
Selamat! Membaca 🤗
"Sudahlah Via, kenapa kau malah membesarkan perkara ini, kan tadi Selvi sudah menjelaskan jika aku tidak sengaja bertemu dengannya, dan apa yang dikatakan Ibu juga benar, seharusnya kau bersyukur. Kau lihat di Rumah, isi kulkas kita penuh dan beberapa kebutuhan lainnya selama satu bulan sudah aku penuhi,"kata Mas Rahman dengan nada tinggi,"aku masuk dulu, ingin melihat keadaan Mas Rudi,"ucapnya kembali sambil melangkah meninggalkanku.
Aku sudah tidak mengerti lagi dengan kelakuan dan sikap Mas Rahman, bukannya ia memberi penjelasan atau menanyakan Satria ia malah terlihat tidak peduli dan lebih mementingkan keadaan Mas Rudi, sepertinya ia benar-benar sudah tidak memperdulikan perasaanku dan kesehatan Satria, apa mungkin benar terjadi sesuatu pada Mas Rahman dan Selvi, sehingga Mas Rahman bersikap seperti itu.
Aku membiarkan Mas Rahman masuk ke dalam kamar rawat Mas Rudi, percuma kan mencegah pun tentu takkan bisa, aku memutuskan untuk pergi dari sana daripada aku harus masuk kembali ke dalam Kamar rawat itu yang di dalamnya ada Selvi dan Ibu Mertua, karena sudah pasti mereka akan kembali menyudutkan, merendahkan aku dengan memuji-muji Selvi seperti dewa dan membenarkan semua kelakuan Mas Rahman.
Sambil menahan rasa kecewa yang aku tunjukkan pada Mas Rahman, aku memesan Taksi Online untuk kembali ke Rumah.
❄️❄️❄️❄️
POV Rahman.
Aku yang sudah kembali ke Rumah mendapati Via belum pulang karena pintu masih tertutup rapat, membuatku sedikit lega karena Via tidak akan tahu jika aku pulang diantar oleh Selvi karena motorku belum selesai di perbaiki, aku takut Via salah paham jika aku pulang bersama Selvi.
Ketika baru membuka pintu aku dikejutkan oleh sapaan Mbak Dewi tetanggaku dan yang membuatku terkejut Mbak Dewi menggendong serta Satria, itu tandanya Via sudah pulang.
Dia menatap sinis ke arahku dan juga Selvi, apa mungkin ia berpikir yang tidak-tidak melihat aku pulang diantar oleh Selvi.
Karena merasa tidak enak, aku meminta Selvi untuk kembali ke mobilnya dan segera pulang tapi wanita itu menolak karena ia ingin membantuku merapikan belanjaan ini di dalam Rumah.
Mendengar perkataan Selvi, Mbak Dewi semakin menatapku, membuatku semakin merasa tidak nyaman.
Aku meraih Satria dari gendongan Mbak Dewi, tapi Satria malah menolak digendong olehku.
"Kau ini bagaimana sih Man, pergi tanpa memberi tahu dulu pada Via. Kau tau kan kalau Via pergi ke Dokter untuk mengontrol Satria anakmu, dia sudah kembali sejak siang tadi, dan apakah kau tahu jika Via dan Satria sudah menunggumu selama berjam-jam di teras Rumah kalian!"
Aku tersentak mendengar ucapan Mbak Dewi, jadi Via sudah pulang sejak siang!
Astaga! aku jadi merasa bersalah pada Via dan Satria, karena asik berbelanja dengan Selvi membuatku lupa waktu, hingga kami melanjutkan pergi makan siang bersama setelah membeli kebutuhan bulanan di Swalayan dan tanpa terasa hari sudah sore.
"Lalu Via di mana?"tanyaku.
"Di Rumah Sakit! Jangan-jangan kau tidak tahu juga jika Via ke Rumah Sakit untuk apa?"
Hatiku langsung panik ketika mendengar nama Rumah Sakit.
❄️❄️❄️
Setelah mendapatkan Informasi dari Mbak Dewi, aku segera menuju Rumah Sakit, dan lagi-lagi Selvi menawarkan bantuannya.
__ADS_1
Aku yang sedang buru-buru tidak dapat menolak niat baik dari Selvi.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, hatiku gelisah tidak karuan. Bukan karena mengkhawatirkan keadaan Mas Rudi, tapi aku memikirkan Via, aku merasa sangat bersalah padanya.
Apa yang akan aku katakan pada Via nanti? Bagaimana kalau dia marah dan berfikir yang tidak-tidak tentangku dan Selvi, bagaimana caraku menjelaskan pada Via.
Astaga! Aku benar-benar mengkhawatirkan itu semua.
"Kau kenapa Man? Kenapa terlihat cemas seperti itu?"
Tanya Selvi yang menyadari kegelisahan di hatiku.
"Tidak apa-apa, aku hanya mengkhawatirkan keadaan Mas Rudi,"sahutku berbohong, karena sedikitpun aku tidak mengkhawatirkan keadaan Mas Rudi.
"Kau tenang saja, aku yakin jika Mas Rudi baik-baik saja. Kau benar-benar lelaki yang luar biasa, bahkan kau masih mengkhawatirkan Mas Rudi Kakak iparmu,"kata Selvi yang kembali memujiku,
entah sudah berapa puluh kali wanita ini terus saja memujiku sejak kali pertama kita bertemu di jalan, aku sedikit terbuai dengan pujiannya karena sudah lama aku tidak mendengar pujian dari seorang wanita terutama Via, Istriku sudah sangat jarang memujiku dan bersikap romantis padaku.
Entah kenapa aku merasa dekat dan bisa akrab dengan Selvi di waktu sesingkat ini, mungkin karena, akhir-akhir ini hubunganku dengan Via sedikit tidak baik membuatku sedikit nyaman berada di dekat Selvi.
Sesampainya di Rumah Sakit, aku segera menanyakan di mana Mas Rudi dirawat dan tanpa butuh waktu yang lama aku sudah mendapatkan informasi itu dari seorang Suster.
Dari jauh aku melihat Ibu, Via dan Mbak Rohmah tengah berdiri di depan pintu kamar rawatnya. Mereka terlihat sedang berdebat.
Via dan Ibu terkejut dengan kehadiranku, apalagi Via, aku melihat wajah yang jauh terkejut dari Istriku itu.
Apa mungkin ia terkejut karena melihatku datang bersama Selvi, aku semakin cemas dan merasa khawatir. Aku takut Via salah paham
Sebisa mungkin aku menetralkan hatiku agar tidak terlihat cemas di depan Via ataupun Ibu, dengan bertanya apa yang terjadi di sana.
Ibu menjelaskan padaku jika Via kembali kurang ajar pada Mbak Rohmah dan itu semua membuatku sedikit marah pada Via, dia selalu saja ribut dengan Mbak Rohmah.
Ketika aku bertanya kebenaran itu pada Via, Via malah mempertanyakan aku pergi dari mana selama seharian, dan pertanyaan Via sontak membuatku gugup dan salah tingkah, dalam hatiku berkecamuk, apa yang harus aku katakan pada Via? apakah aku harus mengatakan sejujurnya. Tapi bagaimana kalau Via marah, sungguh aku takut kalau Via marah dan salah paham.
Seperti apapun Via, aku tidak akan pernah menghianatinya, dialah Istriku satu-satunya dan wanita yang paling aku cintai selama ini tidak mungkin aku menghianatinya tapi bagaimana cara menjelaskan pada Via.
Aku yang terbata-bata ingin menjelaskan pada Via, langsung dipotong oleh Selvi yang memberi penjelasan pada Istriku itu.
Sebenarnya aku tidak setuju dengan cara Selvi memberi penjelasan, karena itu mungkin bisa membuat Via salah paham, tapi ketika Ibu dan Mbak Rohmah meyakinkan jika itu sudah benar aku menjadi lega, dan membenarkan perkataan Ibu kalau Via harusnya bersyukur dan berterima kasih pada Selvi.
Aku pun melihat Via tidak protes atau marah membuat hatiku lega mungkin saja Istriku itu mengerti.
__ADS_1
Tapi ketika yang lainnya masuk ke dalam Kamar rawat Mas Rudi, Via kembali mempertanyakan aku yang pergi bersama Selvi, dari nada bicaranya seperti marah.
Aku yang merasa, jika apa yang telah aku lakukan ini benar sedikit tidak terima dengan perkataan Via, Ibuku saja membenarkannya tapi kenapa Via malah marah.
Untuk menghindari perdebatan dengan Via akupun memutuskan masuk ke dalam Kamar rawat Mas Rudi, meninggalkan Via sendirian di depan, sebenarnya aku ingin serta mengajaknya masuk tapi aku mengurungkannya dan membiarkan Via masuk sendiri.
Namun sudah beberapa menit aku menunggu Via tak kunjung masuk.
Aku yang penasaran kembali keluar dari kamar rawat Mas Rudi untuk memastikan Via ada di mana, namun aku tidak menemukan Via di sana bahkan aku sudah mencari ke seluruh Rumah Sakit tidak menemukan Via.
Apa mungkin dia pulang ke rumah?
Tapi kenapa tidak memberitahuku Jika ia mau pulang?
"Rahman, kenapa kau ada di sini?"tiba-tiba Selvi mengejutkanku dari belakang.
"Eh... Aku sedang mencari Via."
"Via! Mungkin dia sudah pulang."
Aku mengangguk membenarkan perkiraan Selvi, karena akupun berfikir seperti itu.
Aku merogoh saku jaketku untuk mengambil ponsel, berniat menghubungi Via, tapi aku lupa jika ponselku mati karena kehabisan daya sejak siang tadi.
Aku yang mencemaskan Via berniat ingin segera pulang.
"Selvi, tolong beritahu Ibu jika aku pulang terlebih."
"Pulang! Kenapa buru-buru?"
"Aku harus memastikan jika Via benar-benar pulang ke Rumah."
"Baiklah, kau memang harus memastikan itu tapi lebih baik kau saja yang berpamitan dengan Tante Jubaidah"kata Selvi.
Bersambung....
❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏🤗
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️