Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Air Dari Jubaidah


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


POV Jubaidah.


Aku tidak bisa terima kejadian memalukan ini, dan aku juga tidak boleh tinggal diam dengan sikap Rahman yang benar-benar sudah berubah bahkan ia sama sekali tidak membelaku.


Tapi untuk saat ini aku mengalah, aku tidak ingin menciptakan keributan dengan Via, karena itu percuma dengan kondisi Rahman yang begitu mempercayai Via membuatnya akan selalu membela Via dan tidak akan memperdulikanku, yang penting sekarang Rahman sudah kembali pulang dan aku bisa melakukan apa yang harus aku lakukan, aku meminta Rania untuk mengambil segelas air putih dan benda pribadi milik Rahman. Tentu saja aku menggunakan semua itu sebagai syarat ritual dari Mbah Gede, dan aku pun sering melakukan ini dulu. Tapi karena kesalahanku yang melupakan ritual yang rutin aku lakukan sehingga membuat Rahman menjadi tidak patuh padaku.


Aku tidak mau Rahman mengingat kembali kejadian 15 tahun silam, kejadian di mana ibunya yang bernama Rosita meninggal dunia.


Dan setelah aku sukses membuat Rahman kembali patuh kepadaku aku akan kembali kepada Mbah Gede, memintanya untuk melakukan sesuatu yang akan membuat Via dan Aminah menyesal seumur hidup.


❄️❄️❄️


"Rania Apa yang kau lakukan?"


Tanya Via yang mengejutkan adik iparnya yang tengah mengotak-atik keranjang pakaian kotor.


"Aku mencari kemeja Mas Rahman, Mbak."Sahut Rania apa adanya.


"Kemeja Mas Rahman! Untuk apa?"


"Entahlah! Ibu yang menyuruhku untuk mengambilkan kemeja Mas Rahman,"sahut Rania dan beralih pada Via,"Ah, ini dia kemeja Mas Rahman. Aku cari-cari di keranjang pakaian kotor tidak ada." Sambung Rania sambil meraih beberapa tumpukan kemeja kotor yang ada di tangan Via.


"Untuk apa Rania, ini pakaian kotor?"


"Aku juga tidak tahu Mbak, ibu yang menyuruhku dan aku juga tidak tahu ibu maunya yang kotor apa yang bersih, tapi untuk lebih mempermudah pekerjaanku Lebih baik aku ambil yang kotor saja."


Via menjadi bingung, kenapa Jubaidah meminta Rania untuk mengambil kemeja Rahman.


"Rania!"panggil Via yang menghentikan langkah Rania yang hendak menuju ke kamar Jubaidah.


"Iya, Mbak?"


"Biar Mbak Via saja yang mengantarkannya kepada ibu, Lebih baik kau temani Mbak Rohmah, karena sejak tadi ia berteriak histeris, Mbak tidak tahu harus melakukan apa pada Mbak Rohmah."


Rania mengangguk, dan ia menyerahkan kemeja Itu kembali kepada Via beserta segelas air putih.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk Rania."


Sahutan dari dalam kamar membuat Via segera membuka pintu, meskipun yang di dalam kamar tidak menyebut namanya, karena yang Jubaidah tahu Rania lah yang datang.


"Mana barang-barang yang Ibu minta?"kata Jubaidah sambil menengadahkan tangannya, tapi ia tidak menyadari jika bukan Rania yang masuk ke dalam kamar, karena matanya tengah fokus kepada botol kecil yang ia genggam.

__ADS_1


"Untuk apa Ibu meminta kemeja Mas Rahman?"


Suara yang tidak asing dan tentunya bukan suara Rania sontak mengejutkan Jubaidah sampai ia menjatuhkan botol yang ada di tangannya.


Untung saja botol itu terbuat dari plastik jadi tidak pecah, dan isinya tetep aman membuat Jubaidah sedikit lega, karena Ia membutuhkan uang 10 juta untuk mendapatkan air yang berada di dalam botol itu.


Dan hal itu pun sontak memancing pandangan Via kepada botol yang benar-benar mencurigakan bagi Via.


"Via! Apa-apaan ini! Apa kau tidak punya sopan santun berani nyelonong masuk ke dalam kamar saya?"murka Jubaidah.


"Aku sudah mengetuk pintu dan ibu mengizinkan aku masuk, kenapa Ibu harus panik dan marah-marah seperti ini. Dan aku juga hanya bertanya untuk apa Ibu meminta Rania mengambilkan kemeja Mas Rahman?"tanya Via, tapi pertanyaan Via tentu membuat Jubaidah ketar-ketir karena mata Via menatapnya penuh dengan curiga.


"Sudah kau jangan banyak omong! Sekarang cepat serahkan benda itu kepada saya!"


Tanpa menunggu jawaban dari Via, Jubaidah segera merampas air dan kemeja yang masih berada di tangan Via kemudian ia mendorong Via keluar.


Kegaduhan di kamar itu membuat Rahman datang.


"Ada apa Bu? Kenapa Ibu marah-marah?"


"Istrimu ini sudah kurang ajar Rahman, dia berani masuk ke dalam kamar Ibu tanpa permisi."


"Aku kan sudah mengetuk pintu Bu,"sahut Via.


"Tapi saya tidak mengizinkanmu masuk? Saya hanya menyebut nama Rania bukan Via!"marah Jubaidah dengan melebarkan kedua bola matanya.


"Sudah Bu! Kenapa Ibu marah-marah seperti ini kepada Via, Via kan sudah mengetuk pintu kamar ibu. Lagi pula apa salahnya jika Via langsung masuk ke sini?"


"Sudahlah mas! Mungkin Ibu lelah, ayo kita keluar, biarkan Ibu istirahat."Ajak Via kepada Rahman, namun ia menyunggingkan senyum sinis kepada Jubaidah yang tentu saja membuat wanita itu semakin geram dan ingin memenggal Via saat ini juga.


"Via, Maafkan ibu." Ucap Rahman.


"Iya Mas, aku sudah memaafkan ibu."


Via sengaja tidak mengatakan kepada Rahman, apa yang akan dilakukan Jubaidah dengan benda pribadi miliknya. Karena ia ingin mencari tahunya sendiri.


❄️❄️❄️❄️


Beberapa menit berlalu.


Rania kembali mendapatkan perintah dari Jubaidah untuk mengantarkan segelas air putih kepada Rahman dan meminta Rania untuk memastikan bahwa Rahman benar-benar meminum air yang ia bawa.


Via yang memang sejak tadi mengawasi, tentu saja langsung mengambil air yang ada di tangan Rania.


"Biar Mbak yang mengantarkannya kepada Mas Rahman."


"Tapi Mbak, Ibu menyuruhku untuk memastikan jika Mas Rahman benar-benar meminumnya." Sahut, Rania yang merasa tidak enak hati, tapi ia juga takut pada Jubaidah, karena tadi ia di marahi habis-habisan oleh Ibunya karena membiarkan Via yang mengantarkan benda yang ia minta.


Via tahu jika Rania anak yang patuh dan tentu saja Rania akan tetap memastikan jika Rahman meminum air itu.

__ADS_1


Tapi itu semua tidak membuat Via kehabisan akal.


Sebelum Rania mengantarkan air itu kepada Rahman, Via mengalihkan perhatian Rania.


"Mas Rahman kurang sehat, dan ini saatnya ia minum obat. Jika kau ingin mengantarkan airnya kepada Mas Rahman, tolong antarkan juga obatnya agar dia segera meminum obat itu dan jika Rania tidak keberatan, tolong ambilkan obatnya yang ada di tas Mbak, dan tas itu ada di ruang tamu. Karena Mbak harus mengantarkan minum untuk Mbak Rohmah, sejak tadi ia berteriak kehausan."


Tampa berpikir Rania langsung mengangguk.


"Baik Mbak."


Rania meletakkan segelas air itu di meja dan berlalu menuju ke ruang tamu.


dan di kesempatan inilah Via menukar air itu dengan air yang akan Ia berikan kepada Rohmah.


Setelah mendapatkan obat untuk kakaknya, dengan riang, Rania membawa air itu kepada Rahman.


Dan Via yang membawa air yang sudah iya tukar kepada Rohmah yang tengah mengamuk karena kehausan.


"Mas, Mbak Via bilang Mas tengah sakit, dan Mbak Via menyuruhku untuk memberikan obat ini kepada Mas Rahman."Kata Rania yang sudah berada di dalam kamar Rahman.


Rahman yang tengah sibuk mengemasi barang-barang milik Satria melirik ke arah Rania.


"Kenapa kau yang mengantarkannya? di mana Mbak Via?"


"Mbak Via tengah mengantarkan minum kepada mbak Rohmah."


"Kenapa bukan kau yang mengantarkan minum pada Mbak Rohmah?"protes Rahman.


"Sudahlah mas jangan banyak tanya, lebih baik cepat Mas Rahman minum obatnya dan habiskan air di gelas ini."kata Rania yang sudah tidak sabar ingin menuntaskan tugas yang diberikan Jubaidah.


Tampa rasa curiga dan Rahman pun tengah kehausan ia segera meminum air itu sampai tandas yang sebelumnya sudah menelan beberapa pil yang disediakan Rania.


Sementara di kamar lain.


sama seperti Rahman, Rohmah pun menghabiskan air yang dibawa oleh Via tanpa ia tahu air apa itu sebenarnya.


Sebenarnya ada rasa takut dalam diri Via ketika ia memberikan air itu kepada Rohmah, takut jika air itu berbahaya.


Tapi apa boleh buat. Dan tidak mungkin juga kan jika kalau Jubaidah tega mencelakai Rahman.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2