Jihan

Jihan
chapter up 18


__ADS_3

Enam bulan kemudian sejak kemah PH dibangun, ada penambahan bangunan di lokasi tersebut. Terutama pagar, tangki air sumur untuk keperluan mandi, masak, serta syuting hujan buatan.


Mercy sengaja mengajukan pengamanan pasif dengan pagar tinggi. Beberapa orang asing dari mafia Naga berhasil Mercy endus saat menyamar jadi visitor, di perjalanan pulang mereka mengakui dari kelompok Naga. Mercy dan orang-orang dipinta mempersiapkan diri.


Tiap hari Mercy sibuk patrol, bergantian menyisir kawasan di radius satu jam perjalanan mobil. Hari yang diprediksi pun terjadi, dua geng bersenjata api kontak fisik. Tapi Walau mereka tukang rusuh dan anarkis, mereka tak ingin mengganggu kegiatan bisnis yang sedang berjalan, medan tempur berada di titik agak jauh


Dziing! Dor! Dzing-dzing!!


Trakh..!! Tang! Teng!


Perang di situ berpagarkan barisan mobil yang rata-rata anti tembak. Dua kubu saling patuh aturan dalam bersenjata, jadi tak ada ledakan dahsyat untuk mobil-mobil di situ. Tapi kebrutalan tetap saja dilakukan kedua belah pihak, yakni mengandalkan gun machine demi wilayah yang diperebutkan.


Drededed!!


Dzing-dzing!! Dor!


"Hhh.. hhhh..! Bener-bener ngebut, njir. Set*n seserius ini bawa bedil, Lan."


"Apa gue salah lihat," kata Alan, yang turut sembunyi. "Mereka ngusik kandang Macan. Gue bosen diginiin."


"Tahan, Lan. Tetep diem. Kita gak kurang orang."


"Apanya, mereka separuhnya udah kabur."


"Gue tau!!"


Dzang! Dzang!


Drededed! Drededed!!

__ADS_1


Senjata mesin milik musuh masih menghujani mobil-mobil milik Macan.


Ternyata pihak Mercy kekurangan amunisi, beruntung semua menurut pada komando Mercy supaya menghemat peluru dan tetap menunggu.


Dzang! Dzang!!


Tanpa disangka-sangka, saat giliran menembak, para Macan sudah ditinggalkan musuhnya. Geng Naga pergi dengan korban hanya tiga orang.


"Uhuukk.. uhuk! Mer, gue idup buat Macan. Uhuk.. Ada yang gak beres di markas.


"Si*lan! Tahan Bro!!"


"Bye.. Tiger."


Mercy memanggil nama korban sambil berteriak. Pemuda itu adalah mayat ketujuh dari kelompok Macan serta memberitahu sesuatu yang penting. Mercy merapatkan rahangnya.


"Mer, kita keilangan tujuh Macan buat megang tanah sini. Gak mungkin.. hiks!"


Krii.. iiit!!


Mobil sedan perak tersebut segera bergerak meninggalkan kawanannya, menderu mengepulkan debuan tanah.


"Mau ke mana dia, Lan?"


"Dah gak usah latah lo. Biar aja deh dia ngamuk."


"Lo ipar apa musuhnya?"


"Ahh, gue capek. Balik ke pos. Kita jaga uang, bukan nyari mati."

__ADS_1


Semenit kemudian beberapa mobil dan orang dari PH datang membawa tenaga medis dan dua ambulan. Mereka bukan telat, tapi menunggu lapangan aman agar tak jatuh lebih banyak korban.


"Mercy! Lo di mana?! Mercy..! Aduh.. Bang, Mercy di mana ya?"


Jihan yang datang bersama tim medis langsung panik mencari Mercy gara-gara melihat tujuh jenazah di situ.


"Ke kota. Ngejar."


"Oke makasih. Hhh.. hhh.. "


Krii.. iiit!!


Jihan tahu-tahu menyetir salah satu mobil yang ada. Orang-orang yang sibuk mengangkut mayat nyaris tertabrak jadi ka tidak meloncat dan lari. Jihan membawa mobil pickup jeep itu ke arah kota.


Ckii..iit! Ngueeng..


BRUAGH!


"Mercy.. Huaa..! Jangan pergiii! Hiks.. Huhuuu.. uuu-uu. Meer!"


Satu bulan setelah kejadian itu, Jihan banyak melamun di jam tidurnya, dia tak berhasil menyusul Mercy. Entah Queen Gotham pergi ke mana, mobil yang Jihan kemudikan menabrak rumah toko di persimpangan saat mencari jejaknya. Jalan yang sepi di malam itu ternyata justru berbahaya bagi pengemudi lain karena mobil edan satu ini.


nb:


dikit dikit dulu yaa.. ntar ada lagi😁


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2