Jihan

Jihan
chapter up 95


__ADS_3

Bermodalkan kata vantablack, Jihan meneruskan keponya. Dia tak buka google untuk cari informasi karena beda alam database-nya.


"My bed, i come!"


Sampailah Jihan di kamar milik Mercy dan membantingkan tubuhnya di ranjang.


Jarum jam di tembok kamar berhenti. Jihan masuk kotak yang disebut point of view, penjara paling "bebas".


Di ruang kubus Jihan sudah sibuk menggerak-gerakkan tangannya, berinteraksi dengan dinding frame.


"Dirigen ato mayoret pasti tuh lusid jago offmind-nya. Ngupil doang di sini ada artinya njir."


Diit! Tiit..!


Jihan mengesekkan jari ke piyamanya beres bersihkan hidung. Monitor di depannya banyak menampilkan nama parasas, khodam, dan mahhal berinisial huruf V. Tapi saat Jihan iseng memilih Vuter, info yang muncul sendok bengkok dan peluru pelumpuhnya untuk si one foot.


"Nih pustaka lab kamu apa si Ray, Beb? Killer juga si pembuat kamus."


Jihan menyibak udara, layar pun kembali ke indeks V.


Tii.. dit!


"Ada apa dengan teks merah ini. Black tuh khan item, nih nama pembalut gitu."


Jihan menatap kata Vantablack.


Awal-awal Jihan hanya bisa menginput dengan ketikan morse kiri-kanan. Usai meeting dengan Rey tempo hari, respon frame lebih reaktif pada will Jihan.


Interaksi friendly ini menggunakan login Reinit. Jihan akan lama jika membangun metode masukannya sendiri.


Sebelum Jihan jadi lusid, ruang ini dihuni oleh sub-dewan sejak empunya gubrag fi dunya, lahir. Saat Jihan tersengat listrik Kencana, barulah Reinit minggat dari ruang ini.


Konon Reinit satu-satunya mahhal yang dapat masuk POV walau hanya di masa pra-lusid si pemilik.

__ADS_1


Rey juga bercerita bahwa interaksi atau input yang direspon frame dapat menggunakan frekuensi otak, bahkan emosi. Wilayahnya hanya di timeline sendiri dan di waktu offmind saja, dengan kendali ruang POV lusid bisa membuat alam semesta-nya sendiri, dengan ukuran seupil ataupun tak terbatas, dan size yang luas membutuhkan xmatter berbayar.


Penampakan ruang POV di mata orang kedua dan ketiga berupa bintang kecil. Bintik ini adalah suatu energi "mandiri", tidak ada penyusunnya ataupun elemennya, boleh dikatakan sumber kehendak atau jiwa seseorang.


"Waduh, nih vantablack nelen orang."


Jihan membaca detail dan mengamati visual Vantablack di monitor. Siluet dari Venom tersebut adalah anak jins. Kemunculannya tiga hari dalam setiap tiga bulan.


"Anak siluman.. Gue gak ada skill satpol ****, bukan penertib bocah telantar. Waduh nongolnya masih lama banget."


Data tersebut juga ternyata menyertakan tanggal kemunculan Vantablack, yaitu pertengahan Maret, Juni, September, dan Desember. Penampakan bulan sekarang telah terlewati, tahun baru 2022 telah datang dan berjalan.


"Sekarang Januari. Dua bulanan lagi. Ckk.. gue ngitung beras kalo nunggu gini. Hadeeh.."


Jihan pun lemas saat mengambang di udara ini. Lokasi penampakan siluman ternyata tidak terlalu khusus, yaitu tempat yang ada anak sampai usia orangtua. Artinya para Vantablack dapat mencari makan di rumah sakit, mall, pantai, sampai rumah-rumah.


"Hhh.. Beb. Aku kangen banget. Di mana sih kamu sekarang."


Satu bulan Jihan lewat dengan gabut -nya. Acara valentine day di bulan ini masih melekat kuat dalam benaknya, banyak sekali muda-mudi yang merayakannya dalam jaringan atau pun dalam real life.


"Dua minggu belakangan ini kau terus murung di sini, Eri. Saya sih begitu pula, walau ini hanya insomniaku."


Jihan menerima gelas yang Billi sodorkan, coklat panas.


"Makasih ya, Bil. Gue ngerasa kalo gue udah jahat sama Erika. Gak bisa nahan diri pas liat dia. Slrrpp..!"


Billi duduk sambil mendekap sweaternya, membiarkan Jihan menyeruput minumannya.


Billi turut duduk di tepian gedung, lalu bicara kembali.


"Kita tunggu saja tanggal kemunculan mereka. Twen mengaku akan membunuhku bila nyentuh anak-anaknya."


"Bahas Erika aja, Bil. Ngapain pake dengerin omongan napi.."

__ADS_1


"Saya tak memiliki album beliau lagi selain yang kemarin."


"Iya. Gak apa-apa. Srrllpp.."


"Eri, kau bercerita pertemuanmu dengan beliau. Aku ingin dengar."


Jihan pun mulai bercerita. Billi menatap bangunan dan kelap-kelip kota. Keduanya begadang hingga pagi tiba.


"Hoaa.. amm. Duh dah berat aja nih mata, Bil. Besok sambung lagi deh."


Ponsel Jihan kemudian berdering. Layar tersebut menyangkan nomer Helen. Jihan segera mengangkatnya.


"Mbak Gizi. Bisa ke rumah aku gak sekarang?"


"Ehh, iya Len? Gimana? Gimana?"


"Bang Hightech lagi ngejar siluman Mbak. Helen takut. Hiks.. gak ada siapa-siapa di rumah. Huuu..uu.."


"Ehh.. iya-iya.. Haduh. Tenang ya Len. Gue on the way. Ya udah iya."


Jihan pamit pada Billi sambil memberikan ponselnya. " Gue bolos dulu, Bil."


Swrrtth..!!


Jihan melepaskan jaket dan dititipkan juga pada Eri. Tubuh si gadis dirambati lapisan nano-hide alias stealth-nya.


Swuutth! Jihan ngebut, terbang ke arah barat.


"Ati-ati, Eri," pinta Billi membiarkan rambutnya tersibak angin.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2