
Gliitt! Twii..iiit!
Dabh!
Debh! Debh..!
"Silahkan duduk, Prita," pinta Gizi saat sudah berdiri di sebelah Reinita.
Gizi menyediakan kursi berserta meja yang telah terhidang buah-buahan dan segelas susu.
"Oh ya. Makasih Jins, ternyata lo manis ketimbang si Jimi."
"Hii.. lebay," cibir Jihan, langsung komentar.
Prita tak membalas cibiran sahabatnya, dia langsung mengutarakan maksud kedatangan. Reinita diam mendengarkan dengan wajah berseri, lalu segera bicara tentang material pusaka yang ditanyakan Prita. Dengan antusias, Prita menyimak jawaban narasumber, menatap bibir yang merah segar itu.
Jihan lanjut belajar Speaker lewat jari tangan. Sekarang dia sudah tahu fungsi dari alat yang selalu dipakai jins-nya.
Speaker di kuping Jihan ternyata ada robot-nya. Tapi suara bimbingan tersebut, hanya Jihan yang dengar.
Dari sini, mereka sedang diperhatikan. Di luar jangkauan penerang kolam, pancaran sang mini sun tidak mencapai lokasi ini cahayanya.
"Lalai. Apa memang.. kalian tak sadar?" kata si Pengintai di bawah pohon rimbun, tempat yang lama diaminya, punggungnya terkalung busur ber-aura pelangi. "Hhh, kenapa kalian lama sekali."
Suara perempuan. Dia juga memiliki lingkaran merah di kepala, seperti yang sedang aktif di salah satu gadis, di antara tiga perawan dalam acara senja tersebut.
Sang pengintai menggeser layar alat yang digenggamnya, swipe-swipe foto dan macam-macam wajah para lajang. Setelah mendapat gambar yang dianggapnya menarik, potret Ayu Ting Ting pun disentuhnya.
Tapp!
Diditt!
Dia menempatkan alatnya kembali di pergelangan. Warna lingkaran di kepalanya berubah hijau saat si benda tenggelam, lembek mengental jadi daging, bratle-nya para profesional. Lingkaran pun mengecil, hingga kepala sang mata-mata seperti telah bebas dari tanda.
Grrrttt..!! Rambutnya memendek, ikatan kepangnya auto lepas, lalu terhenti di batas bahu.
Krrtth..! Bunyi-bunyi seret terus terdengar di tempat ini, mungkin dari lapisan pakaian yang dikenakan, namun dari detik ke detik oufit tersebut masih sama.
Grrrth!! Krrrth!!
Drrr..rtth..!!
Ayu Ting Ting melangkah dengan lenggang superhero meninggalkan tempatnya. Baju yang ada tampak menambah esentrik sang Pemanah elite. Gaya berjalannya pun dibuat lambat, mirip pahlawan yang berangkat tugas.
Tapi..
__ADS_1
Krrtth!!
Ayu berhenti, menggerakkan kakinya sebelah kiri, macet.
Set! Set!
Ayu gerakkan lagi, tapi kakinya tak juga pindah sampai dia agak oleng. Musik yang dia dengar mendadak senyap, tidak mengaluni iringannya lagi.
Ternyata sejuntai kain tranparan sudah mengikat perutnya, persis jaring laba-laba. Karet terlengket itulah yang dibawanya jalan, mengikat tapi masih tak terlihat, sadar-sadar Ayu Ting Ting tak bisa pergi lebih jauh.
Grrtt..!!
"Tembok sialan.." kata Ayu Ting Ting. "Ugh! Ughh!"
Gadis panah menarik-narik tubuhnya ke depan, apa yang membelit perutnya sudah kencang, tegang, tak bisa dibawa lebih jauh lagi. Tubuh pun bergetar sudah tak kuasa, dan akhirnya..
Syuuutt..! Ayu ditarik si karet ke belakang.
GEBRUGH..!!
Jihan menoleh ke arah tembok, arah kanannya, begitu juga Reinita, Prita dan Qorin. Wajah empat gadis tersebut sama-sama bingung atas bunyi yang baru mereka dengar.
"Aduu..uhh. Jangan.. lagi please, Ratu," ringis Prita dalam duduknya yang sudah siap kabur.
"Hii.iiih.. beneran.. gue takut.. hiks!"
Sekian lama ditunggu-tunggu, taman kembali sunyi, tak ada suara susulan. Tapi di antara mereka masih bertanya-tanya dan ketakutan. Reinita menenangkan dan tetap senyum.
"Huu.. uuh.. "
"Prita, lihat aku, Sayang. Kita aman. Kita.."
Jihan diam mengerutkan keningnya, dia sedang memandangi Prita, namun slow motion atau jet lag yang berlangsung, membuatnya bingung.
Ce.. trrakh..
Ctiikh..
Berkas cahaya-percik terpancar dari alat yang Jihan lamunkan, Speaker ratunya terlepas, memotret pendek di udara. Dan di sorot dari depan wajah, tampak kepala Jihan sedang ditembus paku panjang, sudah melewati lubang telinga alias sapat ke kuping satunya.
Serpihan Speaker pun melayang-layang, tanda si benda tersebut koslet-nya sudah parah, yang mana menyisakan bintik-bintik lebih kecil dan sedang berkedap-kedip mengawang di udara, dekat telinga, turut terjadi atas pucat di wajah Jihan.
Pecahan di situ bukanlah percikan darah, namun korban merasakan sesuatu yang lain dari anak panah tersebut, yakni warna dari paku panjang yang hijau transparan.
Ctrakh!!!
__ADS_1
Set!
Saat Reinita sedang bicara, saat itu juga Speaker di kuping Jihan terlepas ke arahnya. Tangan Reinita segera bergerak.
"Huu.. uuh.. Swer.. Gue pernah kesengat.."
Bersamaan dengan ujung kata si Uno, Reinita sigap, tiba-tiba sudah mengepal, menangkap Speakernya.
Zwiitt..!!
Ketika Reinita buka genggamannya, alat deteksi sudah berasap. Saat itu juga, di situ terpancar hologram jari tengah, sebuah pesan.
"Siapa ya? Gini amat pake rasia-rasian ngasihnya," tanya Jihan, mengawasi ke samping kanan, pada pagar tinggi, sumber bunyi yang misterius tadi.
"Gizi. Status," pinta Reinita masih menadahkan tangan.
"Fincez mengatakan gangguannya, Ratu. Ladang telah aman."
"Hhh, aku pikir pembaruan lagi," hela Reinita, menghela nafas tegangnya.
Prita menatap benda berasap di hadapannya, berubah heran. Dia tahu, atau bingung atas pesan yang ada, atau bisa jadi ikon itu memang jari-tengah untuk Reinita.
"Simpan ini di meja riasku, Gizi," pinta sang ratu pada bawahan, menyodorkan Speaker pada Qorin. "Siapkan yang baru."
"Segera, Sri Ratu."
Claph! Perut Zihan memancarkan cahaya teleportnya, hilang di situ membawa Speaker dari ratunya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Reinita sambil membereskan helaian rambut di pelipis Jihan.
😱 Wah, Ratu perhatian sekali - author
Jihan tidak menjawab, bahkan tak berani melihat selain sembunyikan senyumnya, membiarkan Reinita usap-usap kulit kepalanya. Pipinya merah kembali, tak lama kemudian pundak Jihan terguncang.
"Hhh-hhh! Dasar para jomblo, hhh-hhh..!"
"Sungguh aku tak berniat menjahilimu dengan prediktor-ku itu, Jihan."
"Jihan gak apa-apa, Baginda. Hanya kaget.."
"Oh, syukurlah. Jika benar demikian, aku harus mengantar temanmu ini ke ladang sahabatku," kata Reinita sambil berdiri dari duduknya.
"Jadi Ratu mau pergi lagi, ya?" tanya Jihan, wajahnya berubah sedih.
"Aku akan kembali. Maka datanglah ke mari, kapanpun kamu mau, Jihan."
__ADS_1