
"Baiklah, Helen. Saat kamu bicara pada Hightech, gunakan pesan tersurat ya. Detektor getarnya berfungsi, tapi dia masih belum mau berkata-kata."
"Huu--uu.. Iya."
Awal tinggal di kota Ragnarok, Jihan belum mau sedekat ini dengan warganya. Dia hanya peduli Marcelina, ingin terus bersama orang yang setara dengan ratunya itu. Warga kota telah melihat survive si gadis di hutan angker, membuat Jihan tidak pede. Berawal disenggol gadis bernama Mercy, Jihan tak berhenti memikirkannya, karena ternyata Mercy jelmaan dari Erika, seorang Queen Ragnarok.
Jauh hari, bulan-bulan sebelumnya, Jihan merasa cukup dengan qorinnya yang memang halus dalam bicara dan bersikap. Dufannya ini kemudian sulit ditinggalkan saat Jihan mengenal jins lajang superbaik bernama Reinita.
"Gue belum sebaik Ratu kalo kalian sebut begitu, ya Dayang-dayangku."
"Mbak Gizi ada dua ya, trus jin asli juga? Mau atuh Mbak aku dengerin Gizi ngomong."
"Wani piro lo, Helen?"
"Jiah matre," kata Helen yang ikut naik minibus perusahaan, dua temannya duduk di sebelah Jihan menyimak obrolan.
"Kak Gizi. Khan multi talen kalo akting. Gak cuma pinter berantem. Filmnya seru, tapi lucu kalo Kakak asbun."
"Aduhai. Hamba senang sekali mendengar betapa dekatnya kita berempat," ucap Jihan meniru aksen korinnya.
"Dih..??"
"Hihi. Beneran persis jins kesayangan mbak Rei. Lagi dong Kak."
"Tuan Puteri sekalian, ketahuilah bahwasan Sri Ratu menyanyangiku daripada pekerjaannya. Hamba merasa.. umm, alangkah nyaman bersamanya."
"Wauw.."
"Horee.."
Plok! Plok..! Plokh!!
Ketiga bocah bertepuk tangan. Jihan hanya bisa ketawa mesem aktingnya langsung diultahkan. "Haha.. haa.."
"Bener ya, kayak Kak Gizi yang satunya."
"Iya, Cik. Anget banget kayak Jahe."
"Sekarang giliran gue nanya ya. Kalian beneran percaya, kalo gue tuh Erika?"
__ADS_1
"Lilis sih gak tau. Tapi kalo gak salah, katanya beliau pioner E-coin. Awet muda dan masih belasan taun."
"Kalo pendapat lo apaan Cika Seksi?"
"Cika.. ngng, kurang hapal berita bisnis Kak. Hehe."
"Tapi lo tau khan wajah Erika?"
Cika angguk-angguk. "Hm.. umh."
"Itu Erika asli. Gue tuh kawe-nya. Cuma kanebo kering."
"Kalo Helen sih.. nyesel gak tau banyak soal Ibu Eri," sela Helen tanpa dipinta.
"Dia anggun khan ya? Gue suka dia."
"Waah.. Kak Gizi orang deketnya ya? Kita bisa selfi sama beliau, Mbak."
"Hhh.. sayang sekali.. Dia lagi diincer jins jahat sampe ngedadak ilang gini."
Jihan sedikit lemas.
"Gue anggota komunitas ini, Dayang-dayangku. Kami lagi butuh dia (Marcel)."
"Emangnya ada apa gitu?"
"Dunia ini lagi labil."
Mreka sampai di halaman parkir hotel wisatawan. Dua panitia dari sekolah tiga bocah itu sudah menunggu, lalu berterimakasih pada Billi dan Jihan.
Selama seminggu sejak mendapatkan foto penampakan mahluk misterius, Jihan sibuk searching berita online mengenai topik serupa. Jihan lemas karena tidak menemukan artikel itu, kebanyakan berita tentang dirinya.
"Hhh.."
Di kamarnya ini kemudian Jihan mengetap nomer Helen.
"Iya, Mbak Giz?"
"Hel, gimana? Ada gangguan gak?"
__ADS_1
"Belum kerasa lagi Mbak. Padahal Helen udah gak giat belajarnya."
"Itu mantra sesat. Gak ada ubungan sama nih Venom."
"Hehe. Helen janji kok bakal nelpon Mbak, kalo mahluk ini muncul lagi."
"Oke. Siap. Jangan lupa tetep belajar ya."
"Hhehe. Iya mbak Guan Xiatong."
Dua bulan berlalu, di sela-sela kesibukannya Jihan mengunjungi penjara khusus jins. Dia belum menyerah bertanya pada Twen tentang mahluk hitam yang dikepo.
"Lo tuh nyolot amat sih, Manusia. Udah gue bilangin juga. Denger, lo bisa lepas gue sekarang buat nyari vantablack yang lo tanyain."
"Vantablack? Maksud lo warna yang nyerap cahaya itu khan? Gue baru denger nih mahluk punya nama keren yang sesuai."
"Ckk! Lepasin gue!"
"Vantablack ya? Bagusan Venom, Twen. Sekarang lo boleh santai sambil Venom Arak."
Jihan menutup laci makanan untuk sang napi. Dia biarkan ruangan Twen dikotori lagi oleh makanan yang diberikan.
Praang!
"Gue gak mau di sini, Manusia!"
Twen berteriak setelah melemparkan jatah makannya. Namun Jihan telah menutup pintu lobi.
"Yes! Gue dapet info, Beb. Muach!"
Jihan mencium hapenya yang berwallpaper Marcel. Beres merekam ini, dia berlari centil ala bocah kabur dari gedongnya lewat sogokan.
nb:
beberapa bab ke depan, novel akan tamat ya. udah ngebet pengen nyambung ke AN: Diary, Reader ku Sayang😭
-
-
__ADS_1
-