Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Di mana Jubaidah?


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Masih melanjutkan malamnya Via dan Rahman.


Pasutri ini masih menikmati malam yang sudah jarang sekali mereka lakukan, karena banyaknya masalah di keluarga hingga mengabaikan apa yang seharusnya mereka lakukan.


"Apa kau sudah siap?"tanya Rahman yang kini sudah bertumpu di atas tubuh Via yang terlentang di atas kasur.


Dengan wajah sayu, Via mengagguk dan tanpa BA BI BU lagi, Rahman melakukan apa yang harusnya ia lakukan. Hingga terciptalah suara-suara meresahkan di kamar itu, beruntung Satria sedang berada di kamar Putri jadi tidak ada yang menggangu kesenangan kedua manusia yang tengah melakukan adegan Biru ini.


❄️❄️❄️❄️


Keesokan harinya.


Rahman dan Via yang baru selesai mandi wajib. Di kejutkan dengan kedatangan Ranai, yang tergesa-gesa.


"Ada apa?"tanya Rahman, dengan sangat santai padahal saat itu wajah Rania terlihat sangat pucat karena ia panik.


"Ibu, Mas,"sahut Rania dengan nafas yang memburu.


"Kenapa lagi dengan Ibu?"tanya Rahman kembali dengan wajah yang masih santai, karena ia tengah melakukan aktivitas paginya sebelum berangkat bekerja.


"Ibu tidak sadarkan diri mMas, sebelumnya Ibu batuk-batuk lalu kejang dan memuntahkan darah, lalu Ibu pingsan."


Mendengar penjelasan Rania yang panik, Rahman menanggapinya hanya dengan mengangkat kedua alis, berbeda dengan Via yang terlihat terkejut.


"Astaghfirullahaladzim, lalu sekarang Ibu di mana! Apa sudah dibawa ke Rumah Sakit?"


Belum Mbak, tidak ada warga yang bisa dimintai tolong, oleh karena itu aku datang ke sini meminta tolong pada Mas Rahman dan Mbak Via."


"Ayo Mas, kita harus segera bawa Ibumu ke Rumah Sakit,"ajak Via.


"Ini masih sangat pagi, apa tidak nanti saja nunggu sedikit siang,"sahut Rahman tanpa beban.


"Astaghfirullahaladzim, Mas. ibumu pingsan sekarang kenapa harus dibawa ke rumah sakit siang!"


"Iya Mas, Ibu juga memuntahkan darah tiada henti, aku sangat khawatir dengan Ibu, Mas, tolong bantu aku untuk membawa Ibu ke Rumah Sakit."Pinta Rania.


"Baiklah!"dengan enggan, Rahman pun terpaksa beranjak dan menuju kontrakan Jubaidah.


❄️❄️


Sesampainya di sana, Rahman meminta ijin untuk meminjam Mobil Pabrik, dan meminta rekanya untuk membawa mobil tersebut ke kontrakan Jubaidah.


"Ini Man, apa aku perlu mengantarmu ke Rumah Sakit?"tawar rekannya seraya memberikan kunci mobil.


"Tidak perlu, terima kasih. Biar aku saja yang membawa Ibuku ke Rumah Sakit, kau kembali ke Pabrik bawa motor ku saja ya."


"Baiklah!"


Setelah rekannya pergi, Rahman mengangkat Jubaidah ke dalam mobil dan siap membawa wanita itu ke Rumah Sakit, namun lagi-lagi, Rahman berulah, karena ia meminta Rania untuk tidak ikut bersamanya.


"Kenapa aku tidak boleh ikut Mas! aku ingin menemani Ibu dan memastikan jika Ibu baik-baik saja?"


"Ranai, apa kau tidak mempercayai Mas, Mas juga bisa menjaga dan memastikan Ibu baik-baik saja, lagi pula, hari kau akan mengikuti ujian kan, jadi lebih baik kau fokus dengan ujianmu, biar Ibu, Mas yang mengurus."


"Maaf Mas, baiklah! aku tidak ikut, tapi tolong kabarin aku jika Ibu sudah sampai di Rumah Sakit,"pinta Rania.

__ADS_1


Rahman mengagguk, dan ia bergegas masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan melaju menjauhi Kontrakan.


Rania menatap mobil yang semakin menjauh dari pandangan matanya, entah kenapa tiba-tiba hatinya menjadi gelisah ketika Rahman memutuskan untuk membawa Jubaidah seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun. Akhir-akhir ini Rania pun menangkap gelagat aneh dari kakaknya itu, namun ia tidak bisa mengutarakannya karena ia takut salah paham dengan dugaannya saat ini. Ia hanya bisa berharap jika Rahman benar-benar akan menjaga dan memastikan kondisi Ibunya baik-baik saja di sana.


❄️❄️❄️


Sore hari.


Rania masih belum mendapatkan kabar dari Rahman tentang kondisi Ibunya, padahal sudah puluhan kali ia menanyakan kepada Rahman lewat pesan singkat namun lelaki itu tidak menjawabnya.


Di sepanjang mengikuti ujian, Rania gelisah hingga tidak fokus, karena memikirkan kondisi Ibunya, hingga saat jam pulang, ia bergegas lari ke Rumah Via untuk menanyakan kabar Ibunya namun Rahman tidak ada di sana, dan Via mengatakan! semenjak Rahman mengantarkan Jubaidah ke Rumah Sakit ia belum kembali.


"Mungkin saja Mas Rahman langsung ke Pabrik, atau iya masih berada di Rumah Sakit untuk menjaga Ibu."Ujar Via.


"Tapi kenapa Mas Rahman tidak memberi kabar Mbak, setidaknya dia memberitahuku atau Mbak Via di mana dia sekarang dan bagaimana kondisi Ibu."


Ya, Rania benar, dan Via pun memikirkan hal yang sama. Ia berusaha berpikir positif dan menenangkan Rania, padahal Ia sendiri tengah cemas dengan kemungkinan apa yang dilakukan Rahman pada Jubaidah.


"Kamu yang sabar dan tenang dulu ya Rania, kita tunggu sebentar lagi mungkin saja Mas Rahman tengah repot jadi tidak sempat membalas pesan kita."


Rania mengagguk. Ya, hanya bersabar dan tenang yang bisa ia lakukan saat ini.


"Mbak! apa Mas Rahman sudah mengatakan pada Mbak Via di mana Mbak Rohmah sekarang?"tanya Rania yang sudah mengetahui jika Rahman sudah membawa pulang Rohmah dari RSJ.


"Belum, yang jelas Mas Rahman mengatakan, jika ia sudah memberikan tempat yang layak dan baik untuk Mbak Rohmah."


Rania hanya mengangguk tanpa curiga sedikitpun, karena yang ia tahu selama ini, Rahman sangat menyayangi lebih dari apapun Jubaidah dan Rohmah, Jadi tidak mungkin jika lelaki itu berbuat macam-macam pada Kakak dan Ibunya.


Berjam-jam menunggu, hingga malam pun tiba.


Rahman masih belum juga menghubungi Via atau Rania untuk mengabari keadaan Jubaidah sekarang.


"Kita tunggu sebentar lagi ya Rania mungkin saja Mas Rahman akan pulang!"Via yang masih menenangkan Adik iparnya.


Hingga suara motor terdengar di halaman Rumah Via, dan sontak membuat kedua wanita itu bergegas membuka pintu karena mereka sangat yakin itu adalah suara motor Rahman.


Benar saja!


Rahman yang datang dengan motor yang biasa ia gunakan untuk berangkat bekerja.


"Mas kau dari mana?"tanya Via tanpa basa-basi, karena ia sudah tidak sabar ingin menanyakan hal ini.


"Tentu saja dari Pabrik, memangnya dari mana lagi,"sahut Rahman tanpa bersalah padahal seharian ia sudah membuat orang panik karena tak kunjung memberi kabar.


"Aku sudah puluhan kali mengirim pesan dan menelpon Mas, tapi Mas tidak menjawab dan membalas pesanku."


"Maafkan Mas, Via. Ponsel Mas tertinggal di Mobil, dan sepertinya terbawa sopir mobil Pabrik yang tengah mengantar barang ke luar kota."Rahman memberi alasan.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Ibu Mas, Kenapa Mas Rahman tidak mengabariku, apa Mas tahu aku panik setengah mati menunggu kabar dari Mas!"kali ini Rania yang bersuara.


Rahman terdiam sejenak, Ia seperti memikirkan sesuatu, mungkin saja ia tengah berpikir untuk merangkai kata apa yang tepat untuk ia berikan dan dijadikan alasan kepada adik perempuannya ini.


"Mas, tidak sempat mengabarimu Rania, kan ponsel Mas tertinggal di Mobil."Alasan yang sama, seperti yang ia berikan kepada Via.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Ibu! Mas membawa Ibu ke Rumah Sakit mana, aku sudah menghubungi pihak Rumah Sakit yang merawat Ibu kemarin, tapi mereka mengatakan! jika Ibu tidak dibawa ke sana?"


Rahman semakin terlihat gugup! tapi dengan cepat, ia mengubah ekspresi wajahnya kembali tenang dan santai.

__ADS_1


"Mas membawa Ibu ke Rumah Sakit lain, dan pastinya jauh lebih baik dan lengkap daripada Rumah Sakit sebelumnya. Kau tidak perlu khawatir, Ibu baik-baik saja. Mas sudah memastikan semuanya jika Mas sudah menempatkan Ibu ke tempat yang seharusnya dan layak untuk beliau."Ujar Rahman, meyakinkan Rania.


"Terima kasih Mas, besok aku ingin menjenguk Ibu boleh ya?"


"Tidak boleh!"


Jawab Rahman, dengan cepat dan sedikit menyentak, dan tentu saja hal ini membuat Rania dan Via terkejut.


"Kenapa tidak boleh Mas!"protes Rania.


Dan Rahman pun mengutarakan alasannya kenapa Rania tidak diizinkan untuk menjenguk Ibunya.


Ia beralasan, agar Jubaidah bisa istirahat dengan nyaman tanpa diganggu oleh siapapun karena hal ini bisa mempercepat proses penyembuhan wanita itu.


Meskipun Rania meragukan alasan kakaknya itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunduk dan mempercayainya.


"Kau bersabarlah sedikit, jika sudah waktunya Mas akan mempertemukan kau dan Ibu, begitu juga dengan Mbak Rohmah."


kata Rahman di akhir ucapannya.


❄️❄️❄️


Beberapa hari berlalu.


Rania masih saja terus penasaran dan meminta Rahman untuk mengizinkannya bertemu dengan Jubaidah dan mengatakan di mana Jubaidah dirawat, namun dengan pendiriannya yang keras kepala, Rahman kekeh tidak mengatakan apapun kepada adiknya itu.


dengan alasannya sendiri dan maksudnya sendiri, Rahman tetap merahasiakan keberadaan Jubaidah dan Rohmah dari semua keluarganya.


Dan hal ini semakin memancing kecurigaan Via kian tinggi. Bertanya pun rasanya tidak mungkin, karena Rahman tidak akan mengatakan apapun padanya.


Hingga pada akhirnya, Via memutuskan untuk mencari tahu sendiri di mana Rahman membawa Rohmah dan Jubaidah untuk dirawat, bukan maksud Via ingin ikut campur, dan memata-matai suaminya, tapi Via ingin menyelamatkan Rahman dari tindakan buruk.


kenapa tindakan buruk!


Karena via merasa jika Rahman menyembunyikan sesuatu darinya Dan itu hal-hal yang negatif.


"Mas, apa ponselmu belum kembali?"Via mempertanyakan ponsel Rahman yang katanya tertinggal dan terbawa sopir Pabrik, di dalam mobil yang ia pinjam beberapa hari lalu untuk membawa Jubaidah ke Rumah Sakit.


"Belum, tapi kau tidak perlu cemas Mas sudah mendapatkan ponsel baru dari Pak Hendra. Jadi kau tetap bisa menghubungi Mas kapanpun,"sahutnya.


"Mas, berangkat dulu ya!"


Rahman berpamitan kepada Via seperti biasa.


"Berhati-hatilah Mas!"


Selepas Rahman pergi ke Pabrik, Via memberanikan diri, mencari sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi petunjuk untuknya lewat benda-benda pribadi milik Rahman.


Bersambung..


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2