Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Nasib Alvian


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


POV Rahman.


Darah dalam tubuhku mendidih ketika ingatan 15 tahun silam kembali, rekam jejak itu sangat nyata menari-nari di mata dan otakku. Aku menyesali semuanya, kenapa aku tidak di beri kesempatan untuk memperkuat diri dan melawan wanita iblis itu, ia merenggut nyawa ibu kandungku tepat di depan mataku, saat wanita jahat itu memasukan sesuatu kedalam mulutku, seketika tubuhku tidak dapat di gerakkan dadaku sakit dan mataku panas, tapi yang lebih membuatku sakit, di saat aku melihat wanita itu membunuh ibuku. Bodohnya aku, aku malah meminta ayah untuk menikahi wanita itu.


Semua kesakitan dalam hati ini akan aku balaskan, aku tidak akan pernah memaafkan wanita itu, dan aku bersumpah akan membalasnya lebih dari apa yang ia lakukan padaku dan Ibuku.


Saat ini aku tengah berbaring sambil menatap wajah pucat anakku, kebencianku semakin bertambah karena wanita itu kerap kali melarangku untuk merawat dan menyayangi anak dan Istriku, semoga Via benar -benar sudah memaafkan semua kesalahanku.


Tunggu aku Jubaidah, Putra mu ini akan datang padamu.


****


"Tempat apa ini! Apa Via tidak salah memberi alamat,"gumam Alvian, ketika melihat jalanan rimbun, sepi dan jauh dari penduduk, lelaki itu tengah mengikuti alamat yang diberikan Via, alamat di mana Rania mengatakan jika Putri dalam bahaya.


Alvian yang sama sekali tidak mempercayai jika itu pesan dari Ranai. Meminta bantuan sahabatnya Wisnu, untuk membawa polisi.


Namun saat ini ia memilih untuk pergi terlebih dahulu.


Beberapa menit blusukan, Alvian sampai di depan rumah yang sudah reot, tidak terlihat aktivitas apapun di sana, Alvian hanya melihat kepulan asap dari atap rumah yang sudah hitam dan di rambati tumbuh liar, bertanda jika rumah itu memang berpenghuni.


Di mana Rania?


Bukankah dia bilang tengah mengikuti penjahat yang membawa Putri?


Tapi kenapa dia tidak ada sini?


Apa dia juga ikut di bawah?


Atau semua dugaanku benar, jika ini hanya jebakan!


Beberapa pertanyaan terlintas di benak Alvian, dan sepertinya ia sudah menemukan jawaban dari pertanyaan sendiri.


Dengan cara mengendap-endap, Alvian mendekati rumah tua dan terlihat horor ini.


Jangan sampai menimbulkan suara sedikitpun, batin Alvian.


Alvian menempelkan kupingnya di bilik rumah yang ternyata sangat rapat itu, tapi meskipun begitu, bilik itu tidak mampu menahan suara perbincangan yang ada di dalam rumah.


"Tante, kenapa lama sekali, apa Tante sudah memastikan dia akan datang!"


Suara wanita yang nampak asing bagi Alvian, pertama ia dengar dari dalam sana.


"Kau tenang saja Sel, Tante sudah memastikan wanita sialan itu akan datang kesini dengan sendirinya."


"Itu suara Jubaidah!"gumam Alvian, setelah mendengar suara yang lain dari dalam sana.


Alvian tidak bisa memastikan jika itu memang Jubaidah, karena untuk mengintip di bilik itu sangat susah, tapi lelaki itu sudah bisa memastikan jika suara itu adalah milik Jubaidah.

__ADS_1


"Tapi kenapa Via belum datang juga Tan, kita sudah lama menunggu!"


"Sabarlah sedikit Sel, kita juga masih menunggu Mbah Gede membeli alat-alat ritual kan!"


Alvian semakin membelalakkan matanya, ketika mendengar nama adiknya di sebut.


"Ritual! apa maksudnya!"


Alvian semakin merasa adiknya dalam bahaya, dan ini sudah tidak wajar karena Jubaidah menggunakan cara-cara aneh.


"Aku sudah menduga, jika wanita ini tidak beres!"


Dengan hati-hati Alvian merogoh saku jaketnya, ia ingin menghubungi Wisnu untuk cepat datang.


BUG!


Namun sebelum Alvian berhasil menekan nomor ponsel Wisnu, satu pukulan menghantam tepat di punggungnya.


"Suara apa itu Tante!"


Selvi pun sampai terkejut dengan suara keras itu.


Dengan sigap, ia dan Jubaidah segera berlari untuk mengecek apa yang terjadi, mereka takut jika ada orang lain yang mengintai aksi yang akan mereka lakukan.


"Mbah Gede! ada Apa?"tanya Jubaidah yang melihat sosok pria tua itu berdiri sambil memegang balok besar.


Selvi dan Jubaidah sama-sama terkejut! ternyata dugaan mereka benar, ada penyusup.


"Lihat ini!"ujar Mbah Gede, sambil menunjuk Alvian yang tergeletak dengan posisi tengkurap menggunakan kaki kirinya.


"Maafkan kami Mbah!"Kata Jubaidah menyesal.


"Tapi siapa dia! kenapa bisa sampai sini?"tanya Selvi.


Mbah Gede membalikkan tubuh Alvian.


"Alvian!"kejutan Jubaidah.


"Tante mengenalnya?"


"Dia kakaknya Via."


"Apa!"


"Kenapa malah dia yang datang! sial, padahal aku sejak tadi menunggu kedatangan Via, kanapa malah kakaknya!" Kesal Selvi.


"Apa yang harus kita lakukan Tante, Via tidak akan datang, kerena, sepertinya ia menyuruh kakaknya ini untuk datang kesini."


"Kau tenang Selvi, rencana kita pasti akan berhasil."

__ADS_1


Jubaidah berdiskusi dengan Mbah Gede, untuk menyingkirkan Alvian sekaligus, karena sudah pasti lelaki akan membuat masalah di kemudian hari jika di biarkan hidup.


"Semua terserah padamu, tapi pikiran itu dengan baik-baik, jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru."kata Mbah Gede.


"Saya yakin Mbah, jika kita menyingkirkan dua anak Aminah sekaligus dengan cara yang berbeda, wanita itu pasti akan depresi dan gila."


Selvi sampai membulatkan matanya, mendengar kata-kata Jubaidah gadis itu jadi tau seberapa kejam Jubaidah.


"Kita bawa dia kedalam!"kata Mbah Gede.


Ponsel yang tergeletak di tanah berdering, menarik perhatian Jubaidah dan Selvi.


"Wisnu! siapa Wisnu?"tanya Selvi setelah melihat siapa yang menghubungi Alvian.


Jubaidah tentu ingat dengan nama itu, pengacara yang dulu pernah datang dengan Alvian yang mengusirnya dari rumah Rahman dengan cara yang membuatnya malu.


"Dia seorang pengacara."


"Lalu apa yang harus kita lakukan Tante?"panik Selvi, gadis ini menang masih amatiran untuk melakukan kejahatan di luar nalar seperti ini, berbeda dengan Jubaidah yang sudah memiliki jam terbang tinggi hingga ia tidak berasa panik dan takut.


Otak Jubaidah yang encer dalam rencana jahat, dengan mudah mendapatkan ide.


Beberapa panggilannya tidak di jawab, Wisnu mengirim sebuah pesan.


(Al, apa kau sudah mengirim lokasinya dengan akurat, aku dan beberapa anggota polisi sedang menuju lokasi)


Setelah membaca pesan yang di kirim Wisnu semakin membuat Selvi kalap.


"Apa yang harus kita lakukan Tante?"


"Berikan ponselnya."Pinta Jubaidah, seraya menjulurkan tangannya.


"Apa yang ingin Tante lakukan?"


"Menyuruh pengacara itu datang!"


Dengan gampangnya, karena memang ponsel Alvian tidak di kunci, Jubaidah mengetik sebuah pesan, seperti apa yang ia lakukan pada Via menggunakan ponsel Rania.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2