
"Bapaknya ngomel, Nature ikutan Aden ngomel. Jadi pas Aden meratapi nasib, sedih hati terus, Tuan Puteri kebawa gabut, Den," kata Ray lagi.
"Gam. Gue akuin emang berat kalo kita adepin mereka sendirian. Lo liat sendiri gue repot ditaktik si Raven sampe tuh muka patuk bisa kabur," jelas Marcel atas pertarungannya dengan pemimpin manusia Gagak.
"Gue emang liat lo. Eh sialan, gue kena scan, disorotin terus gitu sama mereka. Gue malah gak bisa bantuin."
"Lo boleh kehilangan Camar, Gam. Tapi kami bakal kerepotan pas udah kehilangan diri elo. Kayak almarhum yang ke depalan puluh satu (Riko) nih," terang Marcel tentang pelajaran yang terulang lagi di komunitas.
"Ya gue emang mikir ke sana, Sel. Terus juga.. Suatu saat, kalo udah ada protokolnya, Nature mungkin dah dibolehin masuk dan tinggal di basetime."
"Pasti. Sabar aja. Dan aku ikut."
Semua melirik pada Ray. Tapi selesai berkata, badan sang jins pecah. Dia hilang dengan cara mengaktifkan mode yang mirip efek jamu Citruz.
Craangg!!
"Ayo. Kalian ikut gue. Camar ngasih peta -nya, ada jalan aman ke Bukit. Tuh jalan, dia bikin biar ngirit tenaga. Lagian.. hamil gitu masih aja keluyuran."
Kwarkk!!
Krauukh! Krauukh..!
Gamma sudah berjalan sambil bercerita tentang apa yang dititipkan mendiang istrinya. Dia baru mengunyah camilannya. Gamma juga langsung dikuti Jihan dan Marcel.
"Makanya kalo dah nikah tuh, kalian mending di rumah aja, Gam. Biar gak kejejak tarzan action-nya gara-gara honeymoon di hutan. Kasian Nature dibawa-bawa," timpal Jihan seadanya.
"Fanatikan Reinit, Han. Ngidolain Srikandi (Reinita) juga."
Mereka sampai di satu rumah yang ditunggu oleh pemuda bertopeng almunium. Dia juga petugas penitipan ransel.
Jihan dan Marcel segera mengendong bawaannya masing-masing di depan rumah tersebut. Gamma dan robotnya jalan duluan, melangkah menapaki sasak irigasi, lalu tanah batuan, yang memang di ujung jalan tersebut, di kejauhan sana ada bukit betulan.
Hari sudah terik hingga tiga puluh menit kemudian perjalanan mereka terasa sangat membakar. Hamparan sawah berakhir di jarak tersebut, tapi jalan masih terbentang menembus hutan.
Di tepi leuweung itu sengatan Matahari sudah terhalang. Mereka berhenti sejenak untuk minum, beristirahat. Di situ juga Marcel dan Gamma berdiskusi membaca petunjuk jalan buatan Camar.
Jihan duduk kipas-kipas wajahnya menyimak obrolan mereka. Di tempatnya layar peta tampak terbalik sehingga dia tidak ikut membahas tanda yang sedang diributkan.
Beberapa menit berlalu, mereka melanjutkan perjalanan. Di lengkung jalanan, mereka mengambil arah baru setelah menemukan patok kayu yang telah ditutupi tanaman rambat. Di situ, bila terus mengikuti jalan batu, daratannya agak menanjak.
Dalam hutan mereka menemukan tanda lagi, patok ditancapkan dekat akar pohon yang menyembul. Perjalanan pun diteruskan, mereka menapaki tanah yang dilapisi tanaman rambat. Satu jam kemudian di tengah jalan ada petunjuk lagi, menandakan bahwa arah mereka benar, tidak salah dalam membaca rute.
"Kita mending siapin di sini bawaan masing-masing.. Di depan sana bentar lagi tanda tengkorak," ingat Gamma tanpa peduli didengar atau tidak, dirinya duduk di batu agak besar yang mereka baca sebagai tanda "patok".
Gamma dan robotnya segera sibuk dengan bawaan atau senapan mereka, mengecek isi magasin dan digantikan dengan yang full.
Jihan meneguk wadah minum. Agak jauh dari situ Marcel membalik botol sambil digerak-gerak, miliknya sudah kosong alias habis, matanya segera mengarah pada Jihan.
Sambil jalan, Jihan selipkan wadah air ke saku tas di saat menghampiri Marcel.
"Han.. Liat deh muka lo seger gitu. Duh.. udah lembab banget. Bagi minumnya dong."
"Banyak nih. Ambil sini, Beb."
"Thanks Sayang.." kata Marcel, melihat mata si teman.
Jihan biarkan tangan Marcel meraih saku tas. Dia sambut wajah yang datang menatapnya, santai mencium bibir yang ingin dibasahinya.
Marcel pejamkan matanya, membalas dengan gerakan pelan bibirnya, yang detik ini gilirannya, dengan sama lembut, teratur, agar sang lusid tak cepat melepaskannya.
Mereka memang tak mendapatkan perlakuan tersebut saat bersama Reinita atau Deti. Tampak keduanya sudah saling tahu apa yang diinginkan.
"Umm.. mph.." Jihan.
"Hm.. mmh.." Marcel.
Robot Gamma diam terpaku melihat dua gadis yang tengah slow kiss. Majikannya yang sedang mengganti-ganti amunisi senjata mendesitkan suara, tapi ternyata robot cuek, tak mau dengar.
Gamma memutar kepala robot-nya. Sengaja dia palingkan ke arah lain agar tak mengganggu acara. Barulah kemudian robotnya itu lanjut memeriksa senapan lagi.
Beberapa menit kemudian Jihan dan Marcel saling menaruh kening, mereka berdiri dalam diam. Keduanya juga mengalungkan tangan masing-masing ke tengkuk yang ada. Jihan tutup mata, Marcel pun sama heningnya dalam nafas mereka.
"Berapa lo atur skala waktu onmind, Sel?"
"Samaan kayak lusid pas ngorok di Escort.."
"Hhh-hhh! Badas ihh ngomongnya."
__ADS_1
"Di baliknya seorang sadgirl.. Nih lah gue, Han.."
"Gak apa-apa khan kalo gue ngimej Ratu di depan lo nih, Sel? Hhh-hhh! Addicted gini jadinya."
"Iya.. Gue juga baru sedekat ini ma lusid. Kayak dapet guru les.."
"Njirr.. kurang ajar."
"Napa dilepasin, Han..?"
Jihan diam mengatur nafas. Dia menutup mata hingga titik air di sudut matanya jatuh mengalir, hanya mata kanan, soalnya posisi kamera di sisi ini.
"Kita masih seranjang juga ihh.. Hiks.. Hhh-hhh! Aku juga pengen lama tau.."
"Lama gini, jamuran ntar.."
"Hhh-hhh..! Kurang ajar.." pundak Jihan bergetar, sedih, bahagia, keki, jadi satu.
"Han.. Gue ngarepin Deti nyambut gue, tapi dia gak gitu paham.."
"Gak apa-apa.. Gue yang gantiin dia sekarang ya?"
"Beneran..?"
"Iya Dindaa.. Bedain nih.. sama yang tadi.."
Jihan mendekatkan wajahnya lagi, kembali menyentuh bibir Marcel, dan itu disambut si teman.
Groaa..aarrd!!
"Raptoor!!! Larii..!! Balik! Balik cepaaatt!!"
Goaarrdh!!
Gamma datang dengan wajah panik sambil memberitahu para kisser. Lalu didapati seunit dino logam sedang meloncat-loncat di bawah pohon mengapai robot Gamma.
Jihan dan Marcel saling memunggungi. Salah seorang memberi komando saat mereka berdua di datangi lima Raptor lainnya, Marcel juga minta Jihan tenang.
"Napa dia lari..?! Kita masuk trap?"
"Ngga! Kalo nembak, timah lawan baja, gak mempan.." timpal Marcel sudah berpedang. "Gak. Kita gak dijebak. Camar udah nandain nih area pake tanda tengkorak. Terminator."
Goaarrdh!!
Ciaakkh!!
Go.. aardh!!
Ukuran keenam dino mirip tinggi Kangguru, mereka mendekati dua kisser dengan formasi sabit karena datang dari area seberang. Salah satu terminator sudah tak tertarik dengan buruannya turut mengepung Jihan dan Marcel yang memang tak aman.
"Slow.. Semua nyemburin api."
"Oh ya?"
"Ray juga bilang samber aja, Non."
"Telkin efek gak?!" tanya Jihan sambil terus waspada.
"Ngefek katanya. Tapi.."
"Eurrgh!!!"
Set..
Blu.. uuugh..
Gelombang telkin meriak dari kedua tangan Jihan bagai ikon wifi. Tampak sebelumnya kepala Jihan menghisap energi milik sekitar, citra tersebut berupa aura yang telah kosong. Akibatnya para terminator terjungkal dengan dorongan yang ada.
Saat semua Raptor mengudara, Jihan bergerak agak maju. Tangannya dia dekatkan ke depan wajah. Kepala Jihan kembali menampakkan aura tubuh yang mana kini meyebar dan terbagi enam rambatan. "Akar-akar" tersebut menuju targetnya hingga kemudian membungkus jadi aura juga.
Jihan memejamkan mata, sekitarnya gelap hingga muncul "sketsa" objek dan sekitarnya, alam blueprint. Karena Sorrow sedang menyertainya, ada teks: gak ada bautnya! Will ditolak. Ini aja, komponen dan isi terminator terpisahkan.
Tliiph..
Di saat menutup mata, Jihan mengedip tanda setuju. Lalu membuka matanya.
Gelap yang ada kembali terang, pemandangan sudah berganti sesuai keinginannya: keenam Raptor merekah pecah, terlucuti bagian-bagian tubuhnya saat melayang.
__ADS_1
Clakh.. klekh.. dettg..
Kepala Raptor yang terlepas dari leher, ditinggalkan bola mata, gigi taring copot-copot sendiri, lidah turut melayang keluar dari mulut, lalu ubun-ubun terbelah sepuluh, penutup tersebut ternyata melindungi sekilo sel organik alias otak terlapis wadah kaca sesuai bentuk. Di bawah otak banyak chip pipih berserabut kabel.
Ctiikh..
Kabel serat baja memercik kan listrik, isi dari leher Raptor. Kerasnya leher ternyata karena ditutup sisik-sisik logam, semua sisik sedang berterbangan di sekitar batang elastis ini.
Rrtth.. drrtt... klekh..
Dada dan tangan Raptor terbuka penutupnya jadi puluhan bagian. Isi tubuh terminator tak lain sumber daya (batre), wadah cairan kimia (minyak), CPU detektor, CPU gerakan, CPU komunikasi, dan bentuk belasan chip tersebut sesuai tempat serta memiliki ikon untuk menandakan fungsinya.
Klang.. tang.. pang..
Penutup paha dan kaki Raptor turut terlepas. Bagian lutut tampak sendi mirip tulang asli sang hewan. Cakar kukunya utuh, tapi tetap harus terlepas dari tapaknya.
Grrtth.. drreett..
Bagian ekor tidak begitu rumit. Bunyinya lebih keras karena kosong sekedar antena penguat dan berisi "lidi" yang panjangnya beraneka. Paling panjang adalah lidi pusat.
Grantang! Raptor A jatuh remuk.
Klontrang..! Raptor B jatuh pecah.
Printeng! Raptor C jatuh berantakan.
Klontrang! Prantaang!! Grontang..!
Tiga terminator lainnya jatuh bertebaran, bernasib sama dengan pasangannya. Semua robot misterius tersebut Jihan bongkar instan dengan telekinetiknya hingga di situ mendadak TPA.
Marcel menaikkan dua bahu sambil memejamkan mata demi suara naas yang berlangsung di depan.
"Hhh... trims Seed. Boleh deh nih juga," komen Jihan.
"Tapi.. kasian mereka," tatap Marcel, badan tampak lemas.
"Ehh iya. Umm.. Pamungkas."
"Gak disisain?"
"Ngirit keringet," jawab Jihan pasang senyum manis.
Bruggh!!
Robot Gamma jatuh dari pohon menimpa tangki minyak dan masih ada percikan listrik di situ.
Dhuaargh!!
"Whuua.. aaa..!!" erang robot F1, setelah jatuh naik kembali.
Set!
Jihan mengangkat dua tangannya. Seeder F1 langsung berhenti dari laju naiknya. Jihan turunkan dengan perlahan objek yang di-magnet, robot pun mendarat di depan para kisser.
"Thanks. Gue kaget.. liat telekinetik lo."
"Kagetnya sampe jatuh gitu sih.. Kena lempar deh," kata Jihan.
Crangg!! Marcel menutup pedangnya. Dia langsung jalan mengajak yang ada.
"Sel, gak nunggu Gamma dulu?"
"Dia depan lo. Transbody jurusnya," beritahu Marcel sambil menyeimbangkan badan melewati besi dan baja-baja.
Jihan menoleh pada robot, diam menatap wajah Ironman .
"Dia bener. Biar lo kenal gue. Yuk?"
"Hhh.." Jihan mendadak loyo.
"Ehh. Kenapa?" tanya Ironman.
Jihan mengendikkan ranselnya, kemudian pergi meninggalkan tempat. Dia abai dipandangi si pemuda. Jihan lalu ditanya ulang untuk kedua kalinya.
"Han! Lo kenapa?"
"Gak ada perjaka!"
__ADS_1
-
-