Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Kemana Rudi?


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Untuk apa Ibu meminta uang sebanyak itu pada Selvi?"gumam Via.


Namun karena tidak mau ambil pusing dan saat ini ia tengah memasak, Via tidak memperdulikan itu. Bahkan untuk membalas pesan dari Selvi pun tidak Via lakukan.


Ia lebih memilih untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.


❄️❄️❄️❄️


Sore hari.


Rahman pulang dari Pabrik dan ia memutuskan untuk mampir ke Rumah Ibunya terlebih dahulu sebelum pulang ke Rumah.


Rahman ingin memastikan, apa benar Rudi membutuhkan untuk 5 juta rupiah untuk mencairkan uang yang ada di Bank.


Namun ketika Rahman sampai di Rumah, ia mendapat sambutan kecut dari Jubaidah dan Rohmah.


Kedua wanita itu, mengerucutkan bibirnya sambil ngedumel pada Rahman.


"Lalu, sekarang, di mana Mas Rudi Mbak?"tanyanya pada Rohmah. Yang sama sekali tidak mengukir senyum pada Adiknya itu.


"Tentu saja sedang ke Bank, untuk mencairkan untuk,"sahutnya dengan ketus.


"Mencairkan uang? Di sore hari seperti ini! Bahkan ini sudah menjelang Maghrib Mbak, bukankan semua Bank sudah tutup di jam segini. Mas Rudi tidak menggunakan ATM kan, yang buka selama 24 jam."


"Sudah Rahman, kau tau apa. Mas Rudi itu tau segalanya, apa lagi untuk mencairkan uangnya." Kata Rohmah tidak terima.


"Terserah, kalau Mbak Rohmah tidak percaya, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya ingin bertanya, dari mana Ibu dan Mbak Rohmah mendapatkan uang untuk biaya Administrasi itu?"


Jubaidah dan Rohmah saling pandang, mereka bingung harus jawab apa. Jubaidah takut jika Rahman akan marah. Karena ia meminta bantuan pada Selvi.


"Dari mana Bu?"tanya Rahman kembali.


"Sudah Bu, jawab saja yang sebenarnya,"bisik Rohmah.


"Dari Selvi."


"Apa, Selvi! Ibu meminjam uang pada Selvi?"


"Memangnya siapa lagi yang bisa Ibu andalkan, Via! Istrimu itu pelit, dan kau tidak mau memberi uang itu pada Ibu, jadi hanya Selvi yang bisa Ibu andalkan saat ini."


"Bukan aku tidak mau memberikan uang pada Ibu, tapi....!"


"Sudahlah Rahman,"Potong Rohmah, dengan nada membentak, "Kamu tidak perlu berkoar-koar di sini, sekarang cepat pulang,"usirnya.


Rahman yang merasa kehadiran tidak di inginkan, memilih untuk pergi dari Rumah Ibunya.


"Aku pulang dulu Bu,"ujarnya pada Jubaidah.


"Yasudah, cepat kau pulang sana."


Rahman pulang dengan hati yang sedikit kecewa, tapi yasudah lah. Rahman tidak akan pernah mempermasalahkan itu semua.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


POV Rahman.

__ADS_1


Aku menatap semua makanan yang tertata rapi di atas meja makan.


Apa ini! Apa Via memasak semua ini untukku?


Ada apa dengannya, memasak segini banyak. Ini bukan hari jadi ku, atau hari jadi pernikahan kami.


Tiba-tiba aku kembali mengingat omongan Ibu.


Astaghfirullahaladzim, ada apa denganku. Kenapa aku jadi meragukan Via seperti ini.


Tapi hati kecilku kembali berkata, dari mana Via mendapatkan uang untuk membeli bahan makanan ini!


"Kenapa kau malah diam, Mas. Ayo makan!"


Ajak Via dengan suara ramah.


Dan hal ini pun kembali membuatku curiga, tadi siang ia marah-marah padaku mungkin karena aku yang semalam tidak mengantarnya pulang.


Tapi kenapa Via berubah!


Secepat ini!


"Ayo Mas, nanti makanannya keburu dingin,"kata Via, dengan menuntun tanganku untuk duduk di kursi.


Aku memperhatikan Via yang menyendokan nasi di atas piringku.


"Kau mau makan pakai apa myas?"tanya Via.


Aku yang masih terheran dan bingung tidak langsung menjawab pertanyaan Via, aku malah menatap matanya yang terlihat sangat bahagia.


"Kenapa kau menatapku seperti itu Mas? Apa ada yang aneh denganku?"


"Kalau begitu, cepat makan Mas."


Kami menikmati makanan itu dalam diam.


Beberapa masakan Via, yang tersaji di atas meja sangatlah lezat dan menggiurkan.


Tapi entah kenapa, aku tak berselera untuk menyantapnya, bahkan aku merasakan semua masakan yang masuk ke dalam mulutku hambar.


Mungkin karena perasaanku yang tidak nyaman dan gelisah, karena omongan Ibu dan tingkah aneh Via, yang tiba-tiba.


"Aku ingin meminta izin padamu Mas, besok aku ingin ke Rumah Ibuku,"kata Via setelah kami menyelesaikan makan.


"Untuk apa?" Tanyaku dengan menyelidik, aku yang sejak tadi merasa cemas. Langsung panik ketika mendengar Via meminta izin pergi.


Aku melihat Via terkejut!


karena aku menjawab pertanyaannya dengan sedikit membentak.


"Kau kenapa Mas, aku ingin ke Rumah Ibu. Karena besok adalah jadwal kontrol Satria. Aku minta Ibu untuk menemaniku karena aku tahu kau tidak akan bisa mengantarku ke Rumah Sakit kan?"


Astaga!


Aku sampai lupa jika esok memang jadwal kontrol Satria.


"Apa benar kau hanya ke Rumah Ibu, dan mengantar Satria ke Dokter?"entah Setan apa yang merasuki diriku, hingga aku melontarkan pertanyaan seperti itu pada Via.

__ADS_1


"Tentu saja, memangnya aku ke mana lagi Mas. Setelah mengantar Satria ke Rumah Sakit, aku langsung pulang ke sini,"sahut Via dengan santai.


Sepertinya ia tidak tersinggung dengan pertanyaanku tadi, itu membuatku sedikit lega.


Namun aku yang masih curiga dan penasaran kembali melontarkan kata-kata yang membuat Via menatapku serius.


"Aku harap, ucapanmu itu benar."


"Apa maksudmu Mas?"


"Tidak, lupakan saja. Jika besok kau ingin ke Rumah Ibu pergilah, tapi setelah mengantar Satria ke Rumah Sakit, segera pulang jangan pergi kemana-mana lagi termasuk menemui teman-temanmu,"Kataku, melemah. Tapi percayalah, saat ini dadaku terasa panas tanpa sebab, hatiku ingin sekali melarang Via pergi, meskipun itu hanya untuk ke Rumah Sakit.


"Iya Mas, aku memang langsung pulang setelah mengantar Satria ke Rumah Sakit."


❄️❄️❄️❄️


"Aduh Rohmah, sudah jam berapa ini. Kenapa Rudi belum juga pulang, kau tadi bilang dia hanya pergi sebentar, tapi ini sudah berjam-jam bahkan ini sudah malam dia tak kunjung pulang, Rohmah."


Jubaidah tengah gelisah, ia mondar-mandir di depan Rumah menantikan kepulangan Rudi yang berpamitan ingin ke Bank siang tadi. Namum sampai saat ini, lelaki itu tak kunjung nampak batang hidungnya.


"Ibu bisa tenang tidak, aku tengah menghubungi Mas Rudi, Bu."Sahut Rohmah, yang juga terlihat kesal sekaligus khawatir karena Rudi tak pulang-pulang bahkan lelaki itu pun tak mengaktifkan ponselnya.


"Jangan-jangan Mas Rudi berbohong Mbak, ia tidak mencairkan uang di Bank, tapi ia pergi entah ke mana,"sahut Rania yang tengah duduk di kursi teras Rumah.


"Rania! Jaga ucapanmu,"bentak Rohmat tak terima.


"Kenapa sih Mbak marah-marah begitu, aku kan hanya menebak. Ya mudah-mudahan saja Mas Rudi benar-benar kembali, tapi mana ada orang berpamitan ke Bank dari siang tadi sampai malam seperti ini belum pulang."


"Rania!"Rohmah kembali membentak Adik bungsunya itu.


"Sudah Rohmah, Jangan ribut di sini. Bagaimana kalau ada yang mendengar,"kata Jubaidah yang menghentikan Rohma karena Wanita itu ingin kembali memaki Adiknya.


"Sekarang, cepat masuk ke dalam sana. Temani Putri,"kata Rohmah mengusir Adiknya.


"Iya-iya,"


Rania pun masuk ke dalam dan menemani keponakannya seperti yang diperintahkan Rohmah.


"Aduh, Rohmah. Bagaimana jika yang di katakan Rania dan Rahman benar?"Jubaidah terlihat cemas, sepertinya ia juga sedikit tidak mempercayai menantu kesayangannya.


"Ibu jangan bicara seperti itu dong, aku sudah sangat mengenal Mas Rudi dari dulu. Dia tidak pernah berbohong denganku Bu, Ibu jangan termakan omongan Rania dan Rahman."


"Semoga saja yang kau katakan ini benar Rohmah, tapi kenapa Rudi belum pulang juga. Ini sudah jam 09.00 malam."


"Ibu bersabarlah sedikit, bisa jadi Mas Rudi tengah pergi ke mana dulu, atau jangan-jangan! Terjadi sesuatu pada Mas Rudi,Bu."


Raut wajah Rohmah seketika berubah.


Ia mengkhawatirkan Rudi dan berfikir. Sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2