
Setelah semua paket dipindahkan, Jihan kembali ke dipan empuk. Dia khawatir jika malam nanti hujan turun merusak kardus, sekarang sudah aman untuk ditinggal tidur.
"Nih barang bener-bener gak jelas, udah kayak gue. Hoaa.. mm.. Sampe besok ya temen-temen," akhirnya Jihan pamit tidur pada stok makanan tersebut.
Drrhhh..!!
Kini tinggallah bunyi genset, benda yang sempat disebut piaraan digital itu masih beraktivitas. Padahal di situ pun suaranya saingan dengan tonggeret.😁
Pagi ini, seperti yang diduga, ada paket baru. Isinya perabotan rumah yang bisa dibongkar pasang pas gempa dan banjir.
Tak hanya paket misterius, di situ pun Jihan kedatangan tamu. Ada tiga orang asing turun dari heli. Dua laki-laki, satu perempuan. Salah seorang berpakaian label perusahaan Erika. Logo hurufnya E mirip ikon dollar.
Untunglah, jam 09:00 ini Jihan sudah bangun dan sedang masak-masak daging ham buat sarapan selesai menata perabot.
Saat melamun sandwich itu dia mendengar suaranya bising baling-baling di udara. Helikopter perusahaan tersebut kemudian turun agak jauh dari kemah Jihan.
Wanita dan temannya menghampiri kemah, disusul pilot helikopter yang ber-PDL perusahaan mereka. Ketiganya datang menemui Jihan, menyalami si gadis rimba yang sudah bergaya pemenang undian.
"Saya Billi Elisa dari Erika Korporasi. Divisi pemasaran. Ini mas Bambang. Yang ini Asep, divisi antar jemput."
Jihan dan pria itu berjabatan, lalu Jihan juga menyalami Asep yang katanya pilot khusus acara luar kota.
"Oh aja. Silahkan duduk Mbak dan Mas Mas."
Mereka duduk di kursi lipat yang pagi tadi Jihan atur dan tata. Tanpa diduga-duga hari ini perabot anti gempa dan banjir bisa mengundang tiga tamu yang tampaknya penting.
"Ada apa ya Mbak?"
__ADS_1
"Nona Giziania, tenanglah. Kami ke sini hendak merekrut kandidat, kami ke mari berdasarkan wasiat dari Bunda Erika."
"Oh. Begitu ya? Terus apa paket dan perabot di sini tuh mau dipakai pemiliknya ya? Maaf sudah saya pake dan tinggali. Karena di sini kadang hujan. Robot-robot pengirim pergi gitu aja beres nganter dan naro paket. Kebetulan saya tinggal di pantai sana, lagi nyari makanan. Saya tanya, tidak ada tanggapan dari perusahaan."
"Kami minta maaf atas ketidaknyamanannya. Sebenarnya kami pun bingung, penasaran dengan sosok pemilik para Hightech ini. Dia mengaku bernama nyonya Reynita, berbelanja onlin dengan dana cukup besar di merger kami."
"Reynita..? Jadi paket-paket ini bukan punya perusahaan ya? Tapi punya nyonya tajir itu?"
"Beliau berpesan untuk tidak membicarakannya pada Anda. Ini karena sesuatu menyangkut Twen, pemburu hadiah dari luar Bumi. Kami sungguh tidak berhak menyidik privasi customer. Semua paket ini telah dibeli, dan hanya ada keterangan untuk Giziania."
"Oh iya. Siapa Giziania?"
"Hah? Jadi bukan Anda?" tanya Billi Elisa, agak suprise.
"Giziania itu memang saya Mbak. Tapi bisa jadi khan, ada orang lain yang punya nama samaan. Dari mana perusahaan Erika tau, kalo saya Giziania?"
Jihan duduk lemas. "Hhh.. aku.. aku.. gak tau lagi disorot kamera.. sumpah."
"Tampaknya nyonya Rey diam-diam membidik Anda. Inilah channel-nya."
Asep yang sedari tadi sibuk pencat-pencet laptop mempersiapkan laporan, menghadapkan monitornya ke arah Jihan. Di situ sedang diputar tayangan youtube yang merekam hari pertama Jihan mengumpulkan kayu dan juga menggebuk kepiting.
"Njir.. ini emang gue. Gembel planet."
"Silahkan. Kami sekaligus hendak survey lapangan untuk mengajukan kontrak brand kami pada Nona Jihan."
"Ehh, kontrak?" tanya Jihan, beralih fokus demi tawaran yang ada.
__ADS_1
"Ini juga wasiat Bunda. Beliau sudah menuliskannya sebelum pergi.. um.. menghilang. Entah. Kami berharap Nona tahu keberadaan Beliau."
"Coba.. Ngng, boleh saya lihat Bunda Erika?"
Billi Elisa meminta Asep membuka sebuah dokumen. "Sep, tolong tunjukin album family.."
Setelah Asep mengutak-atik file super-hidden, agak lama karena bukan file sembarangan dan hanya Asep yang tahu.
"Seperti petunjuk mimpi nih, Bil. Akurat banget," kata pemuda ini.
"Udeh buka, liatin ke artis kita," pinta Billi Elisa.
Asep membalikkan kembali laptop itu ke arah Jihan. Seorang yang disebut Bunda Erika ternyata masih muda. Foto tersebut persis Marcel, membuat Jihan menatap lama dengan mata bulat.
"Ya Allah.. aku.. lemes.. gini liat Erika."
nb:
😁 nyulik foto lagi
-
-
-
__ADS_1