Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
BAB 25. Via Ingin Bekerja


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Tak apa jika aku tidak mendapatkan ijin dari Ibu untuk memasak Telur yang ada di Kulkas, aku masih bisa meminta Martabak yang di bawa Mbak Rohmah.


Tepat sekali.


Mbak Rohmah menata dengan rapih potongan Martabat di piring dan ia meletakkan di meja sambil terus mengoceh tentang Via yang tidak masak.


Tapi aku tidak memperdulikan ocehannya, bahkan aku tidak mendengar dengan jelas apa yang di katakan Mbak Rohmah, karena aku tengah Fokus pada gerakan tangannya yang mengambil sepotong makanan yang ia berikan pada Putri.


"Om Rahman mau?"Putri menawarkan makanan yang ada di tangannya.


Dan akupun mengangguk dengan semangat.


Aku berjalan mendekat kearah meja, baru saja tanganku ingin mengambil satu potong Martabak.


PLAK!


Mbak Rohmah menepis tanganku dengan sangat kuat sampai membuatku terkejut.


"Apa-apaan ini Mbak!"sentak ku.


"Kamu yang apa-apa, sembarangan mengambil makanan ini."Sahut Mbak Rohmah dan segera menjauhkan piring itu dari hadapanku.


"Apa aku tidak boleh memakannya?"


"Tentu saja tidak boleh!"


Aku menarik nafasku dalam-dalam, Mbak Rohmah memang terkenal pelit namun aku tidak menyangka jika dia akan jauh lebih pelit dari biasanya, bahkan hanya untuk sepotong Martabak.


"Kenapa tidak boleh Mah? Om Rahman kan mau juga?"tanya Putri.


"Iya, kenapa Mbak Rohmah pelit sekali!"sahut Rania.


"Hey! Kalian anak kecil jangan sok tau dan jangan suka menghakimi orang lain dengan perkataan pelit! Rania, Putri. Ini semua sebagai pelajaran untuk Om Rahman, agar ia bisa mendidik istrinya agar tidak bermalas-malasan dan mau mengurus suami."


"Tapi Mbak! Via tidak masak karena ia marah dan kecewa padaku, karena aku tidak memberikan ia uang bulanan, Mbak Rohmah tahukan jika uang gajiku aku berikan semua pada Ibu."


"Jadi kau mau menyalahkan Ibu atas kemalasan Istrimu itu?"


"Aku tidak menyalakan Ibu Mbak."


"Tapi perkataanmu itu seolah mengungkit apa yang sudah kau berikan pada Ibu, apa kau lupa jasa-jasa Ibu kita selama ini?"


Aku menggeleng, tentu saja aku tidak akan lupa atas apa yang Ibu berikan dan lakukan untukku.


Akupun hanya bisa diam tidak bisa berkata apapun lagi jika Mbak Rohmah atau Ibu menyinggung masa laluku yang merepotkan mereka.


Mbak Rohmah terus saja mengoceh kemana-mana.


Aku memutuskan untuk pergi dari sana dari pada terlibat keributan dengan Mbak Rohmah.


Dan tidak ada pilihan lain, akupun kembali ke Rumah dengan perut yang masih kerongcongan.


❄️❄️❄️

__ADS_1


Baru beberapa langkah aku memasuki Rumah, Indra penciuman ku menangkap aroma sedap dari balik tudung saji yang ada di meja makan.


Karena penasaran akupun membukanya.


Mataku terbelalak!


Kali ini aku terkejut bukan karena adanya tahu dan tempe di meja itu, melainkan ada satu kotak nasi goreng.


Apa Via yang memasaknya?


Tidak mungkin, ini seperti nasi goreng yang sering di pesan Via lewat aplikasi Online.


Sepertinya Via senaja memesankan ini untukku, perhatian juga dia.


Tanpa berlama-lama aku langsung menyantap nasi goreng itu dengan sangat lahap karena perutku mulai terasa perih menahan lapar sejak sore tadi.


Selepas aku makan, aku berjalan menuju Kamar karena sejak aku masuk tadi Via tidak terlihat. Sepertinya ia masih berada di dalam Kamar.


Sayup-sayup aku mendengar suara Via tengah berbicara dengan seseorang.


Dan aku langsung menajamkan pendengaran untuk menguping pembicaraan dan dengan siapa Via mengobrol.


"Apa kau yakin aku masih di terima bekerja di sana?"


(......)


"Semoga saja, karena terus terang aku sangat membutuhkan pekerjaan ini."


(.....)


"Terimakasih Monik, kalau begitu besok kita bertemu di mana?"


"Baiklah, aku akan datang kesana Jam 10:00."


Kata-kata itulah yang aku dengar dari Via, rupanya ia tengah berbicara dengan Monik sahabatnya. Dan aku yang pintar ini, bisa mengerti arah pembicaraan Via meskipun aku hanya mendengar dari satu sisi saja.


CKLEK.


Aku membuka pintu Kamar dan itu membuat Via terkejut.


Tapi aku tidak perduli, karena aku sudah tidak sabar ingin memberondongnya dengan berpuluh-puluh pertanyaan.


"Apa yang kau bicarakan dengan Monik?" Tanya ku pura-pura tidak tahu. Padahal jelas-jelas aku sudah tau jika ia membahas soal pekerjaan dengan Monik.


Via menatap ku dengan tatapan menyelidik.


"Kau tahu aku bicara dengan Monik? itu artinya kau juga tau apa yang aku bicarakan dengan Monik?"


"Aaah... Terserah kau sedang bicara dengan siapa. Yang ingin aku tanyakan. Apa kau ingin bekerja kembali?"


"Iya!"


"Kenapa kau tidak bicara terlebih dahulu denganku?"


"Ini aku mau bicara denganmu Mas."

__ADS_1


"Tapi kau menghubungi Monik terlebih dahulu daripada aku?"


"Baiklah aku minta maaf,sekarang aku ingin membahas soal ini denganmu Mas."


"Aku tidak mengijinkannya."


"Kenapa Mas?"


"Kau masih bertanya kenapa? Via, kita sudah sepakat bukan. Setelah kau melahirkan kau akan fokus mengurus ku dan Satria, tidak ada kata bekerja."Tegasku.


"Apa selama ini. Setelah aku melahirkan Satria, aku meminta ijin untuk kembali bekerja? Tidakkan Mas! Tapi untuk saat ini aku ingin kembali bekerja dan aku sangat yakin jika kau tahu alasannya apa."


"Apa ini karena aku tidak memberikan mu uang bulanan?"


"Bagus kalau kau menyadarinya, tanpa harus aku jelaskan."


"Tidak bisa! Aku tidak akan mengijinkan mu untuk kembali bekerja."


"Kau jangan egois seperti ini Mas, mungkin kau bisa dan sanggup melihat Satria kelaparan dan kesakitan karena tidak menembus obat! Tapi aku tidak bisa Mas, aku tidak sepertimu yang dengan tega mengabaikan anakku sendiri demi orang lain. Dan aku akan melakukan apapun demi kesembuhan Satria, sekalipun kau melarangku untuk bekerja."


Demi orang lain!


Aku sangat terkejut dengan kata-kata Via, apa yang dia maksud Ibu?


Ibu bukan orang lain, beliau Ibuku kenapa Via tega mengatakan Ibuku orang lain.


"Via! apa kau sadar dengan apa yang kau katakan itu?"


"Tentu saja aku sangat sadar Mas, sadar seribu persen sadar."


"Tapi aku tetap tidak akan mengijinkan mu untuk kembali bekerja, dengan alasan apapun. Dan aku juga tidak mengijinkanmu untuk bertemu dengan Monik atau teman-temanmu yang lain."


"Mas!"


"Via!"


OOoeee...


Perdebatan kami terhenti karena Satria menangis, mungkin ia kaget dengan suara keras dari kami berdua.


"Ini semua gara-gara kamu Mas!"


Apa-apaan ini, lagi-lagi Via selalu menyalahkanku jika Satria menangis.


"Keluar Mas!"usir Via.


Dia benar-benar semakin berani, setelah menyalahkanku sekarang ia mengusirku dari Kamar kami.


"Aku minta cepet keluar Mas, kehadiranmu hanya membuat Satria semakin takut."


Aku ingin sekali memaki Via yang kurang ajar! Tapi setelah melihat Satria aku menjadi tidak tega, dan aku lebih memilih untuk mengalah dan keluar dari Kamar.


Bersambung..


❄️❄️❄️

__ADS_1


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2