Jihan

Jihan
chapter up 72


__ADS_3

Gebyuurh!!


Kawah pun mendadak mancar cecerannya, lelehannya tersentak ditimpa sebujur badan yang masuk ke situ. Namun kawah membiarkannya bangkit berdiri.


Sosok tersebut menepuk-nepuk bahu dan pundak selayak membersihkan dirinya dari pasir.


Nia ataukah Jihan, belum diketahui karena dia invisible, sebut saja dia sosok air-doll yang selayak black hole di kegelapan.


Di situ dia bagai udara, dan ceceran yang menempel di tubuhnya tak membakar, tidak ada asap atau pun bau. Dia masih di situ karena masih menapakkan kakinya. Pastinya sedang berdiri, baru sadar jatuh di mana, bisa juga sedang melihat lelehan dalam kawah.


BEGH!


Tiba-tiba datang sosok yang sama sepertinya, dan dia menabrakkan diri ke sosok pertama. Akibatnya, cairan logam di situ terciprat menimpa mereka, menampakkan keduanya yang masih mode air-doll.


Craatt! Set!


Bugh! Set! Set!


Craat! Craat!!


Beugh!


Suara becek lumpur baja mengiringi perkelahian mereka. Kawah tersebut jadi arena-kedua Jihan dan Nia, sebab di luar TKP tidak ada aktivitas, di kejauhan kawah tersebut hanya daratan yang melompong dan sepi di gelimpangi mayat-mayat.


Gucraat! Gucraat!!


Gubraagh!


Para Air-doll saling menjatuhkan. Barusan A ditendang B hingga dia terjungkal.


Sat! Set! Bugh!


B membalas perlakuan A, dia menghantam kepala lawannya.


Dugh! Set! Set!


Gucrat!


A makin marah, mendorong B ke dinding kawah dan memukul kepala korban gaya gatling-gun (senjata mesin). Tratatatat!!


Bugh!!


B berhasil menendang A yang memukul wajahnya ala mesin jahit. Usai menjejak kaki ke depan, B segera maju. Sementara A yang baru berdiri dari jatuhnya, langsung mengayunkan tangan.


Set! Set!


Takh! Takh!


Set! Takh!


Mereka berdua beradu otot lagi dengan lawannya.


Set! Set!


Craat! Set! Set! Bukh!


"Ya sodara-sodara, tampaknya Merah dan Biru punya jurus yang sama."


Entah suara dari mana, tiba-tiba keduanya berhenti, mereka mencari-cari komentator misterius tersebut, lihat kanan-kirinya, juga mendongak ke atas.


Bagaimana bisa mereka terlihat oleh pengamatnya? Bahkan sang komentator bersuara laki-laki! Sejak awal, hanya mereka berdua yang masih beraktivitas di Endfield.


Dugh!!


Gucrat!


B menjejek perut A, sehingga punggung korbanya terhempas menumbuk dinding kawah, memanfaatkan jeda mereka.


"Ahh, sayang sekali, Merah yang lengah, berhasil ditendang Biru menggunakan front foot-nya, Sodara-sodara, membuat Merah terdesak ke sisi kawah dengan sangat keras.."


A mengeser kepalanya ke samping menghindari pukulan B. Namun B memukul A lagi dengan tangan yang satunya.


Gucraat!!


"Awas! Ouh, akhirnya Merah tidak lengah seperti yang dikira Biru, berhasil menghindari great-punch dari Biru. Sodara-sodara..


Dua petarung sama-sama luar biasa, Merah masih bisa mengelak punch-loop Biru dengan kecepatan yang sama.


Aarh!! Biru langsung kena front-foot Merah begitu saja di saat melakukan pukulan yang bertubi-tubi pada Merah.


Sodara-sodara, akhirnya Biru terdesak ke sisi seberang di dalam kawah!


Dan kini seperti yang telihat, Sodara-sodara.. Biru tetap tenang.


Dan tampaknya Biru terdiam, dia menunggu sambil mengawas. Dia tetap melihat Merah yang telah menendangnya, Sodara-sodara.


Biru tampaknya sedang bersiap ataukah dia..


Ya! Tampaknya Biru hanya berbicara pada Merah yang juga masih diam di sisi kawah.


Tampaknya mereka.. sedang saling.. menjaga jarak, Sodara-sodara..


Yaa! Awas!


Arrggghh! Biru berhasil mengelak sinar Mata Superman yang dikeluarkan oleh Merah, Sodara-sodara. Ternyata.. Merah kembali menyerang dengan jurus yang luar biasa! Sangat luar biasa, Sodara-sodara..


Lalu B membalas dengan tembakan mata! Aargggh!


Kena! Itu sangat kena!


Pertarungan memanas, semakin menjadi-jadi!


Kedua petarung kembali saling baku-hantam, saling pukul, saling tendang.. lawan lalu menghindar, Merah balas menendang, dan Biru menghindar, kembali memukul.. Arrghh! Sayang sekali gagal, pukulannya lolos, Merah balas memukul, sayangnya Merah pun gagal.. dan..


Arrggghh!! Akhirnya pukulan Biru berhasil mengenai Merah! Sodara-sodara..!!


Ya! Akhirnya Biru berhasil memukul lawan.. dan..


Ternyata..


Merah pun marah, dia bangkit, kembali lengah, kembali terserang oleh Biru, hingga Mata Superman milik Biru mengenainya!


Tampak sinar Superman membuat Merah sangat marah. Dan..


Ya! Lihat! Lihat mereka!


Apa yang terjadi pada Merah! Merah tidak dapat bergerak! Dia tidak bisa menyerang dengan pukulan saat akan menyerang Biru, Sodara-sodara!


Apa yang dilakukan Biru kepada Merah dengan dua tangannya tersebut.. Sodara-sodara.


Dan tampaknya..


Merah sedang berusaha membebaskan diri dari telekinetis! Ya! Merah sedang dikecal, Sodara-sodara!"


Set! B melemparkan A ke luar kawah, dan..


"Wind-shoot! Sodara-sodara..! Biru serta merta melemparkan..? Haa..?!


Keluar! Cepat Keluar dari si.."

__ADS_1


PRAANK!


Gelap dan sunyi mendadak terjadi setelah kamera dihantam sesuatu.


Bruugh!!


Bunyi jatuh di lantai arena. Tapi tidak ada apapun di situ. Hanya angin lewat.


"Uhukk..! Uhuk!"


Swwrrrth!!


"Sudahlah, Jihan.. kau memaksakan dirimu sendiri. Citruz-mu tak banyak membantu."


Begitu muncul bersama Kunang-kunangnya, Nia bicara pada lantai yang ternoda darah.


DRRRRRTTH!!


Nia juga kemudian menoleh ke tepi arena, ada suatu getaran yang dirasakannya di situ, sumber bunyi tersebut adalah selurus garis panjang di permukaan lantai.


Tanda tersebut lewat di antara mereka, dan terus merambati lantai arena, membuat jejaknya.


"Aku pun sudah tahu healing-mu ini, Gizi," komentar Nia mengabaikan sebuah lapis buram di depannya. "Kalian menunggu apa sebenarnya dengan pagar ini?"


Ga-ris tadi ternyata memang sedang membentuk 'pagar' setebal goresannya, setebal jari. Dan tingginya mungkin seluhur dinding arena.


Belum diketahui apa fungsi dari Healing, barangkali mirip wasit, atau sebuah permintaan jeda.


Lawan bicara Nia, ceceran darah, menampakkan diri. Objek tersebut adalah sumber tetesan yang ada. Si pemilik darah menebalkan opacity tubuhnya, maka dia kembali terlihat dan sedang memegangi rusuk, ada pendarahan dalam pada badannya.


"Uhukk..! Lo curang.. Jil. Gue remuk gini jadinya.." keluh Jihan yang abai kulit tubuhnya bersih, sudah tak terbekas darah Sekuel.


Nia senyum dengan wajah mendengus puas. Dia tak menimpali pendapat yang baru didengarnya, membiarkan Jihan mendongak ke langit arena.


"Bola apaan sekeras gitu, sampe badan gue patah gini.. Uhukk!"


Jihan mencari-cari objek yang dibingungkan, namun langit arena masih sama, hanya ruang gelap di kejauhan sana. Tidak ada kapal ataupun drone yang sedang mengambang didapatinya.


Nia melangkah ke depan pagar. Jihan mendapatinya sudah menaruh dua telapak tangan ke permukaan pembatas. Nia kemudian mendorong tembok kaca tersebut.


Kedua mata Jihan agak bulat saat lapisan Healing hilang begitu saja. Nia tetap mendorong dan tubuh agak membungkuk. Akibatnya, kekuatan sang petarung membuat lantai terngangga 'sobek'.


GRRRTH!! Lantai tampak membelah perlahan dari alot dan liatnya.


"Gak bisa diem dulu nih orang.." komen Jihan sambil bergerak mundur.


GRRR.. RRTTH..!!


Jihan menutup mulutnya sambil terus menatap belahan. "Uhukk-uhukk..!"


DRRR..RRR..!!


Di kiri Jihan, saat menoleh, ada mayat yang tergeser bibir retakan. Si jenazah kemudian jatuh karena terbawa oleh geseran gerak lantai. Jihan lihat ke sebelah kanan, pemandangan yang sama sedang berlangsung, retakan lantai tetap merambat dan makin panjang. Di depan pun bibir jurang makin mendekat, jika diibaratkan zombie ki-pa (kaki patah), dia sedang menggapai-gapai Jihan, targetnya, dengan tangan, Jihan masih memilih mundur.


GRRRTH...!


"Emang.. uhukk! butuh lahan parkir nih patahan.. Uhukk-uhuk! Eeurrghh..! Rese!"


Jihan segera percepat langkahnya, bahkan langsung lari.


GRRRTTT..!


Ternyata Nia tak membiarkan Jihan memulihkan diri. Dia menambah fokus, "menyalakan" badan jadi bara saat lawan sibuk dengan jurang pemisah buatannya


"Uhuk! Haduh.. tiga menit doang, pliis.. Uhukk-uhuk.."


Di jarak aman, saat menoleh ke belakang, Jihan dapati jurang masih merambat. Dia juga mengabaikan blizt yang sedang terbentuk di depan sana, di dinding arena.


Fisika tersebut semakin aneh. Harusnya Jihan terguling jika lantai memang terbelah. Yang terjadi justru, lantai persis meluruh alias runtuh!


NGGIII.. IINNG!


Tubuh Nia pun kian panas dan memutih, dan akhirnya..


BLAARRGH!!


Sedetik kemudian, Nia meledak lagi. Gelembung panas terbuncah seketika.


Bwuush!


Untunglah Jihan sudah ambil kaki-seribu. Benar, ada seribu kakinya sejak dia berkomentar atas ke-pelit-an lawan. Jihan tinggal lompat terbang. Tapi entahlah, dia malah terhempas dorongan energi bom sampai menabrak dinding Endfield yang sudah hitam.


Claph!!


Di tempat baru, Jihan memdarat jatuh dan bergulingan.


Bruugh!


Gdebukh!


Gdebukh..!


Gdebuukh...


Di akhir pantulnya, Jihan terbaring menyamping. Dia tergolek menutup mata, diam tak sadarkan diri alias pingsan (mungkin). Di situ, lokasi keberadaannya terjejak tiga gunduk tanah berumput lembut, mirip bekas jatuh sepeda motor.


Tapi sang 'robot' masih terkulai, belum bergerak di lapangan golf ini.


"Yah, si Mbak-nya Pingsan ya?" tanya gadis dalam gelembung sambil tetap memandangi objeknya.


"Dia santai banget, sih.. Kek-nya emang gak kehealing," ucap si teman ke penonton di dekatnya.


Ternyata di udara, di ketinggian dinding Endfield, ada banyak balon. Tak jauh dari mereka ada bola bening lainnya yang serupa. Jadi, saksi tak hanya dua gadis tersebut.


Di udara terlihat ratusan balon 'sabun' berisi orang-orang. Laki-laki dan perempuan, dari usia SMP sampai mahamurid, mereka semua sedang mengambang di fasilitas aman.


Tak hanya itu, beberapa balon menghampiri garis panjang yang glowing lalu mendarat. Dari kejauhan garis tersebut ternyata salah satu rusuk dari pagar arena, mereka yang kembali ke tribun memberkaskan cahaya, mungkin duduk di pintu-sentuh (blizt).


"Berat banget buat bertahan pas healing gini."


"Santai, biasanya dia gini kok. Pemanasan."


"Tapi bukan jemuran.." suara lain datang, turut nimbrung sesampainya di ketinggian terdekat ini.


"Kak Deti."


"Damage Jilect keliatannya udah dikenal sama driver kak Jihan. Terkapar kek gini, udah pasti sebuah trik," kata Deti, berpendapat sambil silang tangan. "Lihat aja, ntar."


"Dari tadi Kakak bilangnya gitu terus."


"Iya! Kakak bohong.."


Swwrrrth!!


"Dia nongol lagi..! Balik!!"


Wuutts!


Set! Set!

__ADS_1


Deti melesat pergi meninggalkan dua bocah.


Yang diperingatkan segera menurut dan langsung berkelebat menyusul Deti. Begitu pula balon-balon lainnya. Maka pemandangan yang ada, persis isi kelas yang kedatangan gurunya.


Mendapati lawannya masih terkulai, di situ Nia mendorong bahu Jihan dengan ujung kaki. Tubuh Jihan pun merebah, sudah mirip menakin karet yang tak bernyawa tanpa geraknya. Nia amati wajah Jihan kotor berdebu, rambut berserbuk tanah, anehnya tak ada lecet pada hidung, bibir, atau kening. Bagaimana pun itu adalah wajah Nia sendiri.


Nia mengarahkan tangannya pada pergelangan Jihan.


Krrtth! Kain piyama yang Nia telekinetis, melar bagian tepinya, kemudian bergerak ke telapak tangan Jihan. Tepian kain mendadak masuk, terhisap lingkaran hitam di telapak Jihan.


Rrrrtth!! Gliitt..!


Jihan digantikan bajunya oleh Nia dengan pakaian seorang ninja.


Tapi sang Ninja Girl belum sadarkan diri. Ataukah Jihan sedang dalam mode air-doll, atau itu hanya tubuh remnant (sisa kecepatan)? Bisa jadi. Jika sistem di Endfield berhukum fisika normal, itu hanyalah xmatter, partikel eksis yang ditinggal oleh 'sopir'nya (ruh).


"BANGUN!!"


Deg!!


Dada Jihan terantuk diseru dan disentak suara Nia, langsung membuka mata. Sementara ujung rambut Nia tengah berkibar-kibar, tubuhnya terbawa mundur beberapa langkah dari posisi Jihan.


Bwwsshh..


Angin kencang berhenti.


Jihan si sumber angin, setelah diam sejenak, segera bangun dari rebahnya. "Apa tadi Big Bang.. ya?"


"Itu seruanku, Jihan. Gizi tak memberitahumu? Dia mengajarkannya di Green Flat ini belakangan masa, di sini waktu yang lalu."


"Tapi.. Gue baru tau kalo Endfield bisa.."


JREE.. EENG..


Green Flat. Ke mana pun mata melihat, Jihan mendapati ufuk, cakrawala, di ujung lapangan langit bertemu tanah, siang hari ini.


Gliitt..!


Layar transparan hadir menyela kebingungan Jihan, muncul di antara mereka dengan ukuran cukup besar. File tersebut sedang menayangkan aksi Ninja Girl di Citymall, by one Jihan dan Riko.


"Apa hubungannya sama nih bumi datar..? Jadi, Endfield juga bisa buka lapak di Mariana, ya? Atau ganti background di istana langit, gak cuma di dalem laut?"


"Aku mempelajari ghost protokolmu selama ini dengan file berbeda. Hanya data Pnin ini yang belum kupahami, Jihan."


Mereka berebut topik, beda bahasan.


"Jangan-jangan lo mau bahas vacum.."


"Aku sudah siapkan yang lebih baik dari sihirmu, Nature. Vacum buatan qarrat."


"Tadinya mau gue serahin ke Olive aja, Jil. Gue nunggu protokol soal vacum Gizi."


"Lihatlah apa yang kau perbuat pada suamiku.."


Layar di situ sudah di menit pertengahan. Memutar video Jihan yang sedang mengepalkan tangannya di tengah hembusan angin kencang. Juga ada bayangan pemuda yang sedang mengambang ter-telekinetis sesuatu dan mengerang-ngerang.


"Hobi lo emang nyolong data, Jil."


"Kita pun dapat mengakses Central di wilayah luar."


"Ya. Terusin.."


Gliit! Lapisan lebih kecil muncul, file tersebut sebuah batu merah dalam wadah kecil yang pernah Giga taruh.


"Apa nih?"


Gliitt! Layar menutup hilang.


"Kau dapat membunuh driver temanmu, atau milikmu sendiri dengan batu di perut. Mengapa kau tidak juga menggunakannya pada kami?"


"Lo belum nyerahin Hoax lo, Jil. Kalo pun ditumbalin, gak bakal gue bunuh si Hoax. Gue berperike-jin-an."


"Percayalah, Jihan. Kamu akan baik-baik saja tanpa drivermu. Takkan ada perburuan lagi."


"Tapi kayak bunuh diri. Lo ngerti khan maksud gue?"


Gliitt! Layar besar menyusut, tutup diri.


"Andai tak dicekal akan kulakukan."


Set! Set! Wuutts..!


Bugh!


Rusuk Jihan terkena tendangan Nia.


Takh! Takh..!


Namun Jihan dapat langsung menangkis pukulan Nia dengan cepat. Dia tidak mengaduh (nyeri) saat ditendang.


Mungkin Nia sengaja tak menyerang 'neuron' Jihan. Menilik dari kalimatnya: andai tak dicekal akan kulakukan. Apa Nia dan Hoax sedang musuhan ya? Nia berusaha memberitahu Jihan.


Syuu..ut!


Bletakkh! Dugh! Dukh..!


BUGH!


Sree... eekh!!


Nia terdorong cukup jauh dikombo empat hantaman. Kaki Jihan berhasil menendang perutnya. Namun Nia segera melesat.


Wuutts!


Set! Set!


Brugh!


Dua gerakan Nia sukses membuat Jihan jatuh. Jihan ditengkas oleh kakinya yang cepat lagi kuat.


Mereka baku hantam, beradu otot lagi. Lalu memanas, saling menembakkan energi (tenaga dalam).


 - - - - - 😁 biar gak penasaran, di bawah ada garis besar, scene-nya


- Nia membuka visual soulator Jihan


- Jihan menghindar tembakan Nia demi Gizi, ada banyak tarian udara yang Jihan lakukan


- Nia menyerang saat Jihan sibuk dikejar vacum


- Jihan gunakan telekinetisnya pada objek yang banyak


- . . .?


- . . .?


jadi sabar ya nunggu update, aku mengembangkan scene langsung dari ponsel, tidak pake tulisan pulpen.


terus juga aku mengetik sambil jaga warung, konsennya sering putus-putus. jam lainnya aku gunakan buat istirahat.

__ADS_1


harap maklum, terima kasih sudah membaca dan menunggu


__ADS_2