
Di dekat gerbang milik benteng tinggi, terdengar suara mirip tawon.
Nguu.. uuung.
Bunyi dengung membuat penjaga gate menoleh. Suara tersebut adalah bunyi gelembung Spear. Tampak Gizi melangkah keluar menuju si pemuda pos. Tapi kemudian setitik bintang melesat dari tubuh sang karyawati.
Set!
Zwiiitt!!
Gizi tampak masih berseri-seri sekeluar dari tubuh Jihan, diam berdiri tanpa peduli pandangan heran si penjaga gerbang.
Jihan yang baru sadar, agak oleng berdiri di dekat Gizi.
"Ee.. ehh.." Jihan menyeimbangkan tubuhnya.
"Lo sama siapa Giz?" tanya si penjaga, ternyata datang menghampiri Gizi demi rasa keponya.
"Kau lihat saja. Jadi bagaimana menurutmu?"
"Hmm, gue sepertinya pernah liat," tatap pemuda pos. "Terus ke mane si Itu?"
"Siapa yang kau maksud?"
"Giziania. Inang lo itu, Giz."
"Apa benar berbeda dengan wajahku, Fincez?"
"Huh. Lo dari dulu. Gue suka manusia kayak inang lo itu, Giz. Gidiknya bikin gue penasaran."
"Aduhai. Kalian ber-algoritma, perkembanganmu memang demikian untuk solve problem, Fincez."
Jihan menyimak sambil senyam-senyum, sebab Fincez menatap mereka bergantian. Si pemuda adalah robot, Jihan biarkan dia bingung.
"Siapa namanya, Mbak?" tanya Fincez pada Jihan, to the point.
"Prita.. dona. Kemaren-kemaren gue khan ngobrol di pos," kata Jihan, dua tangannya disatukan di depan.
"Mana gue tau. Orang gue lagi nyisir."
"Ehh, iya juga. Tapi lo gaduh kerjanya, Fin. Gebrak gebruk. Nyisir perabot?"
"Denger. Ladang emang lagi gak aman. Anda mau ketemu siapa nih? Jins lajang berkatana itu khan?"
"Umm, bukan," geleng Jihan, tanggap.
"Kalo Anda mau ta-tap muka sama Ratu, harusnya janjian. Beliau masih di luaran Non."
"Umm, bukan juga."
"Gue sibuk, Giz. Mending segera lo seret dia ke dalem, biar cepetan," pinta Fincez sambil pergi.
"Hii.. lebay."
Mendengar kata itu Fincez berhenti melangkah, pasang kuping.
"Njrit.. Eumghh!" Jihan menaikkan dua bahunya sambil menutup mulut.
Fincez balik badan, dia pun segera menghadap Jihan lagi.
"Apa lo bilang?"
"Ehh, umm.. Itu, tuh yang buat roti. Namanya selai. Iya, Fin. Selai."
"Aneh. Detektor gue dah nyimpen inputnya, Non. Anda petapa? Golongannya Marcelina?"
"I-iya. Iya.. Gue astraler. Betul Fin. Kita lagi ada urusan sama Oyon. Jadi.. Suruh dia ke sini. Ada fans gitu, bilangin."
"Lo khan dah fobia sama dia. Kenapa langsung sok penting?"
"Panggil si Tengik gue bilang. Ehh, si Oyon Fin. Maksud gue. Hidiw.. Welo-welo.. welo, euugh," ucap Jihan, canggung.
Jihan tampak pasrah dengan interogasi tersebut hingga mengganga sambil menggerak-gerakkan lidah. Dia memang tak bi-a-sa bohong.
"..?!"
"Kau sudah terhubung dengannya?" tanya Gizi. "Ada apa Fincez?"
"Si Oyon di Server, Giz. Lo tau gak? Petapa ini orangnya, yang bikin dia murung."
"Sudah berapa lama Oyon pergi?" sidik Gizi lagi. "Apa dia marah juga pada Gream?"
"Gak kedefinisi. Tanya aja langsung sama Oyon."
"Lo gak bisa ngontek dia gitu, Fin?" sela Jihan, ikut menyidik.
"Beres nge-renovasi, dia ke sana. Gak balik lagi sampe sekarang. Tau deh. Mungkin pilih tinggal sama Mother."
"Queen?" sebut Jihan atas Reinit.
"Betul. Cepet lo bawa nih fobia Giz. Kalian kalo mau masuk, ya masuklah sana. Gue pegel."
Fincez langsung balik kanan meninggalkan mereka tanpa bicara lagi, masuk ke dalam pos, duduk manteng ponselnya lagi.
Jihan dan Gizi membiarkan aktivitas Fincez. Keduanya memang sudah mengenal robot benteng tersebut, jadi mereka tak ingin mengganggu pekerjaannya.
Jihan sedang menyamar sebagai Prita, namun dia masih menggaruk-garuk kepalanya.
"Ck, susah juga ngimej orang. Nyeplos mulu njir."
"Aduhai, kau benar-benar gadis intel itu.. Hhh-hhh!" Gizi menahan senyumnya sambil menutup gigi, sementara Jihan balik menatap sang jins, dari pov Gizi ini Prita memang sedang mengerutkan keningnya.
"Dih kayak si Mamah tawanya."
"Ehem.. Hhh-hhh," dehem Gizi, pundaknya bergetaran lagi, lanjut have fun.
"Sayang Sorrow lagi tepar. Kalo dia ikut, perfect aktingku, Giz."
"Jadi bagaimana, Tuan?"
"Ya udah, yuk.. Kita ke Server aja."
"Agree."
Zwiiitt! Set..!
Jins bersuite pilot F1 itu menyusut kecil ke titik di perutnya, pusar, jadi bintik cahaya. Seketika langsung melesat masuk ke tubuh inangnya. Kadang menitik bawah leher Jihan, ke bagian bahu, ke pinggul, bahkan pernah langsung menitik pusar Jihan.
"Spear..!" sebut Jihan, memanggil 'angkot'.
Thaaang!!
Seperti biasa Spear segera datang begitu dipanggil, menyahut dengan bunyinya yang persis Mjolnir. Jihan tak melihat tanda kaki di bawah, tapi Gizi segera memberitahu soal tapak yang tidak ada itu bahwa tanda tersebut khusus untuk Sorrow.
"Ehh, iya. Kisye pernah ngasih tau. Aku forget that."
Jihan pegang si benda mengkilap, serta merta ada balon yang transparan mengurungnya. Ngiuuung!! Menggasing menghancurkan lokasi jadi kepingan.
Di gerbong, Jihan melihat pintu Escort-nya sedang terbuka, mungkin disengaja. Dia melihat Vita dan Romi masih main bidak enambelas alias catur. Salah seorang tak sengaja melihatnya. Jihan hanya senyum, karena dia masih Prita masking.
"Rom, ada Mbak Ita," beritahu Vita membuat si pemuda menoleh. "Sepertinya beres investigasi."
Jihan berhenti sambil mengangkat tangan, berisyarat helo pada mereka berdua. Dia tidak masuk ke Escort, sengaja menapak di tanda lingkaran, di keset hijau milik gerbong Spear tersebut.
"SosCamp."
Zhhaang!!
Seberkas tabung cahaya naik menyambar tubuh Jihan. Ukuran sinar peron memang mirip volume kulkas. Jihan pun mendadak berdiri di satu "gua" kotak, menggaruk-garuk punggung. Tanpa sadar pantulan bayang tubuhnya di kaca peron berubah.
"Hii.. sama aja. Kita jadi gak bisa ngelebat gini tanpa Sorrow. Anytime, anywhere, ato jadi who pun.. murni jalan kaki harus pake urat body."
Jihan melangkah keluar meninggalkan lantai welcome. Dia menapaki ruang heksa yang cukup disebut garasi. Ruangan berdinding enam papan hitam, bukan stasiun. Sesampai di salah satu blizt, jihan menyentuh black glass itu.
Claphh!!
Jihan langsung berada di ruangan besar berisi awan, markas, pusatnya aktivitas lusid lapangan. Dia lanjut berjalan ke tengah-tengah lokasi mengabaikan beberapa anak yang sedang nunggu boarding (tugas).
Jika Jihan melihat-lihat dia akan mendapati markas seperti arena indoor. Tiap dinding meluas per lantai, jadi mirip riak air. Tapi lantainya mirip lingkaran gepeng, tepatnya hanya lantai heksa tak berpagar, selebar trotoar. Antar lantai memiliki enam dinding yang banyak gua kotak, dinding dengan rongga-rongga kubus tempat lusid menunggu.
Di tengah lokasi namanya Big Portal alias Labirin. Isinya memang ruang-waktu asing, tak dikenal, juga multirandom. Sekali masuk tanpa karcis boarding, pengindera-nya bangun dari tidur, dan saat matinya nanti, dia terbangun jadi orang lain, tak ingat riwayat hidup sebelumnya. Setidaknya harus masuk saat Luna sedang "berburu". Jadi masuk tanpa misi, atau nyelonong, lusid akan terpental balik ke ruangan demi keamanan memorinya.
Boarding boleh dikatakan sebuah fitur keselamatan saat berada di luar basetime, menjadikan suatu ekplorasi waktu aman dan terpantau. Papan tugas sebenarnya sebuah navigasi ke banyak waktu. Tapi satu-satunya nomand (ruang-waktu di luar basetime) yang diperbolehkan dewan, adalah target Boarding yang memang telah di-sistemisasi, diatur Server.
Bayangkan saja jika ada seratus lusid bebas keluyuran di banyak nomand, dengan tujuan tak jelas, atau bermain waktu, Internal mungkin tidak serapi sekarang mengenal antah berantah, lusid tidak akan memahami indera ketujuh-nya.
__ADS_1
Semua informasi tersebut Jihan dapat semasa touring, sehingga Jihan hanya berani keluyuran di Snail saja.
Jihan naik elevator, lift terbuka.
"Hadeh. Dia (Sorrow) jadi kerasa penting pas serba manual gini."
Demikian. Aku menganggur di ruanganku ini, hanya berkerja dengan satu layar Bratle-mu, Tuan
Dit dit!
Klikh! Tap.. tap..!
"Apa Server emang ngebiarin dia Terus-terusan demam ya? Dulu aku emang rada tengil, kayak budek."
Seed sebagaimana unit lainnya. Di algoritma opsi, unit sudah seperti will, dia menunggu daripada harus memilih
"Gabut gitu ya?"
Namun dia telah merespon Citruz-ku. Layar bratle ini memantau, sebagaimana Server yang terus-menerus mengirim bit peringatan padanya
"Dia humas Server paling gabut sekarang. Pengen aku balikin ke FosSeed kali."
Tap! Tap-tap!
Tep! Tap..!
Jihan masih harus meng-input data di monitor lift. Di situ layarnya mirip halaman register membuat email. Jihan lihat ada kolom kosong untuk nama, sandi, tempat tinggal, dan lainnya. Dia tempatkan telapaknya di monitor untuk dipindai, pilih instant typing.
Untunglah mesin tidak minta Jihan menginput kode RPM, seorang pun tidak akan langsung ingat angka sebanyak puluhan digit penting itu. Kecuali pemegang rekor, reader-nya rasio pi.
Ketika lift sudah bergerak naik, Jihan menyelipkan rambutnya untuk duduk. Di situ dia pun menunggu sambil menggelangi dua lututnya.
Hhh.. Maaf jika sekiranya aku terus bersedih hati atasnya, Tuan
"Iya. Banyak yang nanyain kondisi kita itu Giz. Aku suka perhatian mereka, jadi segera jujur aja kalo aku emang lagi sedih temennya sakit. Gak sulit ngejawab mereka."
Mamah dan Bapak?
"Subuh tadi mereka bingung sih. Tapi aku belum berani jawab selaen.. Hani juga bingung, Mah.
Aku nelpon Dian, Nay yang angkat. Dia minta nomer si Mamah, video call, dan ngasih tau mereka soal psikis-ku.
Nay beritain kamu yang lagi sedih, ngasih tau Mamah kalo kita tuh lagi keiket batinnya satu sama lain."
Selama pengejaranku, Anak Langit tak pernah muncul. Aku banyak beraktivitas di berbagai jaman berbekal deathflat. Pada tiap waktu, selesai blooming-kan paradok, aku dikembalikan ke arena.
Berulang namun beragam plot. Aku membuat bola hitam agar tak satu pun paradok eksis dalam nomand yang telah tersegel untuknya.
Selama itulah hamba mengejar Hoax yang kupikir Nia
"Gimana kamu dapet lolos dari semua vacum mereka?"
Sorrow membantuku, Tuan
"Hadeeh, untungnya kamu bawa dia."
Lift terus bergerak setelah masuk ke awannya, sudah berjalan di lubang heksa mekanik. Di situ mirip terowongan vertikal sebuah gedung canggih, banyak neon pelangi mewakili nama lantai Server. Per lempeng atau lapisan mungkin memang ada beragam aktivitas di dalamnya. Entah lantai berapa yang Jihan tuju, duduk begitu pastinya jauh atau menuju inti Server di mana sub-dewan berada.
Selama ekplorasiku ada satu plot yang tidak aku bloom
"Hah? Napa tuh?"
Aku teringat laranganmu. Nature di masa itu adalah anak perempuanmu, Tuan. Dia mem-validasi protokol-mu di arena, mengulanginya
"Ma.. ma.. Maksud kamu, aku dah nikah?"
Demikian. Sementara Nia menyertai Nand putera Almarhum. Semua paradok, Nand-lah yang blooming-kan. Nand mengira beberapa paradok adalah Kamu.
Hamba baru mengetahui alasan Nia tidak menghitung Hoax. Kesengejaan itu melainkan pesannya, bahwa dia dalam sandera Hoax.
"Naluri aku emang bilang gitu. Tapi sulit nutupinnya selagi Hoax bareng dia, susah caranya biar Nia tetap aman. Aku ngerasa Hoax bakal ngebunuh Nia.
Emang aku sembuh ya, dari trauma? Aku masih lesbong lho."
Hhh-hhh.. Hamba yang ingin tanyakan hal itu padamu, Tuan
"Aku satu-satunya dayang yang mengenal kamar Sri Ratu."
Aduhai itu perkataanku, Tuan. Mahkota-nya memperdaya kita
"Njir.. Iya, ih. Riasannya tuh dikit, tapi.. Ughh.. Aduh, manis banget buat Ratu. Arrggghh.. Udah, udah. Ratu kita lagi sibuk. Mgggh..
Oke. Aku punya seorang puteri, lusid lagi, tapi dia bocah yang mendem insting psikopat emaknya khan?
Hhh.. (menghela nafas). Demikian
Jihan berdiri sambil menepuk-nepuk jeansnya. Dia sedikit mendekat ke monitor lift.
Tap! Tep-tep..!
Diddit.. didit!
Layar berganti ke green screen.
"Lihat dong. Hhh-hhh.. Hhh, hhh," pinta Jihan memegang kedua sisi layar, dia perlahan-lahan duduk kembali, dadanya agak kembang kempis. Rambutnya, dia selipkan ke telinga tanpa melepas pandangan.
Gliitt!
Gizi mengerti apa yang diucap majikannya, layar lift pun segera memuat memori sang jins, menayangkan seorang anak yang tengah jongkok memicingkan mata ke kamera, pose jawara pedang.
"Ya Allah, galak juga anak gue.. Hhh, hh.."
Glit!
File kedua masih bocah berbaju F1 tadi, rambutnya panjang terikat, sang anak sedang berdiri di atap sebuah gua, memandangi awan. Ada sebaris pesan di situ, terbaca: Nature udah seperti Mamah belum?
"Gue suka lo Nat. Hhh-hhh..! Ya Allah, so imut, ih. Hhh-hhh!" Jihan menutup bibirnya, pundak bergetar. "Dia nih ada mirip-miripnya ya sama muka para clone. Gini amat gue ngidam Ratu kita, Giz. Hiks.. Uhuh.. Makasih ya Allah," peluk Jihan, benda yang didekapnya persis map kaca, diperlakukan sebagai bingkai foto layaknya.
Nat sedang di atas gua McWell. Ini tempat anakmu me-menjarakan Nand. Kami membicarakanmu di atap sana, Tuan.
Karena *Nat selalu murung di makammu pula, Hamba katakan: aku harus memberitahukan ini padanya, Tuan.
Dia tak mengerti perkataanku. Namun Nature segera berdiri dengan pertanyaan: Masih ada Mamah di masa lainnya? Dia (Hoax) bener-bener minta delete-ku*.
"Kamu bilang apa ke dia? Hiks.." seka Jihan, tangannya kembali memeluk layar tersebut, membiarkan matanya basah.
"Tidak Nature. Ini anti-bloom. Seorang wanita yang benar-benar akan mem-validasi eksistensimu. Kelak dia akan mengetahui permasalahanmu pula."
"Jadi.. Bener-bener Mamah yang tinggal di basetime? Sungguhan Nature bukan anak paradok?"
"Demikian, Tuan. Sudilah kiranya kau menyerahkan Hoax padaku? Insyaallah suatu hari kau akan melihat ibu-mu basetime version."
"Jins.. Nature.. ingin sekali ada di dasar waktu biar Nature bisa intermate. Boleh khan Nature nitip pesan buat Mamah, Jins?"
"Hamba dengan hati akan menyampaikannya, Tuan."
Ray dia serahkan padaku, namun aku masih ingin bersamanya, aku masih ingin tinggal di nomand, memastikan keadaan Nature. Satu minggu itu tak ada kemuraman kudapati. Hari-harinya mulai dalam kegembiraan yang luar biasa. Kami bermain, berkerja, beristirahat bersama-sama tanpa gangguan Hoax.
Tiga bulan kemudian Nature sudah siap dengan perpisahan kami. Hiks.. Hamba pikir Nature terlalu cepat memutuskan. Kami bersedih hati dengan kerinduannya padamu. Aku memang harus.. hiks.. ke basetime, bersamamu lagi.. Hiks..
Ray tak memahami kami. Nature mengusirnya setelah mereka bertengkar.
Jihan biarkan Gizi bercerita, pipinya banjir lagi dialiri air, memeluk erat wajah di dalam layar, di mana termuat wajah Ratu, mahhal yang paling Jihan sukai.
"Hiks.. uhuhh.. Hikkh.."
Jihan menyeka pipi, merapatkan bibirnya. Dia amat menyukai Reynita. Benda mini di kepala sang ratu bagai magnet kuat yang menjadikan pemakainya indah dipandang. Nature juga demikian imutnya hingga rindu menyelesak dalam dada Jihan.
Drrtthh..! Elevator sudah makin tinggi membawa penumpangnya, sudah jauh dari dasar lubang. Kecepatan sang alat sekira 20 kilometer per jam, dalam sepuluh menit ini, berarti Jihan sedang berada di ketinggian 2000 meter lebih.
"A.. a.. aku suka Nature Giz.. Uhuuhu.. Hiks. Sayang banget ma Nature.. huhuu.."
Kita tunggu.. Ray saja.. memaklumi Nature.. Hikkh..
"Ray mungkin.. huhuu.. marah juga sama aku.. yang terus-terusan.. manggil dia.. Hiks, hikk.. Uhuhuu.."
Sulit.. buatnya.. menyukai.. wajah Reynita.. Dia jins khodam.. Kita tunggu saja.. dia mendingin.. Tuan
"Hikk.. Mghh.. I-iya, Giz," kata Jihan terdengar berat, tapi dapat dia telan.
Jihan terisak, segera meredakan suara tangisnya. Wajah dia bersihkan dengan tangannya.
Dunia kuantum memang tak sama dengan alam sadar. Walau banyak kemudahan, namun sebenarnya lebih rumit, protokolnya sensitif terhadap alamat, saat itu juga dampaknya terjadi. Tidak peduli dipatuhi atau dilanggar, sang rules persis energi (aset sistem).
Drrrrrtth!!
__ADS_1
Laju elevator tak berubah. Dia tetap bergerak naik seperti papan penutup lubang, mengambang di sumur yang sedang terisi air dari dalam.
Jihan mendongak ke atas, ujung lubang masih seupil, seukuran kutu di tempatnya berada. Tapi sebenarnya Jihan sudah berada di wilayah Server. Permukaan lokasi di atas sana hanya pemanis bagi pengunjung.
Entahlah, mungkin Sarang Data memiliki ratusan lantai atau lapisan. Satu lantai saja ada banyak sel heksa. Fisiknya masih absurd, sebab dilihat dari blueprint, keseluruhan, Server mirip bola berisi serat, jaringan tulang.
Ruang-ruang heksa di tiap lantai, ditenagai inti. Tapi pusat Server sendiri ketika Jihan kunjungi saat touring, hanya kolam yang ditetesi kelereng aneh.
Di mana sumber listrik atau generator Server berada? Jihan salah mengira hari itu soal fisika di Fanam. Lampu-lampu neon di "sumur" bukan sumber cahaya atau aliran listrik, melainkan arus frame. Tato atau tiket (bekas sengatan)-lah sumber energi yang dimaksud. Jihan menanyakan will atau titik cahaya-nya sendiri.
Lalu frame itu sendiri digerakkan oleh apa? Dalam tiap frame termuat banyak nilai, atau angka, atau tanda radiasi, paket-paket tersebut dibawa oleh satelit, lokomotif kereta Snail.
Jika demikian, Jihan atau saksi yang lainnya sedang berada di orbit Snail dong, ketabrak lokomotif, karena lensa proyektor selalu berada di garis frame khan?
Saat ditagih PR oleh Reynita, Jihan memang sempat kebingungan menjelaskan dua gelang karet yang sudah tertaut. Tapi ternyata.. lingkaran yang kedua itu adalah garisnya Spear.
Pemodelan garis orbit kurang-lebih sebagai berikut:
Dua gelang karet ini bagaimana asal-usulnya? Jika memang fisik, itu mustahil. Model hanya sebagai peraga, agar pikiran terus berjalan.
Ada objek yang memang sedang berputar di situ, bidang fisika menyebutnya elektron. Karena Fanam di bawah ranah kuantum (alam yang amat kecil dari elektron) maka elemen ini sebut saja tiket masuknya.
Nah "elektron", tiket atau bekas sengatan, menjejakkan garis lingkaran. Lalu apa yang meng-eksis-kan tiket? Yang meng-eksis-kan tiket, tak lain alamnya sendiri.
Dua gelang tersebut ibarat Jihan dengan tempatnya, saksi dengan alamnya. Tapi itu pun bisa sebagai aktiv dan aktif, tidak hanya sebatas pasif dan aktif.
Ketika Jihan merusak Bumi, frame bumi ditetapkan rusak, tapi kenapa jasad Jihan justru dapat pulih dari kerusakannya? Kenapa arena dapat pulih dari retakannya? Bumi sebenarnya dapat pulih, hanya saja tidak ada will, atau kehendak. Jika dihuni oleh will, Bumi akan melawan Jihan. Karena Server (jaringan protokol) menetapkan Bumi sebagai planet, maka si benda konsisten sebagai Bumi yang apa adanya.
Apakah Endfield sebenarnya khodam, benda yang dapat ditempati jins? Enfield serupa dengan ruang heksa di Snail, tapi non-bumi. Saat ini statusnya sebagai unit atau robot, multi algoritma.
Lalu ada apa di dalam tiket sebenarnya? Mengapa cahaya-nya statis di skala 1/10^∞?
Atom merupakan penyusun materi, batas terkecil suatu fisik disebut proton dan neutron. Dua "penghuni" itu sudah tidak dapat dibagi-bagi lagi.
Berbeda dengan tiket, titik cahaya berisi dua "gelang karet". Saat diperbesar lagi, di dalam garis lingkaran ada tiket juga. Saat garis diperbesar kembali, titik masih ada.
Merah adalah Snail, boleh juga disebut sebagai garis Spear atau Biru. Keduanya mirip elektron, dapat bergerak atau pun diam sebagaimana Server.
Entah, mungkin karena blueprint sudah dibungkus xmatter, maka Server seperti diam. Padahal dibalik blueprint-nya, dia adalah titik yang bergerak itu. Pusat lingkaran sekaligus garis keliling.
Selain sebagai cetak biru, titik cahaya juga dapat dijadikan sebagai tanda-tanda yang sudah dikenal semisal huruf, angka, gambar dasar, intinya adalah suatu pasangan.
Ditandai sebagai alam sadar dengan bawah sadar boleh, kiri dan kanan juga boleh. Dia diingat sebagai apa, Scope memodelkan tica seperti demikian berdasarkan magnet. Jadi dibelah-belah sampai hilang, hilang dibelah lagi jadi lenyap, magnet akan tetap memiliki dua kutub.
Neon yang ada di "sumur" lift mungkin masuk frame-nya Server. Bisakah ditiadakan atau warna semua neon putih? Bisa.
Satu flat atau frame yang akan dirubah tinggal dibuat cetak-birunya saja, si aktivis atau Reinit harus berkehendak atas tanya tersebut. Maka dia tinggal merubah tanda atau blueprint saja jadi neon putih.
Dengan cara bagaimana? Jika Reinit orangnya ingin instan, dia tinggal menyampaikan keinginannya pada Enik yang kemampuan bicaranya memang luar biasa. Selanjutnya Enik tinggal berkata saja. Maka secara otomatis Snail atau Spear akan merubah laju rotasi. Frame Server pun berganti dikenai hit Enik, serta merta xmatter mengikuti status blueprint, kadang sebagai gejala fisika, kadang fenomena jet lag, atau jika Enik salah paham Server bisa lenyap dari pandangan alias kiamat. XD
Masuk akal belum ya dunia jadi-jadian ini? Jika belum, Jihan pernah membuat live stream tentang animasi untuk bekalnya sendiri dalam memahami antah berantah. Di saat Reinita menerangkan indera ketujuh padanya, Jihan masih kesulitan dengan mekanisme dua gelang karet. Dan tentu saja, Jihan hanya akan mengerti dengan cara otodidak alias bahasanya sendiri.
Sudah paham sebenarnya, tapi Jihan tidak bisa membuat orang lain mengerti.
Bukti Jihan paham pada bawah sadarnya, dia masih tenang-tenang saja saat dibangunkan Nia, tidak setakut Deti dan dua penonton lain.
Jadi di belkang inti Server atau Labirin atau Big Portal itu adalah tica, dua gelang, bukan atom? Betul, bukan atom. Xmatter barulah boleh disebut atom.
Jika xmatter mengikuti status blueprint, berarti cetak biru "hidup" dan bergerak juga dong? Benar. Anggap saja itu lokomotif, frame awal perubahan, sehingga riak atau getarannya memancar sebagai radiasi sang blueprint.
Bahkan sebenarnya atom diketahui lewat tanda-tandanya, tidak dilihat langsung dengan mikroskop. Nah, tanda-tanda tersebut boleh dikatakan pancaran dari blueprint-nya. Sementara di dalam neutron dan proton, topiknya sudah bernama fisika kuantum, perilaku-perilaku "blueprint".
Jadi di bawah alam kuantum ada Fanam gitu? Tidak ada. Sudah disebut alam imajinasi atau dua gelang karet tadi. Subjektif.
Ge.. jligh!
Lift berhenti, Jihan sampai di lapis teratas, bukan permukaan. Dinding sumur terbuka begitu Jihan datang. Arah manapun dia sama saja sedang menuju alamat.
Kenapa lusid lainnya tidak tampak lalu lalang, atau secara tak sengaja ada orang yang satu niat dengan Jihan, atau balik ke SosCamp? Seperti hal-nya, blizt. Mungkin elevator turut di-rules persis black glass juga. Plot A turun ketika Jihan memijak lantai lift, saat plot B naik, kedua objek tidak tabrakan karena sudah di-pisahkan oleh pagar elevator yang setinggi lutut, bisa dilangkahi. Jika memang pagar, alatnya tentu akan dibuat lebih tinggi. Tapi setelah masuk portal, justru pagarnya hilang. Tak hanya naik yang bisa dikebut, Jihan pernah jatuh hingga ke dasar sumur. Satu kejadian Itu sudah menandakan bahwa fasilitas yang ada telah diatur secara fleksibel.
"Paman, liat Ratu gak?" tanya Jihan begitu masuk ke ruang heksa berikutnya ada petugas seumuran Bapak sedang pencat-pencet dinding.
"Ada di sel-nya."
"Sama siapa ya?"
"Sendirian. Jam segini Ratu lagi santai."
"Makasih, Paman."
Jihan segera pergi meninggalkan pria berbaju ala pembalap Tron, ketat dan motif garisnya menyala. Mudah jika Reinit ada di kantornya, Jihan tinggal lurus melewati lima ruangan heksa alias jalan setapak. Antar ruang memiliki dua lawang sebesar dindingnya. Di sel tujuan saat sampai, Jihan abai dengan lapis yang ditembusnya, di luar tampak ruang kosong tapi begitu Jihan masuk, dia baru saja menembus sebuah kolam renang.
"Assalamualaikum.."
Kepala yang menyembul di sandaran sofa segera menoleh, Reinit pun menjawab salam tamunya. "Walaikumsalam. Sini, Han. Gue lagi manteng drakor nih."
"Hhh.."
Wajah Jihan masih tampak bekas tangisnya, kaku, tapi kedua bulu matanya jadi lentik. Jihan melangkah lagi menapaki lantai maha luas berdinding satu ini. Sudah tak ada tembok, dindingnya air pula.
Jihan duduk di sebelah Queen. Tadinya itu sofa tunggal, tapi saat sampai sudah jadi sofa pelaminan. Jihan juga tak peduli gadis di sampingnya di terbangi beberapa tica, mungkin bintang kecil tersebut para dayang Server.
"Ya? Kamu napa?"
Krauukh..! Krauukh..
"Hhh, nyari Oyon Ratu."
"Dia di kebon sama Scope."
"Di situ pada ngapain mereka, Ratu?"
"Ada bug. Lagi dicariin. Kamu gak liat ruang gue jadi padang masyar gini?"
"Ya liat. Tapi Jihan cape."
Krauukh..!
Reinita menatap Jihan sambil mengunyah camilannya, ngemil kacang atom, dia biarkan layar apung menyiarkan iklan tetes mata.
"Si Sorrow ya?"
"Iya. Ada cara lain gak sih selaen mulangin dia ke FosSeed, Ratu?"
"Ada kali. Dia baik-baik aja. Namanya juga anak-anak, Han."
"Gak tau ah. Males. Emang gimana caranya?"
"Gue gebahin dari ruang private-nya."
"Lha, terus napa malah nyante gini coba?"
"Bug. Itu beneran, Han.. seekor.."
"..?!"
"Seekor.. Seekor Buaya!"
"Itu reptil dong. Bukan serangga."
Krauukh..! Krauukh!
Reinita menaruh makanan di sebelahnya. Dia belum mau menjawab atau menerangkan laporannya lebih lanjut, memutar tutup aqua dulu. Reinita pun meneguk isi botol tersebut.
Glukh.. glukh.. glukh!
Jihan biarkan Reinita sibuk, dia diam memilih nonton iklan.
"Aahh... hhh.. Serius. Itu Buaya, Han. Croco deh namanya. Biar gak bahaya, tapi liat ke atasmu," terang Reinit sambil menekan lidahnya ke pinggir, menyingkirkan sisa makanan yang terselap.
__ADS_1
"..??" Jihan menoleh pada Reinit dengan alis tertaut, tangannya tetap bersilang.
"Hu..umm! Liat aja."