Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Kedatangan Selvi Dan Rahman. Membuat Via Kecewa.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Sakit Mbak!"aku menepis tangan Mbak Rohmah yang menarik ku dengan kuat.


"Sakit! Malah aku berharap jika tanganmu itu patah."


Astaghfirullahaladzim, aku sampai mengelus dada mendengar ucapan kejam Mbak Rohmah. Iya benar-benar sadis.


"Kenapa kau mau melotot seperti itu?"bentak Mbak Rohmah.


"Aku bukan hanya memelototi mu Mbak, tapi aku ingin mencakar wajahmu,"kataku dengan kesal dan penuh marah.


Aku sudah tidak bisa lagi bersabar untuk menghadapi sikap kasar Mbak Rohmah.


"Apa kau berani dengan ku?"


"Tentu saja, dari dulu aku tidak pernah takut dengan Mbak Rohmah. Hanya saja aku tidak mau membuang-buang waktu untuk meladeni sikap kekanak-kanakan Mbak Rohmah."


"Apa! Sikap kekanak-kanakan!"


Mbak Rohmah semakin murka dengan kata-kata ku itu.


Dan aku semakin bernafsu untuk membuatnya marah.


"Memangnya ada kata lain yang pantas untuk sikap Mbak Rohmah yang seperti ini? Bahkan Rania saja, jauh lebih pandai dalam bersikap, padahal usianya baru 16 Tahun."


"VIA!"bentak Mbak Rohmah.


Tapi kali ini bentakannya itu di iringi dengan tangan yang mengangkat siap untuk ia layangkan di pipiku.


Aku yang tidak mau lagi mendapat kekerasan dari Mbak Rohmah segera menahan tangan itu, dan mendorong


Mbak Rohmah sampai ia terhuyung ke belakang membentur tembok.


"Aaaawwh. Via kau berani sekali, dasar kurang ajar!"maki Mbak Rohmah.


"Ada apa ini?"


Ibu Mertuaku datang.


Sepertinya ia mendengar suara gaduh kami berdua.


"Astaga! Rohmah, apa yang terjadi dengan mu?"kata Ibu Mertua yang langsung menghampiri Mbak Rohmah.


"Ini semua karena Via, Bu. Dia sudah mendorongku sampai membentuk tembok seperti ini,"adunya seperti Anak kecil.


"Via! Kau benar-benar keterlaluan! Apa seperti ini sikapmu pada Kakak dari Suamimu?"Ibu Mertua bicara sambil melebarkan kedua bola matanya.


"Aku tidak akan seperti ini jika Mbak Rohmah tidak memulainya terlebih dahulu, kan aku sudah pernah bilang pada Ibu, jika aku akan bersikap dan berkelakuan seperti apa yang kalian contohkan padaku."


Aku melihat Ibu Mertua semakin geram dengan wajah yang memerah seperti terbakar api neraka, dan kedua tangannya mengepal kuat.


Tap.


Tap

__ADS_1


Ibu Mertua maju dua langkah mendekatiku, tangannya sudah bergerak-gerak.


Sepertinya ingin menjambak rambutku atau memukul badan ku.


Tapi sebelum itu terjadi,


dengan cepat! aku kembali mengingatkan Ibu Mertua akan rahasia besar yang ia simpan.


Dan aku rasa, rahasia yang Ibu Mertua simpan sama sekali tidak diketahui oleh Mas Rahman, itu yang menyebabkan Ibu Mertua sangat takut jika Mas Rahman mengetahui.


Meskipun aku juga bingung kenapa Mas Rahman tidak mengetahuinya.


"Ibu kenapa diam, cepat pukul dia Bu,"kata Mbak Rohmah.


"Ibu, Via. Ada apa ini?"


Dan secara bersamaan, Mas Rahman datang.


Yang membuatku dan Ibu Mertua segera menoleh ke arah Mas Rahman.


DEG!


Aku terkejut melihat Mas Rahman yang datang bersama Selvi.


Dan aku jadi mengingat perkataan Ibu Warung, yang mengatakan jika Mas Rahman pergi dengan seorang wanita.


Apakah wanita itu Selvi?


Tentu saja kan, jika bukan untuk apa Mas Rahman datang kesini bersama Selvi.


Tapi kemana mereka pergi, sampai sore hari seperti ini baru kembali.


Aku yang masih terkejut dan berpikir buruk tidak langsung menjawab pertanyaan Mas Rahman.


"Istrimu ini, bersikap kurang ajar pada Mbak mu, Rahman."Sahut Ibu. Dan ia lanjutkan dengan memprovokasi Mas Rahman.


"Via, apakah yang dikatakan Ibu benar?" Tanya Mas Rahman.


"Dari mana kau Mas, sampai sore hari seperti ini baru kembali?"aku menjawab pertanyaan Mas Rahman, dengan pertanyaan yang membuatnya langsung salah tingkah dan terlihat gugup.


Tapi aku malah melihat senyuman di wajah Selvi.


Membuatku berpikir, jika mereka pergi bersama dan menghabiskan waktu seharian.


"Aku... Aku. Da...!"


"Kami, hanya pergi berbelanja di Swalayan Via,"sahut Selvi. Yang memotong ucapan Mas Rahman yang terbata-bata.


"Berbelanja?"


"Iya, aku bertemu Rahman di jalan yang ingin pergi ke Swalayan. Dan karena motornya mogok aku mengajak Rahman pergi bersama karena kebetulan aku pun ingin berbelanja kebutuhan bulanan. Kamu jangan marah ya Via, Suamimu ini sungguh luar biasa, dia mau membantu Istrinya berbelanja kebutuhan dapur, jarang sekali ada Lelaki yang seperti Suamimu ini,"kata Selvi. Sambil tersenyum manis dan menatap Mas Rahman, dengan tatapan yang tidak biasa.


Entah kenapa, ketika mendengar penjelasan dan senyum bahagia Selvi,


hatiku seperti di remas.

__ADS_1


Bisa-bisanya Mas Rahman pergi berbelanja dengan Selvi, sedangkan aku harus mengantarkan Satria ke Dokter untuk kontrol.


Dan apa itu?


Belanja bulanan, untuk kebutuhan dapur?


Jangankan melakukan semua itu memberi uang untuk kebutuhan dapur saja Mas Rahman jarang memenuhinya.


"Iya Via, Kau ini jangan baper. Rahman dan Selvi hanya pergi berbelanja, seharusnya kau bersyukur dong karena Selvi membantumu menemani Rahman untuk pergi berbelanja, iya kan Bu!"sahut Mbak Rhomah dengan senyum penuh kemenangan.


Aku sangat tahu apa yang ada di pikiran Kakak Iparku itu, ia pasti senang dengan semua ini.


"Itu benar, Terima kasih Selvi, kau memang benar-benar baik,"sambung Ibu Mertua. Yang beralih pada Selvi.


Aku melirik ke arah Mas Rahman yang hanya menundukkan kepala diam, dan tidak memberi penjelasan apapun padaku.


"Bagaimana keadaan Mas Rudi, Tante. Mbak Rohmah?" Tanya Selvi.


"Dia terluka parah!"sahut Mbak Rohmah yang langsung merubah wajahnya menjadi sedih.


"Apa aku boleh menjenguk Mas Rudi?"


"Tentu saja boleh!"sahut Ibu Mertua dan ia segera menggandeng Selvi memasuki Kamar rawat Mas Rudi.


Sungguh sangat miris.


Beberapa detik yang lalu aku diusir dari Ruangan itu, dan sekarang aku melihat Ibu Mertua menggandeng penuh bahagia wanita yang baru saja kembali, setelah pergi seharian dengan Suamiku.


Aku ini Menantu di keluarganya, tapi aku selalu diperlakukan seperti sampah keluarga itu.


Apakah aku harus tetap bertahan dengan keadaan yang seperti ini?


Mas Rahman tidak ikut masuk ke dalam, ia masih mematung di tempat.


"Kau pergi ke mana dengan Selvi seharian, Mas, dan Kenapa ponselmu tidak aktif?"


"Kan tadi Selvi sudah menjelaskan Jika dia mengantarku pergi berbelanja."


"Berbelanja!"aku tersenyum kecut mendengar kata berbelanja, mungkin saja itu hanya menjadi alasan pertemuan mereka berdua.


"Via, aku memang ingin ke Swalayan. Dan karena motorku mogok aku pergi di antar Selvi yang kebetulan lewat."


"Apa sampai sore seperti ini? Dan apa benar kau ingin berbelanja? bahkan, semenjak kita menikah kau tidak pernah melakukan hal seperti itu Mas, tapi kenapa kau tiba-tiba ingin berbelanja? Bahkan kau sampai bolos bekerja. Dan pergi di saat aku sedang mengantar Satria ke Dokter. Aku sempat mengajakmu ke Dokter, tapi kau beralasan ingin beristirahat. Apa ini Istirahat versi kamu Mas,"kataku dengan menahan sesak di dada.


Entah kenapa aku jadi seperti ini.


Hatiku merasa sakit, ketika mendapati fakta jika Mas Rahman pergi seharian bersama Selvi melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kami lakukan selama 2 tahun menikah.


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2