
"Huuu-uu.. Hiks-hiks!! Mar.. ceeel..!! Huaaa... aaa.. Ya Allah. hwaahh.. haaa-aa.. "
Mar..
Se...eeell!!
Sel.. Seel.. Seeel.. Seeeel...
Dalam duduknya di ruang POV ini dengan punggung bersandar ke dinding frame, Jihan diam dan terus melamun. Dia berada dalam kesendirian yang buta, tak ada siapapun di situ selain benda datar yang masih mengurung rasa sedihnya.
Jihan pilih tinggal di kebutaan ini yang memang tempat tertutup bagi siapapun. First Person mendadak jadi lokasi khusus dalam hidupnya, yang mana komunitas menyebut FP sebagai offmind, bukan di Bumi ataupun di langit melainkan di hadapan Pencipta.
Jihan tetap menjambak poninya hingga tampak sedang duduk menopang kening dengan dua tangan.
Sebelumnya, sang lusid masih bersama si petapa saat mereka mau terjun ke lapangan, prepare di ruang pakaian itu. Dia menemukan baju dengan kalimat sebagai berikut:
Hanya butuh waktu singkat untuk membuatmu terikat
"Kaos apaan nih, boleh gue pake Beb?"
Marcel memperkenan Jihan memakai kaosnya tersebut dan sempat agak lama melihat tulisan yang tercetak di situ. Lalu di A5, keduanya segera perang melawan mesin. Tiba di waktu keduanya sudah tampak kritis, Marcel beraksi tak terduga demi kemenangan mereka; shied action.
Usai talk hero tersebut Marcel menghembuskan nafas terakhirnya.
Jihan tahu mereka dalam sebuah simulasi perang abad AI. Tapi hatinya tidak. Jihan sedih dengan kemenangan yang ada sebab kehilangan "piala" yang sebenarnya detik itu juga.
Mungkin Marcel sedang menyampaikan sesuatu untuk Jihan dengan caranya. Jihan hanya ingat tatapannya ke tulisan yang tercetak pada kaos.
Atau mungkin ada hal lain yang semisal arti kehadirannya. Karena sebelum Marcel berlatih dirinya menyampaikan dampak lain dari acara tersebut pada Jihan, yaitu mengurangi 'dorongan'.
Marcel sendirilah kelak yang akan memberitahu, atau bisa jadi dirinya yang ingin tahu soal Jihan.
Jihan ingin jadi "penyerang", lalu sambutan Marcel lebih dari harapannya karena si petapa sudah menantikannya. Itu yang sebenarnya terjadi.
Di ruang POV ini Jihan bisa sembunyikan sedihnya, terputus dari alam sadar dan dunia mimpi.
"Dih apaan sih? Gak juga. Gue baru aja close-mind."
"Dia (Marcel) masih ngalong pas nyuruh gini, Sel. Dia tau, elo gak onmind."
"Umm.. Trus dia nyuruh apa lagi tuh?"
"Ya suruh liat lo doang. Tapi gue boleh jawab kalo elo nanya-nanya soal dia."
"Oh jadi perhatian tadi tuh dari elo?"
"Dih siapa yang perhatian? Lo-gapapa tuh emang kalimat gue. Hii.. Kegeeran!"
"Elo! Sok kenal!"
"Dasar manusia."
"Elo buangan! Yee."
"Oke. Oke. Gue bilangin nih, dia lagi ada masalah panjang sama Deti."
"Tuh juga kalimat lo?"
"Ray yang bilang. Marcel pernah mogok latian pas digabut si Deti, diamond-nya. Padahal dia sendiri diamond sebenernya."
"Diamond ya?"
"Han, gue nitip sekali lagi, jangan manggil ngaran asli. Gue kena ntar."
__ADS_1
"Eh, Jhid kena apaan maksud lo?!"
Sore setelah keluar dari POV, Jihan ke minimarket yang dekat dengan rumah alias semenit perjalanan. Dia disapa seorang pemuda di mana kemunculannya sering 'kebetulan'.
Jihan segera tahu lelaki tersebut adalah suruhan Marcel, dan memang sudah pernah bertemu sebelumnya. Maka dia pun memberikan waktunya untuk Jhid, yang memang tidak bisa panjang lebar alias terbatas.
Jihan duduk-duduk sore sambil menikmati jajanannya di balkon kamar. Bibirnya tampak segar karena cicip demi cicip dia nikmati es krim coklat seadanya.
Jihan sebenarnya sedang mendengarkan lagu dari ponselnya, dia keraskan lewat speaker gadgetnya.
Setelah Jihan menghabiskan ice cream, lalu nyedot ultramilk yang dibelinya dari Hanmarket, kantong kresek itu dia korek-korek mengambil biskuit coklat. Tampak selera ngemilnya ingin makan yang manis-manis saja.
Kressh.. kraukh.. krauukh..!
Lagu berganti, yang berputar tetap sad music. Pendengarnya terlihat santai, tadinya bersila kini Jihan lipat dua lutut menyadari dinding balkon ala napi.
Krauukh..! Krauukh..
Terkesan menunggu lilin, Jihan kembali ke pose duduk lebih santai. Dia scroll-scroll koleksi lagunya sambil me-ngelapkan tangan ke baju, ada sisa coklat biskuitnya menempel di jari.
Biasanya cewek natural menggunakan tisu, berhubung Jihan yang emang instan-skill, dia pilih celana. Begitu juga saat menyeka di bibirnya, Jihan tinggal gesek ke lutut.
Jihan bersandar lagi sambil merem. Dia begitu terbawa alunan yang liriknya..
Kau seperti nyanyian dalam hatiku.. yang memanggil rinduku padamu..
"Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua.."
"Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua.."
"Hhh.." hela Jihan membuka matanya, di biarkan panggilan masuk terus berdering. "Sel.. kok masuk lagunya ya? Sayang banget penyanyi nya cowok. Hhh.. Sya lalaa.. la-la.."
Dengan galaunya Jihan mengikuti lirik lagu yang berlangsung. Tangannya segera menempelkan HP ke kuping, menjawab panggilan.
"Kamu nyari Marcel Han? Nih dia ada kok, orangnya. Bikin geger aja kamu tuh."
"Hhh.. Ya aku baru tau latian area lima ngeri trus sereal itu. Kebawa gabut, Kak. Makanya aku kasak-kusuk, dia-nya emang gak ada di kamar."
"Gue di toilet, Han."
"Hhh.. Lo mah iih maen kabur gitu."
"Soalnya tiap game over, beda ma lusid Han. Kami balik ke lamsad."
"Lamsad?"
"Alam sadar. Pas bangun gitu, gue mau onmind lagi, perut gue mules."
"Hhh.. Gue pengennya hamil, bukan mules."
"Emang tanggung jawab lo nih bayi. Lo harus ketemu ortu gue sekarang, siapa tau emak gue kaget liat temen sekolahnya."
"Hhh-hhh!" Jihan senyum bergetar, matanya seka.
Jihan dengarkan uraian Marcel tentang simulator. Dia tetap pasangkan benda gepeng itu ke telinganya, tidak loud speaker. Jihan bergerak masuk kamar, membaringkan dirinya di ranjang sambil membelit guling, sibuk menguping.
Nuu.. uut!
Baru beberapa menit, Jihan melihat layar HP-nya dengan kening berkerut, halamannya sudah di riwayat panggilan. Dia sentuh ikon horn menelepon balik nomer WA kakak tirinya. Jihan dengar hapenya panggilan tersebut tak ada yang mengangkat, hanya bunyi nada hubung.
"Low bet..??"
Jihan segera matikan panggilannya, lanjut mengetik pesan. Setelah berterima kasih, Jihan taruh ponsel di sebelah. Jihan diam, melamun lagi di situ.
__ADS_1
"Kapok ato maju ya, latiannya?" pikir Jihan. "Huu-uu.. Jahil banget sih, iih.. Hiks!"
Jihan duduk mengganti channel tv. Tampang betenya terlihat dari aksi yang ada. Duduknya yang lumer demikian adalah tanda magernya. Tapi Jihan mlirik layar HP lagi di sebelahnya, sibuk chatting dengan Ririn.
"Ck..! Sori kak.. aku ganggu dulu.." monolog Jihan, menekan tombol remote. "Mau dihamilin betulan dia ngepoin adekmu terus nih."
Setelah jam Isya ini, akhirnya pesan yang Jihan tunggu-tunggu datang. Chat tersebut berisi angka-angka 'keramat'. Jihan sembunyikan tawanya begitu membaca balasan yang ada, bahkan menjulur lidah satu kali saking kekanakan, sadar atas kekonyolannya sendiri.
Tapi happy itulah yang membuatnya mau tidur sebelum tiba waktunya. Kini Jihan sudah memejamkan mata di ranjang, badan teratur kembang-kempis dalam siklus nafas. Weekend ini hari tergabutnya, apa yang dia cemaskan ternyata Marcel tak serumit yang dipikirkannya.
"Kamu kenapa?" tanya Ririn. "Kemarin sibuk nyari, mencak-mencak di WA, minta nomer. Udah diajakin makan, kamunya diam."
"Iii, iihh.. Kak Ririn mah gak ngerti."
"Satunya lagi gini juga, Hani. Adekku. Dia bilang takut dihamilin. Gimana Kakak gak bingung?"
"Huu-uu.."
Ririn akhirnya menggandeng Jihan masuk home Marcel. Jihan menariknya lagi sebelum membuka pintu. Ririn langsung heran.
"..??"
"Tungguin, ihh. Aku belum ada kata, Kakak," rujuk Jihan, melas.
"Tapi pada asing seperti ini, kapan makannya??
"Hhuu.. uuu-uu.. Hani juga gak tauu.."
"Ya udah kalo semenit terakhir ini kamu masih di sini, Kakak beresin masakan kalian."
Saat hendak melangkah, siku Ririn ditarik sang adik.
"Aa.. duuh.. ya Allah.. Hani.. Marcel.. pliis, kalian napa jadi pada centil gini? Kalian latihan apa sih di Area Lima sampe kucing-kucingan begini? Semenit, dari sekarang."
Tanpa pedulikan wajah sedih adiknya,
Ririn segera masuk, berjalan membuka pintu usai mengultimatum.
"Hiks.." ringis Jihan.
Lima menit kemudian, Jihan sudah mengendap-endap di ruang Valdisk. Untunglah Ririn sabar hingga akhirnya Jihan mau kembali ke home idamannya ini untuk bertemu dengan si pemilik. Tangannya perlahan memutar handle pintu, detak ke detak Jihan buka dengan sangat hati-hati.
Jihan mendapati kakaknya sudah duduk membelakangi ruang kehadirannya, sedang sibuk menyuap nasi sambil manteng hape.
Di lawang pintu pun Jihan membisu. Degup jantungnya makin cepat karena ternyata Marcel tak ada di ruang makan. Jihan bertanya-tanya sambil melirik pelan ke pintu sebelahnya.
Jreeng!!
Ririn mengendikkan dua bahunya. "Astaghfirullah.. hal'adzim..!"
Sang healer terkejut mendengar dua jeritan masuk kupingnya. Dia langsung berdecak, duduk menunda kegiatan makannya sambil memijat kepala.
Walau tak melihat, Ririn sudah tahu apa yang baru berlangsung di belakangnya.
"Eerggh..!" gemas Jihan, berdiri membelakangi pintu home dengan tangan mengepal bergetaran. "Hiks..!"
Ririn masih diam dalam duduknya. Pose memijat begitu, mulai pusing memikirkan dua juri masakannya. Ririn kembali berdecak.
"Ckk..!"
-
-
__ADS_1