Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Keadaan Sulit, Rohmah


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗🤗


Setelah menemui Mbah Gede, Jubaidah segera pulang, tentu saja pulang ke Rumah Rahman dan Via. Karena Rumahnya sudah dijual oleh menantu kesayangannya.


"Ibu dari mana saja, dari pagi keluar tidak memberitahuku pula."Kata Rohmah dengan ekspresi panik, tapi kepanikannya itu bukan karena Jubaidah yang pergi tanpa pamit. Tapi karena ada 3 orang pria yang mendatanginya di siang hari bolong.


"Siapa mereka Rohmah?"tanya Jubaidah, dan matanya tertuju pada tiga orang bertubuh kekar dan berwajah seram itu yang tengah berdiri menjulang di depan Rumah Rahman.


"Mereka orang-orang yang ingin menagih cicilan motor ku Bu, karena suda 2 bulan lebih aku tidak membayar cicilan motorku."


"Cicilan motor!"Jubaidah memajukan langkah kakinya, lebih mendekat ke 2 pria itu.


"Bukankah saya sudah bilang kalau motor anak saya itu hilang karena dirampok, tapi kenapa kami masih harus membayar cicilan bulanannya?"Tanya Jubaidah ketika sudah berada di hadapan ketiga pria itu.


"Maaf sekali Bu, mengenai motor Ibu yang hilang dirampok atau alasan lain, itu tidak ada urusannya dengan kami. Yang kami tahu dan inginkan, Ibu harus segera membayar cicilan motor seperti biasanya setiap bulan sampai batas waktunya selesai," Sahut salah satu dari ke 3 pria itu.


"Tidak bisa seperti ini dong, anak saya tidak menikmati motor itu, tapi kenapa masih harus membayar cicilannya. Motor itu hilang dan dirampok. Kalau kalian ingin mengambil kembali motor itu cepat lapor polisi dan temukan siapa perampok itu." Sahut Ke yang benar-benar murka.


Sudah ma ia tengah kesal dan pusing, karena harus mendapatkan uang 10 juta untuk biaya ritual Mbah Gede, ditambah lagi dengan datangnya gerombolan orang yang menagih uang cicilan motor Rohmah.


"Sekali lagi saya tegaskan pada kalian, itu bukan urusan kami, mau motor itu hilang karena dirampok, dicuri, atau apapun itu. Kami tidak akan perduli, yang kami pedulikan, kalian harus tetap membayar cicilan motor itu sampai lunas, jika tidak! Kami akan meminta denda, dan dendanya adalah! kalian harus membayar 2 kali lipat dari jumlah yang biasanya kalian bayar setiap bulan.


"Apa-apa ini, apa kalian semua sedang mengancam saya?" Bentak Jubaidah.


"Tuak Bu, kami hanya memperhatikan saja."


"Sudah Bu, jangan marah-marah seperti ini, nanti orang-orang ini malah tambah marah bagaimana,"bisik Rohmah pada Jubaidah.


"Ini semua gara-gara kamu Rohmah!"


"Jadi, bagaimana. Kalian mau membayar atau tidak!"tanya pria itu dengan membentak Rohmah dan Jubaidah yang tengah berbisik-bisik.


"Saya akan membayarnya Pak, tapi tolong beri saya waktu satu Minggu lagi, saja akan membayar cicilan dua bulan yang lalu dan satu bulan kedelapan,"sahut Rohmah. Dengan takut-taku


Namun dia harus tetap mengatakan itu agar para pria itu segera pergi dari sana.


"Baiklah, kami akan memberi Anda waktu satu Minggu, dan di waktu satu Minggu itu kami akan datang kembali ke sini, dan kami harap anda sudah menyiapkan uang yang kami inginkan. Jika tidak! Tentu kalian tahu sendiri akibatnya."


"Baik Pak, saya mengerti dan saya akan segera menyiapkan uang itu. Terima kasih."Sahut Rohmah sambil menundukkan kepalanya berulang-ulang.


Jubaidah segera menarik Rohmah ke dalam Rumah dan ia mencecar anaknya itu dengan berbagai pertanyaan.


"Rohmah, apa kau sudah gila! Kau mau mendapatkan uang sebanyak itu dari mana? ingat Rohmah cicilan motormu itu perbulannya 1 juta rupiah, jika kau membayar dalam 3 bulan itu jumlahnya sudah 3 juta, Rohmah. Pikirkan kau mau dapat uang sebanyak itu dari mana?"Maki Jubaidah, sambil menggerakkan jari tangannya di depan wajah Rohmah.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu Bu dari mana mendapatkannya, aku bingung, dan aku terpaksa menjanjikan orang-orang itu agar mereka pergi dari sini."


"Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan uang sebanyak itu?"


"Aku akan coba mencari mas Rudi, aku akan mendatangi Rumah teman-temannya yang aku tahu, mungkin saja mereka mengetahui di mana Mas Rudi berada."


"Bagus! Kau memang harus mencari si lelaki brengsek itu, bila perlu, kau cari dia sampai ke ujung dunia dan jangan beri dia ampun jika kau sudah menemukannya."


"Kenapa Ibu sekejam itu?"


"Ibu bukan kejam Rohmah, tapi suamimu itu yang kejam, dia berani memperalat mu dan menipu Ibu, tentu saja Ibu tidak akan tinggal diam dengan lelaki itu."


Di saat mereka berdua berdebat tiba-tiba lampu di Rumah itu padam dan di susul suara Putri berteriak memanggil ibunya.


"Mama, kenapa TV nya mati?"


"Ada apa lagi ini!"kesal Jubaidah.


"Biar aku lihat dulu di luar bu."


Rohmah bergegas keluar untuk melihat penyebab listrik di Rumah itu padam dan. Dan belum sempat Rohmah sampai di tempat yang ia tuju, ia sudah terlebih dulu mendengar suara ciri khas token listrik habis.


"Token listriknya habis Bu." Ucap Rohmah yang kembali pada Jubaidah.


"Kenapa kau malah laporan! cepat isi sana."


"Kalau begitu tunggu Rahman pulang, minta uang padanya."


Ujar Jubaidah, lalu ia masuk ke dalam kamarnya.


wanita itu ingin menyusun rencana untuk mendapatkan uang 10 juta yang diminta oleh Mbah Gede.


Belum usai masalah listrik yang kehabisan token, Rohmah tambah dibikin pusing dengan Putri Yang merengek meminta makan.


Ya, anak itu sejak pagi belum lah diberi makan oleh Rohmah. Bukan Rohmah tidak mau memberinya makan, tapi Rohma tidak tahu harus memberi anaknya makan apa karena di Rumah itu sudah tidak ada bahan makanan yang dapat diolah, bahkan Gas pun habis hanya untuk sekedar memasak air.


"Mama aku lapar, aku ingin makan. Mama bilang tunggu Nenek pulang baru aku makan, sekarang nenek sudah pulang tapi kenapa aku belum makan? Kenapa juga lampunya mati aku kan tidak bisa nonton TV mah."


Putri terus saja merengek menambah pusing Rohmah.


Jika tadi Putri bisa mengalihkan rasa laparnya dengan menonton TV, tapi karena listrik di rumah itu padam fokus Putri kembali pada rasa laparnya.


"Tunggu sebentar ya. Mama minta uang dulu pada nenekmu."

__ADS_1


Rohmah segera mengetuk pintu kamar Jubaidah.


"Ada apa Rohmah?"teriak Jubaidah dari dalam tanpa membuka pintu kamar.


"Bu, Putri lapar. Dari pagi dia belum makan apa ibyu masih mempunyai uang?"


"Apa kau sudah gila! Kau menanyakan uang pada Ibumu ini? Kau tahu sendiri kan ibu sudah tidak mempunyai sepeserpun uang, karena semua benda-benda Ibu udah dijual oleh suamimu."


Jubaidah yang tengah pusing dan frustasi terus saja mengomel di dalam kamarnya.


Sementara Rohmah pergi begitu saja membiarkan Ibunya yang terus mengoceh.


"Tunggu sebentar ya Nak, sebentar lagi Om Rahman pulang, kaubbisa minta uang padanya untuk membeli makanan."


"Tapi kan biasanya Om Rahman pulangnya sore Mah."


"Hanya tinggal beberapa jam lagi Putri, bersabarlah sedikit."


Mau tidak mau Putri mengangguk dan menunggu Rahman pulang.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sementara Rahman, lelaki yang kepulangannya ditunggu oleh Jubaidah dan Rohmah tengah berada di depan Rumah Rohim.


Setelah dari pabrik, lelaki itu memutuskan untuk langsung ke Rumah Rohim untuk menanyakan keberadaan dan kabar Via pada ayah mertuanya.


"Ayah, aku mohon beritahu aku di mana Via. Aku ingin bertemu dengan anakku ya dan Via. Aku tahu aku salah, tapi tolong jangan siksa aku seperti ini, dengan Ayah memisahkan aku dan membatasi hubunganku dengan Satria."Kata Rahman kepada Rohim ayah mertuanya.


"Via dan Satria baik-baik saja Rahman, kau tidak perlu khawatir. Lebih baik sekarang kau pulang dan beristirahatlah."


Rohim yang sudah terlanjur kecewa pada Rahman tetap tidak ingin memberitahu di mana Via berada, meskipun ia sedikit merasa kasihan pada Rahman tapi ia tetap mendukung Alvian yang ingin menjauhkan Via dan Rahman, tapi jika Via yang ingin bertemu Rahman dengan sendirinya Rohim baru akan mengizinkannya.


"Yah tolonglah, aku mohon beri aku kesempatan sekali saja untuk bertemu dan berbicara dengan Via, aku perlu menjelaskan semuanya ya, setelah aku bertemu dan menjelaskan semuanya pada Via, aku pasrah jika memang Via akan meninggalkanku. Tapi setidaknya beri aku kesempatan sekali lagi untuk menjelaskan pada Via, jika aku tidak pernah menghianatinya sekalipun."


Ucap Rahman dengan sungguh-sungguh.


Bersambung.....


🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya🙏

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2