
Jihan membawa Mercy ke tenda para staf PH. Di lokasi ada beberapa montir kamera, Bambang ada di situ, sibuk mengobrol dengan kru bengkel.
"Pak Bambang," tegur Jihan.
"Oh iya. Saya lupa ada janji," sadar pria botak ini. "Gue ke kantor dulu Bro."
"Oke. Siap," kata teman Bambang.
"Ayo kita ngomong di tempat saya," ajak Bambang pada Jihan dan Mercy.
"Tunggu Pak. Saya sih cuma nganter dia nih pak Bambang. Tadi tuh dia keluyuran nyari-nyari bapak. Taunya Bapak nongkrong di sini."
"Iya. Saya masih bingung sama keamanan lokasi. Mau sewa pada mahal. Saya tanya-tanya dia (montir kamera) makanya. Ada tapi gak bisa turun sekarang. Kudu ngajuin sebulan."
"Oh mau sewa orang toh, buat jaga tempat ya Pak?"
"Iya. Ayo Boss. Anda rekomended security."
"Lo nyebut gitu terus ke gue, Bambang. Gue jadi inget tabung gas liat elo."
"Anda punya aset di sini juga Boss."
Jihan biarkan Mercy pergi mengikuti Bambang. Matanya menatap punggung Mercy.
"Pakeannya elit gini. Kayak mafia tapi bawaannya wangi surga."
Jihan sudah kembali ke baraknya. Di dalam tenda dia mencari informasi dan profile medsos Mercy. Hasil pencarian google, Jihan hanya menemukan berita-berita perang antar geng dan mafia kota.
"Njir.. pantes aja mahal. Nih kota mafia."
Klik!
Jihan menyimpan foto Mercy yang dipotret paparazi. Posenya sedang menyedot minuman. Judul berita di situs tersebut: TERNYATA DI SINI TEMPAT NGOPI RATU GOTHAM.
Teng! Teng! Teng..!
Jam kerja kembali berjalan ditandai lonceng. Jihan pun beranjak keluar tenda. Dia berpas-pasan dengan tim rias di luar. Salah seorang membawa kostum Jired.
"Mbak katanya suruh pake ini. Buat adegan di gedung."
"Oh jadi Jired? Ya udah sini bajunya."
Belasan menit kemudian, Jihan berakting kembali di depan kamera. Badannya dikait pada kawat baja. Jihan diharuskan mendarat, lalu setelah sukses mendarat Jihan bicara pada lawan aktingnya.
"Dah lah, itu jijik tau. Manusia kalo laper tuh kasih sate, bukan jari cewek. Pergi dari sini, Buta Huruf!"
"Oke. Take off!"
__ADS_1
"Haa? Beneran udah kena Bang?"
"Udah sip. Gak perlu ulang."
Kru lapangan kemudian membantu Jihan melepaskan kawat dari pakaiannya. Lokasi syuting tidak benar-benar di gedung, melainkan papan hias dan banyak layar hijau di situ.
Adegan berikutnya adalah fighting. Jihan berkelahi dengan lawan aktingnya yang sama-sama lincah dan penghapal, meniru gerakan dari coach.
Tiga jam kemudian, pekerjaan selesai. Jihan keringetan dan sudah duduk beristirahat di kursi tunggu. Hasil take-nya sedang diperiksa, jadi belum boleh pergi. Mercy tiba-tiba datang dan langsung duduk di kursi kosong.
"Ehem.. keren juga," kata Mercy, tampak akrab.
"Ehh, kamu. Hehe. Makasih. Udah beres meetingnya ya?"
"Hhh.. Udah."
Jihan turut menghela nafas. "Kamu juga keren. Apalagi pas bawa senapan listrik."
"Brimob maksud lo?"
"Bukan. Pasukan khusus."
"Oh."
"Oh aja ya?"
"Hhh-hhh. Aku emang gak jelas. Kita ketemu di depan tenda kasir, di tempat konsumsi."
"Bukan itu maksud gue."
"Terus?"
"Hhh.. Kayaknya kita pernah ketemu deh."
"Emang pernah. Hehe.."
Mercy diam melamun. Jihan menatap tanpa berhenti dari happy. Mercy seperti tengah mengingat-ingat.
"Ada meeting apaan sih sama pak Bambang?"
"Sewa orang. Gue. Soalnya nih wilayah milik orang-orang Naga."
"Oh. Terus, aku boleh bantu gak?"
"Hhhh.. gak usah. Lo fokus aja sama jadwal. Orang-orang gue mau ke sini, mulai kerja jagain perimeter."
"Ya udah. Napa masih bingung?"
__ADS_1
"Gue nyari orang. Namanya Erika. Lo Jihan khan?"
Jihan diam tak bicara. Raut bersalah terpancar di wajahnya.
"Erika familiar dengan sosok gue. Tapi beneran, gue masih bingung."
"Erika tuh kamu, Mer."
"Terus?"
"Ada suatu hal yang nutupin ingetan kamu. Ini bukan realitas sebenarnya, tapi simulator."
"Nah iya. Soalnya gue lupa-lupa inget. Ling lung. Apa bener ada kehidupan di luar sana? Misalnya alam mimpi."
"Hei.. Kebalik. Nih mimpi. Di luar sana kenyataan. Kamu punya ngaran Marcel di luaran sana. Seorang petapa."
"Maksud lo, gue siapa?"
"Marcel. Tapi Mercy juga keren kok."
Mercy mengandeng Jihan keluar dari studio. Di tempat agak sepi, Mercy mengeluarkan sebuah kalung. Jihan mengernyitkan keningnya.
"Apaan nih?"
"Ini yang gue pikirin. Lo mungkin tau."
"Nih tuh.."
"Yaa?"
"Nih tuh.. surat tanah, Mer."
"Surat? Ngapain mereka ngejar gue, bukannya surat tuh banyak di kantor pos?"
"Hhh-hhh! Gimana yaa.."
"Gue serius."
"Kata Heart, si jantung permanen, kamu harus nyari senapan."
"Heart? Siapa dia?"
"Bahasa kasarnya sih, dia tuh peramal."
-
-
__ADS_1
-