
Satu jam kemudian, Gizi sudah kembali. Dia memberitahu Jihan bahwa mereka minta maaf atas kejahilan Sorrow. Sang robot meneruskan sedihnya dalam hutan, ingin menyendiri. Jihan tak bisa berbuat banyak, dia segera mengajak Gizi makan. Dan ikan yang mereka bakar, kepul baunya tercium kering agak gosong begitu Gizi dapati.
Jihan dan Gizi tampak sama cara makan mereka. Daging ikan mereka tiup dulu, diendus-endus, lalu sedikit dipetik dan memakannya. Sementara Scope masih sibuk membolak-balik panggangan karena masih ada beberapa ekor lagi yang belum dibakar.
Puluhan menit kemudian, mereka makan bareng di teras kabin dengan alas daun pisang. Di situ ketiganya menikmati camilan sambil mengobrol banyak hal. Jihan soal kuliahnya, Gizi bicara ion, dan Scope sharing kolam Server yang sekarang dihandle Nuck.
Belasan menit kemudian, sambil membereskan sampah, obrolan berlanjut antara Jihan dan Gizi tentang Nature. Sementara Scope sudah pergi duluan ke Server lewat wormhole.
Jihan menepuk-nepuk dua tangan selesai menalikan polybag di depan kabin. Gizi masih diam menyimaknya karena perjalanan mereka ke nomand masih terkendala Ray. Jari Gizi dan Jihan sama-sama tersegel tinta, jika besok lusa masih terkunci mereka harus menemui Marcel di panti dan memberitahu keperluan mereka. Gizi setuju dan dia merasa harus menjeda staminanya alias istirahat.
Gizi dan Sorrow tinggal di Escort. Gizi tidur duluan, sementara Sorrow tak peduli, dia sudah duduk fokus baca dan memantau berita-berita. Jihan meninggalkan keduanya, dia harus balik ke jasad, ke alam sadarnya untuk tidur natural.
"Belum lima menit."
Ngiuuung!! Spear langsung mengurung Jihan dengan gelembung, penumpangnya tatep berpegangan pada stenlis tersebut.
Di kamar, saat badan tersentak bangun, Jihan memposisikan ulang tubuhnya di ranjang tersebut. Dia close mimpi jam satu dini hari. Jihan kembali tidur tanpa peduli PDL-nya masih menempel di badan, mungkin pagi nanti kusutnya bisa dia setrika. Dia pun sudah lelap, bagai orang mati.
- nb: mohon maaf garis besar cerita burem, kurang kenceng, nyekik yang gak perlu, gaya kalimat padat, singkat, bebas.
insya allah di perjalanan kata ke depannya, kalimat cerita akan menggunakan kosa kata ringan, kecuali cara bicara tokoh.
...****************...
"Ha, Luna ilang? Lo ngomong apa sih, Yan? Dia khan legend, tuh title masih eksis buat dia."
"Aduh. Ssstt!! Jangan narzan, seragam lo nih, hangus ntar. Gue serius."
"Umm, terus gimana?"
"Dah lima hari nih belum ada kabar, Han. Terakhir aktif di Ultimate, tapi kapal belom juga ngedetek tanda-tanda Al Hood. Ya udah gue laporin seadanya ke Olive."
"Iya, gue musti gimana ih? Ijin pulang, tetangga gue wafat?"
"Gue pikir lo dah tau. Belakang lo gak onmind. Taunya pilih nge-digit di sini."
"Aduh.. Ck! Gue onmind, kok."
"Dewan Asma masih baca-baca plot. Terus Olive minta gue laporin nih berita ke elo. Suruh ngomong ke elo, kalo Luna gak napa-napa. Kalo lo tau soal dia, ya segera kasih tau kami, Han."
"Boro-boro. Gue tau dia ilang dari elo ini, Yan. Gue ngubek Snail. Tapi gak nyampe-nyampe. Tiap hari, dua jam. Gue onmind kok."
"Ohh.. Ngapain di sono sih? Lo nyari UFO?"
"Gak, nyari ujung stasiun."
"Ya allah, Han. Lo pikir Snail karpet. Tuh peron, kayak wahana. Kapal kita yang udah diubah bentuk desainnya."
"Iya. Gue tau.."
Diandra mendadak memilah-milah kaos dalam wagon, Jihan tak sengaja melihat Deti sedang menyimak obrolan.
"Eh, umm.. Maaf Kak. Maskernya harap dipakai," ingat Jihan sambil berisyarat dengan tangan.
Deti hanya memicingkan matanya, memasang pendengaran atas ucapan Jihan.
"I-iya, suka ada sekuriti mall yang nyisir. Ntar ditegor juga sama sekuriti lho."
"Kalian berdua.. lusid, Mbak?"
"...??" pandang Jihan, diam tak menjawab.
"Nih kaos kena covid," kata Diandra, tapi Jihan abaikan karena dirinya masih kebingungan.
"Umm, iya. Kena covid. Jadi pilih yang mana, nanti dioles sanitaser kaosnya kok."
"Warna biru rada keunguan ada gak ya..?" tanya Dian, tangannya mencari-cari.
"Ihh, jangan diacak-acak. Warnanya emang stok segini."
"Sstt..! Liat.. sini.. Han."
Deti pergi meninggalkan stand. Dia juga menaikkan maskernya. Deti tampak masih bertanya-tanya, agak menunduk jalannya.
Setelah Deti naik eskalator, tidak menengok lagi, Diandra lega. Dia balik protes pada Jihan karena kaos yang ditanyakannya memang daftar belanja dia. Jihan bingung sebab tak bisa akting, langsung mengiyakan si customer.
Hari itu, si karyawati dapat kabar bahwa Luna berburu di masa milik Jihan, tapi hilang. Sore itu juga, dia pertama kalinya melihat Deti yang kemudian ikut mencari Al Hood.
Yang pasti, Jihan tak dilarang kerja di luar Internal. Tapi Diandra mengiranya sedang "kerja diam-diam", ternyata pendapat itu tidak valid. Jihan tak tahu-menahu keberadaan Luna.
Jihan memang belum begitu tahu bahwa Al Hood sosok yang penting di Internal. Saat onmind hanya sibuk jalan-jalan di Snail, karena kegiatan tersebut sama penting dalam mengenal Fanam.
Hari-hari berikutnya, di kapal, Diandra menjelaskan kekhawatiran dia. Jika Luna tidak aktif, otomatis "pagar" pembatas, atau rumah kediamannya, tidak terjaga. Di sana memungkinkan parasas masuk ke dalam, memata-matai Internal dan aktivitas mereka. Satu malapetaka.
Jihan pun mengiyakan bahaya parasas, karena dia pernah diinangi Luna, dirinya melihat suatu invasi. Sebuah pesan.
Diandra akhirnya mau mengerti, minta Jihan bantu Nina membujuk kandidat atau linglunger. Dia dan Nina gagal sebab keduanya lanjut by one, tidak fokus ke calon lusid. Akibatnya, pertempuran sengit mereka membuat kandidat jadi soloter (mendadak tahu semua tentang Internal).
Setelah tiga minggu, Jihan baru memikirkan Luna. Diandra memberitahunya bahwa kegagalan misi bukan kesalahan Jihan, mereka hanya kalah cepat dengan parasas dalam merekrut "tiket".
Tak terlihat, bahkan saking kuatnya "protokol" parasas, Riko salah satu rekrutan Giga, berakhir bunuh diri. Jadi sekalipun sudah dilantik, semua lusid tetap inceran parasas.
Menurut Dian juga, Al Hood tahu semua soal parasas. Kemungkinan ada hubungannya dengan kematian Riko. Saat melamun di TKP, lokasi kematian, Jihan didatangi Deti.
Deti datang karena Jhid meminta dia mengusut lokasi, jadi tak hanya Jihan yang menerima kertas print atau file-nya.
"Ngng.. Aku.. Deti Mbak."
"Kapan dia (Jhid) ngasihnya?" tanya Jihan sambil mengamat kertas HVS.
"Pagi."
"Ketuaan gue kalo disebut mbak."
"Ngng, iya Kak. Namanya siapa ya? Kakak orang baru kayaknya ya?"
"Umm, iya. Gue Jihan."
Keduanya kemudian menceritakan masalah masing-masing, sharing. Jihan bicara teamnya, Deti membahas piaraannya (mon-card). Selanjutnya, ke chapter up 41.
...****************...
Yang ini menceritakan obrolan Dian dan Jihan di Kapal Karantina 2021 saat membahas keamanan Internal.
Setelah Al Hood tidur, ada malapetaka kedua, katanya, yaitu Reinita. Jika jins paling damage itu ikut hilang, Internal akan menjaga Marcel, karena Ray selalu bersamanya.
"Kalo astraler nih gak megang Ray, jari dia kesegel, yang kita dijaga adalah masa lalu dia, Han. Malapetaka ketiga. Tapi gue belum liat orangnya, nih astraler cewek apa cowok. Dia miara jins."
"Tanda keempat apaan?"
"Para dewan. Empat vokal itu bukan sosok mereka yang sekarang, karena semua permintaan lusid dikabulin.
Analisis gue juga, Black Soul bakal ngebunuh Indri dengan cara meniru dewan. Bisa juga, Black Soul adalah Indri itu sendiri. Gimana siskon Internal aja.
Nah kalo semua udah serba instan, lo sama qorin gak bakal peduli lagi, udah di dunia versi lo. Di mata lo semua baik-baik saja. Kemegahan yang lo liat, lo bikin, lo urus itu udah bukan Internal. Lo seorang soloter, Han. Begitu Internal ending, lo ikut kiamat.
Habis itu, alam parasas baik-baik aja. Mereka nunggu Server versi lainnya lahir.
Trus.. si pembuka Server bisa wajah gue, muka elo, tampang si Nina. Kita gak bakal pada inget. Ingetan kita bahaya buat parasas.
Terserah kitanya, Internal mau dikembangin dengan cara gimana.
Kata Scope lihat Internal, udah kayak lihat tulisan fiksi, karya dari bawah sadarnya. Basetime yang sebenarnya tuh akherat."
"Jadi basetime yang sekarang tuh abal-abal? Bumi Jisas yang gue pegang tuh juga palsu?"
"Boleh dikatain gitu. Basetime merupakan sistemnya Server yang paling ketat."
"Ntar, mungkin minggu."
"Tanggung maen. Bantuin kita nih. Si Nina lagi di lapangan data Drone. Udah waktunya lo jadi senior, Han. Ikut gue."
"Ayo deh. Gue siap."
...****************...
Yang ini menceritakan Jihan sepulang dari Ladang, setelah bertemu jins nomer satu di Internal.
"Duh bikin lupa. Gue khan mau nanyain astraler itu ke Ratu. Hhh, napa kikuk gini, njir. Pengen terus di Ladang."
Hamba sudah mengatakannya, beliau demikian terhadap-mu Tuan
"Mahkota, gaunnya.. haduh wajah clone yang paling manis, Rin. Ratu kita banget. Nih gara-gara si Dian nyinggung-nyinggung nama Ratu. Gue harus sante, tenang, bersyukur.. Hhh. Makasih, makasih ya Allah. Hhh.. hhh.."
Sekeluar dari gelembung Spear, Jihan mondar-mandir di atas atap rumahnya malam hari, memijak lapisan invisible, perasaannya tak menentu.
Bagaimana tidak, ratu jins bercerita banyak hal pada Jihan tentang Internal, dan memberikannya PR, membuat alasan agar mereka bertemu lagi.
Lebih dari sehari Jihan habiskan waktu onmind-nya di Ladang. Tapi 24 jam tersebut amat singkat baginya. Dia masih ingin tinggal. Dan saat sudah pergi, Jihan seperti menyesali.
Tanggung waktu, akhirnya Jihan segera close. Rasa penasarannya dia redam dengan memeluk rapot. Di ranjangnya tersebut dia tidak mau tidur, wajah dan bondu ratunya menggangu ketenangan, sekali diingat, Jihan masih ingin melihat wajah sang ratu, file dalam rapotnya di-pause.
Reinit tampak beda dengan atmosfer Clone. Padahal wajah sang pakar gelang adalah jins yang pertama kalinya Jihan lihat. Mahkota mini di kepala Reinit membuat Jihan "meriang".
Adzan subuh berkumandang. Jihan masih terisak di ranjang. Dengan sisa tenaga dia bangkit sambil ngomong ke rapot yang harus dia tinggalkan sebentar. Jihan bersihkan wajah dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Sepuluh menit kemudian, Jihan duduk di sisi kasur lanjut bicara pada layar seukuran map sumbangan. Dia tak melepaskan mukenanya. Kata dia, dirinya belum mengerti benar soal dua-gelang (PR). Jihan pilih tegar dan akan praktekkan materi yang didapatnya.
__ADS_1
Di depan lemari, seperti biasa di kala banyak masalah, Jihan diam dalam waktu lama. Mukenanya sudah dilipat. Tapi belum sepuluh menit, Mamah datang menanyakan subuh pada Jihan. Badan pun lemas, Jihan menjawabnya. Mamah segera pergi, sudah tak peduli lagi Jihan berbuat aneh-aneh.
"Oke guys. Nih sampul Whois? gue soal mekanisme animasi.. Hai, gue Giziania. Selamat datang di profil gue. Met kepo. Hadeeh. Halo, semua.. Saya Jihan.. Haaai."
Jihan kembali duduk sambil berdecak. Dia bingung harus mulai dengan salam apa, gaya sapa yang bagimana supaya menarik perhatian penonton. Jihan manyun, ingin membuat sesuatu untuk ratunya tapi tidak pede.
Beliau menyukaimu sebagaimana kasih sayangnya padaku.
Hari itu hamba tak tahu Sri Ratu memintaku beristirahat di kamarnya dengan tiba-tiba.
Di kamar beliau, hamba tak kunjung tidur. Keesokan hari, beliau masuk, dia bergegas terlelap atas kelelahan yang ada. Hamba mendapatinya tiada daya, tak kunjung membuka mata. Kemudian, hamba memeluknya
"Aduuh, ihh. Kamu kok jadi beratin kangenku sih, Rin? Hhh.. pantes. Kalian emang udah dari dulu ternyata."
Hamba telah mengatakannya
"Iya aku-nya, bengal.. malah berkunjung."
Kami hanya tidur berpelukan. Tidak lebih
"Mauuu."
Gizi pun bercerita, dirinya merasa canggung berada di ruangan, sekaligus betah. Jihan yang masih duduk, langsung menyimak dengan antusias.
Tapi hanya Jihan yang ada di kamarnya, Gizi tak keluar karena ke mana pun Jihan melihat, dia masih bisa mendengar Gizi di dekatnya. Maka, Jihan senyum sendiri, ngomong sendiri, ketawa, sedih sesaat lalu bahagia. Dia tak ubahnya seperti orang yang applous, bereaksi.
Belasan menit pun berlalu. Hanya dengan mendengar pengalaman Gizi, si penghuni kamar have fun, tak lagi galau. Wajah si gadis tampak cerah mirip juri yang puas dengan suara dan penampilan peserta favoritnya.
Di depan lemari, Jihan memulai acaranya lagi. Dia masih berpiyama dan bicara selayak di depan kamera studio pribadi. Rambutnya dibiarkan tergerai.
"Hai yang di situ, aku mau present soal mekanisme animasi di antah berantah.
Buat yang udah tau, hapal, trus nguasai nih materi, tolong ya diawasin. Siapa tau aku aneh dan gak jelas neranginnya.
Nah buat yang baru tau, khususnya aku sendiri nih, kabar gembira ya, moga bisa nambah wawasan atau manfaat. Trus aku ngarep juga bisa berguna buat yang laen.
Oke. Judulnya gimana seseorang tuh bisa menginderai sekitarnya? Nah kalo di alam sadar sih semua karena adanya interaksi elektron, khususnya lidah sama kulit. Zat sama permukaan benda atau suatu materi non gas, elektron-lah yang ngindikasiin.
Masih seputar alam sadar dulu ya. Jadi boleh dibilang semua benda tuh ada gelombangnya. Radiasi. Getaran juga tergantung besar-kecilnya energi atau ukuran benda tersebut. Kalo kecil kayak atom tuh, geternya emang gak kerasa. Tapi pas batu ini, trilunan molekul ini, kena sorot cahaya, batunya memantulkan gelombang elektromagnetik ke pengamat. Foton menimpa elektron, sehingga radiasi energi didalemnya tuh menguat hingga masuk pupil dan nyampe ke retina.
Radiasi tuh geter-lah simplenya. Semua benda punya radiasinya masing-masing. Otak kita masuk bahasan. Jadi ada yang dikepoin radiasi sampe bikin helm deteksi, buat liat frekuensi otak kita.
Oke itu alam sadar. Soal optik, gejala sinar x, gamma ray, kecepatan cahaya, topik fisika lainnya tinggal ngubek di google.
Tapi soal bahwa sadar, antah berantah, ini dah masuk bahasan subjektif. Bukan objek laboratorium fisika lagi. Topiknya dah sejajar dengan bumi datar.
Oke. Aku gak tau ya harus mulai dari mana. Soalnya tadi tuh, mini crown narasumber, bikin gue sampe gak bisa konsen dengerin kuliahnya.
Gue rasa tuh mahkota, barangnya emang mirip yang di kontes miss universe, miss Indonesia, atau kontes kecantikan laennya, tapi aneh buat gue. Ratu gue nih pemenang kontes LDR kayaknya bikin gue kangen berat.
Nah, aku juga dapet pe-er soal gelang kembar yang katanya pusat lingkaran sekaligus garing keliling itu. Ranah di balik antah-berantah.
Kira-kira apa gitu, aku makin gak ngerti. Ya udah, gue taro sebagai kegelapan dulu. Ratu ngebolehin gue mikir kayak gitu.
Tapi gue gak ngeblank amat sih.. soalnya secara bahasa gue, logika gue, pemodelan kayak dua gelang karet gini rada kepaham, rada kena ke saraf karatan nih pala.
Aku mau ngunjungin alam gelap itu sekarang, sekalian otodidak. Gue harus nyari tau sendiri biar keinget terus. Gue mulai dari tiket deh."
Jihan segera menerangkan hasta kanannya. Di situ dia menunjukkan titik sengatnya sambil mengusap-usap kulit. Katanya, sengatan listrik membangunkan dia, dan sebagai awal dirinya kacau, sampai menghanguskan Bumi. Jihan mengatakan, tiketnya tidak hilang sekalipun dirinya mati kebakar atau luka.
"Buat tau ini tuh apa, sekedar kunang-kunang mata apa emang bintik di langit dimensi.. Aku harus liat dengan cara mijak ke ranahnya.
Oke. Ini alam sadar ya. Pokoknya udah diobservasi orang-orang non-lusid. Gue mau ke bawah sadar sekarang dengan cara tidur. Kami nyebut acara dengan istilah onmind. Sama kayak online, akun kita yang aktif, virtual person, orangnya di balik layar.
Jadi onmind tuh berarti pikiran atau mungkin jiwa gue berkelana, tubuhnya masih kebaring di kamar."
Jihan merangkak di ranjang, menyapu-nyapu sprai dengan tangan. Dia menaruh bantal terus dia tindih dengan kepalanya. Jihan memposisikan badan dengan menyamping, memunggungi pintu kamar, tak peduli cahaya fajar sudah nampak di luar beranda lotengnya.
"Gue denger katanya gue bisa onmind tanpa perlu tidur ato nutup mata. Tapi ntar aja. Nih juga mungkin belum lancar.
Kalo dah lancar, gue bisa langsung onmind pake teknik nge-flat. Tau deh artinya apaan. Aku onmind sekarang dengan simbolik, isyaratnya cukup pake ngedip pas merem.
Oke. Live stream dimulai," kata Jihan bicara pada dinding kamar.
Saat jarum detik berdetak, Jihan sudah tak bergerak di situ. Tubuhnya kembang-kempis sebagaimana orang sedang tidur. Dia onmind.
"Kayak Youtuber kondang. Bagus juga bukanya."
"Ehh, Kak Kisye."
Di atap rumah, saat jatuh dari langit dan mendarat di lapis tak kasat mata, Jihan melihat gadis berPDL celana panjang putih, jins paskibra, pembawa tongkat.
"Terus gimana?" tanya Kisye.
"Umm, jadi tadi Kakak nyimak Jihan gitu ya?"
"Dia mau ikut maksudnya, Kak?"
"Ngng, dia nih gak satu doang, sebenarnya banyak," tutur Kisye sambil mengamati tongkatnya di tangan.
"Wah kalo ikut gak bakal kegendong Kak. Tapi Jihan punya skil pencari kayu bakar!"
"Ngng, Kalo keberatan gitu, ya udah, lanjutin. Lo mau ke first person, khan ya?" tanya Kisye dengan wajah berseri.
"Ya. Biar paham sendiri, keinget terus kalo dah ngerti. Tapi kalo Kakak emang mau bantu, boleh deh."
"Gak. Bodo amat.. Hhh-hhh!" Pundak Kisye mendadak bergetar.
"Dihh, kok gitu sih?"
"Angkat tiket lo ke arah gue.."
"???"
"Iya.. Coba deh. Gue mau nge-host juga Han. Siapa tau gue juga lucu."
"Gini?" tanya Jihan berpose ala Captain America dengan tamengnya.
"Betul. Tahan ya. Hhh-hhh," Kisye masih cengengesan, baju putihnya diusap-usap, merapikan lipatan.
"Gaun nikah."
"Hhh-hhh! Dah diem.." pinta Kisye, badannya pun sudah ditegakkan. "Hai, semua. Saya mewakili dewan Olive, mau mengabarkan soal pengajuan upgrade.
Saya mau memberitahu, bahwa Olive nyetujuin usulan upgrde dari team dev soal layanan Spear.
Trus juga, sekaligus mau ngabarin soal SWO, set waktu onmind, bahwa skala-nya sekarang diatur oleh driver masing-masing. Dan default-nya mengikuti pengaturan instant-read di Server, satu detik basetime sama dengan masa terpakai.
Selama onmind di Escort, entah itu seminggu, sebulan, setahun, bahkan seabad.. lusid kembali ke gerbong sedetik kemudian dengan ekstravel. Aman amnesia.
Hanya saja, sehubungan Luna masih dalam penyisiran plot, upgrade dan service ini masih harus ditunda. Insyaallah jika memang kondisinya memungkinkan, dalam beberapa hari ke depan, keduanya akan segera berjalan, diaktifkan.
Tunggu pengumuman selanjutnya dari saya, jika sudah berjalan, saya akan beritahukan. Sekian..
Saya Kisye, di TKP.. melaporkan."
"..??"
"Apa!"
Jihan diam menatap si penanya, melamun sambil menurunkan tangan. Kisye merah pipi dilihat kameramennya, cengengesan seraya menutup bibir, malu dengan pundak bergetar. Dia tak mau melihat wajah Jihan yang melongo, baginya mungkin itu lucu.
"Proklamator.. stasiun."
"Bagus gak??"
"Bagusan.. pegang gitar."
"Yee.. Nyanyi kali. Hhh-hhh! Makasih ya Han, dah bantuin nyiar. Ngng, gue mau balik sekarang. Mau tanya-tanya soal upgrade ma SWO?"
"Uum, ntar aja. Jihan mau nerusin pe-er dulu Kak."
"Gue cabut yaa.. Assalamualaikum."
Ngguu.. uuung!!! Kisye mundur saat tubuhnya blur menggasing, buram dan kemudian benar-benar pergi menghilang.
"Iya. Walaikumsalam."
Jihan menatap tangannya mirip orang lihat jam. Dia berkerut kening sambil bicara sendiri saking tak paham dengan istilah siaran. "Tangan gue tower gitu? Makin instan nih alam."
Jihan segera ng-host acaranya lagi, melupakan bintik sinar yang ada. Juga tak pedulikan sinar pagi sudah benderang, abaikan seorang tetangga senam menggeliatkan badan di pinggir gang.
"Umm.. Aku mau apa tadi ya, Rin? Gak ada mic di sini."
Hendak bicarakan perihal offmind
"Oh, iya. Alam blueprint. Bagian offline sekarang. Oke. Waktunya turun, lihat jasad."
Jihan biarkan tubuhnya menembus genteng rumah. Pemandangan tampak seperti kapal selam atau teh celup, badan si gadis masuk tanpa halangan maupun macet tersangkut. Dia tenggelam dengan lancar. Setelahnya, Jihan dapat memijak lantai kamar, tidak terus rembes.
"Anti-mate beres dan.. Nah ini pas-pasan lagi ada si Mamah. Tapi aku tuh gak bisa interaksi sama alam sadar."
Entah bicara pada siapa, Jihan diam memperhatikan kegiatan Mamah, dan tidak ada tanggapan.
Ling Ling sibuk menyemprotkan kaleng bug toxic, tabung anti nyamuk dengan gambar di kemasannya lima batang bunga lavender. Dia tak tahu ada Jihan di sampingnya, Mamah juga tidak mendengar anaknya sedang bicara. Selesai menyemprot kamar, Mamah keluar menutup pintu.
"Helouw.. Lo bisa denger?" tanya Jihan pada gadis yang sudah diselimut kain tebal ungu. Tidak ada jawaban, tubuh di situ hanya bernafas, masih menutup mata.
__ADS_1
Kemudian, Jihan bicara lagi.
"Nih kamar baunya emang khas, keciumnya pas gue bangun.
Oke, sekarang aku mau akurin diri. Apa emang jasad gue. Kalo bukan, sentuhan offline nih katanya gagal, mind failure. Tau deh artinya apaan. Moga aja bener, gak pernah kejadian. Bismillah.."
Jihan meraba kulit hasta, ujung jarinya menutupi tato atau tahi lalat ajaib-nya.
Zwwshh!!
Tubuh Jihan putih bersama pakaiannya, jadi hantu! Pemiliknya sedang mengucek-kucek mata. Jihan seperti kena silau atau mungkin mind failure? Sementara di tangan jasadnya sudah terpancar bintik terang, padahal ditutupi selimut.
Jihan berhenti mengucek, melihat-lihat kamarnya, tidak ada yang berubah. Dia terlihat sedang bicara, mungkin melaporkan apa yang dilihat. Tapi dia kemudian sadar, mendekatkan tangan ke telinganya.
Jihan bicara kembali, hal yang sama masih terjadi. Tidak ada suara terdengar. Sambil terus kacak pinggang, dia tetap menyapu pandang ke sekeliling, lihat pintu, meja belajar, meja dandan, lemari, jam dinding, tampaknya tenang dan sudah tahu. Jihan lalu melepas kacak pinggangnya mengamati cahaya pancar di tangan gadis piyama.
Zwiiitt!!
"Ee-ehh.."
Di tempat baru, ruang kubus tapi gelap, Jihan menyeimbangkan badan layak orang mau jatuh, entah terpeleset apa.
"Nah, nih dia ranah dua gelang. Pas gue nge-tap kulit gue yang tidur itu, ngedadak nyusut gini, kayak diisep pusar."
Tidak hanya itu, Jihan mendapati dirinya sedang mengambang di depan layar persegi.
"Umm, jadi first person-nya di sini. Ruangan mirip-mirip kokpit soulator. Harusnya ada enam layar, nyatelit badan gue. Apa emang wajib satu gini layarnya ya?"
Ada bunyi ketikan keyboard di layar. Jihan membaca pesan Gizi tersebut, yang seperti biasa saat Gizi membenarkan.
"Demikian? Itu kamu, Rin, yang ngetik?"
Tik-tak..tak-tak.. tik.. tak.. tik!
Demikian. Engkau berada di pondasi ruanganku, Tuan.
"..??" Jihan memicingkan dua matanya. "Tumben kamu pake titik di akhir kalimat, Rin?"
Tanda baca.
"Jadi kamu masih di ruang kerja, aku di sini, di bawah blueprint ruangan?"
Demikian.
"Oke. Aku host dulu."
Tak ada komentar.
"Panjang kalo aku nonton sampai tamat. Nih video nyala pas kulit gue distun. Otomatis tiket mulai ngerekam. Ruang POV nih desainnya persis yang dibilang Ratu, kotak dadu dengan ketinggian tiga kali tubuh orangnya."
Setelah melihat-lihat rusuk-rusuk ruang POV (point of view), Jihan kembali nonton.
"TKP-nya bener, di Dinner Shot. Jam pulang ini si Kampret lagi gue omel. Kejadiannya dah lama banget."
Padahal layar menayangkan kamera yang banyak bergerak, video amatir. Tidak jelas merekam objek apa, hanya menayangkan sebuah lokasi dengan banyak meja dan kursi kosong. Tapi ada percakapan, Jihan uring-uringan dan memarahi Diandra.
"Iya.. maaf, maaf Han. Gue baru tahu cara makenya tuh gitu. Sori please.. buka jahil, ihh."
"Ya lo kira-kira dong ngetesnya, liat gue dah kayak liat begal."
"Ta.. tapi, lo gak pingsan. Jelas gue beli barang murah yang emang gak mutu."
"Heh! Pada ngapain, mo pada pulang gak? Bubar, bukan gelud."
"Sori Han. Sori.. please," kata Jihan tetap menonton tayangan tak bertokoh itu.
"Sori, Han. Sori.. please."
Terdengar suara Diandra memelas, sesuai yang Jihan ucap. Jihan minta Gizi menutup Whois?-nya tersebut, masih ingin menyimpannya sendiri. Video pun segera diprevous, di
percepat.
Ternyata ruang POV merekam semuanya hingga Kisye ikut direkam. Putaran video tidak memburamkan frame, cukup lama. Jihan menunggu sampe melihat Kisye bergaya Kera Sakti menyiarkan pengumuman. Sampailah prevous pada detik Jihan menyentuh kulit jasadnya yang sedang tidur.
Brugh!
"Auww..!"
Jihan jatuh mendarat. Dia komentar bahwa lantai tersebut belum benar, karena empuk.
"Kayak iklan ranjang gitu loh. Trus gue lagi berdiri gini tiba-tiba jadi iklan keramik. Oke deh. Your welcome Han.. Hhh, ngagetin banget."
Ruang POV sudah menyala putih, dinding sama ukuran dengan langit-langit dan lantai. Tak ada sumber penerangan di situ selain lapisan yang ada. Cahayanya pun tak menyilaukan.
"Apa Ratu emang pernah ke mari juga ya, sama persis dengan yang dia bilang. Gue bakal jatuh tapi gak begitu sakit. Ya udah, gue praktekin sekarang teori lantainya."
Duk! Duk!
Jihan menginjak-injak lantai kaca tersebut. Dia juga menloncat-loncat demi efek ranjang yang tadi terjadi.
Tuing! Tuing! Tuiing!!
Jihan kacak pinggang, ternyata ruang POV memang sudah statis.
"Hhh, hhh, hhh.. Qorin dah gak ngejangkau nih wilayah. Hhh, hhh.."
Jihan tampak terengah-engah. Dia biarkan dirinya mengatur nafas. Harusnya si gadis sesak, sebab tak ada jendela atau ventilasi di situ. First Person tidak bergema ala gua, kedap suara pun tidak, lelah begitu Jihan sudah tidak terhubung dengan Gizi.
"Oke Han. Lanjut presentasinya. Nih kotak kurang lebih samaan dengan inti Bumi, pusat gravitasi. Tapi kejadiannya tuh tadi, pas nonton data Whois?.
Sebagai will, gue di sini bebas namain enam frame ini. Dah lah, gue ikut Ratu. First Person nih pancaindera sama pikiran.
Oke. Bener. Seperti beritanya, salah satu frame gak dapet gue lihat. Frame nih disebut pikiran.
Gue perbesar, lihat ke depan, pikiran gue ada di tembok belakang. Gue liat dinding belakang, yang depan jadi wakil pikiran.
Liat ke atas, lantai gak keliatan. Pemodelannya kok kayak kepaksa ya? Bilang aja gue napi KPK. Sepi amit di sini, kaca tapi gak mantulin bayangan. Ayo Han, berpikir. Pecahin nih pe-er."
Jihan tengadah mengamat langit-langit POV. Menurut kabar yang dia dengar, Jihan bisa mijak di situ, ganti gravitasi. Tapi sedang dia pikirkan tujuannya.
"Hhh, sama aja kali. Gue mijak di sana atau mijak di sini, ujung-ujungnya suruh nyari frame otak. Gimana cari taunya, siapa di antara kalian yang ngarannya Indera Keenam?"
Hening..
"Baik. Gue will-nya. Han. Bukan mereka. Otak bukan penanggung jawab, di sini authornya gue sendiri. Jadi pikirin sendiri, napa seisi antah berantah harus dimodelkan, dikenali pake animasi. Gimana kejadiannya di ruang tiga dimensi?"
Jihan mundur, melakukan antimate-nya lagi alias tembus gaya teh celup.
Zwwtth..!!
Jree...eeng!
"Dark side?"
Saat mundur hingga tembus, ruangan kembali jadi alam gelap berlayar satu. Namun di sini lapisan yang ada bukan monitor, Jihan melihat bayangannya. Sang bayangan persis objek atau tahanan di ruang interogasi. Di situ Jihan sudah dianggap menemukan Indera Keenam.
"Sekarang jelasin, nih pantulan mau lo apain? Gue ngomong, dia ikut ngomong kayak gini di situ.
Di mana animasi tiga dimensinya tuh? Gue harus periksa lapisannya."
Jihan menghampiri cermin besar tersebut, sang banyangan ikut melangkah ke pojokan. Di tempat tujuan, Jihan menengok bagian belakang, tidak ada apa-apa selain gelap. Anehnya, si bayangan tidak terjeduk di ruang POV, kepalanya nyembul keluar.
"Apa mending to the point aja, biar gak dramatis? Ngadain benda biar keliat garis radiasinya dari balik sini."
Tukh!
Jihan mengetuk frame setelah bermonolog. Dia pun menengok ke belakang karena ada garis merah, lurus horizontal datang dari kejauhan. Jihan mundur sedikit, lalu jongkok memungut penghapus. Bayangan di ruang POV pun mengikutinya mengamati barang.
Tampaknya Jihan tidak bingung diam begitu. Garis radiasi menembus tangannya dan tetap mengikuti ke mana objek digerak-gerakkan, Jihan genggam dan goyang-goyang, sinar merah tidak juga padam, masih tembus ke dalam lapisan.
"Napa gue gak ada garis frame-nya? Apa gue emang pikiran gak bisa diliat itu ya?"
"Kamu akan tahu saat itu substansi benda yang ada, keberaadaannya persis garis eksis taman.. lokasi ini. Sementara garis eksis kamu tidak terinderai Jihan, demikian pula aku saat di sana.
Gelang satunya adalah objek di luar kamu."
Terbayang di kepala Jihan kalimat Reinit soal pemodelan dua gelang.
Sekian menit mengingat-ingat, Jihan tengadah, menatap kegelapan ruangan. Tempat pijaknya sama terasa datar di tapak kaki seperti di ruang POV, bedanya hanya pada kerangka saja. Tapi apa kegelapan yang dihuninya bagian dari will juga?
"POV first person, bukan yang terujung. Di ranah dua gelang, banyak sekali garis-garis FinalCutter sejauh mata melihat. Untuk memasukinya, kita perlu ucapan Enik."
"Jadilah."
Zwwtth..!!
Rusuk-rusuk ruangan yang ada di situ, juga flat saling terpisah dan bergerak mengelilingi Jihan. Sementara Jihan sudah dikurung bola Spear, tubuhnya mengambang, di bawah dia ada flat elevator heksa.
Sekeliling Jihan nampak benang-benang lurus aneka ukuran. Ada yang setebal rambut, setebal tangan, jari, hingga yang berdiameter terowongan. Kini ruang gelap tersebut penuh dengan banyak garis radiasi.
Mungkin ranah dua gelang fisik asli bawah sadar, di balik antah berantah, bisa juga suatu radiasi lingkungan (Bumi) yang bentuknya sudah disederhanakan.
Jihan terus melayang, menembus aneka ukuran laser-laser bersama garis Spear tersebut. Tidak satu pun garis Jihan dapati bergelembung seperti garis balon-nya, laser merah di luar polos semua.
"Ngapain juga di sini, ya? Nih cuma gelombang rumah dalam kamar gue."
Jihan amati dia masih bersama helai-helai garis frame yang tampak menusuk tembus, turut terbawa mengiring perjalanannya.
__ADS_1
"Mungkin nih garis dari bau Lavender, fisik selimut, piyama, dari detektor (pancaindera) ke masuk otak gue. Hhh.. Gue lagi dibawa ke mana ya? Apa masih tidur gitu?"