Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Derita Awal Jubaidah.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Sore hari, Via dan Rahman pergi ke Dokter untuk melakukan kontrol pada Satria.


Sudah puluhan kali ponsel Rahman bergetar, namun lelaki itu enggan untuk melihatnya karena ia tahu itu pasti Rania yang memintanya untuk datang ke Rumah sakit.


"Bagaimana Mas, apa pak Hendra kembali menerimamu di pabrik?"tanya Via.


Saat ini mereka tengah berada di dalam perjalanan menuju Rumah Sakit dengan menggunakan taksi online, karena sungguh tidak tega jika harus membawa Satria menggunakan motor di sore hari yang cuacanya cukup dingin.


Rahman tersenyum.


"Iya, Pak Hendra memberikan aku kesempatan untuk kembali bekerja di pabrik, dan mulai besok, aku bisa kembali bekerja di sana."


"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya Mas."


"Kali ini aku akan berjuang keras untukmu dan Satria, aku akan bekerja lebih giat lagi agar bisa memenuhi kebutuhanmu dan biaya berobat Satria. Maafkan aku Via, dulu aku sering berkata jika kau adalah istri yang boros yang bisanya hanya menghabiskan uang suami, tapi aku sadar jika yang aku berikan kepadamu tidaklah seberapa bahkan kurang untuk memenuhi segala kebutuhan kita, aku menyesal pernah mengucapkan kata-kata itu."


"Lupakan itu mas, dan kita mulai dari awal untuk memperbaiki semuanya."


"Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan kepadaku, aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakannya."


Via membalasnya dengan anggukan.


❄️❄️❄️


"Rania di mana Rahman, kenapa dia belum datang juga,"rengek Jubaidah yang wajahnya diperban, begitu juga dengan kakinya. Yang mengalami patah tulang, sehingga membuatnya tidak bisa berjalan untuk beberapa Minggu kedepan.


"Aku sudah berulang kali menghubungi Mas Rahman Bu, tapi Mas Rahman tidak mengangkatnya, tapi aku sudah menghubungi Mbak Via dan Mbak Via mengatakan jika ia akan menyampaikannya kepada Mas Rahman kalau ibu berada di Rumah sakit."


"Pasti wanita licik itu tidak memberitahu Rahman, dia sengaja menghalang-halangi kakakmu agar tidak datang ke sini."Sahut Jubaidah yang berpikir buruk pada Via.


"Ibu tidak boleh seperti ini, Mbak Via itu baik, tidak mungkin bicara seperti itu pada Mas Rahman, aku yakin Mbak Via menyampaikannya pada Mas Rahman, dan Mas Rahman pasti akan datang."


"Kamu ini selalu saja membela kakak iparmu itu!"kesal Jubaidah.


"Sudahlah Bu, Ibu ini sedang sakit kenapa ibu harus marah-marah seperti ini, bukankah ibu harus banyak beristirahat dan berdoa agar cepat sembuh!"sahut Rania yang juga sedikit kesal dengan kelakuan ibunya.


"Rania kau semakin berani dengan ibumu ya!"


"Maafkan aku Bu, tapi aku melakukan ini demi kebaikan ibu, ibu harus beristirahat tidak boleh marah-marah seperti ini, bagaimana Ibu bisa sembuh jika terus mengomel dan memaki Mbak Via."


"Sudahlah, jika kau ada disini hanya untuk menceramahi ibu, lebih baik kau pergi dari sini,"usir Jubaidah.


Dan tanpa berpikir panjang Rania pun pergi dari sana.


❄️❄️


"Dokter, bagaimana dengan keadaan anak saya?"tanya Rahman pada Dokter yang selama ini merawat Satria.


"Satria menunjukkan perkembangan yang sangat baik, tapi harus tetap rutin melakukan kontrol, agar saya bisa memantau kondisi Satria."


"Baik Dokter, tolong lakukan apa saja untuk anak saya. Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Satria."


"Baik Pak, itu sudah menjadi tugas kami, kami akan berjuang keras untuk kesembuhan putra bapak."


"Terima kasih Dok."

__ADS_1


Rahman sangat menyesal telah membuang dan menyia-nyiakan waktunya bersama Satria selama ini, karena ia terlalu sibuk dengan keluarganya sampai ia tidak memperhatikan kesehatan putra semata wayangnya.


Jika waktu bisa diulang kembali, Rahman ingin terus menemani Satria di saat-saat anak itu menangis tengah malam karena demam dan merasakan sakit.


Tapi kala itu Rahman sama sekali tidak peduli, ia membebankan itu semua kepada Via.


"Aku menyesal, sangat menyesal,"batin Rahman.


Dan semakin Rahman mengingat ketidak adilanya pada Satria, ia jadi semakin membenci Jubaidah, karena wanita itulah yang mencuci otaknya selama ini agar mengabaikan putranya.


Usai melakukan kontrol pada Satria, Rahman dan Via kembali pulang ke rumah menjelang malam.


Sesampainya di Rumah, Rahman bergegas membaringkan Satria karena sejak dalam perjalanan anak itu sudah tertidur dengan lelap.


"Aku masak untuk makan malam dulu ya Mas,"kata Via yang membiarkan Rahman menemani Satria. Dia tahu di saat ini, Rahman ingin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama putranya.


"Baik, terima kasih!"


Selepas Via pergi ke dapur meninggalkan Rahman di dalam kamar bersama Satria.


Lelaki itu mengeluarkan ponselnya, ia melihat notif panggilan tidak terjawab dan puluhan Pesan dari Rania.


Namun Rahman sama sekali tidak tertarik dengan pesan-pesan yang dikirim oleh adiknya itu, karena Rahman lebih memilih membuka satu pesan dari nomor tanpa nama.


(Bang, kami sudah melakukan tugas kami. Kau bisa mengecek hasilnya secara langsung, dan setelah itu berikan upah untuk kami)


Itulah pesan dari nomor tanpa nama, yang membuat Rahman mengulas senyum tipis, dan segera membalasnya. Dengan kata-kata bahwa ia akan memeriksa hasil kerja dari mereka beberapa jam lagi.


Usai masak menu makan malam, pasangan suami istri itu saling duduk berhadapan di meja makan.


Sudah lama momen seperti ini tidak Via dan Rahman lakukan, karena mereka selalu sibuk berdebat dan bertengkar ketika bersama.


Ia ingin mengembalikan sikap lembutnya seperti dulu .


"Iya!"


"Aku minta, kau ke Rumah sakit ya untuk menjenguk Ibu Jubaidah."


"Baik, setelah ini aku akan ke Rumah sakit."Sahut Rahman.


"Mas boleh aku bertanya sesuatu?"


"Katakan! Kau tidak perlu meminta izin seperti ini jika ingin bertanya."


"Mas, apa Ibu Jubaidah tahu jika kau sudah mengetahui Siapa dirinya?"kata Via dengan hati-hati.


Sebenarnya, sudah dari beberapa hari yang lalu Via ingin menanyakan hal ini karena ia cukup bingung kenapa Jubaidah bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Jika ia tahu kalau Rahman sudah mengetahui Siapa dirinya dan sejahat apa dirinya pada Jubaidah melakukan sesuatu kan!


Rahman menggeleng dan menjawab.


"Tidak!"


"Tidak!"Via cukup terkejut dengan jawaban Rahman, pantas saja, seperti tidak terjadi apa-apa dengan Jubaidah, ternyata wanita itu belum mengetahui jika anak tirinya ini mengetahui kebusukannya.


"Apa kau yang....!"


"Aku tidak ingin dia mengetahuinya,"kata Rahman memotong perkataan Via.

__ADS_1


"Kenapa Mas? Apa sebenarnya, kau juga senaja tidak melaporkan Ibu Jubaidah ke polisi?"


"Via, Aku ingin memperbaiki dan merubah kesalahan beberapa tahun terakhir ini."


"Apa maksudmu Mas?"Via tentu bingung dengan pernyataan Rahman ini.


"Sudah! Kau tidak perlu memikirkan apapun, Kau hanya cukup bahagia bersamaku dan Satria."Kata Rahman, seraya menggenggam tangan Via, meyakinkan Istrinya untuk tidak berfikir apapun tentang dirinya dan Jubaidah.


Via diam. Dia melihat sesuatu yang lain di wajah suaminya, dia masih belum tahu apa maksud Rahman tidak melaporkan Jubaidah ke polisi dan tidak mengatakan kepada Jubaidah jika ia sudah mengetahui semuanya, bukankah di saat Rahman mengingat kembali kejadian 15 tahun silam lelaki itu terlihat murka dan seperti ingin membunuh Jubaidah, tapi kenapa sekarang dia malah bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Itulah yang dipikirkan Via, tanpa ia tahu rencana Rahman yang sebenarnya.


❄️❄️❄️


Selepas menghabiskan makannya, Rahman berpamitan pergi ke Rumah sakit untuk memastikan keadaan Jubaidah.


"Kau, hati-hati ya di rumah. Aku tidak akan lama."Kata Rahman, sebelum ia pergi.


"Iya Mas, berhati-hatilah di jalan."


❄️❄️❄️


Di Rumah Sakit.


Jubaidah terus meringis dan merintih, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Kenapa ini sakit sekali Dokter, apa kau tidak memberikan obat yang baik untuk saya sehingga saya masih merasakan sakit yang luar biasa seperti ini."


"Yang sabar ya Bu, saya sudah memberikan obat sesuai dosis yang sesuai untuk ibu."Kata Dokter dengan sabar, padahal sejak tadi Jubaidah selalu memarahinya.


"Tapi kenapa ini masih sangat terasa sakit Dokter, tulang-tulang saya serasa dipatah-patahkan. Dada saya juga terasa sakit dan panas."Keluh Jubaidah. Sambil memukul-mukul dadanya.


"Ibu yang sabar ya Bu."Kata Rania yang tidak tega melihat ibunya kesakitan.


"Saya permisi dulu, untuk mengecek keadaan pasien yang lain."Ujar Dokter lelaki itu.


"Baik Dokter, terima kasih!"sahut Rania.


Namun Jubaidah histeris ketika Dokter meninggalkannya.


"Rania, kenapa kau membiarkan Dokter itu pergi. Dia belum memberikan Ibu obat yang ampuh yang bisa menghilangkan rasa sakit ini."


"Bu, Dokter sudah memberikan obat kepada ibu, mungkin saja belum bereaksi hingga Ibu masih merasakan sakit bersabarlah sebentar."


"Ini semua gara-gara preman kurang ajar itu, lihat saja! jika Ibu sembuh nanti, Ibu akan membalas semua perbuatan mereka."Maki Jubaidah.


Sungguh hebat wanita itu, di saat keadaannya yang terluka dan menahan sakit sana-sini, ia masih sempat untuk mengumpat dan memaki seseorang.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2