
Selamat Membaca 🤗
Setelah melakukan transaksi dengan pria asing yang ia sebut Mister, Miranda mengajak Putri untuk berkemas.
"Kita mau kemana Tante?"tanya Putri yang kebingungan.
"Kau mau ketemu Mamamu kan?"
Putri mengangguk dengan antusias, karena memang anak itu selalu merengek minta di kembalikan pada ibunya.
"Sekarang Putri ikut Om itu ya, dia yang akan mengantarkan Putri bertemu Mama."
Putri menatap pria asing nan menyeramkan itu. Tatapan mata Pria asing sudah sangat membuat gadis kecil itu ketakutan.
"Putri tidak perlu takut, om itu baik ko. Dia akan mengantarkan Putri sampai rumah,"kata Miranda yang mengerti jika Putri tengah ketakutan.
Tap.
Tap.
Tap.
Pria asing berjalan mendekat, dengan memasang mode ramah, dia mengulurkan tangannya pada Putri.
"Hai! Anak manis, perkenalkan nama Om Dewa."
Dengan ragu-ragu Putri menyambut uluran tangannya.
"Aku Putri."
"Nama yang bagus, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang, kau sudah sangat merindukan ibumu kan?"
Putri mengangguk.
Dan 2 orang yang datang bersama pria yang bernama Dewa itu membawa Putri masuk kedalam mobil.
"Saya sudah memesan tiket pesawat, anak itu akan saya bawa ke luar negeri hari ini juga."
"Oh, tidak masalah. Lakukan apa yang Anda inginkan Mister, karena anak itu sudah resmi menjadi hak Anda."Sahut Miranda tanpa Dosa, padahal ia sudah menjual seorang anak kecil yang tidak berdosa.
Miranda melambaikan tangan seiring mobil yang membawa Putri menjauh dati halaman rumahnya.
❄️❄️❄️
"Putri, di mana Putri, di mana anak saya!"
Rohmah histeris ketika ia tiba-tiba mengingat anaknya.
Mungkin ia merasakan jika Putri dalam bahaya.
"Tenang Rohmah, tenangkan dirimu."Ujar seorang wanita, ia adalah tetangga Jubaidah. Rania meminta tolong padanya untuk menjaga Rohmah selama ia di Rumah Sakit.
"Tidak! Saya ingin bertemu dengan anak saya, di mana Putri. Putri...!"
Rohmah semakin mengamuk, ketika anak yang ia panggil tidak kunjung muncul.
Rohmah menerobos keluar kontrakan, ia ingin mencari anaknya, sambil berteriak dan menghadang setiap orang yang melintas.
"Kau! kau yang mengambil anak saya kan! Kembalikan anak saya!"teriak Rohmah, sambil mencengkram tangan ibu-ibu yang kebetulan lewat.
"Dasar wanita Gila!"umpat ibu-ibu itu dan mendorong Rohmah.
Rohmah bangkit dan ingin kembali berlari.
"Tahan dia, jangan sampai kabur!"
Beberapa warga menghentikan pelarian Rohmah, namun wanita itu malah menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama Putri.
"Sebaiknya, kita hubungi Rania saja, katakan jika kakaknya ini mengamuk dan tidak terkendali."Ujar salah satu warga, yang merasa kewalahan menangani Rohmah.
Yang lain setuju karena mereka tidak mau di repotkan dengan mengurusi Rohmah yang seperti ini.
**
Setelah mendapat pesan dari warga, Rania panik dan bergegas mencari Rahman yang belum kembali setelah ke ruangan Dokter.
__ADS_1
"Ya Allah, dimana Mas Rahman di mana. Aku harus segera pulang."
Rania yang tidak menemukan Rahman di ruangan Dokter, berkeliling Rumah Sakit untuk mencari kakaknya sambil terus menghubungi ponselnya yang tidak kunjung di jawab.
Bug!
Karena matanya berkeliaran, Rania tidak senaja menabrak seseorang yang tengah melintas di lorong Rumah Sakit.
"Aih, apa kau tidak punya mata!"Marah orang yang di tabrak Rania, karena ia tengah membawa minuman dan terjatuh di lantai.
"Maaf, saya tidak senaja,"panik Rania. Dan ia segera mengambil minuman yang berbeda di dalam botol itu, ketika Rania mendongak untuk melihat siapa orang itu.
"Mas Alvian!"Kejut Rania.
Ya, dia adalah Alvian yang secara kebetulan ada di Rumah Sakit itu.
"Rania!"
"Maaf, Mas, saya tidak senaja, tapi botolnya tidak pecah ko, ini masih bisa diminum."
"Lupakan!"Sahut Alvian yang tidak mau memperpanjang perkara, karena ia malas jika harus berhubungan dengan keluarga Jubaidah.
"Mas Alvian sedang apa di sini?"
"Apa saya harus mengatakan alasan saya berada di tempat umum seperti ini?"
"Ah, tidak perlu Mas. Saya hanya khawatir saja, jika ada yang sakit."
"Terlalu banyak basa-basi."Ketus Alvian dan dia merampas botol minuman yang ada di tangan Rania lalu ingin beranjak dari sana.
"Tunggu Mas!"
Alvian menoleh.
"Apa?"
"Apa Mas Alvian, melihat Mas Rahma?"
"Ternyata dia ada di sini juga."
"Ibu sakit Mas."Kata Rania.
"Mbak Rania, di saat yang bersamaan seorang suster datang."
"Iya Sus?"
"Ibu Jubaidah histeris, tidak terkendali."
"Apa!"
Tanpa bicara apapun lagi, Rania segera berlari menuju kamar rawa Jubaidah diikuti oleh suster.
Alvian yang merasa penasaran dengan penyebab Jubaidah masuk Rumah sakit, mutuskan untuk membuntuti Rania.
****
"Sakit Dokter!"rintih Jubaidah, sambil terus menghentak-hentakkan tubuhnya di atas ranjang dan tangannya memukuli dada.
"Ibu kenapa! apa yang sakit?"Rania sudah berlinang air mata karena tidak tega melihat Jubaidah.
"Di sini sakit, panas seperti terbakar."Jubaidah mencengkram bagian dadanya.
"Dokter ibu saya Kenapa?"
"Kami belum melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut kepada ibu Jubaidah. Tapi sebaiknya, untuk saat ini Ibu Jubaidah diberi obat penenang terlebih dahulu."
Rania menganggukkan tanda setuju, dan dokter itu menyuntikkan obat penenang di selang infus Jubaidah.
Alvian yang saat ini ikut masuk cukup tercengang melihat kondisi Jubaidah.
Setelah Jubaidah tenang, Dokter dan suster meninggalkan mereka.
"Mas Alvian ada di sini?"tanya Rania yang baru menyadari jika Alvian ada di ruangan itu.
"Kenapa ibumu?"
__ADS_1
Dan Rania pun menceritakan apa yang terjadi dengan Jubaidah.
CKLEK..
Suara pintu terbuka dan ternyata itu Rahman.
"Mas Rahman dari mana saja?"tanya Rania.
"Membeli makan untuk kalian."
Rahman menatap Alvian ada di sana.
"Untuk apa Mas Alvian ke sini?"
"Yang jelas bukan untuk menjenguk ibumu, aku hanya kebetulan berada di Rumah Sakit ini karena menjenguk temanku yang baru saja dioperasi. Tapi secara kebetulan aku bertemu dengan adikmu, dan melihat ibumu yang histeris kesakitan."
Rahman berjalan mendekat dan meletakkan kantong plastik putih di atas meja.
"Ibu tidak apa-apa Mas, ia hanya mengalami beberapa luka di tubuhnya. Dan Dokter bilang semua itu akan segera pulih."
"Tapi Ibu tadi kembali merasakan sakit di bagian dadanya Mas, sepertinya itu jauh lebih menyakitkan dari luka-luka yang Ibu derita, dan Dokter belum melakukan pemeriksaan untuk itu."Sahut Rania.
"Sudah! kau tidak perlu mengkhawatirkan akan hal itu, Mas juga yang meminta Dokter untuk tidak perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena sakit Ibu bukan hal yang serius."
Perkataan dari Rahman sungguh membuat Rania heran, bagaimana Rahman bisa menanggapi itu dengan santai tanpa raut khawatir sedikitpun di wajahnya, bukankah Rahman yang paling heboh jika Jubaidah sakit!
Tapi Rania tidak mau memikirkan itu lebih jauh, ia mengira jika yang Rahman katakan adalah benar, karena selama ini Rahman lah yang tahu seperti apa kondisi Jubaidah.
"Mas, tadi aku dapat telepon dari tetangga yang saat ini menjaga Mbak Rohmah, dia bilang Mbak Rohmah mengamuk karena mencari Putri, bahkan Mbak Rohmah berusaha kabur dari kontrakan."
"Apa kau ingin pulang?"
Rani yang mengangguk.
"Tapi apa Mas Rahman bisa menemani Ibu sebentar di sini?"
"Baiklah, tapi kau harus segera kembali. Karena Mas tidak bisa menginap di sini, kasihan Via dan Satria di Rumah tidak ada yang menemani."
"Iya Mas."Sahut Rania.
"Biar Mas pesankan taksi online, karena ini sudah malam sulit untuk mencari angkutan umum."Kata Rahman yang merasa khawatir dengan gadis itu.
Rahman tidak menyimpan dendam apapun pada Rania, karena Gadis itu tentu tidak mengetahui apa yang terjadi di masa lalu karena saat itu Rania masih sangat kecil, bahkan sampai saat ini Rania tidak mengetahui jika Rahman bukan kakak kandungnya.
"Biar aku saja yang mengantar Rania pulang, aku ingin melihat Via dan Satria, bukankah kontrakan kalian dan Rumah Via tidak terlalu jauh."Alvian menawarkan diri.
"Maaf merepotkan Mas Alvian,"sahut Rania.
"Tentu saja akan merepotkan jika bukan satu arah, ini hanya karena satu arah saja aku bersedia memberi tumpangan."
Alvian dan Rania pergi dari Rumah Sakit.
Dan situasi ini dimanfaatkan oleh Rahman.
Rahman menarik kursi dan duduk persis di sisi ranjang tempat Jubaidah berbaring, ia mengangkat tangan wanita itu dan meletakkan di telapak tangannya.
"Apa Ibu merasa sakit! seperti apa rasa sakitnya, apakah sangat sakit, atau teramat sakit sampai Ibu tidak bisa menahannya!"kata Rahman pada Jubaidah yang tengah memejamkan mata.
"Tapi sayang, seperti apapun kau merasakan sakit, aku tidak akan pernah dan berniat mengobatinya, aku ingin kau merasakan, apa yang dulu Ibu kandungku rasakan, tanpa penawar sedikit."Sambung Rahman.
Rahman melepaskan genggaman tangannya dan ia beralih pada kantong plastik yang tadi ia letakkan di atas meja.
Rahman membuka isinya yang ternyata bubur ayam, makanan favorit Jubaidah ketika ia sakit.
Tapi kali ini bukan bubur biasa, karena Rahman menambahkan sesuatu yang ia ambil dari saku jaketnya.
"Ini bubur spesial untuk ibu tiriku,"kata Rahman dengan senyum jahat sambil meneteskan cairan yang ada di dalam botol kecil transparan."
Bersambung..
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️