Jihan

Jihan
chapter up 79


__ADS_3

Gliitt!


Gelang Jihan memancarkan layar transparan. Walau bukan gelang ranger, penampilannya ber-evolusi. Aksesoris tersebut kini bertambah satu lampu indikatornya. Satunya led status Sorrow, satu lagi untuk komunikasi. Lapis transparan yang terpancar itu videocall, ada nama penelponnya, tak lain Scope.


"Ehh, kok bisa?" bingung Jihan sambil melepas pelukan, mengamati bratlenya yang mirip tasbeh.


"Hamba yang jawab, Tuan."


"Nih Bratle naik level dua ya?"


"Hhh-hhh!" pundak Gizi bergetar. "Demikian."


Diitt!


Gizi berkedip, layar di situ langsung stabil. Sehingga bagaimanapun Jihan gerakkan atau menjauh, gelangnya akan tetap menyoroti layar.


"Han.. Mau bantu kami?"


Jihan sembunyikan tangannya di balik punggung. "Apaan sih?"


"Jadi kalian pada ngapain di situ?"


"Pengen tau aja urusan cewek."


"Kalo lagi pada jaga, kalian stand di situ. Nih kutu, ngerjain kami. Reply action, Han. Habis kesisir sampe kutub sini, dia balik lagi ke situ. Buaya sialan."


"Maksudnya lo minta gue jadi kiper?"


"Ah ya itu juga bisa, Han. Kira-kira seperti itu nyisir kutu."


"Kalo diem doang, kami bisa Bang. Tapi bola khan bergerak. Cara nangkepnya gimana?"


"Bukan ditangkep, tapi di gencet."


"Haa? Digencet pake apa? Kusen?"


"Bukan.. Kalo cicak bisa. Nih kutu. Sepersembilan milyar mili. Bug-nya mirip Covid 2009, njir."


"Virus kali, Bang. Bukan bug. Salah eja lagian. Yang bener, Wirid-19."


"Ya udah. Dzikir di situ ya. Biar Gizi sama Oyon yang ngiperin, Han. Matamu belum dapet liat bola-nya buat sekarang."


"Kalo misalnya Gizi gak kuat, gue musti apa?"


"Bukan. Cuma butuh sinkron daya pressure. Sisi aku, sisi kamu harus imbang."


"Hii.. jorok."


"Ehh.. maksud?"


"Hhh-hhh!!" Jihan nyengir. "Gak.. gak! Lupain. Iya, iya.. Gue tau. Aduh gimana yaa, jawabnya. Lo-nya lempeng sih kalo ngomong, Bang. Udahlah. Gue ngerti. Hhh-hhh!!"


"Sip. Oke. Bantu kami ya Han. Jangan dulu di-close radionya."


"Iya. Iya.. Sinkron apa ya? Hhh-hhh!"


"Pressure."


"Arrgh! Ahahaaa!! Najis ihh.. Hhh-hhh! Gak usah lempeng. Bisa gak?"


"Tau deh.. Ntar ajalah. Kamu deketin kutub atau stand di tengah rel situ juga bisa. Biar Gizi yang lakuin itu Han."


"Iya, iya. Kiper dah stan by. Masih di sini ma gue, Bang."


Jihan menoleh, Gizi sudah berdiri di dekatnya menghadap terowongan alias kutub. Jihan juga mendapati layar ikut meninggi, setara matanya ketika dia bangun berdiri untuk menjaga Gizi. Sekitar mereka belum nampak sesuatu saat Jihan lihat.


"Yon, kamu siap? Gizi udah. Kau yang bidik, ya? Aku males soal detail nih."


'Aku sedang bersenang-senang.'


"Kau gak tau. Orang lagi susah, you must care. Kalo gak, kau tamat dari peredaran."


'Oh, baiklah. Aku mengerti, ini harus kulakukan. Kalian mulai menyebalkan.


"Oke Han. Fixes bakal dimulai. Dengerin rules-nya nih. Kamu cukup pantau angka p-s-i di layar situ. Kalo berubah, laporin ke Gizi. Jika warnanya hijau, tuh artinya, dah sama kuat dengan kutub sini."


"Oh, gitu doang?"


"Iya. Trus kayak gini layar fixesnya, Han."


Gliitt!


Jihan lihat layar broadcast berubah tampilan jadi angka 00 psi dalam lingkaran. Tiba-tiba saja angka tersebut jadi 89 psi. Jihan segera menyebutkannya.


"Delapan puluh sembilan, Giz."


"Demikian daya Oyon."


Gizi kemudian menyentuh kuping kanan, Speaker menyembul keluar lubang seperti akar tumbuhan.


Grr.. liit!


"Toge kawat," pandang Jihan tanpa kedip pada alat satu antena tersebut.


"Hhh-hhh! Apa lagi?"


"Hhh-hhh! Conge!" jawab Jihan sambil bergetar pundak. "Detail ihh.. Aku gak kepikiran lho, Giz. Pas action se-efisien nih."


"Hhh-hhh. I agree, hhh-hhh..!"


Gizi berbalik ke arah kutub. Kedua lengan bajunya dia tarik se-siku. Jihan juga lihat, ternyata tak hanya Speaker yang Gizi siapkan, dua tangan sang mahhal sudah terlapis glove purwarupa mirip bionic hand. Saat sudah ditempatkan ke medannya si alat, saat itu juga tampak lapisan pressure ber-riak di telapak Gizi.


Didiit!!


Angka di layar fixes berubah psi-nya.


"Sembilan puluh tujuh."


Zzrrth..! Zrrth!


Dua bilah rel dekat kaki Gizi menjentikkan kilat-kilat. Anehnya tanda tersebut tidak menyengat kaki kiri Jihan yang sedang memijak.


"..???"

__ADS_1


Gejala yang ada muncul dari sepatu Gizi. Mungkin sengaja "perekat" ini diaktifkan agar pemilik sepatu tidak tergeser. Gizi terus mendorong pressure, mulai bergerak ke depan dan bunyi pijaknya menjentik kembali.


Zzriikh!!


Didit!!


"Tujuh puluh tujuh.." beritahu Jihan, mengawal di belakang. "Masih merah."


Didiit..!


"Enam puluh satu.. Warnanya oren."


Tetett!!


"Yaa, naek lagi. Jadi angka merah. Tujuh puluh delapan."


Wajah Gizi meringis saat menahan tekanan sang lapis invisible. Dia tampak seperti sedang mendorong kereta! Dua siku tangannya agak menyudut.


Didit!!


"Oke.. Sip. Enam puluh satu. Angka oren. Oke terus.."


Ctriikh!!


Gizi berhasil maju selangkah.


Didiit..!!


"Yes!! Lima puluh dua..!"


Di posisi ini Gizi diam menahan, punggungnya dicondongnya ke depan. Tadinya agak tegak untuk ancang-ancang dorongannya, kini Gizi menahan daya dorong Oyon yang juga sedang beraksi di seberang sana.


"Kuning.. tapi enam puluh nih. Ayo terus! Giz.. My Self, terus dorong."


Didit!


"Enam puluh empat."


Gizi memejamkan mata. Dua telapaknya masih bergelombang, riak fatamorgana. Mungkin ringis wajahnya tersebut sudah mirip dinding dam yang retak memancarkan air. Tapi..


Didit!


"Enam puluh.. enam.. Hi.. hijau.." gantung Jihan menatap layar fixes. "Hijau! Hijau! Giz. Dah Hijau. Tahan!"


Gizi menurut, diam di pose menunduk. Tekanan yang ada membuat riak di tangannya makin cepat, lima gelang per detak jantung normal.


Setelah Gizi tahan selama tiga puluh detik, ruang terowongan Jihan lihat memotret mereka. Awalnya titik, lalu si bintik tersebut membesar seukuran gelas, lalu seukuran panci, kemudian si putih sebesar kolam, datang-datang..


Claph!!


"Hhh... hhhh... hhh..!!" engah Gizi. "Anggap.. warna sekunder.. diaktif.. kan.. Hhh.. Laju Kencana dipercepat.. Bug pun terkejar.. tanpa sadar di arah depan.. nya.. Dan akhirnya.. tergencet demikian.."


Gizi menyeka dahinya. Jins juga bisa berkeringat ternyata.


"Jadi, tadi tuh Kencana lagi di-nost pake warna sekunder?"


"Demikian. Hhh.. Agar mudah diingat, model pedal-nya.. menggunakan warna."



"Hhh-hhh! Tentu saja. Kencana satu-satunya gate paling berumur dari portal-portal lain. Nir-drive. Dia akan kembali pada kecepatan 350 km/jam enam puluh menit mendatang, ber-reinkarnasi."


"Jadi lewat pressure ini juga disetirnya? Mirip atom di LHC, prakteknya para ilmuwan CERN, atom dibelah dengan cara ditabrakkan."


"Demikian. Namun, portal Kencana mustahil dipadamkan. Dia yang menjaga eksistensi kereta Server. Hanya Sri Ratu yang pernah memadamkannya. Namun sekarang Reynita (analog kedua) yang memegang aktivasinya.


"Uum, jadi terowongan nih mirip konektor, fisik asli antah berantah?"


"Masih dibedah para team development, sebab berupa kenangan robot. Dewan sudah mengatakannya sebagai Internal. Kita tak dapat melihat cahaya senter yang dibawa masuk ke dalam. Cahaya selain penerangan dari gerbong Kencana, tak terdeteksi mata. Hanya Lightnov yang diterima. Ada beberapa lusid mengira, Kencana ini alam-nya Utari, hanya indera pengraba saja yang menemani si pengunjung. Karena Lightnov tak bertahan selama satu bulan."


"Ngeri juga.. pas nyari jalan pulang, nyentuh yang lunak."


"Dan fixes tidak selalu harus dengan cara seperti teknik membunuh Croco. Tergantung penyebab awalnya. Telekinetik-mu suatu bug."


"Umm.. Mungkin.. will. Keluar gitu aja, Giz. Jadi udah beres?"


Gliit!! Layar berubah sendiri.


"Ehh.."


Di ruangannya, saat asyik menonton tivi, Reinit celingukan di tengah kolam. Dia mencari bekas sinar yang merubah ruangannya. Reinit juga mendapati seorang krusid sudah datang menghampiri, tapi langsung balik memunggungi.


"Welcome back Flat."


"Ngng.. Layanan HS sudah aktif Ratu."


"Oh, iya. Maaf Paman. Saya sedang dengan bikini."


"Assalamualaikum.." ucap krusid seumuran satpam, pergi membiarkan Reinit bersantai di ruang heksa mewah berjendela pegunungan.


"Iya, walaikumsalam. Flat, bawa aku ke ruang Sorrow."


Reinit meminta pada bintang kecil ke 22 yang tengah melayang di situ bersama bintik lainnya.


"Seksi banget.."


Gliitt!


Di tengah rel itu, Gizi mengedip saat tanpa sengaja melihat dua laki-laki sedang berjalan menghampiri mereka. Tontonan Jihan pun padam. Sang lusid melihat seorang pramuka berkalung SVD (bedil sniper) di punggung, dan satu lagi pemuda dengan kulit mata hitam.


"Thanks, Han. Giz. Kalo kalian tidak maen ke sini, kami terus kelayapan di re-time. Hhh.. Waktunya bakar-bakar. Kau lapar?"


Scope mengambil senapannya, dia pun persiapkan dengan cara menarik engsel. Clekh!


"Umm, lapar sih. Emang ada makanan di sini ya?"


"Banyak. Cuma pake keringet dulu, gak Kafetaria. Kalo haus.. Sono ada galon, sekalian kau tunggu di pos kutub itu. Aku mau bedil makanan dulu."


"Pos apaan? Sejak kapan.."


Jihan melirik ke arah yang ditunjuk. Gizi sudah tak ada di situ, dia sedang melambai di pintu pos mengangkat segelas air. Sementara si Mata Hitam melesat ke dekat pos, bersantai dengan ayunan rebahnya. Jihan segera jalan menuju bangunan di kiri terowongan tersebut, sementara Scope sudah bersiul pergi sedari tadi, masuk kebon. Dari pada bingung, Jihan pilih setuju pos yang dibahas ada begitu saja.


"Belum lima menit."

__ADS_1


Kabin hutan tadinya memang tidak ada di sana selain gunduk tanah berumput. Hanya dinding tembok bangunan yang ada di hutan ini. Sesampainya di rumah kayu itu, Jihan dapati ruang kabin berisi kursi, dipan tidur, meja galon dan tungku perapian. Satu-satunya perabot kota dispenser tersebut.


Beberapa menit kemudian Jihan dan Gizi sudah sibuk mengerok sisik ikan dekat kabin. Di situ Scope sedang meniup-niup asap hasil gesekan ranting kayu, membakar daun. Mereka dipaksa hidup ala anak gunung, survive, membersihkan sisik dengan batu yang pipih.


"Gak ada sungai, tapi ada ikan. Cerita apaan sih Bang?"


"Protokol. Wuuh! Wuhh!!"


"Iya, disuruh. Tapi khan kurang survive.."


"Yakin kau mau alam ganas? Markas SosCamp dulu gak di ruangan, emang dulunya itu perapian di tengah kemah. Wuuh!!"


"Terus?"


"Banyak jin. Wuu..uuhh!! Mahluk ghoib. Mereka tuh parasas di balik tubuh manusia jadi-jadian. Dia nunjuk arah kampungnya. Ya aku percaya, pas kutinggalin kemah, aku pindah masa, berada di kota wabah."


"Lo ketular dong, kena gigit zomblo?"


"Gak aku berantem sama dia (Jhid) yang bersikeras milih kemah. Udah tanggung pindah.


Masa itu belum ada perban, seeder, jadi pas dia pergi kepalaku luar biasa pecahnya. Semenit udah kayak sehari."


"Lo kok gak cerita, pas kalian nemu kapal alien di runtuhan Monas. Padahal pilotnya tuh elo sendiri, khan ikut bantu kalian nyari kemah."


"Iya. Tapi Jhid gak mau nunjukin bukti atau jejak peranku. Belum valid. Lagian mata aku gak ngabod selebar itu."


"Hhh-hhh! Parasas yang nyasarin, parasas juga yang mulangin. Dah kayak lagu Megi Z."


Srretth! Tanpa ampun Jihan menyayat perut ikan sampai muncratnya mengenai wajah Gizi.


"Ehh.. Hhh-hhh! Sori, Giz."


Gizi tetap menggerakkan tangan, dia menggunakan kukunya, sehingga banyak sisik menempel di punggung tangan.


"Di kemah juga aku pernah denger jeritan. Seolah kemah, haram aku tinggali. Titik koordinat yang aku tahu, selalu membuat lapisan masa tiap aku bakar-bakar. Tempat lain tidak demikian. Bonfire biasa siang maupun malam."


"Pada akhirnya nyampe ke sini gara-gara kalian minta cerai satu sama lain?"


"Ya, tanpa teman. Juga dikejar durasi perban. Di Inetri (terowongan) aku lihat Reinit itu Jhid. Aku pikir dia. Jadi aku abaikan."


"Tapi protokol larang elo pergi? Nih beres."


Jihan mengasongkan ikan karyanya pada Scope, yang sudah tidak ada kepalanya.


"Ya."


Scope lalu sadar benda di tangannya salah penanganan. Dia protes karena bingung Jihan menghilang bagian penting untuk panggangan mereka. Jihan ketawa melihat wajah Scope.


Mereka bertiga lanjut mengobrol sambil memanggang makanan di situ. Asapnya mengepul mengiring alunan gitar yang Oyon petik sambil rebah di ayunan tali.


Sang robot hanya sibuk dengan gabutnya, tak mempedulikan kegiatan yang ada di depan kabin. Dia menyanyi untuk bayangan grafik yang berdiri di sebelahnya, hologram Prita. Entah dia main gitar jenis apa, dua tangannya seperti sedang memegang sang benda.


"Mencintai.. dalam sepi.. dan rasa sabar mana lagi... yang harus kupendam.. dalam.. mengagumi dirimuu..


Melihatmu genggam tangannya.. nyaman di dalam pelukannya.. yang mampu membuatku.. tersadar.. dan sedikit menepi.."


Kemudian Jihan, Scope, dan Gizi mendapati Oyon lari meninggalkan mereka sambil berteriak-teriak.


"Hooaaarggh!! Hoaarrgh!!"


"..??!"


Mereka berdiri memanggil sang robot, Jihan lalu menoleh ke tempat ayunan. Di sana sosok yang ditakuti Oyon sedang mengecilkan ukuran kepala. Tak lama sang mahluk berjalan menghampiri mereka, meninggalkan Prita.


"Ck! Elo ngagetin aja, ihh."


"Kesel gue dikomporin mulu, njir," kata Sorrow dengan baju persis karyawati Hamam.


"Lo ngomong baik-baik kek.. Bangun demam nyambet orang. Lo gak liat dia koslet gitu?"


Sorrow bersilang tangan di depan Jihan. "Bagus deh. Nih awal gue merdeka. Nunjukin diri. Hak dong."


"Ck! Hadeeh.." Jihan mengusap-usap keningnya yang saturnus, dia biarkan Gizi pergi menyusul Oyon masuk hutan.


"Kau dah baikan? Uap bawangmu itu kebanyakan, Seed," kata Scope yang sudah duduk lagi membalikkan panggangan.


"Jenguk kek, kirim ping, kek.. Malah nyontek. Udah tau tuh astraler takut, malah dibaperin."


"Hhh.. Gue pilih bicara dulu. Kalo seminggu gak ditanggepin, udah positif. Oyon gak tertarik. Lo lanjut istirahat mending. Oke?"


Sorrow membuka lipat tangannya, angkat bahu dan melesat ke jari manis Jihan menjadi selingkar cincin. Zwwtth!!


Saat itu juga, lingkaran di kepala Jihan menghilang bersamaan dengan built-innya gelang di tangan. Jihan duduk kembali melanjutkan obrolan.


"Sampe mana tadi?" pandang Jihan pada Scope, kembali menaruh dua tangan di lutut, menyimak dan antusias.


"Jadi kau ada sini, kemungkinannya bakal bareng sama team dev astronom. Team Dev Bulan sudah ngebuat rekaan ngedasar dari data-data yang udah kekumpul."


"Khan gue belom sebulan jadi lusid. Disuruh nyetak Matahari, jadi yang terang di basetime tuh lilin ngepet, bukan bintang beneran?"


"Aku bilang kemungkinan kau di team itu. Gak ada kaitnya sama pencuri malem."


"Lha emang tuh bintang, chaos? Napa pake diganti segala? Udah will-nya gelap aja dulu. Kalo gagal cetak, semua lusid katarak, tanggung jawab siapa ntar?"


"Kalian sendiri yang bikin rumit. Kalo ingetan kita terus di-manipulasi, Internal bakal gak konsisten lagi sama dunia nyata. Kabur naturalnya."


"Lo serius amat. Yang penting reader kehibur. Belagu skripsi malah bikin reader katarak."


Jihan memutar kayu pegangan, membalikkan ikan buntungnya. Dia bakar menggunakan teknik jepit. Jadi menaruh panggangan di tepi agar kayu tak cepat terbakar.


"Jaga ingetan sama kayak ngejaga jati dirimu, Han. Antah berantah ini bakal terus ngerespon. Bumi dev si Romi jadi planet transformer. Cybertron. Nyiriin kalo dia Snailer sejati. Aku gak tau bumi offline-nya tuh runtuh apa gak kalo dikembangin pake matahari. Will dev-nya masuk type wander planet, bumi pengembara."


"Namanya bawah sadar, ya lempeng. Gue belum mau ngerias offmind. Biar aja polos dulu. Tuh bumi-nya si Jisas."


"Aku udah nerangin, bekas sengatan atau tato kamu tuh tanda keinginan dan kebutuhanmu. Mau peka atau gak pada tiket, sedikitnya kamu punya kemampuan kelima dewan ini, para vokal. Trus gak ada lagi lusid yang berinisial nama lahirnya A, E, I, O, dan U setelah dewan, second gen."


"Emang generasi permata siapa?"


"Mungkin human end. Alien khan akhir dari evolusi sel."


"Keburu kiamat, keduluan mahluk evolusi lain."


"Ya. Tiketmu itu bisa berarti suatu energi yang menghuni sistemnya. Kemampuan yang sesuai dengan apa yang diperintahkan untuknya."

__ADS_1


__ADS_2