Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Ingin Bertemu Via.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗🤗


POV Rahman.


Aku yang terlalu senang mendengar kabar dari Rania jika Via ada di Rumah orang tuanya, tidak ingin membuang-buang waktu apalagi jika harus menunggu sampai besok, aku tidak menghiraukan ucapan Rania yang melarangku untuk menemui Via malam ini juga, meskipun yang dikatakan Rania pasti benar jika Via dan Satria sudah tidur karena ini sudah pukul 22:00, tapi aku sungguh tidak peduli. Yang terpenting saat ini aku harus bertemu dengan Via secepatnya agar aku bisa meluruskan kesalahpahaman antara aku dan Selvi dan aku akan meminta maaf kepada Via atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan padanya dan Satria.


Setelah aku memastikan jaket dan helm terpasang sempurna di tubuhku, aku segera mengeluarkan motor dan menyalakannya.


"Mas Rahman hati-hati!"Ujar Rania, yang mengantarku sampai depan pintu.


Aku mengangguk, dan segera melaju dari halaman rumahku.


Sepanjang perjalanan hatiku benar-benar senang dan berbunga-bunga. Aku sudah menyiapkan beberapa kata untuk aku utarakan kepada Via, aku harus bisa membawanya kembali pulang ke rumah. Semoga saja Mas Alvian tidak ada di rumah karena jika lelaki itu ada di rumah dia pasti akan mengacaukan semuanya bahkan mungkin dia tidak akan membiarkan aku untuk berbicara dengan Via.


Sial! Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja hujan turun begitu deras. Hujan yang disertai angin kencang dan petir, terpaksa membuatku harus menepi sejenak untuk mengambil jas hujan di bawah jok motorku, ini sungguh membuang-buang waktu.


Tapi, lagi-lagi aku harus mengumpat sial, karena jas hujan itu tidak ada di jok motorku mungkin saja aku memindahkannya dan lupa mengembalikannya, aku yang sudah benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Via tetap melajukan motorku meskipun hujan deras disertai angin dan petir mengiringi perjalananku tanpa pelindung apapun.


Akibat jalanan yang licin dan pandangan yang buram karena hujan begitu lebat, membuat motorku tergelincir hingga aku pun terjatuh membentur aspal. Beruntung aku tidak mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, jadi luka yang aku alami hanya lecet di bagian lengan dan kaki saja sedangkan kepalaku aman karena terlindung dengan helm.


(Itulah pentingnya mengunakan helm di saat berkendara)


Beberapa orang yang membantuku menyarankan ku untuk menepi sejenak sampai menunggu hujan reda, mereka berkata jika berbahaya berkendara di cuaca seperti ini.


Aku yang merasakan nyeri di tangan dan kakiku, serta pakaianku yang sudah basah kuyup mendengarkan saran dari mereka untuk menepi sejenak di sebuah warung.


Tapi sudah 30 menit aku menunggu.


Hujan tak kunjung reda, entah kenapa tiba-tiba bisa turun hujan sederas ini padahal siang tadi cuaca sangat cerah. Apakah ini adalah sebuah tantangan atau hukuman untukku, entahlah! apapun itu yang jelas aku tidak akan putus asa, aku akan tetap menuju ke rumah Ayah Rohim dan menemui Via istriku.


Aku yang sudah mempersiapkan diri kembali melanjutkan perjalananku, kali ini aku mengendarai motorku dengan sangat pelan karena lenganku terasa nyeri, mungkin saja bukan hanya lecet tapi juga memar, karena aku tidak sempat melihatnya.


Tapi aku tidak memperdulikan itu semua, aku yang tengah merasakan kesenangan luar biasa di hati, mengabaikan semua rasa sakit di kaki dan tangan.


Entah kenapa perjalanan menuju rumah orang tua Via begitu terasa jauh sekali, padahal jika aku berkunjung kesana bersama Via tidak sejauh ini. Apakah rute jalannya di tambah hingga membuatku merasa tidak kunjung sampai, atau ini perasaanku saja, yang karena tidak sabar ingin cepat sampai dan bertemu Via.


Tubuhku sudah menggigil hebat.


untung saja aku sudah memasuki perumahan tempat Orang tua Via tinggal.


Hingga beberapa menit kemudian aku sampai persis di depan gerbang Rumah Ayah mertuaku

__ADS_1


Dua kali sudah aku menekan bel yang ada di sisi pagar rumah, tapi tidak ada siapapun yang kunjung keluar dan membuka pintu.


Hatiku sudah diliputi kecemasan, takut kalau Via dan keluarganya kembali pergi dari sana.


Hingga ketiga kalinya aku menekan bel, aku melihat pintu terbuka dan di sana terlihat sosok Ibu mertuaku dengan payung di tangannya.


Dari balik pagar aku melihat beliau terkejut dengan kehadiranku, namun mungkin karena beliau tidak tega melihatku yang basah kuyup dan menggigil seperti ini segera membukakan pintu pagar dan menyuruhku masuk..


"Yah!"panggil Ibu mertuaku, dan panggilan itu sudah pasti ditunjukkan kepada ayah Rohim.


"Iya Bu siapa yang datang,"sahut Pak Rohim sambil berjalan keluar namun seketika beliau terkejut ketika melihat kehadiranku di sana.


Selain terkejut aku melihat ekspresi tidak suka dari Ayah mertuaku dengan kehadiranku di sini, mungkin beliau sudah bosan dengan kedatanganku yang entah sudah ke berapa kali semenjak Via pergi dari rumah.


"Untuk apa kau datang, di malam hari seperti ini Man,"tanya Ayah Rohim dengan suara dinginnya.


"Yah, biarkan Rahman masuk dulu. Kasihan dia kehujanan dan basah kuyup seperti ini,"sahut Ibu Aminah.


Ayah Rohim tidak mengatakan apapun lagi ia langsung saja masuk ke dalam, tidak memperdulikan aku dan disusul dengan Ibu Aminah, tapi sebelum masuk, Ibu Aminah memintaku untuk menunggu karena ia ingin mengambilkan handuk.


"Pakai ini Man." Kata Ibu Aminah sambil menyerahkan handuk tebal berwarna putih padaku.


Bu Aminah diam, ia terlihat bingung. Aku sangat mengerti dengan situasi ini, beliau pasti masih menyimpan kemarahan dan kekecewaan padaku yang telah menyia-nyiakan Putri semata wayangnya.


"Aku mohon Bu, ijinkan aku bertemu dengan Via, aku ingin bicara dan meminta maaf padanya,"kataku kembali.


"Masuklah, Rahman." Sahut Bu Aminah.


Dengan ia mempersilakan aku masuk, aku sangat yakin jika Ibu Mertuaku ini mengijinkan aku untuk bertemu dengan Via.


"Terima kasih Bu." Aku segera masuk mengikuti Ibu mertuaku, dan duduk di ruang tamu.


Ada yang berbeda dari sambutan Ibu mertuaku saat ini, jika dulu ia akan langsung membawa ku menuju ke ruang keluarga ketika aku datang, hari ini beliau membawaku ke ruang tamu. Apakah beliau saat ini menganggapku hanya tamu atau orang asing yang kebetulan mampir, atau karena ada keperluan dan setelah itu aku akan pulang hanya dalam hitungan menit.


Sungguh aku sedih jika memang seperti itu. Semoga saja aku bisa kembali merebut hati Via dan Mertuaku.


❄️❄️


Tok.


Tok.

__ADS_1


Tok.


"Via, apa kau sudah tidur Nak!"


Suara ketukan pintu sedikit mengejutkan Via yang tengah berkutat dengan Laptopnya.


CKLEK.


"Iya Bu."Sahutnya sesaat setelah membuka pintu kamar.


"Kau belum tidur?"tanya Aminah dengan lembut.


"Belum Bu, aku masih mempersiapkan untuk lamaran kerjaku besok."


"Kau yakin ingin melamar kerja di sana?"


"Aku yakin Bu."


"Baiklah! Sekarang keluarlah sebentar temui Rahman."


"Apa!" Via benar-benar terkejut!" Mas Rahman! Apa Mas Rahman ada disini?"


"Iya sayang, dia menunggumu di ruang tamu, temui lah sebentar. Katakan apa yang harus kau katakan padanya, dan selesai jika memang harus ada yang di selesaikan."


Secara bersamaan, Rohim datang menghampiri mereka.


Via melirik ke Ayahnya, dan Rohim tidak menunjukkan ekspresi apapun. Pria tua itu tentu saja masih sangat kecewa pada Rahman.


"Aku tidak mau menemuinya Bu." Sahut Via.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2