
Jihan tidak bisa tidur malam ini, duduk di lantai kamar menyandari spring bed. Dia melamun memeluk guling. Diam begitu senyam-senyum dengan mata nanar, membayangkan semua ciumannya pada si petapa. Jihan juga mengusap-usap guling tersebut, kemudian diendusnya karena di situ masih ada sisa atau bau si teman.
Pagi-pagi.
"Masya Allah, Hani.. Mamah keinget sinetron Bawang Merah Bawang Putih liat kamu tiduran seperti ini."
Skip.
Entah bagaimana posisi tidur Jihan saat Mamah membangunkan sang anak. Mungkin Mamah menggeleng-geleng begitu karena Jihan telat bangun, tahu-tahu sedang ngumpet, nyenyak di lantai ala anak tiri gara-gara semalam Ling Ling judes, Jihan tidak boleh tidur di tempat empuk.
"Gabut aja, jadi kayak patah hati. Padahal bukan. Gak tau gue juga, kenapa."
"Kiraen masalah customer gue yang kemaren. Ah dasar ibu-ibu emang. Mentang-mentang raja, ngomelnya keenakan."
"Gak kok. Kita juga khan kadang suka keceplosan ngomong, La."
"Dia (customer) kayaknya tukang banding-bandingin. Tiap SPG tuh sama, kalo ada pembeli pasti kita layanin. Ini sewot. Orang 'kan cuma punya tangan empat."
"Empat. Maksud lo empat sama kaki?"
"Iya!"
"Dih.. Hhh-hhh! Gue mutant dong?"
"Jihan, Mala! Ada pak Raden.. heh! Bubar bubar..!"
Di toko brandnya, Jihan kembali gambar-gambar menunggu pengunjung mall singgah. Dia menghela nafas, tiga belas menit sejak rumpiannya tadi kakinya mulai terasa pegal dibawa diam berdiri.
Jihan lihat counter sebelah, Icha masih sibuk berdiskusi dengan orang kantornya. Jihan tengok tetangganya yang sebelah lagi, Mala sedang merapikan pajangan kaos.
Jihan menghela nafas sambil berdecak, lalu saat kembali melihat jam tangan, itu hanya membuat badannya makin lemas.
"Shift dua masih satu jam lagi, Giz."
Jihan lihat ke sekitarnya sehabis bicara begitu, Icha dan Mala masih beraktivitas. Dua SPG itu adalah privatnya karena pernah kepo, jangan sampai mereka tahu soal dufan-nya.
"Iih, da.. meuni lila gini," bete Jihan.
- amat lama
__ADS_1
Sore di jam pulang, Jihan sudah duduk di bangku foodcourt Citymall. Dia menopang kepala sambil membaca berita online. Dia belum pulang alias masih terbalut PDL kerja.
"Gue tau..!!"
"Tapi gak bisa gitu lo! Udah aja lo ambil semua!"
Jihan diam memandangi sumber ribut di tempatnya, mengikuti tatapan orang-orang sekitar kafe. Sepasang insan sedang adu suara.
Jihan memegang dada yang agak dag-dig-dug. Cekcok ternyata berlanjut di meja TKP.
Jihan segera menyeruput minumannya sambil berdiri, menghabiskan air tersisa. Beres menaruh wadah, Jihan menaikkan maskernya, segera melangkah pergi meninggalkan tempat, tak ikut berkerubung di sana.
"Halo, Giz?"
Jihan menempelkan SosFlat ke kupingnya. Di eskalator turun ini dia mencoba bicara dengan qorinnya via Sorrow. Sayangnya tak ada jawaban juga. Jihan masukkan lagi "lencana"nya ke saku seragam, turut diam bersama pengunjung mall di tangga-mesin tersebut.
Jihan berjalan keluar mall sambil mengantongi HP dufan. Wajahnya terlihat sedih, cemas, khawatir sebelum ditutup dengan masker. Sejak pagi kuping-nya belum menangkap suara Gizi. Sorrow mengatakan padanya bahwa Gizi lagi ada urusan penting tentang Pnin. Jihan tak lanjut bertanya.
Sore ini jalanan begitu ramai. Orang-orang berlalu-lalang di halaman depan Citymall. Jihan tak peduli, galaunya masih tampak di mata sang karyawati.
Jihan menyebrang jalan bersama beberapa orang. Dia juga sedang mendatangi halte.
"Hhh.. Aneh banget. Gue napa ya..?"
Jihan menapaki trotoar sambil menggerutu. Seorang pejalan yang berpas-pasan dengannya menoleh saat mendengar ocehan si gadis. Jihan terus mengocah-oceh tak jelas.
"Timeline lo publik gini sih, jadinya uring-uringan gitu. Bener khan Rose?"
Jihan berhenti jalan. Dia menatap sebuah ruko. Pikiran dan rasa kalutnya hilang begitu saja saat mendapati toko aneh dan ajaib. Jihan melihat barang-barang di sana jam yang tak biasanya, penjaga di situ pun sibuk manteng HP.
"Nih jualan jam apa peleg sepeda, Pak?Banyak amat jarumnya?" tanya Jihan setelah berada di dalam toko.
"Demikian. Hamba menunggumu, Tuanku."
"Giz?"
Jihan langsung bingung dengan jawaban si bapak penjual. Kalimat tersebut sangat akrab ditelinganya, terlebih pria di depannya itu bersuara perempuan. Jihan menghela nafas lega, dia tampak sudah tenang, tak lagi mengoceh-oceh karena begitulah Jihan jika jauh dari qorinnya.
Jihan kembali melihat-lihat isi toko, membiarkan Gizi masuk ke ruangan sebelah. Di sini banyak jam dinding yang menyimpang dari standar pabrik. Produk adalah pencatat waktu, tapi jarumnya berjumlah sembilan.
__ADS_1
"Gak kedefinisi gini rukonya. Pagi masih nampangin papan kontrak. Sejak kapan dibuka."
Jihan makin penasaran, karena masih ada ruangan lain yang Gizi masuki dalam ruko ini. Jihan pun segera mengikuti sang jins, karena mungkin ada yang lebih penting.
Tapi begitu Jihan sampai di dalam, dia tak menemukan apapun. Ruangan kedua ternyata kosong dan tercium sedikit wangian. Jihan hanya mendapati Gizi sedang jongkok menunggui sebuah benda.
"Hhss!! Hhs.." endus Jihan atas harum yang masih tercium hidung. "Apa nih parfum kamu, Giz?"
Setelah puas mengamati ruangan, Jihan menghampiri Gizi.
"Lihatlah apa yang hamba temukan. Timeline kita telah lama bocor, Tuanku," kata Gizi yang jongkok di depan kompas, memberitahu Jihan yang baru masuk menyusulnya.
"Apaan nih, Giz? Kompas?" tanya Jihan mengamati barang yang dipungutnya.
"Aku telah sampaikan perihal ini pada dewan Asma. Katanya benar bahwa ini kebocoran timeline. Kita akan mencari tahu, Tuanku."
Jihan menatap benda yang baru mereka temukan. Bentuknya bulat tebal, ada jarum penunjuk di dalamnya, dua sisi 'kompas' ditutupi kaca.
Jihan bertanya-tanya sambil menggoyang-goyangkan, tapi jarum di situ tak bergerak sama sekali.
"Nih apaan ya, Giz?"
"Hhh.. Hamba rasa mungkin terkait dengan Ratu, Tuanku. Alangkah baiknya kita cari tahu tentang Pnin."
Di kamarnya, Jihan berbaring memeluk guling, posisinya menyamping membelakangi pintu. Dia menggesekkan pipi ke gulingnya, dilanjut menghisap udara dari kain bantal tersebut. Jihan senyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Ummh..!"
Sore-sore sepulang kerja ini Jihan menghalu. Dia masih terbalut seragam kerjanya. Lenguhan demi lenguhan terdengar dari dirinya sendiri. Jihan juga menggerakkan badannya sedikit-sedikit.
"Ummh, Sel.."
Jihan duduk di tepi ranjang. Rambutnya yang basah dia gosok-gosok. Badannya sedang dibalut baju-mandi. Selesai berfantasi ini dirinya tampak segar dan bugar. Wajah Jihan tak lagi muram, dan matanya tetap menyorot ke meja belajar, di mana benda UFO tergeletak.
Jihan bentangkan handuknya di tali jemuran balkon. Dia kembali masuk kamarnya. Jihan duduk mengamati 'kompas', diam saja tak memeganginya.
-
-
__ADS_1