Jihan

Jihan
chapter up 84


__ADS_3

Ruang yang dimaksud Marcel ternyata sebuah penjara juga, tapi tak berpintu. Ada rak buku, kasur, kursi dan meja.


Di dalam sel, Jihan mendudukkan Nature di tepian meja. Dia tidak menempatkannya di ranjang karena masih suka bau keringat sang anak, saat sudah duduk Jihan menggeser posisi ke depannya. Sementara Marcel bersandar bahu ke rak buku, miring menyamping.


"Siapa yang dandanin kamu, Sayang?"


"Nature."


"Dari siapa kamu tau kalo Mamah datang?"


"Perasaan, dong."


"Hhh-hhh," pundak Jihan berguncang. "Beneran, dari baper kamu?"


"Iya. Mamah ada jins-nya."


"Auww. Hahaa.. Kamu tuh wangi tau gak sih, Nat? Hhrrg!!"


Jihan membenamkan wajahnya ke dada Nature sambil digerak-gerak. Nature agak tergelak karena geli. Jihan mengulang aksinya lagi.


"Ahahaaa! Jangan Mamah, geli.. iih. Nature udah gak wangi.."


"Hee. Umur sepuluh taon kamu dah semprat-semprot gini. Hayo.. cepet ngaku, kenapa? Mamah hukum sekarang. Hhrrgh..! Seruduk."


Jihan goyang-goyang kepalanya di dada Nature.


"Hhaaha! Jangan.. Ahahaaa!! Geli Mamah. Iya Nature pacaran."


"Haa? Kamu pacaran?"


"Iya. Hehe.."


"Diih? Sama siapa?"


"Nature pengen sama Jins, Mah. Bolehin pokonya."


"Euurgh..! Manisnya ih, kamu nih, Bonat. Sun dulu dong."


Jihan mendiamkan kepalanya. Tak lama Nature menunduk menyentuhkan bibir ke pipi Jihan.


"Ada satu lagi syaratnya."


"Kok pake sarat? Mamah Hoax ya?"


"Hii.. ngaco. Ini kamu Nat pas umur perawan nanti. Kamu yang lagi nyoba jadi manfaat buat semua orang. Setuju?"


"Hiihi. Iyach.. Mauu, Mah. Nature pengen sama Jins pokonya."


Glliitt!!


Muncul selapis layar dekat mereka. Saat Jihan ambil, objek transparan tersebut berubah jadi kertas. Tapi, isinya tak berubah, di situ termuat foto Reinita. Jihan berikan pada si bocah.


"Coba, kamu komentar soal foto ini, Sayang. Kira-kira kamu kenal gak hayo.."


Nature diam mengamati kertas hvs di tangannya. Wajah di situ berhasil kepo pada Nature, karena si bocah mendekatkan mata pada rambut Reinita, menilik mahkota.


"Ayah.. napa jadi banci.. Hikss.. Uhuuh huuu.."


"E-ehh.. Tenang, Nat. Tenang.. Sayang ya. Sini fotonya," Jihan langsung panik, buru-buru mengambil kertasnya lagi, berdiri memeluk Nature. "Nih bukan Ayah-mu Sayang. Yaa.. Nih Ratu Reinita. Atasan Mamah, Nat."


"Hikss.. Huhuuu.. Kayak si Ayah Mah. Gak mauu.. Huu uuu. Napa Ayah jadi perempuan.. Huaa...aaa.."


Marcel menunduk menahan geli, pundaknya bergetar.

__ADS_1


Nature memeluk Jihan, tapi tangisnya tak berhenti, tetap menderu. "Huaa aa..aa Nature gak mauu.. Mamaah. Hiks.. pengen sama Jins.. Huhuuuu.."


"Ngg.. gaa, ihh. Iya-iya. Ini atasan Mamah Nat. Ini bukan Ayah. Udah, udah.. Sayang. Ntar Mamah nangis lagi.. Sayang. Udah ih.. Hiks."


"Uhuuh.. Hiks! Hiks.." Nature menurut, deru tangisnya mereda, tinggal isakannya kini. "Hiks-hiks.."


"Syarat-nya, mudah kok.. Kita panggil dia Gizi.. Oke? Hiks.."


"Hikks! Hikss..! Nature udah tahu, Maah.. Hiks. Tapi.. napa Ayah jadi perempuan..? Hiks, hiks.. Ke.. napa??"


"Hhh-hhh.. Jelasin Han. Gue ke toilet dulu.. Hhh-hhh." Marcel keluar ruang sambil menahan tawa. Tiba di luar, dia segera lari.


Jihan belum berkata-kata. Nature membenamkan diri ke dada sang lusid. Jihan mengelus-elus rambut panjang Nature.


Lima menit terakhir ruangan masih diam membisu. Jihan tak bicara sepatah katapun. Mungkin melamun karena rasa bersalahnya. Di situ juga Nature mulai diam tak terisak lagi.


"Di mana Ayah sekarang.. Nat.."


"Bukit desa.. Mah.. Nature pengen Jins. Keluarin.."


"Dia-nya nangis, Nat.. Pengen terus sama kamu.. Tapi.. kehalang sama kerjaan Ray."


"Pengen Jins.. Mamah! Uhuhh.. huuu-uu.."


Nature agak menekan suara di sebutan itu. Mendengar teriak geramnya, Jihan luluh menurut, mengeratkan pelukannya.


"Iya-iya.. Sayang. Tungguin dia.. ya.. Hiks.. I-ini.. Hiks.. ini.. a.. aku Tuan. Hikss.. Uhuuhh.. huuu.."


"Uhuuhu.. huu.. Jins..?"


Nature membalas pelukan lebih kuat dari tenaga tangan Jihan mendengar kalimat khas tadi.


"Huu.. uu-uuu.. De.. demikian.. Hiks.. I-ini.. hamba.. yang tunaikan.. hiks.. jan.. janji.. padamu.. Uhuu.. huu.."


Wajah Jihan banjir tanpa sengaja. Sejak tadi dia menahannya dengan pejam mata, tapi tak juga mampu mengondisikan mengingat Nature terus menangis. Akhirnya mereka berdua menangis kembali.


Sehari kemudian..


"Hoaam.. mmh.. Ehh, dah pagi lagi."


Saat menggeliat di dalam selimut, Jihan sadar tempatnya masih di situ, dalam hutan. Dia mendapati sebuah teko di tengah perapian. Sementara di tikar sebelahnya sudah tersedia dua cangkir minuman.


Jihan tengok kiri juga lihat kanan, mencari sambil memanggil Marcel, di situ tak ada sahutan.


"Maar..!!"


Jihan putuskan melipat selimutnya. Dia bermonolog bahwa dirinya sudah merelakan diri ditinggal pergi oleh si teman. "Bodo amat. Mau pergi, mau pulang. Gue tetap maju, nyari sampe Bukit."


Kepala Jihan sedang tergelang benang merah glowing. Itu berarti, Gizi dan Sorrow tidak bersamanya. Laser tersebut mungkin aktif semalaman.


Entahlah Gizi ada di mana, Jihan juga tak peduli gelang di tangannya terkena air. Dia membasuh wajahnya di sisi sungai beberapa kali. Abai acaranya diiringi decat-decit burung pagi.


"Mantap..!!"


Jihan hamburkan air ke wajahnya berkali-kali. Suara cebar-cebur masih kalah keras dengan bunyi deras aliran sungai. Si gadis tak peduli, sehingga sebagian bajunya kena air.


Cbburr!! Cbyuur!!


Sebatang kaki terangkat. Jihan sibuk meneriaki kesibukannya main air. Tak lama kemudian kaki tersebut mendorong punggungnya ke depan.


"E-ehh!!"


Gbyuu..uuur!!

__ADS_1


Ledak tawa terdengar, sumber suara tak lain gadis berkalung Arc, Marcelina. Tapi kemudian dia lari karena Jihan yang sudah bangun, menggerutu sambil memungut batu sungai.


"Ke mana lo bilang?" tanya Jihan sambil menggaruk-garuk kepala dengan handuk.


Tapi Marcel masih duduk meniup-niup isi cangkir, mereka sedang membahas Sorrow.


"Dia nandain jalan gitu apa aman, Sel? Gimana kalo dia diperk*sa?"


"Kebalik, Han.."


"Kebalik? Oke. Gimana kalo dia merk*sa?"


"Hhh-hhh!" pundak Marcel bergetar. "Hahaa! Diem.. anjim! Hhh-hhh.. Arrrgh! Panaaas.."


"Gak jelas lo ih. Gue serius nanya, Sel. Si Sorrow ngapain?"


"Hhh-hhh.. Bilang apa lo tadi?"


"Seed! Sia budeg?"


"Lain, asa teu baleg ngadenge sia ngomong. Tau itu kutipan. Taat weh sia mah."


"Lo-nya minta gue ngomong gitu. Ketular lah gue."


"Iya, iya. Udah.. Hhh-hhh. Don't talk. Stop.."


Jihan lanjut mengeringkan rambutnya, menggosok sambil menatap lawan bicara. Pandangan itu yang diminta Marcel untuk berhenti. Jihan belum juga berpaling.


Setelah peralatan tidur dan masak dibereskan, dua sahabat kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berdua hanya sarapan sereal instan, juga sudah menyetok air masak. Tak heran tas masing-masing masih gemuk.


Pakaian mereka sudah disesuaikan, kaos dibalut jaket, serta celana panjang longgar dan bersepatu ceko. Marcel menyediakan perlengkapan mereka dari pil xmatter, bekal mentah-nya. Namun sedikit sekali membekali makanan, karena katanya lebih bagus "rumusan" alam.


Sekitar sepuluh menit berjalan, Jihan mendapati tali plastik merah di ranting tanaman. Seperti yang Marcel katakan, dia akan menemukan tanda jalan tersebut.


Lalu tentang arahnya, disepakati menggunakan jam, tapi tanda yang satu ini letaknya agak sulit Jihan temukan.


"Ada gak?" tanya Marcel yang tiba belakangan.


"Ada pointnya, tapi gak tau dia (Sorrow) gores arah di mana."


"Gue udah nyuruh dia kok, pake pisau buat nyiriin-nya. Masa sih?"


"Ehh, iya. Ada nih Sel."


Jihan memberikan daun yang sedari tadi dipegangnya.


"Ya elaa.. Lo."


Marcel mengambil daun dari tangan Jihan. Sementara si aktor cengengesan.


"Hhh-hhh!"


"Tiga.. Nih berarti arah berikutnya ke timur. Bener khan gue bilang tiga?"


"Sip. Gitu caranya ya?" tanya Jihan sambil lanjut berjalan, dia juga merunduk dengan tangan menahan dahan yang memang menghalang.


Grusakkh! Tas yang Jihan gendong bergesekan dengan dedaunan.


"Yalah. Harusnya khan, kita ke barat laut, arah jam sebelas sana. Mendingan kita ambil jalan turun aja biar hemat tenaga."


"Kelamaan."


"Nih di nomand, Han. Kalo dalem lingkar basetime sih terserah. Lo tau sendiri paradok lo jadi seabrek. Yang laen paling banyak tuh tiga."

__ADS_1


__ADS_2