Jihan

Jihan
chapter up 60


__ADS_3

Jihan bergerak keluar kamar, dia biarkan lawang pintu ternganga setelah menarik handle. Dia ke kamar mandi untuk bersuci dan sekalian buang air.


Di bawah sudah tak ada suara, sementara kumandang adzan masih bergema. Jihan sudah bisa tenang sekarang.


Selesai sholat Jihan mengangkat dua tangan seperti biasa. Di balik mukenanya dia masih berpiyama seperti saat berdoa sore dan maghrib. Jihan buka kain putih tersebut usai meminta pada sang Rabb.


Jihan menuruni tangga rumah, di situ mendapati remote bergerak-gerak di atas meja. "He gak usah dinyalain. Brisik."


Remote pun diam.


Di luar rumah, tulak pagar Jihan turunkan. Dia juga membuka gembok yang menggantung di situ.


Klekh! Jihan kunci pagar rumahnya sekali tekan, gembok pun tergantung lagi mengganjal tulak.


Jihan masuk dan langsung menutup pintu.


"Biasain simpen lagi kuncinya di sini," tunjuk Jihan ke kusen pintu kamar, memandangi remote. "Jangan di pintu, Mamah gak bisa buka dari luar."


Remote masih diam.


Jihan ambil anak kunci yang tergantung di paku, dia merasa puas sekarang. Saat memasukkan kunci ke slotnya tampak jarinya polos, tidak terlingkar cincin.


"Gantung lagi di sini! Ngerti?"


Beres menggantungkan kunci rumah, Jihan naik ke lantai dua. Dia biarkan remote-nya bergerakan lagi, 'penghuni' merayap keluar, melesat begitu saja ke tangan empunya.


Di kamar, Jihan memposisikan badannya. Ranjang tersebut sebenarnya empuk, Jihan hanya terbiasa rebah menyamping, memunggungi pintu.


Digh! Jihan mendarat di atas atap rumah, memijak lantai timeline-nya, onmind.


"Tenang juga akhirnya. Hhh.."


Dari atas sini Jihan bisa melihat tukang nasgor mendorong gerobaknya, lewat di depan rumaj.


"Libur dulu Bang. Ntar deh minggu depan beli. Hhh, masih kenyang."


Jihan segera minta ijin masuk. Tak lama kemudian sebatang besi menancap lapisan dengan bunyi khasnya.


Thang!


Dua bahu Jihan terangkat kaget atas kedatangan Spear.


"Hai, jangan bosen ya. Majikan lo marah ntar, senasib sama cincin gue."


Yang diajak ngomong diam. Spear pernah garang bersuara saat Jihan touring ke Library. Kini sudah hapal tabiat Jihan.


Jihan segera bersandar dengan tangan memegangi Spear. Bunyi gasing pun terdengar dan mengurungnya.


Nguu..ooongg!!


Si karyawati pernah mencoba menyandari Spear sambil melipat tangan, gaya mafia di dalam lift. Aksi tersebut sia-sia, sekitarnya tidak tergulung ataupun pecah. Tapi ketika tangan sudah menyentuh "handle", Jihan tak bisa melepaskan diri, harus mencopot tangannya.


Jelas perjalanan ke tujuan menggunakan Spear amat bahaya di antah berantah. Pecahan dimensi itulah alasannya kenapa ada lock-hand.


Jadi seolah penumpang menyatu dengan Spear, dan tidak bisa dua kali atau lebih dalam menyentuh dan memeganginya untuk memulai layanan.


Waktu mendengar penuturan Kisye, Jihan hanya manggut-manggut. Sekarang dirinya sudah bisa swalayan, akrab dengan Spear.


Dagh! Dugh! Digh!


Claph..!!


Jihan tiba di gerbong alias Escort-nya. Kini Lightnov tak lagi membuat matanya perih, lampu gerbong langsung menyala merah terang, lima detik kemudian putih.


"Umm. Gak masalah auto set gini. Gak cuma gue yang berperut batu, majikan lo juga ditanem parasas sama Al Hood, Spear."


Set..! Sut..!


Sit! Sit! Set!


Spear melenggang liak-liuk begitu Jihan tegak badan dan melepas tangannya, langsung parkir di sudut gerbong.


"Fos.. lite.." ucap Jihan, pelan menyuarakannya di atas tanda lingkaran, di lantai gerbong.


Zhhaang!! Sinar-keset berkelebat ke atas membawa pemijaknya, laser ini cukup besar.


Jihan berjalan meninggalkan peron, di situ berpas-pasan dengan kondektur kereta yang ber-PDL paskibra.


"Laper," kata Kisye sambil melewati Jihan.


"Masih kerja Kak?" tanya Jihan sambil melirik.


"Lembur!" jawab Paskibra sudah berdiri di peron goodbye.


"Hhh.. Getol amat, padahal sepi."


Jihan hiraukan temannya, dia amati sekitar mencari ruangan se-jins ahli bratle. "Pintunya di mana ya Rin?"


Di antara lima dinding Foslite yang berbeda ikon, Jihan bingung mengartikan masing-masing blitz.


Tunggulah barang sebentar, Clone sedang ke mari


"Instingku rada-rada kena."


Claph!


Cahaya memberkas di blizt berlambang bejana lab. Pintu sentuh tersebut kemudian ditinggalkan wanita berjas putih dengan wajah persis Reinit.


"Nah, nih dia kanjeng Ratu kita."


"Oh, hai.. Jihan. Kita bertemu lagi. Tak banyak lusid yang berkunjung ke stasiunku. Kecuali sedang bermasalah.. dengan paradoknya."


"Thanks Mbak. Yaa, gitulah, mbak Clone. Boleh kursus di sini khan, Mbak?"


"Ikut saya."

__ADS_1


Clone meninggalkan Jihan. Langkahnya menuju blizt berikon jam tangan. Jihan segera bergerak di belakangnya.


"Kalo di dunia semula, pengukur rpm disebut tachometer, kayak spidometer yang ada di motor itu. Kok kita malah namain rapider ya Mbak?"


"Alatnya tak berjarum. Hanya ada angka. Saya lebih sering mengatakannya sebagai tester."


Clone berhenti di depan lawang gelap, memegang tangan Jihan. Tangan satunya lagi menyentuh permukaan mengkilap.


Blizt!!


"Bekeul bilang apalah arti sebuah nama."


"Kalimat menarik."


Gliitt!


Jihan mengangkat telapak tangannya di depan Clone. Sang jins menatap layar berisi gambar bola yang ada di bawah ketiak Jihan, file tersebut alasan Jihan datang ke Foslite.


"Niat kursus Mbak."


"Saya harus membacanya."


Set!


Clone berjalan lagi meninggalkan Jihan dengan tangan sudah memegangi monitor tranparan.


Jihan bingung. "Lha kok bisa?"


Ternyata di balik pintu sentuh, ada lorong panjang mirip di Pregister, kiri-kanannya berjajar pintu-pintu ruangan. Jihan biarkan filenya diambil Clone, menengok ke samping kanan.


"Nih punya si Romi kayaknya.." komen Jihan melihat tanda pemilik yang tertampang pada pintu yang ditatap, harusnya nama, tapi di situ hanya tertera; RLV, sudah dirubah.


Clone tak terlihat lagi di lorong.


Jihan segera tahu jins tersebut ada di mana, karena ada nama Vita dia dapati di pintu seberang RLV, berarti pintu miliknya tak jauh dari situ.


"Tinggalin pintu bucin, dekati pintu sendiri."


Benar saja, sampai di depan pintu yang dituju, Jihan dapati lawang tersebut menyertakan nama aktenya; Giziania.


"Napa ditutup gini?" bingung Jihan sambil menatap permukaan kaca-gelap di hadapannya.


Zweaang..!


"Ehh, anjrit! Astaghfirullah..!"


Jihan langsung kaget ketika hendak menyentuh permukaan pintu. Sebayang putih keluar dari dalam situ.


Jihan balik badan karena si hantu melayang tembus ke tubuhnya dan sedang menunggu di belakang.


"...??" bingung si hantu, wajahnya tak asing, tapi dirinya heran melihat Jihan.


"Nik, napa lo jadi Casper gini? Kaget, njir."


"E.. emang napa?"


"Hhh," hela Nik Nik, kacak pinggang. "Nyelap dimensi-nya."


"Ha? Nyelap?"


"Pas banget sama acara lo ke sini. Gue juga gak tau. Kata montir sih, gue keduluan datengnya."


"Kok bisa?"


"Lo-nya cepet banget nutup timeline. Pas gue duduk tuh, gue lagi di sini, nyentuh blizt.. jreeng, ruangan udah releas di abad luar. Harusnya nampak kayak badan gue, belum bisa disentuh."


"Gue khan belum ashar, lagi gabut malah. Mana gue tau."


"Iya. Pokonya.. Nyelap waktu gue balikin ke basetime selesai nge-rapid. Tanya si Mbak UNO (Prita)."


"Trus sekarang, gak bisa dipake dong?"


"Lo dateng. Kayaknya udah bisa. Tapi gue baru tau, kalo HC bisa nyelap."


"Emang, biasanya gak error? Berarti efek pas-pasan gini harus ditanggulangi kalo emang ngehambat."


"Hhh, ada apa ya..? Kok kita harus ijin dulu nolongin lo?"


"Umm, mana gue tau. Ke sini aja baru sekarang. Mungkin karena gue udah mulai rusak, Nik. Udah wajib ditolong."


"Nih kalo terus private-range, dampaknya ke basetime mirip HC Riko, misah diri. Untung lo dateng. Ya udah tinggal di-rukyah nih ruangan."


"Trus siapa yang ngerukyah gue?"


"Gak perlu kali. Lo udah dikontek sama Dian khan? Dia nanya apa sih?"


"Ouh. Dia nanya gue sehat apa gak. Masa iya gue jawab lagi sakit?"


"Ya udah. Gak ada rukyah-rukyahan buat lo. HC-nya aja yang butuh rukyah," garuk Nik Nik, masih kebingungan.


Jihan melirik, menatap lama karena si teman melayang pergi. "Eh, Nik! Lo mau ke mana, Fatimah Muda?"


Nik Nik berhenti, memutar tubuhnya. "Kokpit. Kursi kapal. Gue nunggu di mana lagi?"


"Kalo gue belum siap gimana?"


"Gak apa-apalah. Baju UNO elo masih di kapal. Mau diapain, lo simpen ato mau dipake lagi?"


"Simpen."


"Met kursus.."


Nik Nik lanjut melayang meninggalkan lorong. Sampai di depan blizt, kaca hitam tersebut ditembusnya. Bunyi pindah pun terdengar cukup nyaring hingga Jihan agak meringis.


Zweaang..!

__ADS_1


"Njir.. Kaleng apa jet lewat."


Blizt! Sekali sentuh, daun pintu merubah lorong jadi ruangan, tampak Jihan tidak berpindah satu senti pun di depan blizt.


Jihan mendapati peralatan dan peraga (sampel) di ruang Head Chamber half visible.


Nyelap yang dipertanyakan ternyata suatu kondisi di mana materi tidak nampak sebagiannya.


Ruang Kepala sesuai namanya, ada kepala di tengah ruangan. Namun objek tidak ada di situ selain bayang "grafik"nya. Ruangan masih berstatus 'blueprint' 3d.


Clone sedang sibuk finger typing, mengetik ujung jari, di depan boneka manekin, mengabaikan layar apung.


Di dekat sudut atau lemari power ada dua wajah muda, dua Kisye. Mereka berware pack montir, peralatan mereka tergeletak di lantai berupa obeng, kunci pas, tang, bahkan palu juga ada. Satu montir sibuk mengelas engsel lemari.


"Hei, tak disangka. Perkerjaanku bisa selesai akhirnya," kata montir, tak sengaja melihat Jihan, dia sedang manteng hapenya.


"Hai, Kak. Iya saya Jihan."


"Kalo begitu kami Twin. Engineering. Kami menangani xmatter yang menyimpangi rotasi."


"Ouh kayak yang macem gini ya?"


"Betul. Ya begitulah. Maaf kalo kami sedikit.. ngng.. kesal dengan batre lab ini."


"Yaa gue juga, sering telat gitu. Kadang rusuh juga."


"Baik. Terimakasih. Sentuh saja kalo kamu ingin memantau historimu Jihan. Ibu Clone sedang meracik rumus rendaman."


"Hhh. Iya. Makasih juga atas bantuannya Kak."


Twin membereskan alat-alatnya, memasukkan benda-benda yang tidak berguna, yang mereka bawa ke Head Chamber adalah tool buat bengkel sepeda.


"Umm, jari saudarinya tuh gak apa-apa Kak?" tanya Jihan, masih ingin mengobrol, mendapati Kisye satunya bekerja tanpa alat dan kaca mata. "Jari dia.."


"Oh. Ya. Dia sedang menambal cetakan."


"Dia cocok jadi hero di Star Wars, Kak Twin. Orang cantik kok megang bagian bengkel? Apa bener lagi ngelas?"


"Kami berasal dari jaman Skynet, era rumah dan gedung levitasi. Hidup kami di bawah, di tempat pembuangan akhir."


"Gembel, Han," sambung Pengelas.


"Umm, gue bingung.. Kalian berdua punya muka Ratu. Gembel elite kali."


"Kami juga bingung, ingin nama Twin. Dia tidak mau disebut Twin B. Padahal orang baru."


"Kau banyak omong! Harusnya.."


"Twin! Apa kalian sudah selesai?"


Clone mengeraskan suara, mereka membuatnya terganggu. Jihan dan dua Kisye menoleh bersamaan padanya.


"Ya, Bu. Kami sudah selesai. Maaf."


Twin dan Pengelas bersegera diri beres-beres. Mereka tak berani melirik Clone. Sekian detik kemudian keduanya menjinjing bawaan dan cepat-cepat keluar dari HC.


Jihan memberi jalan, Dua Kisye tergesa lewat meninggalkan tempat.


Blizt! Blizt!


"Hhh.."


Clone menghela nafas. Dia memberitahu Jihan dirinya sedang menginput rumus dan value dua kali. Juga menceritakan, dua seventeen-nya tadi sering bertengkar berebut nama Twin. Clone duduk minta Jihan menyentuh grafik yang ada, atau menyentuh apa saja yang terlihat di ruangan.


Swwrrth!! Bunyi penampakan.


Jihan yang ragu-ragu meraba blueprint langsung takjub melihat efek sentuhannya, semua grafik terisi xmatter, berubah jadi nyata dan padat. Bahkan bekas tambal di engsel lemari meluruh jadi bubuk mentah yang kemudian diserap lantai.


Clone minta Jihan mengabaikan tambalan. Jihan pun menurut, meninggalkan lemari dan langsung duduk di sebelah duplikat Ratu-nya tersebut.


Boneka manekin masuk ke dalam tabung bawah lantai, dibawa turun oleh lift. Jihan dapat melihatnya lewat monitor. Begitu terendam, si boneka menjelma jadi Giziania, lengkap dengan baju yang sedang Jihan pakai.


Clone memberitahu boneka-boneka karet di gudang Pregister mereka, dibuat di HC. Dia lalu minta Jihan mentransmisikan getar gelang atau cincin. Yang disuruh segera memasukkan tangan ke pemindai berbentuk stoples permen atau kue.


Jihan lihat kepala boneknya langsung dilingkari laser bratle, jadi paradok, membuka kedua mata.


"Paradok? Cuma karena dapet geter doang, Mbak?"


Tak! Tak! Tik! Tak!


Didiitt! Angka muncul di layar lain, di dekat Kepala Besar yang kini sudah ber-rupa.


"Ini masih kosong. Sama sekali tidak memiliki kenangan maupun ingatan. Gelangmu masih beradaptasi dengan gelombang otak."


"Gimana bisa sampai keisi? Alias hidup. Apa Snail bisa bikin nyawa atau ruh, Mbak?"


Set!


Clone mengambil layar file yang terapung, arsip tersebut dia baca lagi. "Tidak. Itu rahasia Tuhan. Paradok hidup oleh perkataan Dewan-mu. Enik. Kurasa Dewan-mu sedang berkisah pada Jhid mengenai engkau. Jika Enik menghendaki boneka, apapun takkan lagi menghalangi perkataannya.


Paradok dinyawai oleh verba Dewan-mu. Enik bercerita juga aku sedang membicarakannya.


Oh itu akan membingungkanmu.


Sambil menunggu sinkron, aku ingin tahu sesuatu.


Kami tak pernah mengerti bunga tidur, apa yang selalu kalian sebut mimpi. Manusia bagi kami pustaka tak hingga.


Bisakah kau ceritakan mimpimu Jihan."


"Umm.. mimpi ya?"


"Ya. Apa yang kalian sebut mimpi?"


"Ummm..."

__ADS_1


__ADS_2