
Ternyata bintik sinar yang datang itu Rey, yang memang aslinya titik terang atau bangsa jins.
Jihan pun dapat jadi bintang kecil, tapi dia harus berada ruang POV terlebih dulu sebagai kamera. Maka mau tak mau harus lewat monitor untuk melihat jalanan atau sekitarnya di gravitasi nol. Bila menginginkan gravitasi, Jihan akan terputus dari mode First Person-nya, karena ruang POV tidak bisa aktif dengan multi-will, kecuali Ayam yang memang punya mata di kiri dan kanan, atau orang kidal yang sudah terbiasa mengaduk kopi sambil balas WA.
"Type mereka multi-algoritma. Bukan robot biasa, tapi robot jadi-jadian."
Jihan menyidik informasi bawaan milik salah satu Rev-nine. Layar yang diuliknya terdapat menu mirip "remote". Ada angka 0 sampai 9, four arrow, hingga yang instant command sebagai tes cepat, semisal KATAKAN SESUATU, LARI DI TEMPAT, JOGET, CARI SEORANG BERNAMA BAMBANG DENGAN SPESIFIKASI BEGINI.. BEGITU..
"Hm.. Semua perintah ini dari chip yang gue pasang kemaren. Apa kamu yang ngulik intruksinya ya, Beb?"
Jihan melihat salah satu kolom IC berisi: TEMUI ERIKA, ALT JIHAN. Switch tap itu belum aktif, satu-satunya yang berwarna merah di antara tombol-tombol hijau.
"Kamu sering dihapus, Beb. Tapi udah nyiapin sesuatu jauh-jauh hari."
Jihan melayang menghampiri monitor, tak mempedulikan raibnya lima dinding, mungkin karena Jihan meninggalkan titik sentralnya.
Di depan layar Jihan turun sedikit agak ke sudut, mendekati "saklar" perintah-lansung yang belum aktif itu.
Tap!
Didit!
"Hhh.. malah loading. Kiraen quick response taunya nungguin tunas pohon."
Jihan mundur, menjauh dari dinding. Lima monitor lalu muncul dan masih menayangkan kondisi jalan serta lingkungan sekitarnya, muncul kembali mengurung Jihan tanpa bunyi alias silent show.
"Di luar kali yaa meet -nya?" tanya Jihan.
Jihan bingung karena status loading Instant Command masih 99,99%, yang mana sampai patung lumutan pun tak berubah.
"Ya udah. Waktunya balik ke bodi."
Tap-tip-tip-tap!
Jihan segera menyentuh-nyentuh jarinya, mungkin menginput E-X-I-T. Ruangan pun "turun" mendarat masuk ke kap mobil. Jihan dapat melihat potongan seng ukuran atom milik atap mobil di empat layar itu. Makin lama ruang makin turun masuk ke kain baju, kulit, urat nadi, daging, semua materi mikroskopis dapat dilihat di skalanya ini.
Jadi tadinya itu Jihan di atas mobil, bukan di tengah-tengah bongkah "batuan" yang sebenarnya debu dan asap kendaraan.
Sebenarnya sekitar dapat berjalan normal dan bergerak, Jihan akan seperti orang yang sedang menonton di dalam kubus. Tapi karena Jihan sedang menumpang di dunia setingan Marcel, dia hanya bisa mengaktifkan perintah yang sudah ada, itu pun hanya khusus untuk Rev-nine.
"Hoa.. mm.. Gue gak bisa nerusin tidur, Bill. Ada sesuatu kayaknya," beritahu Jihan saat duduk.
"Begitukah mimpi seorang dewi?" ragu Billi Elisa.
"Lihat aja pokoknya. Atau stop dulu nyetirnya."
"Baiklah. Saya ingin tau instingmu Eri."
Lampu sen menyala, mobil menepi dengan perlahan karena pagi ini arusnya cukup padat.
Jihan memang belum membangun dunia offmind-nya sendiri. Makanya tidak punya kendali atas lingkungan yang ada. Dia harus normal aksi dalam mencari Mercy, menyidik perintah dalam robot seeder itu.
Setelah sedan berhenti, pintu penumpang terbuka sendiri. Billi terjengah melihatnya.
"Hei, saya menguncinya sejak tadi."
"Khan, hantu."
Bregh!
Puntu mobil menutup sendiri.
Swrrtth!
Sosok pria muncul di sebelah Jihan, duduk manis menatap Billi Elisa.
__ADS_1
"Aargh!" jerit Billi Elisa. "Kau.. Siapa kau?!"
"Billi, santai. Kita gak sendirian. Dia juga nyari Mercy kayaknya. Ada di beberapa titik daerah kota ini."
"Hhh, tapi.. hhh.. aku terkejut. Hightech benar-benar nyata."
"Dah lah. Untung dah berenti. Kalo terkejut pake nabrak gimana?"
"Syukurlah, aku masih bisa melihat dengan mata kepala ini. Dan ter.. kesiap."
Jihan menaruh jari di bibir minta Billi berhenti. Yang disuruh mengangguk karena Rev-nine sedang menulis.
SIAPA YANG BERNAMA JIHAN?
Sang robot memperlihatkan tulisannya pada Billi dan Jihan.
"Gue, Bro. Dia Billi Elisa."
Robot menuliskan kalimatnya lagi dan ditunjukkan pada Jihan. TANGKAP TWEN, DI MARKAS MACAN. TUNGGU KETERANGAN REY SOAL WAKTU DAN HARINYA - Erika
"Oh, ini pesan dari beliau, Eri. Tapi apa hubungannya dengan nyonya Rey?"
"Nanti gue tanyain jam tidur."
Swrrtth!
Manusia mesin kembali ke mode stealth, membening.
Pintu mobil dibuka oleh "angin", kemudian menutup kembali oleh "udara". Bregh!
"Hhh.. Baguslah. Ini robot sekolah yang luar biasa, Eri. Akan buruk jika dia pencatat utang."
"Ya udah. Tidurnya gembel kadang ngedatengin wangsit digital kayak gini, Bill."
Brrm!! Brmm..!
Billi menyala mobil dengan gagah dan nekat. Jihan tak berkomentar ala Gizi.
"Tak ada komentar.."
Sambil menunggu mereka sampai tujuan, kita kembali ke topik offmind, membahas arus kendaraan itu tugas peliput berita.
Singkatnya, di jam syuting ada diskusi kecil tentang ruang kubus alias point of view.
"Coba, saya pengen denger pendapatmu mengenai ide saya ini."
"Di ranah offmind sebenarnya lusid bisa mengerakkan frame dalam mode Nyamuk, Pak. Scope pernah cerita tentang kelebihan offmind. Misalnya aku melemparkan asteroid ke Bumi, itu sudah terjadi."
"Kapan kita ambil adegan kamu yang ekstrim ini? Mau sekarang syutingnya?"
"Ntar aja, Pak. Belum selesai nih topiknya. Jadi kalo aku keluar dari box, dari ruang kubus itu, aku akan mendapati lingkungan sebagai garis laser tunggal yang disebut radiasi materi. Sementara dinding ruangan tersebut adalah penterjemah garis panjang itu. Di situ aku hanya bisa melihat frame pendeteksi cahaya sebab empat frame lainnya tidak dapat divisualisasikan secara authentik, paling mungkin berupa grafik."
"Terus? Aneh. Kamu yang nulis cerita atau saya?"
"Aku dapat melihat diri sendiri yang masih dalam kotak, tapi hanya bisa memutar masa lalu aku. Misalnya sebelum out of box aku jatuh dari mengambangnya alias kena gravitasi, nah aku yang di luar ruangan akan melihat "garis" frame adegan jatuh."
"Jadi inti kejadian yang ada di dunia fiksi yang saya buat ini berpondasi pada mekanisme gambar, begitu khan?"
"Iya Pak. Simpelnya keenam dinding tersebut adalah frame pancaindera, frame ke-enam nya adalah pikiran dengan sumber radiasi dari Indri."
"Terus?"
"Boleh dikatakan semua lusid itu adalah Indri mengingat kecepatan mahluk halus ini persis quantum engagement, diandaikan dengan dua titik di tepi alam semesta yang statusnya jadi A-B semula adalah B-A alias tak terikat waktu."
"Kamu lebih paham dari saya sendiri. Ya sudah. Ayo ambil peranmu sekarang."
__ADS_1
Entah mengerti atau tidak, para kru segera bercerai dari rapatnya, pada mempersiapkan alat dan instrumen pendukung syuting. Jihan kembali sibuk dirias karena ada keringat yang merusak makeup.
"Biarin kita manggil kamu dengan sebutan Erika. Toh kamu seperti beliau, nyaris hapal semuanya."
"Iya. Tapi itu belum bener. Nih perusahaan dia, Mbak. Gue tuh penumpang."
Sore hari syuting film selesai. Jihan masih harus kerja untuk syuting iklan. Dia banyak minum produk yang akan diperagakannya.
"Kita dapat artis apa onta sih? Berantakan gini studio?" komen wanita yang masih sibuk membetulkan lampu dekorasi.
"Sebelum dikenalin ke masyarakat saya biasa nyobain kalo emang bisa dikonsumsi langsung," kata Jihan, lalu sendawa. "Euuu..!!"
"Tuh kaleng gue, maen embat aja."
"Tapi udah abis, napa baru ngomong?"
Seseorang datang menengahi pertengkaran. "Nih udah jangan pada ributin produk. Gue bawa bonus banyak."
Taph! Jihan menangkap kaleng yang dilemparkan si pembawa bonus.
"Thanks, Bro. Dia baru liat Onta."
Creekh! Bunyi klep kaleng. Isinya segera Jihan teguk.
Glukh! Glukh..!
"Anak rimba.." komen si mbak dekor.
"He, udeh lu, protes mulu. Lu pasti bagian dari dua puluh persen yang nolak dia jadi Erika."
"Emang nolak. Dia cuma anak konten yang gak jelas."
"Euu..!"
"Jangan dengerin orang iri Mbak. Dia juga anyar kok. Baru setaun ngecat (dekor), bicaranya kayak gini," kata si pembawa bonus pada Jihan sambil memungut sampah-sampah.
Jihan duduk dalam diam. "Akhirnya gue ketemu juga sama mahluk Twen ini."
"Dia (Marcel) udah gak selamat," kata si Mbak Dekorasi sambil pergi.
Seksi konsumsi menegur. "He, ati-ati lu kalo ngomong, Psikopat."
"Bang. Udah, aku gak apa-apa kok. Bukan si Mbak-nya. Dia lagi sama mahluk asing."
"Dia emang sering bengong Boss, biasanya gak."
"Hhh.. pantesan."
"Mahluk asing yang pipinya kembung itu bukan?"
"Twen. Dia jins khodam."
"Wah. Bahaya kalo gini. Gawat orang sekitarnya bisa keracun."
"Gak juga. Dia cuma mau orasi ke gue doang, tapi keberhasilan dia nih palsu. Erika gak semudah itu dia hapus."
"Ouh mahluk ini ya, yang bikin Boss Erika lupa?"
"Iya. Dia banyak ngehapus ingatan pake.. ahh, gue jadi inget sama si Raven keparat."
-
-
-
__ADS_1