tua itu bicara dengan tenang tapi gurat kesedihan terlihat nyata di wajahnya, sampai ia menghentikan ucapanya.


Setelah beberapa saat hening, tiada ada suara dari ketiga Lelaki yang duduk di sofa berwarna abu-abu itu.


Rohim Kembali melanjutkan apa yang harus ia katakan pada Rahman.


"Dan saat ini. Saya kembali datang ke Rumah ini, dengan hati yang berbeda untuk menjemput putri kami, bukan saya tidak bisa memaksa Via untuk kembali kepada kami setelah kami tau apa yang kau lakukan pada Via, tapi kami masih menghormatimu sebagai suami Via, dan memberikan kalian waktu untuk memperbaikinya, tapi sepertinya Via sudah berada di batas kesanggupannya hingga ia meminta kami untuk menjemputnya pulang. Saya sangat bangga dengan putri saya meskipun ia dalam keadaan emosi dan terluka tapi Via tidak serta-merta meninggalkan kamu begitu saja, ia lebih memilih ayahnya yang 2 tahun lalu mengantarkan dia ke rumah ini untuk kembali menjemputnya. Rahman saya datang kesini meminta izin untuk membawa kembali putri saya."


Setelah Rohim menyelesaikan kata-katanya.


Seketika itu dada Rahman bergemuruh, ia baru menyadari jika ia selama ini tidak memberikan kebahagiaan untuk Via seperti apa yang orang tuanya harapkan.


"Ayah, tolong maafkan aku,"ucap Rahman dengan suara bergetar dan sangat menyesal.


"Sudahlah Rahman, semua sudah terjadi. Mungkin ini yang terbaik untuk kalian."


"Tidak. Yah, tolong jangan bawa Via pulang. Tolong yah, biarkan Via tetap bersamaku di sini, aku berjanji akan berubah dan akan membahagiakan Via,"pinta Rahman dengan memohon.


"Brengsek! Kau masih berani meminta Via agar tetap tinggal bersamamu, apa kau berniat membunuh adikku secara perlahan. Dengan kelakuan mu dan Ibumu yang Durjana itu,"sahut Alvian dengan memaki, karena sejak tadi ia sudah menahan amarahnya yang membuncah di kepala.


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2