
"Gue sih pengen material tica dari bahan baku si Ray. Gak bermassa. Biar gak keisep vacum kalo ntar qorin gue diburu paradok."
Krauukh..! Krauukh! Kunyah Deti usai mengisi mulutnya dengan makanan, dia tak komentar atas penuturan yang ada.
"Deathflat gue bakal update kayaknya taon depan. Gue harus nyiapin segalanya. Soalnya gue mendem Pnin. Paradok yang bakal gue adepin, punya batu yang sama. Pastinya dia dah lebih maju dan pengalaman."
"Kak Marcel bilang Ray dirakit sama dua orang dewan. Remote Mbak Olive mungkin bisa merubah zat-bawaan tica, ngeganti materi bawaan yang sedang eksis."
"Tapi dewan gak bakal ngerjain permintaan tanpa protokol."
"Ekspertisi jins Kak Jihan khan udah tinggi. Kenapa dicemasin terus Kak? Ntar malah kejadian lho."
"Iya takutnya gitu."
Deti ambil minumannya, dia menyedot.
"Gimana caranya gue ngadepin paradok, tanpa harus numpahin darah gitu. Lintang ngatain suatu yang masih abstrak. Kalimat dia teknis banget, terlalu padet," sambung Jihan.
"Dia pemikir, ngomong buat dia sendiri."
"Iya. Kayak ke dia sendiri, padahal lawan bicaranya orang awam."
"Emang dia bilang apa Kak?" tanya Deti, menaruh kotak yang baru dia sedot isinya.
"Rin tolong puterin.."
"Saya gak mungkin. Rasanya jauh lebih sulit tanpa terjun langsung."
"Deti gak paham Kak."
"Kali aja kalo lo yang denger tau."
"Huh boro-boro. Deti simak, Kak Lintang cuma komentar doang. Itu bukan baris kata yang berisi solusi atau jawaban Kak."
"Dia nyaranin gue ketemu Ratu atau Scope soal soulator."
"Tica emang gak bermassa kok Kak. Vacum bekerja dengan baris protokol ketikan pembuatnya, atau berfungsi dengan barisan perintah yang ada di dalamnya. Vactube boleh dikatakan tertanam detektor."
"Gue umpetin Qorin di balik sini," raba Jihan ke jari manis, Deti melihatnya tanpa berkomentar. "Kalo ada paradok yang tau, maka dia yang di kerangkeng tuh belum mati."
"Jadi Kak Jihan lagi ngurus paradok toh waktu teriak-teriak di transphone?"
"Iya. Sama persis kayak nyokap gue. Makanya gue panggil dia Mamah. Ehya. Lo pernah buka Vactube emang? Ngebongkar pake apaan?"
"Deti gak pernah liat alatnya Kak. Itu kata Kak Lintang, ada detektor khusus, tersimpan nama dan informasi sel tempat jins kita dilahirkan."
"Umm. Bahaya juga kalo info sel dipublikasiin."
"Vacum juga cuma menghisap isi tica, bukan cangkangnya Kak. Habis terhisap, cangkang akan menguap hilang dari eksistensi. Begitu yang Kak Lintang bilang."
"Lo kapan mau ngulik tica De?"
"Deti pikir mungkin perlu tahu dulu, gak mau asal-asalan. Kalo Kak Jihan pernah ke server, Deti harus tanyakan dulu soal tica ke Sub-dewan. Karena katanya Mbak Reinit pernah bedah tica Kak."
"Gue baru denger itu De. Tapi kalo ratu gue tau urusan kita soal soulator, lo bakal ditagih protokol. Qorin gue yang bilang gitu."
"Kalo gitu ke Mbak Olive aja."
"Lha, Olive juga bersyarat. Dia dewan. Kerja mereka berdasarkan protokol bukan inisiatif."
"Gak tahu kapan mulainya," kata Deti soal rencananya melatih kecepatan. "Nungguin protokol mungkin."
"Sama kalo gitu. Gue juga. Anak Snail bilang soulator tuh suatu anugerah."
"Medium ya? Surga dunia Kak. Tica seperti bikin kita mirip dewi dari langit."
Krauukh! Krauukh..!
"Buat gue kayak hikmah. Pasti ada sebab di balik sengatan."
"Whois? bilang, awalnya Kak Jihan depresi khan? Gak semua lusid terkondisi begitu ketika disetrum mimpinya. Makanya Kak Jihan dapet jins yang udah elite."
"Iya tapi.. jins kita juga nanya, kepo sama kita. Napa kita ngedadak bisa liat mereka. Nah tambah bingung khan jadinya?
"Nanti Deti kabarin deh Kak. Pulang yuk? Laporan yang kita sidik udah beres."
"Santai. Tunggu mendung aja dulu."
Krauukh! Krauukh..!
"Kereta apa hujan Kak?"
"Kereta. Kalo dia gak nongol lagi, kita pergi," kata Jihan menatap tempat Marcel pernah muncul.
Siang pun beranjak datang, camilan mereka telah habis dilahap. Jihan masukkan sampah-sampah bekas santainya ke dalam kantong plastik. Sementara Deti sudah bediri, sibuk menjawab telepon.
Jihan melangkah meninggalkan tempat sambil menenteng plastik sampah. Di sebelahnya, dia biarkan Deti mengobrol dengan penelpon sambil melangkah.
Merek telusuri jalan setapak dan akhirnya sampai di jalan aspal kampung perkebunan.
Motor matic yang Deti titipkan di sebuah warung sedang Jihan tumpangi. Deti masih menunggu kembalian uang parkir, di tangannya menggantung kresek kecil. Lalu Jihan melihat Deti datang di mana temannya tersebut sedang mengunyah gorengan.
"Nih anak dah kayak si Vita, masih abadi lapernya."
"Mau Kak?"
"Gak De, sok aja."
Di perjalanan pulang Jihan membahas soal motor. Dia suka ngelayap maen semasa dirinya masih SMA. Pergi bareng dengan geng cewek yang semerk dengan motornya ke tempat-tempat baru tiap hari minggu. Sekarang tunggangannya masih dikontrakkan, dirental, Jihan belum memutuskan untuk menjual Grid, karena harley itu warisan dari om-nya (adik bapak). Si Pengontrak seorang ojol kata Jihan.
"Ojol HD Itu langka Kak."
Jihan turun dari matic, Deti pun menggantikan, pindah duduknya agak ke depan jok.
"Trus juga laris pesenan. Dari pada ngejogrok, debuan di garasi bapak, mending gue rentalin. Sempit di sono, rebutan lahan ma mobil bokap."
"Deti pulang ya Kak," kata Deti selesai maju-mundurkan motornya ke arah gapura.
"Ya. Ati-ati De."
"Assalamualaikum Kak."
"Walaikumsalam."
Brrmm..!! Deti meninggalkan Jihan yang masih berdiri di depan pagar rumah.
Jihan mendapati Bapak sedang duduk nonton tv saat dirinya masuk dengan salam. Bapak menjawabnya.
Di depan rak piala, Jihan membuka pintu arsip dan dokumen rumah, mengambil map tebal berlogo awan dan gelang. Rapotnya tersebut dia taruh di meja.
Bapak komentar karena Jihan baru pulang, sang anak pun menjawab bahwa tadi memang ada urusan di 'dufan'.
"Sini Bapak lihat."
__ADS_1
Glit! Cincin di jari menjelma jadi benda persis hape, hitam warna magnet.
Jihan taruh Sosflat-nya dekat map.
Si Gepeng yang tak berlayar, hanya ada tato glowing gambar awan dan sabit, Bapak abaikan karena pernah mengamati alat-asing tersebut saat pertama kali melihat.
"Hani mau sholat dulu Pak," kata Jihan meninggalkan Bapak, tak peduli sang ayah sudah menempatkan SosFlat ke jilid rapotnya.
Klik! Bapak memadam tv lewat remote, ganti tontonan, menyimak tayangan yang sudah diupload cincin Jihan.
Diary tersebut memutar laporan. Dimulai dari aksi Jihan yang sedang menyalin diri lewat jari di jalan kereta. Marcel dan Deti turut tersorot. Tayangan tersebut bisu, hanya adegan dan subtitle. Tapi Bapak menghisap rokoknya, sudah serius.
Tap! Bapak sentuh permukaan jilid yang persis kaca.
"Kapan lo ke Han-market, De?"
"Deti onmind sejak pagi, Kak,"
"Cuma lusid yang dapet gitu. Oke. Giliran anak petapa."
Dialog tersebut terdengar sampai loteng. Jihan yang baru saja selesai wudhu diam di depan kamar mandi.
"Bapaaa! Kecilin dulu.. ih! Hani belum sholat!"
"Anak petapa tapi bajunya agen elit? Lo gak persis dari goa, Sel. Tapi dari kantor dephan."
"Gue suka omongan lo, Han."
Dalam kamar, dekat meja belajar, Jihan sudah bermukena dan duduk tengok kanan-kiri.
Jihan berdoa agak lama, mengangkat dua tangan minta pada sang Pencipta di dalam hatinya. Beres memohon, dia berdiri membuka kain penutup.
"Udah! Paaa..!" beritahu Jihan dengan suara agak kencang, tak lama ada respon di bawah. Dialog adegan terdengar lagi, suara Marcel dan Deti tersebut membuat Jihan teringat aksi reverse-nya di atas Field Glass.
"Pelanin Han! Ntar bablas.. Pelanin! Nih udah deket, parasas pada rusuh. Perang saudara."
"Kak Jihan..! Hembusin nafas."
Nada dering bergema di dalam saku jaket yang Jihan gantung.
Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua..
Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua..
"Tolong liat dong Rin, siapa," pinta Jihan duduk di tepi ranjangnya, melipat mukena.
Bintang Kecil melesat ke arah pintu, tepatnya masuk ke dalam jaket.
Lulu menghubungimu
"Angkat deh."
Terhubung
"Halo, Lu?" kata Jihan, tetap duduk, pasang kuping.
"Han, besok lembur sampe selasa ya? Dua hari. Bisa khan?"
"Lho, napa emang?"
"Orangtua gue.. meninggal.."
"Inalillahi. Kapan, Lu?"
"I-iya.. Lu. Gue ada SKS online juga, kok. Gak ada jam darat buat ngampus, besok-besok," tutur Jihan memungut sajadah dan melipat, sementara mukena ada di pangkuannya.
"Eh ya. Buku Ukuran, lo taro di mana? Gak ada lho."
"Aduh. Iya. Gue lupa WA elo, Lu. Tuh lagi dipinjem stand ujung. Anak baru juga."
"Oh, di Denim. Ya udah, tak kira dibawa sama lo. Maaf ya Han. Jam tutup nih, gue mau langsung ke kampung. Soalnya kalo berangkat pagi ada blokir covid. Plis, besok jangan sampe bolos."
"Iya. Gue masih baru kerjanya, Lu. Bukan cuma Bu Yohan, emak gue juga suka ngomel."
"Sip! Udah dulu. Inget. Jangan bolos. Jangan sampe Bu Yohan nelpon. Besok lembur dua hari. Gue lagi istirahat pertama. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Discontact. Telepon ditutup
"Iya. Makasih, Rin," kata Jihan, beranjak menaruh sajadah ke sandaran kursi, sedangkan mukena sudah tergeletak di bantal. Jihan biarkan jari manisnya dimasuki Bintang Kecil.
Taph!
Cermin lemari Jihan sentuh, bayangan dirinya langsung berganti jadi sebuah menu-screen.
Ada teks di situ; silahkan pilih command, SUARA, dan JARI.
Jihan membuka lemari, mengambil baju piyamanya.
Taph! Jihan menyentuh teks SUARA usai menutup pintu perabot, dia pilih itu sambil menenteng pakaian.
Twiit..!! Monitor menampilkan barisan kotak biru dengan latar cloud-ring (logo).
"Soulator."
Twitt! Didit! Respon layar, menampilkan gambar Giga yang sedang mencapit kelereng bening.
"Gedein Rin.."
Zwieett..! Kelereng di zoom-in.
Tiddit..! Tiddit.. Tiddit.. Tiddit..!!
Sebenarnya Jihan minta objek yang ada dipindai, karena terlihat banyak nama, lokasi, waktu, dan data (catatan) yang bermunculan.
"Di mana baiknya jika diposisikan ulang biar aman?"
Ywiiet..! Layar mendadak padam, hitam dengan butiran sinar di tengah-tengah.
Syuuutt..!! Memantulkan bayangan pengamatnya, Jihan bercermin saat jari manisnya menyala.
"Mungkin freeform. Aktif parkir-bebas pas dekat paradok."
Setel kalimat private-nya demi hentikan posisi acak ruangku
"Sinus depan miring, cosinus samping miring, tangen depan samping. Sindemi cosami tandesa."
Pembaruan selasai dibuat. Kau masih dapat menggunakan jarimu untuk onmind secara langsung
Bila memintaku realeas, aku keluar dari letak berbeda di kali kedua
Jari manis padam, Jihan pandangi tangan kanannya, berputar-putar badan, menenteng piyama sambil mencari-cari Titik Terangnya, tapi kaos dan celana training hanya memancarkan kelebatan cahaya milik kulitnya.
__ADS_1
"Kamu ngerti banget yang aku maksud, Rin. Makanya kamu lebih cantik My Self. Cup!"
Jihan sentuh bibir dan menggerakkan tangannya pada lemari, monitor jadi-jadian mendadak balik ke menu utama, tak lagi menayangkan glowing putih yang aneh di balik pakaian.
Taph! Menu screen padam jadi cermin biasa begitu Jihan sentuh.
"Pak, Hani tidur!"
Clekh!
Pintu kamar ditutup, Jihan sudah berpiyama pink dan berbaring di ranjangnya tanpa menunggu sahutan lawan bicara.
Posisi meluk guling, memunggungi pintu, dalam pejamnya, Jihan mengedip dua kali, kelopak mata jadi tampak berkerut-kerut.
Dalam dua detik, Jihan kini telah pulas, dadanya kembang-kempis teratur.
Daph! Jihan mendarat di atas rumah, berjarak satu meter dari atap, memijak lantai tak kasat mata, nyeker di dunia mimpi.
"Kak, ijin masuk."
Jihan melihat-lihat sekitar, mencari tanda-tanda. Dia biarkan aktivitas tetangganya di bawah sana, menunggu tanggapan di tempatnya.
Plaph..! Plaph!
Ada tapak kaki muncul terlihat dekat Jihan.
"Huh.. jauh kek," umpat Jihan kacak pinggang.
Gadis Piyama segera menginjak objek yang didapatinya.
Ketika kaki menempati tapak kedua, sebatang stenlis datang menancap udara di belakang Jihan.
Thaang!!
Jihan angkat dua bahunya. Kaget. Gendang kupingnya langsung terasa kering kerontang oleh bunyi yang didengar.
"Dih, tuan lo mana, Spear? Elo dah swa-jalan?"
Ada pesan transphone dari Kisye
"Oh. Kiraen lagi pada ngambek. Ya udah. Pu-terin," pinta Jihan di depan besi mengkilap.
Pengguna Handle yang Terhormat, setelah masa lantik Anda mencapai lebih dari dua minggu, pengawalan masuk Snail dirutekan ke Escort masing-masing
Untuk informasi ekstra, gunakan kaca gerbong. Salam
"Oh. Jadi bahasan Kondektur kemarin sabtu tuh soal swajalan ini ya?" tanya Jihan sudah memegang stenlis.
Wuushh!! Rumah-rumah pecah persis pecahan kaca, tersapu arah gasing gelembung yang tengah rotasi.
Demikian, jawab Zihan
NGU.. OOONG!!
"Gara-gara Luna lama di pengasingan, timeline base jadi kena dampaknya gini," amat Jihan pada jempolnya, permukaan kukunya persis dikitek, dia mendapatinya saat berwudhu.
Stamp ini mencegahmu beraktivitas dengan Ray
"Lagi non-muhrim kali.. Hadeeh."
Dag.. dig.. dug!!
Claph!!
Jihan sudah ditempatkan di gerbong, dua matanya dipejamkan. Dia pernah alami perih oleh lampu gerbong. Maka kelopaknya harus ditutup, sebab dia Pnin alias parasas-buatan.
"Ehh, kok gerbongnya.." pandang Jihan saat membuka mata, abai besi yang dipegangnya parkir otomatis ke sudut dekat pintu, ".. kayak kamar pejabat gini?"
Eng.. ing.. eeeng!
Engkau pun dapat atur ulang tata letak sekarang jika ingin tambah properti
Gerbong berpintu satu, Jihan yang pernah ke Escort-nya ini pun mendapati kasur apung di pojok dekat meja. Ada hologram miniatur gerbong di situ sedang aktif berputar gaya mobil showroom. Dekat ranjang ada wastafel serta cermin.
Setelah garis putih di lantai ada karpet dan bantal untuk rebahan.
Saat badan mengarah ke pintu gerbang, di kanan Jihan tergantung banyak alat dapur, juga dua crown kompor yang tampak masih baru. Meja tersebut memuat enam laci, salah satunya tertera nama vegetable dan bening.
"Kulkas kok di bawah kompor gini ya?"
Tiddit! Tuiitt!
"Ehh," lirik Jihan ke arah pintu, kupingnya menangkap bunyi monitor dan ikon kran shower di kaca pintu berganti jadi logo orang.
Jendela di pintu membening menampakkan gadis bertopi paskibra. Tak lama penutup-gerbong tersebut melesat ke samping.
Sllpph!!
"Yuk?" ajak Kisye. "Karpet liftnya sebelah sini."
"Kak," ucap Jihan menghampiri pintu. "Siapa yang nyasar nih?"
"Emang ada lusid baru? Fanam masih sepi Han. Gak serame bulan kemaren."
"Maksudnya, tuh gerbong mantul Kak. Tetep gaya, biar pun kita hidup ngejanda nantinya."
"Oh kiraen apaan. Mau Escort yang kayak gimana emang? Robah aja isinya."
"Kemaren masih bawa-bawa tombak. Ke mana si Handle? Apa kalian dah cerai sekarang?"
"Gak juga. Gue keren pas sebelahan sama suami, pake gaun di depan kamera. Tuh masih lama. Gue pikir-pikir dulu kalo mau pensi, mending sibukin diri sama tugas."
"Iya. Kerja tiap hari bareng Soulmate Kak."
"Ini dia.." kata Kisye menggerakkan jempol ke belakangnya.
Thaang! Stenlis alias Spear menancapi lantai gerbong.
"Karpet di sono.." tunjuk Paskibra ke lantai yang dipijak Jihan, menggerakkan dagunya.
"Ehh," tengok Jihan ke bawah, melihat kaki. "Kelewat ya?"
Jihan sedikit mundur di depan Kisye.
"Lightnov-red udah tersedia, Han. Nina udah pasang lho. Tuh Escort seting aja, biar pas dateng, lo gak kucek mata lagi. Gue duluan."
"Iya. Thanks, Kak.."
Ngu.. uuung! Kisye menggasing begitu megang Spear.
"Soulatorium," ucap Jihan turut pergi meninggalkan tempat.
Zhhaang!! Jihan di bawa laju cahaya ke arah atas, menyambar dari bawahnya.
__ADS_1