
Jihan tidak sadar ada yang mengikuti di belakangnya. Barulah ketika tiba di atap gedung PH, Jihan mendengar beberapa pijakan turut mendarat.
"...?!"
Jihan yang baru menaruh tubuh Twen di depan pintu tangga yang bersebelahan dengan lift, melirik ke belakang. Kupingnya agak ditutup dengan tangan, mungkin "kurang sinyal".
"Rey..??"
Suara kaki-mendarat tak jauh dari situ, tapi tidak ada yang aneh saat diperiksa. Satu-satunya yang aneh jelas kuping si gadis.
"Apa karena kuping gue dua ya?"
Jihan segera kembali fokus ke Twen yang masih tidur. Sang khodam disandarkan ke pintu tangga. Jihan lepas jas putihnya, ditutupi badan Twen dengan baju tersebut.
"Kayak ada roh yang ngikutin gue, mungkin nih anak buah lo. Pegangin, biar nih selimut gak terbang. Oke? Bilang o az ya kan."
Jihan meletakkan tangan Twen ke bagian perut. Dia juga menepuk-nepuk pipi Twen selesai bicara. Jihan lalu segera berjalan ke lokasi bunyi roh.
"Walaikumsalam. Bos kalian mau diinterview. Jangan salah paham. Gue bukan tukang rukyah. Jadi tolong kalo mau protes, mending ngomong aja. Kami nampung saran dan kritik kalian."
Swrrtth! Swwrrrth..! Swrrtth!
Tiga sosok pria muncul, mereka kembar. Jihan langsung lemas dari tegangnya.
"Hadeh.. taunya kalian. Gue belum ada kasbon, jadi gak ada receh yang wajib dicatet sekarang."
Mereka ternyata manusia mesin, para Hightech. Salah satunya kemudian menghampiri Jihan.
"Ya..??"
Srtt! Srtt..! Ssrrt..!
__ADS_1
Sang robot menulis sesuatu di buku sakunya. Kemudian dia tunjukkan pada Jihan. Pesan tertulis: TERIMAKASIH NONA JIHAN ATAS BANTUAN ANDA.
"Tapi.. umm, gue bingung. Taro di mana nih khodam? Kalo dimasukin ke piso tadi, belatinya positif jadi nisan gue."
Sang terminator menulis lagi. Srrt! Srret!
ADA RUANGAN KHUSUS DI BAWAH GEDUNG INI. BIARKAN KAMI YANG URUS TWEN.
"Ummh. Ya udah bawa deh ke sana. Pas gue bingung gini, kalian nongol tepat waktu. Hoaam.. Apa Billi.."
Cting..!
Bunyi lift terdengar.
"Jiah baru gue omongin, orangnya nongol."
Billi melangkah menghampiri Jihan, petugas yang datang bersamanya berjaga di depan Twen yang masih terkulai. Si petugas siaga dengan pistol di pinggangnya.
Billi Elisa lalu balik badan mengamati Twen dari sini. Dua robot sedang sibuk mengangkat dan menaruh Twen di punggung robot satunya.
"Saya ngedenger beritamu Eri. Kabar itu membuatku keguncang lagi. Untung gadis di halte itu bukan kamu."
"Hhh.. Elo udah banyak lembur ketimbang gue, Bil."
"Berita itu membuatku stres lagi. Banyak sekali kekerasan di Ragnarok."
"Kalo emang lagi stress, lo udah ada temen. Tepatnya, ada saingan."
"Oh benar sekali. Saya inget asalmu, Eri."
"Karena anak hutan, gue berani kok minum karbit asli."
__ADS_1
"Sudahlah Eri. Arak tidak lagi menyembuhkan. Sebaiknya kita tidur."
Billi yang berpiyama pergi meninggalkan Jihan. Dia masuk lift dan diikuti petugas.
Para Hightech sudah membawa Twen terbang, dibawa turun ke taman belakang.
Jihan menutup mulutnya yang sudah menguap-nguap.
"Hoam.. mm."
Beberapa menit kemudian, di kamarnya ini Jihan sudah rebahan dan memakai piyama. Di tiduran, rasa kantuk yang tadi menyerang seakan sirna. Jihan belum dapat menutup mata di depan ponsel yang terus ditatapnya.
"Aku jealous kamu satu plot sama Rey di sana. Mana harus nunggu durasi ijazah lagi di sini, Beb. Tiga bulan sih aku sanggup. Nih tiga taun. Hhh.."
Jihan bicara pada hapenya yang menayangkan foto Marcel. Dia swap layar, ada wajah yang sama. Jihan mengeser layar berikutnya, ada Marcel lagi yang sedang berkacamata.
"Rasanya pengen manggil pake nama asli kamu itu, Sel. Hhh.. Tapi kamu minta aku diem dulu. Ya udah. Kapan-kapan gue tanyain kalo kita ketemu nanti. Aku bobo dulu yaa.."
Chups!
Jihan barulah bisa pulas usai mengecup layar hapenya. Benda mungil itu dia taruh di dekat kepalanya. Jihan tak bergerak lagi di pose memeluk guling, nafasnya sudah teratur keluar masuk alias nyenyak.
😘
-
-
-
__ADS_1