Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Jubaidah Murka


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗🤗


"Ada apa ini Mbak?"


Rohmah menunduk.


"Rumah... kita disita, kar...!"


"Karena ulah Suamimu yang tidak berguna itu,"Jubaidah langsung memotong ucapan Rohmah yang terbata-bata.


"Maksud Ibu Mas Rudi, ada apa dengan Mas Rudi?" Rahman semakin bingung.


"Tentu saja si Rudi sialan itu, si brengsek itu telah menjual Rumah Ibu, dan uangnya entah dibawa ke mana. Lelaki itu benar-benar kurang ajar! dia menipu Rohmah dengan berdalih menggadaikan Sertifikat Rumah untuk modal bisnis yang ia jalani bersama temannya, tapi nyatanya, Rudi malah menjual Rumah itu beserta isinya dan ka kabur entah kemana."


"Apa itu benar Mbak!"Rahman sudah meninggikan suaranya, dengan menatap tajam Rohmah yang masih tertunduk.


"Mas Rudi bilang, hanya menggadaikan Sertifikat itu Man, Mbak tidak tahu kalau dia malah menjualnya."


"Itu karena kau yang bodoh, Rohmah. Kenapa kau tidak meminta izin terlebih dahulu pada Ibu, dengan semudah itu kau memberikan Sertifikat Rumah pada si berengsek Rudi." Sahut, Jubaidah dengan berapi-api, kemarahan sudah memenuhi isi kepalanya.


"Kenapa Ibu malah menyalahkan aku?"


"Memangnya siapa lagi yang harus Ibu salahkan?"


"Cukup!" Bentak Rahman," kenapa Ibu dan Mbak Rohmah malah ribu di sini? Apa kalian tidak malu banyak yang memperhatikan kalian?"


Jubaidah melirik di sekelilingnya.


Dan benar saja, beberapa orang tengah berdiri, melihat, dan mendengarkan apa yang tengah mereka ributkan.


Ya, selain kebakaran, keributan memang sangat menarik untuk di tonton.


"Rahman, cepat buka pintunya Ibu ingin masuk!"tita Jubaidah yang merasa malu karena disaksikan para tetangga Via.


"Aduh, kasihan sekali ya bu Jubaidah! Padahal Rudi itu menantu kesayangannya loh, yang digadang-gadang akan membawa keberuntungan di keluarganya, tapi ternyata, malah jadi parasit di keluarga Ibu Jubaidah," Ucap salah satu warga yang menyaksikan percekcokan Jubaidah dan Rohmah.


"Diam! Kau, jangan ikut campur jika tidak mau mulutmu saya robek!" Marah Jubaidah.


"Ibu Jubaidah ko jadi marah-marah, saya kan hanya ingin menyampaikan rasa bela sungkawa pada Bu Jubaidah."


"Bela sungkawa? Kau itu menghina saya."


"Sudah Bu, Kenapa Ibu malah marah-marah seperti ini, ayo cepat masuk!"


Rahman segera membawa Jubaidah masuk ke dalam sebelum wanita itu melakukan hal yang lebih pada tetangganya.


"lepas, Rahman. Biarkan Ibu merobek mulut wanita kurang ajar itu, berani-beraninya dia menghina Ibu di depan umum,"Maki Jubaidah. Tapi makiannya itu tidak didengar oleh orang-orang yang ada di luar karena Rahman sudah membawanya ke dalam dan menutup pintu dengan rapat.


"Sudah Bu! Ibu jangan menambah rumit keadaan dengan memarahi para tetanggaku di sini."


Jubaidah mengatur nafasnya yang memburu, karena sejak tadi wanita itu berteriak-teriak, hari ini ia benar-benar sangat kesal setelah ia dipaksa keluar dari Rumahnya oleh beberapa orang berpakaian hitam. Ia juga mendapat cibiran dari para tetangganya.


"Ini semua gara-gara sialan Rudi itu, aku doakan menantu durjana itu tidak selamat dunia akhirat,"Umpat Jubaidah sambil membayangkan wajah Rudi yang tengah tersenyum puas memegang uang ratusan juta di tangannya.


"Sudah Bu! Tenang, Ibu jangan marah-marah seperti ini, tidak baik untuk kesehatan Ibu,"ujar Rania menenangkan ibunya karena ia merasa khawatir dengan Jubaidah yang sejak pagi marah-marah.


"Rania tolong ambilkan Ibu minum." Titah Rahman, yang melihat ibunya kesulitan bernafas.


"Baik, Mas."

__ADS_1


Rahman beralih pada Rohmah.


"Mbak ceritakan apa yang terjadi, Kenapa bisa sertifikat rumah berada di tangan mas Rudi dan ia sampai menjualnya?"


Rohmah pun menceritakan apa yang terjadi padanya satu minggu yang lalu. Dan Rahman benar-benar menyayangkan kejadian itu.


"Kenapa kalian masih percaya saja sama Mas Rudi, padahal aku sudah pernah mengingatkan Ibu dan Mbak Rohmah untuk tidak terlalu mempercayai omongan Mas Rudi. Aku sudah sangat meragukan lelaki itu di saat dia kerampokan dan kehilangan uang ratusan jutanya, tapi kalian tidak mau mendengarkan omonganku dan tetap mempercayai Rudi dan membelanya."


"Rahman! Jadi kau mau menyalahkan Ibu?"Jubaidah tidak terima.


"Bukan menyalahkan Ibu, aku hanya menyayangkan kejadian ini bisa terjadi padahal sebelumnya aku sudah mengingatkan Ibu dan Mbak Rohmah untuk tidak mempercayai Mas Rudi."


Hening..


Tidak ada lagi sahutan dari Jubaidah ataupun Rohmah, sampai Rania datang memberikan wanita itu minum.


Jubaidah terlihat tenang setelah meminum segelas air putih yang diberikan oleh Rania.


Dan Rahman pun kembali mengeluarkan suaranya.


"Jadi, Ibu dan Mbak Rahmah mau tinggal di mana? Jika Rumah itu benar-benar sudah dijual oleh Mas Rudi?"


"Di mana lagi, tentu saja tinggal di Rumahmu ini."


Rahman terkejut!


"Tinggal di Rumah ini?"


"Iya, memangnya kenapa? kau tidak mengijinkan Ibu dan adikmu tinggal di sini? Lagi pula di Rumahnya sudah tidak ada Via kan. Jadi tidak ada salahnya Ibu tinggal di sini."


"Tapi Bu..!"


Namun Rahman yang tidak terima kamarnya dengan Via dimasuki segera mencegah Jubaidah, entah kesambet setan apa Rahman bisa berubah perlakuannya pada Jubaidah. Bahkan ia dengan berani mencegah langkah kaki Ibu kesayangannya itu yang ingin memasuki kamarnya dan Via.


"Aku tidak mengijinkan Ibu untuk tidur di sana?"


Jubaidah menatap Rahman, ia tidak percaya jika Rahman akan mencegahnya seperti itu.


"Rahman!"panggil Jubaidah.


"Bu, aku bilang aku tidak mengijinkan Ibu menempati kamar ku dan Via,"sahut Rahman dengan tegas.


Membuat Jubaidah membeku.


"Kalau Ibu mau istirahat, tidurlah di kamar lain , jangan di kamar Via,"sambung Rahman lalu ia pergi dari hadapan Jubaidah memasuki kamarnya.


Jubaidah menatap punggung Rahman.


Matanya menajam dan pikirannya kalut. Ia segera mengambil ponselnya yang di simpan di dalam tas, dan segera masuk kedalam kamar. Tentu bukan kamar Via dan Rahman.


Sesampainya di Kamar, Jubaidah mengotak-atik ponselnya, mencari kontak yang ingin ia hubungi.


Sesaat kemudian, wanita itu menyunggingkan senyum tipis setelah menemukan apa yang ia cari.


"Halo! Mbah! bisa saya bertemu dengan Mbah?"


(........)


"Baik, Mbah. Besok pagi-pagi sekali saya akan datang di saung Mbah."

__ADS_1


(..…..)


"Terima kasih Mbah."


Jubaidah, menutup panggilannya dan kembali memasukkan ponsel di tasnya.


"Aku tidak akan membiarkan Rahman berubah seperti dulu."Gumam nya.


Di dalam kamar, Rahman terlihat seperti orang bingung. Ia merasa menyesal pada Jubaidah, tapi hati kecilnya membenarkan tindakan itu.


Rahman membaringkan tubuhnya di atas Ranjang, tiba-tiba bayangan Via kembali melintas di matanya.


"Aku benar-benar, tidak bisa melupakan mu Via, tolong kembalilah."


Mata Rahman tertuju pada foto pernikahannya dan Via yang tergantung di dinding kamar, di saat itu juga Rahman mengingat semua momen indah yang pernah ia lewati bersama Via hingga mereka sampai memiliki Satria, buah cinta mereka berdua.


Tapi kini Via telah pergi meninggalkannya


Rahman tertidur, sambil mengenang masa-masa indahnya bersama sang istri.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️



Di ke esoknya


Jubaidah benar-benar pergi di pagi buta untuk menemui seseorang yang ia hubungi kemarin


Sedangkan Rahman memutuskan untuk berangkat bekerja, karena sudah Satu Minggu ia tidak bekerja. Setelah pulang dari pabrik ia akan kembali mendatangi rumah Rohim.


Sepanjang perjalanan menuju pabrik Rahman kehilangan fokusnya, karena semalam ia memimpikan seorang wanita dengan penampilan lusuh dan berlinang air mata, sambil menatap Rahman penuh iba.


"Siapa wanita itu?"


BRAK...


Karena ketidak fokusanya, Rahman menabrak pembatas jalan.


Beberapa orang membantunya untuk bangun, untuk saja Rahman mengendarai motornya tidak terlalu kencang, hingga ia hanya mengalami luka ringan dan tetep melanjutkan tujuan ke Pabrik.


Sesampainya di Pabrik, Rahman langsung di hadapkan oleh pengawas.


"Kau masih punya muka untuk kembali datang ke Pabrik ini, setelah satu Minggu lebih menghilang tanpa memberikan kejelasan apapun?"


"Maafkan saya Pak, ada beberapa masalah di keluarga saja."


"Itu bukan urusan saya. Pabrik ini hanya membutuhkan orang-orang yang profesional dalam bekerja, yang tidak melibatkan urusan pribadinya. Rahman, lebih baik kamu kembali lagi ke Rumahmu dan selesaikan urusan keluargamu, dan jangan pernah kembali lagi ke Pabrik ini. Karena mulai dari sekarang, kau di berhentikan dari Pabrik ini."


"Apa! Di berhentikan? apa maksud Bapak memberhentikan saya begitu saja?"Rahman yang terkejut, tentu tidak terima.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2