Jihan

Jihan
chapter up 16


__ADS_3

Jihan mengandeng Mercy menuju tendanya. Dia mulai cerita soal Internal yang sedang krisis. Mercy semakin bingung dengan topik yang dibicarakan. Jihan mengabaikan kebingungan Mercy, mengingat musuh Ratu Gotham bukan hanya mafia Naga.


"Kamu rawan kalo udah kepancar kriptonite. Tapi kamu punya bedil yang canggih serbaguna, Mer. Bisa nembak jins, hantu, trus juga.. bisa nembak alien kayak gue ini," kata Jihan.


Keduanya lalu mengobrol saat sudah di dalam tenda.


"Jadi lo bukan orang?"


"Iya. Aku juga kangiyen, Mer."


"Ouh. Kangen."


Jihan mengangguk sambil menatap Mercy.


"Apa lagi yang Heart bilang?"


"Aku harus nyamar jadi kamu, Erika."


"Hhh.. Gue Mercy. Ya udah. Anggep deh gue udah nemu orang yang gue cara. Tapi gue tuh Mercy, Erika. Kalo gue emang milyader, terus apa?"


"Jaga diri kamu. Katanya memori kamu udah sering dihapus pake kriptonite ini, bikin kamu stress dan ragu kayak gini, Sel."


"Hhh.. Belom sehari ketemu, lo udah unik kek si Erika dancer."


"Dancer? Mungkin itu kamu sendiri."


"Bukan. Tuh ige orang. Akun asli. Masih aktif dan update, soalnya suka bantuin masarin produk."


"Jadi masih aktif ya?"


"Iya. Yang jelas bukan kerjaan fans. Itu Erika asli. Gue pengen tau gimana rasanya ngaca tiga dimensi, ketemu terus ngobrol sama dia (Erika dancer)."


"Trus, chanel aku juga dibikinin sama fans dong, Mer?"


"Eh iya. Lo juga ya?"


"Hhh.. Nih mungkin kerjaan Rey. Tapi aku gak tau Rey tuh lusid, petapa, apa clone."


"Pliis. Yang jentre. Trus.. Lo udah ketemu sama si Rey ini?"


"Belum. Tapi sekarang udah jelas kok, kalo Erika tuh kamu. Ada seseorang yang lagi seting plot, biar kita ketemu kayak gini."

__ADS_1


"Trus?"


"Kalung lo ini katanya suruh dijaga, rahasiain dengan bener-bener. Kata Heart kalung ini kunci plotnya."


"Heart tuh cewek apa cowok sih?"


"Cewek."


"Berapa umurnya?"


"Udah dua puluhan. Samaan dengan kamu kok, karena dia tuh kamu versi gak ada abisnya alias abadi."


"Hhh.. bingung gue. Kok bisa ada versi formalin gini."


"Hhh-hhh! Kalo aku abadi, maka kebanyakan sisi jahatnya. Kamu gak. Kalo lagi tugas, kamu suka keras, Sel. Eh.. Mer.. maksud gue."


"Ya udah. Gue harus nunggu orang bernama Rey ini? Atau nge-de em ige Erika?"


"Iya. Pasti dia tau banyak soal kalungmu. Tapi kalo mau tanya sama aku, aku gak bakal ke mana-mana kok."


"Lo juga kalo ada perlu sama gue, lo tunggu aja. Oke?"


"Hu umz."


"Gue tinggal dulu ya, orang-orang gue udah dateng."


"Mer, tunggu.."


Jihan memegang tangan Mercy. Dia minta tamunya diam, lalu diciumnya pipi yang ada. Chups!


"Dihh.. lo kok?" bingung Mercy sambil pegang pipi.


Jihan senyum, tak pedulikan pertanyaan Mercy. Dia gigit bibir dengan pipi merah, bodo amat ditanya dengan kalimat tergantung itu.


"Makasih ya," kata Mercy, buru-buru keluar sambil menundukkan kepala.


"Yess! Makasi ya Allah. Hihi.."


Jihan membantingkan tubuhnya ke dipan. Hari ini dia tampak berbunga-bunga dibandingkan hari saat dia dibuatkan tenda.


"Arrgh..!" seru Jihan, girang sendiri. "Hiks.. Huhuu.. uu-u. Gue harus tugas dulu, Beb. Hiks.. Huaa-aaa..!"

__ADS_1


Jihan kembali tak menentu mirip bala-bala warung kopi. Ada senang, sedih, haru, malu, juga rindu yang selalu dirasakannya.


"Hiks.. maaf ya Beb. Akunya lebay duluan. Huhuu.. uu-u."


Jihan menyeka-nyeka matanya, membersihkan lembab yang ada.


Sehari kemudian, Jihan mulai bekerja lagi dengan para kru film. Pengambilan adegan tidak mengurut, entah mungkin terkendala cuaca atau mood sutradara. Jihan masih dipinta fighting-nya, lawan aktingnya sekarang tokoh Nina dan pertarungannya di udara berseting bintang dan galaksi.


Lalu sore-sore, Jihan dipinta menyeleksi empat orang yang masih membingungkan tim rekrutmen.


"Coba kamu tanya-tanya semua kandidat ini buat meranin tokoh Gizi."


"Iya. Bu."


Jihan menghadap kembali ke arah para calon artis yang sedang berbaris. Dia jadi mirip komandan regu lomba mirip artis.


"Baik ya. Buat para kembaran saya, ada pertanyaan untuk kalian. Jawaban sederhana. Tapi diharapkan simpan dulu dalam hati sebelum saya pinta. Sekali lagi jangan rebutan. Satu-satu ya. Saya mulai saja. Tolong dengerin.


Pertanyaannya adalah.. bagaimana tanggapan kalian kalo seandainya majikan kita masih ragu dengan suatu kejadian. Misalnya, saya bicara begini.. Apa aku harus nyusul si Bebeb ya Giz?


Silahkan, Anda yang pertama jawab," pinta Jihan menatap gadis paling kanan.


"Betul. Tuanku. Tapi.." kata kandidat pertama.


"Oke cukup. Nomer dua. Silahkan."


"Kiranya hamba tidak.." jawab kandidat kedua.


"Ya. Cukup. Kamu gimana, Nomer Tiga?"


"Iya. Tuanku. Hamba.."


"Oke. Cukup. Nomer empat silahkan."


"Demikian Tuan. Hamba dalam kekhawatiran seharian ini. Tuan Puteri.."


"Oke. Cukup. Yang ini Bu."


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2