
Kau mengijinkan tindakanku?
"Iya, My Self. Asalkan nih gak nyelakain kamu."
Insyallah kita aman. Kau tak perlu tambahkan gelangmu. FinalCutter sedang bersamamu
Set!
Rin melesat dari jari manis empunya usai memberitahu Jihan perihal Bratle, Epsi sudah fungsikan diri sebagai penyerta, sehingga Jihan tak perlu memasang gelang.
"Ehh," Jihan meraba keningnya. "Iya nih kepalaku masih enteng Rin."
Jihan pertama kalinya gentayangan di antah berantah ini dengan live. Biasanya onmind di kamar, lewat tidur atau secara mimpi.
Bratle jadi alat penting bagi lusid yang live lewat seed (Sosflat). Tanpa gelang, antah berantah akan memaksa ingatan, membuat penginderanya persis disantet, pening luar biasa dimasuki banyak kenangan atau informasi asing. Pikiran akan menolak dengan sendirinya.
Zihan sudah mengitari bintik sinar Lectrin, menggelangi tica bersama Epsi. Empunya mendapati sang jins persis elektron. "Kamu elemen hidrogen Rin? Tawafnya cepet gitu, kayak elektron betulan.."
Setitik garis sorot pun Jihan dapati, ada laser hijau di arahkan ke dada Lectrin dari seorang perempuan berbaju bening di dekat Jihan, membidikkan senapan atau biolet.
"Lectrin.." sebut si Pembidik. "Dia akhir dari kedamaian dunia. Siluman yang menghancur NKRI, penghianat Merah Putih."
"Umm. Silu.. man? Misi elo dia, Ta? Tugas lo high risk. Nih soloter, dewa di ruang-waktu yang dia tempati ini."
"UNO memburunya. Dia target utama PBB. Nyamuknya berenergi tak terbatas. Alindatik, orang dengan teknologi alien."
"Pantes gak Luna bunuh. Dia emang harus diadili."
Brugh! Lectrin dilepaskan, jatuh di dekat leher C3 dengan erangan yang menyakitkan.
Prita lepas fokus, setelah diam sebentar, mendapati King Kong, dia bergerak menghampiri lokasi Lectrin, mengabaikan visual bawaan dari pakaiannya, tak lagi tranparan. "Teman Anda itu malaikat dunia ini.."
"Gue setuju."
"Untuk ayahku.. Kakak, dan team Garuda."
Bukh!! Prita menghantam rahang Lectrin, datang mencengkram kerah korban, senapannya sudah terkalung di punggung.
"Auuw..!" ngeri Jihan. "Itu gue banget."
"Kak Jihan..!"
"Ehh."
Jihan membiarkan Prita membalikkan badan dan memborgol Lectrin dengan gelang khusus, rantai mini tersebut green glowing.
Mendapati Deti sudah di kelilingi kartu-kartu, Jihan mengerutkan kening.
"Reward Kak."
"Hadiah? Maksud lo De?"
Syuuutt..!
Zwiiitt!! Dlang muncul di depan Jihan, jelmaan dari kartu yang Deti kendalikan. Parasas Pengendus yang Jihan lihat sudah berkalung sabuk aneh, pengikat leher ditempeli banyak batu kuning.
"Dikasih Al Hood. Deti punya piaraan sekarang."
Grrrh..! Seringai Dlang, memicingkan mata sinisnya
Set!
Bukh!
Tendangan putar Jihan mengenai bahu Dlang. Sopan tapi mantap kakinya, jadi angin selesai menumbuk pangkal lengan targetnya.
"Buat Nuck dan Mamah," tiru Jihan, mirip tindakan Prita pada Lectrin.
Goooarrdh!!
Dlang marah menggangakan taring pada Jihan.
Glit! Sabuk leher Dlang menyala, membuatnya batal beraksi karena tercekik otomatis.
Hekg!!
"Udah ntar aja di Endfield," kata Deti tetap mengambang dekat pintu.
"Latih dia buat gue De."
"Gak akh. Godzilla masih top card."
"Ya udah. Gue yang harus latihan kalo gitu."
Set! Set! Deti angkat kedua tangan dan menurunkannya, lalu dia silangkan, bertelekinetis.
Set!
Zwiiitt! Dlang balik menyusut, terkurung kembali dalam kartunya yang dikontrol sang pawang.
Ekstrasi selesai
"Ehh. Nih helm apa Bola Naga?" tanya Jihan mendapati balon kaca di hadapannya, gelembung tersebut datang sendiri dan sudah berinti sebutir cahaya. "Kok kamu kayak dikurung sih Rin?"
Kau ingin membawanya?
"Boleh kalo gak berat mah. Sini."
Jihan menampan-kan kedua tangannya. Benda bulat nan bening bergerak perlahan ke tangan si Gadis Joging.
Ratu-ku sudah menunggu di luar. Berikan ini padanya. Aset milik server. Data soulator dipenuhi kejadian dan peristiwa yang terjadi di timeline ini selama tiga abad
"Pantesan gede. Nih gak masalah buat ratu kita, yang doyan bedah data."
Jihan turun di dekat Prita yang sudah memborgol, sedang mencekal pundak Lectrin.
"Terima kasih atas bantuan kalian. Kami butuh satu saksi untuk kejahatannya. Di mana Malaikat kita?"
"Ehh. Luna.. umm.." bingung Jihan, mengetiaki Bola Naga, badannya di layangi bintang kecil. "Kayaknya masih berburu Ta. Gimana dong?"
"Kak Marcel akan tinggal sementara di sini buat mewakili komunitas Mbak. Dia yang akan ikut sidang," beritahu Deti, memasukan selembar kartu ke saku kemejanya.
Prita mendorong Lectrin dengan moncong-biolet yang sudah dipegang. Orang yang didorongnya segera melangkah menuju pintu lab.
"Komunitas apa? Kalian manusia dari planet mana sebenarnya?" tanya Prita sudah jalan mengikuti Lectrin.
__ADS_1
Jihan dan Deti turut jalan kaki, mengawal di dekat Prita.
"Kami orang Bumi, kok. Mbak.." kata Deti.
"Iya. Kami bekerja bareng jins, Mbak. Ceritanya panjang kalo soal komunitas."
"Kami punya team elite seperti kalian, pasukannya disebut Mercy. Mercenaries. Mereka telah gugur. Leadernya persis gadis pembawa arc listrik itu."
"Ouh. Kak Marcel. Dia astraler. Petapa."
"Bagus jika dia yang akan bersaksi di pengadilan nanti," kata Prita yang berpakaian pasus ini, suit perangnya tersebut bisa transparan.
Di lorong C3 mereka mendapati Clara sedang menodongkan biolet. Karena target dikenalinya, Clara segera menurunkan senjatanya. Dia menengok ke belakang, mengawasi. Clara pun menghela nafas lega dan menunggu mereka di situ.
"Di mana Ghost Mercy? Kita butuh dia Prit. Gue bingung kalo kita diserang hantu item, kita belon nasuha.." kata Clara begitu temannya datang.
"Clear. Gue pengen liburan di Laut Kidul," timpal Prita, santai.
"Hai Para Dewi. Kami berterima kasih pada kalian. Tolong sampaikan juga hal itu pada Ghost Mercy. Dia bantu saya carikan carry. Para DNA sudah diangkut naik. Plis sampaikan," pinta Clara memegang borgol Lectrin.
"Oh. Oke. Mbak.. siap. Epsi sudah sinkronkan kalimat barusan ke tuannya kok," kata Deti.
"Saya pergi dulu. Jalan lo, Dewa Keparat," ucap Clara, membawa pergi Lectrin di depan mereka.
Mereka segera melanjutkan langkah, membuntuti jejak Clara sambil ngerumpi.
Skip..
Jihan dan Deti mengawal Prita sampai hangar. Obrolan ketiganya pun berhenti karena Prita harus ke kamp alun-alunnya. Sementara Clara sudah sibuk menyalakan heli, duduk di depan tawanannya.
Mereka cipika-cipiki dan saling beri semangat atas tugas yang ada.
Jihan dan Deti pun pamit, keduanya melesat di depan Prita menembus dinding gedung.
"Gue harus deketin astraler biar dapet gerakan jet-nya para dewi.." gumam Prita memandangi dinding yang dimasuki dua manusia jejadian.
Di lapangan Minion 41, ada Canteen bersama seorang laki-laki yang juga berpakaian ala kru Starflet, garisan di kainnya bak neon, glowing, seragam khas server.
Ckiiit! Jihan.
Ckit! Deti.
"Wah iya juga. Ada jins digital. Reinit. Sang Sub-dewan."
"Ratu, maafin. Jihan ngobrol dulu tadi."
"Ah, no problem. Gue hobi ngintip aktivitas masyarakat atawa sosialita. Taro gih di situ, dalem reader, mirip nampan resto."
"Nampan dengan lengkungan," komen Deti melihat objek yang Reinit bahas.
Pria yang sedang menenteng lempengan kaca, memposisikan reader tersebut di depan Jihan, menadah.
"Ya. Kali aja Ratu udah pegel nungguin ini."
Glit! Bola kaca yang Jihan simpan menyusut begitu nampan-legok ditutup pembawanya.
"Iya sih, kalo program running dalem manual gue, kaki kesemutan. Maksud gue, gak sesibuk yang kamu pikirin, Gizi."
"Gitu ya? Padahal gak mijak. Kebas apanya?"
"Umm, no komen Ratu. By the way, Luna di mana ya? Sejak di bukit sono Jihan belom liat dia lagi Ratu."
"Anak Langit masih di alun-alun, sama si Marcel."
"Ngapain mereka Ratu?"
"Diskusi sama para jenderal, soal alindatik yang mereka fokusin itu. Nerangin alam kita juga. Toh mereka orang-orang penting. Wajib tau soal kita."
"Liat deh, dia dikasih gift. Napa Jihan gak?" tanya Jihan setelah melirik Deti, mengutarakan uneg-unegnya.
"Oh kiraen keganggu si Epsi. Tanya Pusaka-nya itu dong, Giziania-ku. Kecil hatimu jangan kayak gue, bunuh diri."
Belum sempat mengucapkan kata, Jihan mendapati dirinya sudah terbalut outfit unik. "Dih, sejak kapan? Hhaha..! Kurang ajar."
"Baterenya di perutmu. Pnin si Banyak Rupa. Luna tau kayaknya kamu suka hal yang dinas. Anggep aja nih baju kerja keduamu. Nih support sama kokpit soulator, pusar kamu ntar manjang pas nyetir di dalem. Kaen remulti bikin kamu bosan ya Giz?"
"Ya Allah keren banget nih Ji Red. Bener nih support soulator, Ratu?"
"Of course."
"Gak perlu pake simulator kapal, langsung di soulator halus."
"Kami akan bawa ini ke server. Kamu tunggu hasil bedah. Kalo emang ada yang penting buatmu, kami laporin," beritahu Reinit soal tica.
"Cukup kabar Bumi Ultimate aja Ratu. Siapa yang tinggal di sana sampe abad dua puluh empat nih."
"Oh siap. Sering maen aja ke server," kata Reinit. "Kini kalian dah selesai. Ray mungkin lagi sibuk nambal-nambal cabang waktu. Epsi yang akan anterin kalian pulang."
"Gimana lipetnya nih baju Ratu?" tanya Jihan atas baju 'lebaran' tersebut.
Jihan pun minta Epsi mengembalikan visual pakaiannya lagi, minta jaket dan celana training dikembalikan. "Nih baju baru, takut kena gores."
Claph!
Berkas sinar memotret sekitar. Jihan terbalut baju jogingnya lagi.
Reinit dan pemegang nampan mundur, ada lapisan gelembung muncul terhisap sesuatu dekat Jihan, inti tak kasat.
Saat reverse sudah berjalan, Jihan lihat sekelilingnya ada para tawanan yang mundur turun dari sebuah Chinook (heli baling ganda).
Kejadian sebelumnya di TKP ter-reverse dengan cepat sehingga Jihan dapat melihat aksi Luna.
Lapis demi lapis muncul menyusut. Makin lama makin banyak. Pemandangan yang ada berubah jadi lokasi awal Minion membangun kamp. Tempat begitu dratis perubahannya seiring dengan laju prekuel-time.
"Abad dua puluh tiga.. dua puluh dua.."
"Lha kok, kita melayang ke mana nih?" bingung Jihan mendapati posisinya berubah, tak lagi di titik semula.
"Ke rel Kak."
"Nge-reverse sambil moving. Gue jadi pengen ngembangin skil setir gue."
"Kenalan dulu sama tica, ngedalemin inti labirin-nya SosCamp."
__ADS_1
"Hah? Jadi tuh portal mabes dari tiket?"
"Itu tica-nya Im V Un. Bukan kenangan manusia Kak."
"Segede apa kira-kira?"
"Besarnya kayak Ceres mungkin."
"Njir berapa lama tuh robot idupnya, gede amat?"
"Kalo itu, Mbak Indri dan Sub-dewan yang lebih tau Kak."
Keduanya sudah berhenti dari geseran koodinat dan berada di pemandangan abad 21. Reverse masih berjalan.
"Apaan nih rel karatan, ketimbun tanah.."
"Masih walhu Kak Jihan. Ntar jadi paradok kalo dikonsen. Abaikan, ini kejadian masih semu."
Selama diantar, tidak ada angin atau kontak fisik dari luar. Lapisan ruang-waktu yang berlipat-lipat pun tak menghapus ingatan 'penumpang'.
"Sampai kapan dia tinggal De?" tanya Jihan mengenai Marcel.
"Gak tau Kak. Mungkin sampe sidang besar beres."
"Mahkamah internasional, bahasa dunia juga."
"Kak Marcel katanya punya mesin tranlate bahasa kuno sampe gerak isyarat pun dapat diterjemahkan. Katanya."
"Dia Doremon bersenapan.."
"Alhamdulillah, dah nyampe Kak."
"Ehh, cepet amit," kata Jihan tengok kanan-kiri, dia dan Deti berada di tengah rel tempat Marcel pernah muncul.
"Iya, mereka masih di sini. Robot Kakak baru aja duduk."
"Mari kita inject seeder masing-masing."
Jihan melangkah meninggalkan Deti, berjalan menaiki tanah pinggiran. Deti segera menyusulnya.
"Kita tadi pergi belum masuk lima menitan Kak," kata Deti atas perjalanan mereka.
"Bagus. Jam sholat gak kelewat. Si Ray juga tau soal muhrim atau hukum ke lawan jenis."
"Pantesan. Jadi dia yang setel skala waktunya ya?"
Jihan tak menjawab, berdiri menyapu pandang. Dia memeriksa sekelilingnya begitu sampai di dekat para robot.
"Lho Kak Jihan?" tanya Robot Deti di tengah sibuk mengeluarkan belanjaan, berhenti beraktivitas, menatap orang yang dia tanya.
"Dih? Marcel di mana Han?" tanya Jihan Palsu. "Napa gak lo temenin bego?"
"Dia ikut sidang. Kami udah beres," jawab Jihan pada Dirinya.
"Hah? Beres? Tiga minggu prepare, mikir-mikir, matengin pilihan, lo bilang udah beres? Mana buktinya Luna dah eksis lagi?"
"Ini.."
Glii..iitth!! Jaket menyusut jadi Ji Red, celana turut bertransformasi usai Jihan tekan perutnya dengan tangan.
"Wauuw.. waw.." pana Robot. "Elo jadi kayak Al Hood gini."
"Jadi sudah selesai ya Kak?" tanya Robot Deti.
"Iya. Waktunya inject sekarang. Balik ke rumah, tidur," pinta Deti pada robotnya.
"Ya sudah. Deti pulang. Met ngemil."
Sang robot berdiri menepuk-nepuk celana jeansnya. Tanpa pamit, Deti Digital berjalan meninggalkan lokasi.
"Dah ya Seed. Ntar ada petani kebun lihat."
Gliitt..! Ji Red kembung jadi jaket hitam kembali saat Jihan sentuh perut.
"Keren banget njir.."
"Toast dulu." pinta Jihan.
"Hih baru juga dua menit. Gue males kalo elo suruh nyetir-body lagi."
"Njir jangan gitu dong. Dah, cepet masuk."
Taph! Robot menepuk tangan Jihan dengan muka gabut, manyun.
Drrtth!! Kedua Jihan bergetar jadi tubuh yang mem-blur, memburam.
Jihan abaikan sekelilingnya, termasuk Deti, 'ter-blur' selama inject. Pemandangan ini tampaknya sudah terbiasa bagi Jihan. Dia tidak peduli Robotnya mengikuti gerakan yang dia buat, cuek atas aksi bayangan-nya yang juga turut duduk.
Robot bergeser seperti ditarik magnet, tak lama segera ter-idap oleh badan aslinya.
Kebun kembali tervisual normal, Jihan sudah duduk di sebelah Deti.
"Masih jam sepuluh Kak."
"Bagi cikinya ya?"
"Hu-um.." kata Deti dengan mulut masih penuh makanan.
Krauukh!! Krauukh..
"Lo beneran buka puasa kayaknya," tatap Jihan pada kedua pipi Deti.
Jihan biarkan Deti tersipu, gadis SMA itu ketahuan sedang kelaparan.
Bungkusan Jihan sobek. Dia turut ngemil.
Kraukh!! Kripik terkunyah dalam mulut Jihan. Krauukh..!
"Eh. Serius Kak, mau ngetes Ji Red?"
"Hu-um.."
"Gimana kalo di Endfield?"
"Gak. Gue gak mau ngadepin Liur Kadal."
__ADS_1
"Ya udah. Kapan-kapan aja. Deti juga mau ngulik tica. Biar gerakan Deti awesome."