Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Harus Berbuat Baik Pada Siapapun.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Rahman, Rahman... Tolong ibu, jangan pergi,"Jubaidah terus merintih seraya memanggil nama Rahman, namun yang di panggil sudah tidak ada di sana. Rahman pergi tanpa memperdulikan Jubaidah.


Membuat wanita itu sedih dan terluka, anak yang selama ini ia besarkan dengan cara yang salah kini sudah tidak lagi perduli, dengan apapun kondisinya saat ini.


❄️❄️


"Apa kau sudah ke tempat Ibu Jubaidah, Mas?"tanya Via ketika melihat Rahman kembali ke Rumah.


"Sudah!"


"Cepat sekali, bagaimana dengan keadaan ibu Jubaidah apa baik-baik saja?"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia baik-baik saja."


"Syukurlah!"


"Mas, besok aku ingin ke Rumah Ibu."


"Mas akan mengantarkan mu."


"Tidak perlu mas, aku sudah meminta jemput Mas Alvian. Maaf Mas, aku tahu Mas sibuk di Pabrik, jadi biar aku pergi ke rumah ibu bersama Mas Alvian."


"Baiklah! Berhati-hatilah, Mas akan menjemputmu sore hari."


"Iya Mas."


❄️❄️❄️


Malam hari.


Rania pulang, dan baru saja membuka pintu, Rania di kejutkan dengan pemandangan di dalam Kontraknya, Jubaidah tengah terkapar di lantai dengan posisi tengkurap.


"Astaghfirullah, Ibu!"


Gadis itu langsung berhambur menghampiri Jubaidah dan membangunkannya.


"Ibu bangun Bu! Bangun."Rania menepuk-nepuk wajah Jubaidah.


"Ra.. Rania, da.. Dada ibu sakit, sakit sekali,"rinti Jubaidah dengan suara sangat pelan dan mata yang masih terpejam.


Rania sedikit lega karena ternyata ibunya masih hidup.


"Ibu sabar ya, aku akan ambilkan obatnya, sekarang kita ke kasur dulu."


Dengan susah payah, Rania membawa Jubaidah untuk merebah kan ibunya di atas kasur, dan setelah itu ia bergegas mengambil obat yang biasa Jubaidah konsumsi ketika dadanya nyeri.


Setelah meminum obat Jubaidah malah menangis tersedu-sedu.


"Ada apa Bu! Kenapa ibu menangis? Apa Dada Ibu masih sakit?"


"Rahman, Rania!"


"Ada apa dengan Mas Rahman?"


"Dia sudah tidak memperdulikan Ibu lagi."


"Kenapa Ibu bicara seperti itu. Tentu saja Mas Rahman masih sangat memperdulikan Ibu, ia anak kesayangan ibu dan Mas Rahman sangat menyayangi Ibu lebih dari apapun, Ibu tahu itu kan, kenapa tiba-tiba mengatakan jika Mas Rahman sudah tidak peduli lagi dengan Ibu?"

__ADS_1


Jubaidah tidak menjawab, ia malah menangis, dan membuat Rania bingung. Jubaidah tak sanggup berkata apa-apa ketika mengingat kejadian sore tadi di mana Rahman meninggalkannya dengan tega dan enggan untuk menolongnya yang tengah kesakitan luar biasa, bahkan sampai ia bersimpuh, Rahman tidak perduli.


"Sudah. Ibu tidak perlu memikirkan apapun, dan pastinya jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, Mas Rahman sangat menyayangi Ibu dan memperdulikan Ibu, bahkan Mas Rahman rela melakukan apapun demi Ibu, besok aku akan bicara dengan Mas Rahman dan meminta agar Ibu dibawa ke Rumah Sakit."


Jubaidah diam, tapi air matanya masih berlinang dari kedua bola mata. Ingin sekali Jubaidah mengatakan kepada Rania jika Rahman bukanlah kakak kandungnya, tapi hal itu tidak kuasa Jubaidah lakukan karena jika dia mengatakan yang sebenarnya, rahasianya selama ini akan terbongkar di hadapan Rania.


"Ibu tidur ya!"


Rania menyelimuti Jubaidah. Dan setelah memastikan wanita itu terlelap, Rania baru beranjak melakukan aktivitas malamnya.


❄️❄️❄️❄️


Keesokan harinya.


Seperti biasa, Rahman berangkat ke Pabrik pukul 07:00, dan setelah Rahman berangkat, Alvian datang untuk menjemput adiknya dan Putri yang ikut serta.


❄️❄️


"Bagaimana, apa Rahman benar-benar sudah berubah?"tanya Alvian yang saat ini sudah berada di belakang kemudi.


"Mas Vian tidak perlu khawatir, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Mas Rahman juga lebih sering memperhatikan Satria bahkan ia yang mengurusi semua keperluan Satria mulai dari mandi mengganti popok dan sebagainya, ia melakukan itu sebelum berangkat bekerja dan setelah pulang bekerja."Ujar Via dengan antusias, karena bahagia


"Syukurlah, senang mendengarnya. Tapi jika dia kembali berulah jangan kau tutup-tutupi, Mas akan bertindak."


"Tidak Mas, semuanya baik-baik saja, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku ketika menatap mata Mas Rahman dan sikap Mas Rahman."


"Ada apa? apa dia melakukan semua itu tidak ikhlas, atau berpura-pura, hanya untuk menyenangkan hatimu saja! dan mendapatkan kepercayaan Ibu kembali."Sahut Alvian dengan penuh nafsu.


"Bukan seperti itu Mas, aku melihat Mas Rahman seperti berbeda dari biasanya, dari tatapan mata dan tingkah lakunya terutama saat ia menatap Ibu Jubaidah, ia bukan seperti Mas Rahman yang aku kenal dulu. Dia memang memperlakukan aku sangat baik akhir-akhir ini, tapi ia berubah drastis jika berhadapan dengan Ibu Jubaidah."


"Bagus dong! memang seharusnya Rahman bersikap seperti itu kan pada wanita jahat itu, malah jika Mas menjadi Rahman, wanita itu sudah Mas tendang jauh-jauh, bila perlu, Mas akan membuangnya ke dasar jurang."


"Bukankah wanita itu jauh lebih kejam! ia berusaha menghancurkan Rumah tanggamu dan hubunganmu dengan Rahman, dan di masa lalunya, wanita itu membunuh Ibu Mira dan membuat Rahman menjadi tunduk seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, melakukan segala cara agar apa yang dia inginkan terpenuhi bukankah wanita itu sangat jahat!"


Via terdiam, yang dikatakan Alvian memang benar. Tapi Via merasa sedikit tidak tega karena kondisi Jubaidah saat ini sangat memprihatinkan, dia sakit parah namun Rahman enggan untuk membawanya berobat, badannya kurus tinggal tulang dengan wajah yang teramat pucat.


"Tidak usah memikirkan wanita jahat itu, yang perlu kau pikirkan hanya dirimu dan Satria saja, tidak usah membebani pikiran dengan kondisi orang lain."Kata Alvian memperingati adiknya.


Mobil semakin melaju menembus keramaian kota, sementara Putri dan Satria, terlelap sejak beberapa menit mobil itu di jalankan.


Hingga 30 menit kemudian Alvian dan Via sampai di kediaman Rohim dan Aminah.


Seperti biasa, kedua Orang Tua itu menyambut kedatangan cucu dan Putri semata wayangnya dengan penuh hangat.


Semenjak Via diajak pulang dengan Rahman, baru hari ini Via menyempatkan diri untuk berkunjung ke Rumah Orang Tuannya.


Sama seperti Alvian, Aminah pun mempertanyakan kondisi rumah tangga Via, dan Via pun menjawab apa adanya sama seperti ia menjawab pertanyaan pada Alvian.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Ibu mertuamu! apa sampai saat ini Rahman tidak mengatakan apapun?"


"Tidak Bu, Mas Rahman masih kekeh untuk tidak mengatakan apapun kepada Ibu Jubaidah tentang kebenaran yang ia tau, dan sekarang Ibu Jubaidah sedang sakit parah, beliau sering mengeluh sakit di dadanya. Badannya kurus dan wajahnya sangat pucat, beliau lebih sering menghabiskan hari-harinya di atas kasur karena sudah tidak sanggup untuk melakukan aktivitas seperti biasa."


"Astaghfirullah! kasihan sekali Jubaidah."


Via mengangguk.


"Aku juga sangat iba dengan kondisi beliau, Ibu Jubaidah memang jahat, dan aku sempat membenci beliau, tapi apakah kita tidak boleh prihatin padanya! kenapa Mas Rahman selalu melarangku ketika aku ingin menjenguknya, dia benar-benar tidak mengizinkanku untuk bertemu dengan Ibu Jubaidah jika tidak bersamanya."


"Kenapa seperti itu? tentu saja kita dituntut untuk berbuat baik dengan siapapun, lebih-lebih lagi jika orang itu tengah sakit parah dan membutuhkan pertolongan serta bantuan. Kita abaikan dulu apa yang pernah dia lakukan, kita harus membantunya, semoga dengan sakitnya beliau, Jubaidah bisa bertaubat dan dosa-dosanya di ampuni oleh Allah yang maha pengampun."

__ADS_1


"Entahlah Bu, kenapa Mas Rahman seperti itu."


"Kamu yang sabar ya nak, bicaralah pelan-pelan dengan suamimu. Tapi kau juga tidak boleh membantah apa yang Rahman larang, semua bisa dibicarakan secara baik-baik tanpa harus ada keributan dan saling ingin menang sendiri."


Via mengangguk, mendengarkan nasehat Aminah.


Via juga menceritakan jika Rhoma masuk Rumah Sakit Jiwa.


"Ibu benar-benar sangat prihatin dengan apa yang menimpa keluarga Jubaidah, semoga Rohmah dan Jubaidah bisa segera sembuh kembali, seperti apapun kelakuan Jubaidah dan Rohmah dulu padamu, jangan pernah menyimpan dendam apapun, berbuatlah baiklah pada mereka, dan mencoba untuk melupakan semua kesalahannya."


"Aku sudah melakukan itu Bu dan saat ini aku sama sekali tidak membenci Ibu Jubaidah dan Mbak Rohmah, bagaimana aku bisa membenci seseorang yang tengah berjuang melawan sakit seperti itu."


"Alhamdulillah kau memang anak Ibu yang baik."


❄️❄️


Di siang hari.


Aminah yang merasa prihatin dengan Rohmah memutuskan untuk menjenguk wanita itu di RSJ, ditemani oleh Alvian, Via, dan tentunya Putri karena ia ingin melihat ibunya, sementara Satria bersama Rohim di Rumah.


Sebelum pergi, Via mengirim pesan kepada Rahman untuk memberi tahu jika ia dan Aminah ke RSJ, untuk menjenguk Rhomah. Namun, karena sibuk, Rahman belum sempat membaca pesan teks dari istrinya.


❄️❄️


"Alhamdulillah, kita sampai!"


Aminah mengucapkan syukur ketika mobil yang dikendarai Alvian sudah berhenti di parkiran Rumah Sakit.


Putri sangat berantusias karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan ibunya.


Mereka berjalan beriringan menuju meja informasi.


"Selamat! Siang Ibu, ada yang bisa kami bantu?"tanya seorang suster yang berjaga di Meja Informasi dengan ramah.


"Siang Sus, kami ingin menjenguk pasien atas nama Rohmah Wandari,"sahut Via.


"Tunggu sebentar ya Bu."


"Baik terima kasih, Sus."


Via dan Aminah, menunggu Suster yang tengah membuka buku daftar Pasien.


"Maaf Bu, pasien atas nama Rohmah Wandari, sudah tidak di rawat di sini, sejak 1 Minggu yang lalu."Ujar Suster, setelah ia memastikan informasi yang ia dapat dari buku.


"Apa! tidak di rawat di sini, maaf Sus, lalu sekarang Mbak Rohmah di rawat atau di pindahkan di mana?"


"Bukan di pindahkan Bu, tapi keluarga pasien datang, dan memaksa membawa pulang Bu Rohmah, dengan alasan ingin di rawat di Rumah saja."


Via semakin di buat terkejut dengan penuturan Suster, siapa keluarga pasien yang di maksud Suster! Jubaidah tidak memiliki keluarga besar, bahkan Via sendiri tidak tahu siapa saja keluarga Rohmah dan Jubaidah, yang Via tahu, saat ini keluarga Rohmah, hanya Rahman, Jubaidah, Riana dan Putri.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2