Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Fakta Tentang Rudi


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Aku yang menerima saran dari Selvi, kembali memasuki Kamar rawat Mas Rudi, dan berpamitan untuk pulang.


Namun Ibu melarangku dan memintaku untuk menemani Mas Rudi, aku yang sudah sangat mencemaskan Via menolak halus permintaan Ibu.


Untung saja Selvi membantuku untuk membujuk Ibu agar mengijinkan aku pulang, sehingga aku mendapatkan izin dari Ibu.


Karena takut Via salah paham, kali ini pun aku menolak tawaran baik Selvi yang ingin mengantar aku pulang dan aku lebih memilih menaiki kendaraan umum.


❄️❄️❄️


POV Author.


Kali ini Rahman mengambil keputusan yang tepat, ia memilih untuk tetap pulang ke Rumah memastikan jika Via benar-benar pulang meskipun Jubaidah melarangnya.


Tapi lelaki itu menyelipkan nama Selvi di balik keberhasilannya membujuk Jubaidah agar mengijinkan ia pulang.


Rahman memang sangat patuh pada Jubaidah, ia tidak akan sanggup untuk menolak setiap permintaan dan perintah Ibunya, sehingga membuat Rahman berhutang pada kebaikan Selvi yang sudah membantunya.


Rahman akan selalu berkata 'Baik Bu' jika Jubaidah sudah mengeluarkan perintah.


Tapi apakah Rahman akan bersikap patuh seperti ini, jika mengetahui fakta siapa Jubaidah sebenarnya dan apa yang sudah wanita itu lakukan padanya.


Via sudah mengetahui fakta itu, fakta yang menjadi rahasia Jubaidah selama bertahun-tahun lamanya. Via mengetahui itu secara tidak senaja dan untuk memastikannya, Via mencari kebenaran lewat berbagai sumber dan hasilnya adalah benar, Via menceritakan pada Aminah dan ternyata Ibunya itupun sudah mengetahuinya bahkan sebelum Via dan Rahman menikah.


Tapi kenapa Rahman tidak mengetahuinya?


Apa mungkin dia menutup mata dan telinga atas kebenaran itu, hingga ia mengabaikan semuanya dan tetep menyanjung Jubaidah.


Via yang mengira jika Rahman mengetahuinya, tidak mengatakan apapun pada Suaminya.


Tapi Via selalu menjadikan rahasia itu untuk mengancam Jubaidah, karena Via kira jika Jubaidah tidak mengetahui jika Rahman sudah tahu.


Di dalam Kamar rawat, Jubaidah yang baru saja kehilangan uang ratusan juta masih terlihat kesedihan di raut wajahnya, lebih-lebih ketika ia berhadapan dengan Selvi.


Jubaidah menuangkan keluhannya pada Gadis itu.


Dengan berbagai drama yang ia ciptakan untuk menarik simpati dari Selvi.


"Tante yang sabar ya, ini musibah. Tidak ada yang bisa mencegah yang namanya musibah,"ujar Selvi dengan bijak.


"Ini bukan musibah, tapi ini semua karena keteledoran Rudi, jika ia bisa melawan semua Perampok itu, tentu uang dan motor tidak akan raib seperti ini,"sahut Jubaidah sambil menyeka air matanya yang bahkan tidak mengalir sedikitpun.


Sedangkan Rudi, yang namanya di sebut mengeraskan rahangnya, ia benar-benar kesal karena dari pembicaraan Jubaidah dan Selvi isinya hanya menyalahkan dirinya saja.


Rohmah yang menyadari itu, meminta Jubaidah untuk tidak lagi membahas soal uang dan motornya yang hilang.


Jubaidah yang kesal keluar dari Kamar rawat Rudi mengajak serta Selvi.


"Maafkan Ibu, Mas. Mungkin Ibu masih Syok dengan musibah ini,"kata Rohmah merasa bersalah pada Rudi.


"Tidak apa-apa, ini semua memang karena kesalahanku, dan aku berjanji padamu akan mengganti semua yang hilang bahkan berlipat ganda, aku akan membelikan motor yang mahal dan bagus untukmu,"sahut Rudi.


"Aku sangat percaya padamu Mas."


Karena hari sudah malam, Rohmah memutuskan untuk mengantar Putri dan Rania pulang ke Rumah, ia tidak mau jika Putrinya menginap di Rumah sakit.

__ADS_1


"Aku pulang dulu mengantarkan Putri dan Rania, ya Mas, sambil mengambil baju ganti untukmu,"pamit Rohmah pada suaminya dengan nada suara lembut seperti Biola.


Wanita itu hanya akan mengeluarkan suara merdu di saat berbicara dengan Rudi.


"Iya, kau hati-hati di jalan ya,"sahut Rudi dengan suara tak kalah merdu seperti Piano.


Setelah memastikan Rohmah keluar dari Kamar rawatnya, Rudi mengeluarkan ponsel yang ia sembunyikan di balik bantal.


Ponsel yang posisinya sedang Off itu Rudi nyalakan dan ia segera mencari nomor yang ingin Ia hubungi.


"Halo! Marno, apa lu sudah mengamankan barang itu?"


("Lu tenang saja Rud, semua aman. Apa kita harus menjualnya malam ini juga?")


"Jangan! Kita tunggu beberapa hari ke depan, sampai keadaan aman terkendali. Karena gue sempat mendengar jika wanita tua itu ingin melaporkan kejadian ini pada polisi."


(Baiklah, gue tunggu aba-aba lu. Tapi lu harus bisa mencegah Mertua lu untuk melaporkan kejadian itu pada polisi.")


"Lu tenang saja, gue yang bakal atasi wanita tua ini."


Itulah beberapa percakapan yang Rudi lakukan pada seseorang lewat sambungan telepon.


Rudi kembali menyimpan ponsel itu di bawah bantal, ia menggerakkan tangan dan kepalanya.


"Ah.. pegel juga lama-lama gua berpura-pura sakit seperti ini,"keluhnya.


Ternyata!


Rudi yang berbaring di ranjang Rumah Sakit itu hanyalah berpura-pura, ia merekayasa semua cerita palsu tentang perampokan yang ia alami Ketika pulang dari Bank.


Malah lelaki itu memiliki banyak hutang di luar sana sehingga ia harus merekayasa cerita perampokan untuk mengambil motor Rohmah dan mendapatkan uang 5 juta dari Jubaidah.


Dan masih banyak lagi rencana yang tersusun di otak Rudi untuk mendapatkan uang dari Istri dan amertuanya itu.


Rudi sangat sangat menyadari jika Rohmah sangat patuh dan tergila-gila padanya sehingga ia sangat yakin jika Rohmah akan melakukan apapun untuknya dan Jubaidah akan menuruti semua permintaan Anaknya itu.


Selama ini Rudi memang pergi ke luar Negeri, 2 tahun lamanya.


Tapi uang yang ia dapatkan dari bekerja habis tanpa sisa karena ia selalu bermain judi dan berfoya-foya, bukan hanya itu saja. Karena ia selalu kalah dalam berjudi hingga menghabiskan uang hasil kerja kerasnya, Rudi juga memiliki banyak hutang.


Rudi sudah tidak memiliki Orang Tua dan keluarganya pun Entah di mana.


Rohmah bertemu dengan Rudi di saat mereka tengah sama-sama bekerja di Restoran.


❄️❄️❄️❄️


Keesokan harinya.


Rahman tengah bersiap-siap berangkat bekerja, tidak ada sarapan yang tersaji di meja, membuat Rahman kesal dengan keadaan ini. Dia memang tidak bisa jika pergi bekerja tanpa sarapan terlebih dahulu.


Rahman pun tidak berani menegur Via karena sejak semalam Via bersikap dingin padanya, sehingga membuat Rahman tidak berani berbicara dengan Via.


Sepertinya lelaki itu menyadari semua kesalahannya tapi ia tidak mau meminta maaf dan memberi penjelasan.


Via yang sejak semalam bersikap dingin pada Rahman, dibalas dengan sikap beku oleh Lelaki itu, yang tidak mau memulai pembicaraan dengan Istrinya.


"Aku pergi dulu,"ucapnya dingin pada Via, yang tengah menjemur pakaian di depan Rumah, ini kata pertama yang Rahman keluarkan setelah semalam diam.

__ADS_1


"Iya,"sahut Via singkat, tanpa berniat menghampiri suaminya.


"Rahman!"panggil Seno yang kebetulan lewat di depan Rumah mereka.


Melihat kehadiran Seno membuat Rahman jadi teringat dengan niatnya kemarin yang ingin mengintrogasi Via.


"Selamat! Pagi Via,"sapa Seno, pada Via yang masih fokus menjemur pakaian.


"Pagi, Seno,"sahut Via dengan senyum ramah.


Rahman melirik pada kedua orang itu secara bergantian, Rahman jelas menangkap pandangan lain dari kedua bola mata Seno ketika memperhatikan Via.


"Ada apa?"tanya Rahman dengan nada tidak suka pada Seno.


"Semalam aku menunggumu di tempat biasa, tapi kau tidak datang."


"Aku tidak punya keharusan untuk datang kan, lagi pula aku terlalu sibuk dan tidak akan pernah membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna."


Seno hanya mengulas senyum tipis mendengar kata-kata yang sungguh tidak layak dari Rahman.


"Kau mau berangkat kerja? Di mana motormu?"tanya Seno mengalihkan pembicaraan.


"Bukan urusanmu."


"Baiklah! Tapi bagaimana kalau malam ini kita kembali membuat janji untuk bertemu?"kata Seno namun pandangannya sejak tadi hanya pada Via, padahal ia tengah berbicara dengan Rahman.


"Aku tidak sudi,"sahut Rahman.


Rahman menyadari jika sejak tadi Seno hanya memandang Via, membuat lelaki itu jadi geram sendiri.


"Cepat kau pergi dari sini,"usirnya.


"Kenapa?"


Rahman yang sudah sangat mengetahui sifat Seno tidak menggubris pertanyaan sahabat lamanya itu, ia malah menarik tangan Via untuk masuk ke dalam.


"Apa-apaan ini mas!"kata Via yang terkejut.


"Cepat masuk ke dalam."


"Tapi aku belum selesai menjemur pakaian."


"Tidak usah dijemur, biarkan saja! sekarang cepat kau masuk dan jangan keluar dari Rumah,"kata Rahman yang menarik tangan Via secara paksa.


"Rahman! Kau tidak boleh seperti itu pada Istrimu, kau bisa menyakitinya!"teriak Seno yang melihat Rahman menarik tangan Via dengan sangat kuat lalu membawa wanita itu memasuki Rumahnya.


"Bukan urusanmu! sekarang,kau cepat pergi dari sini,"sentaknya pada Seno.


Bersambung......


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2