Jihan

Jihan
chapter up 69


__ADS_3

"Aku setuju kita bangun di waktu subuh saat urusan selesai," kata jins berkuping alat satu-antena ini, selalu memakai Speaker.


Ternyata Qorin-lah yang mengatur skala waktu, yang berarti masih mode flexi. Jadi berapa pun lama waktu di abad tujuan, sampai tua nanti Jihan akan kembali muda begitu bangun di gerbong.


Sedangkan rentang Escort ke Timeline berjarak lima menit.


Sebenarnya dari Snail ke tubuh Jihan di kamar, jarak waktunya dapat kurang dari semenit, karena kemampuan pikiran dan bawah sadarnya.


Namun Jihan belum tahu banyak tentang soulator atau will-nya. Dia hanya memegang dasar dari kemampuan aneh-nya itu sebagai tanda yang ada pada animasi. Sementara menurut Reinita kemampuan tersebut dari indera ketujuh, alam bawah sadar Jihan sendiri.


Zwiiitt..!!


Selesai bicara, sang mahhal menjelma jadi Bintang Kecil.


Set!


Bintik Sinar melesat masuk tubuh majikannya, ke gadis yang selalu pakai piyama setiap onmindnya.


Dengan cara demikian, Jihan sedang double onmind, tidur di alam mimpi. Sebuah layanan baru di Snail bagi para lusid.


Escort dijalankan karena ada lusid yang pernah tersesat hingga ke luar basetime, ke jutaan tahun mendatang, dari tahun 2021 ke jaman gedung berjalan.


Jadi dengan adanya Escort, Kisye tidak perlu cemas lagi jika nanti ada lusid baru, sang junior tidak perlu bingung lagi dengan pregisternya sendiri.


"Kok gak seperti di rumah? Aku gak jatuh pas nutup mata. Di Escort, aku kayak napi dibangunin panci jatoh."


Demikian. Sebagaimana ivi (internal voice)


Kemudian, kameramen menyorotmu kembali setelah hamba masuk ruangan


Spear akan selalu membangunkanmu demikian di kala kau telah mengedipkan mata saat terpejam


"Gaya, pengen dipanggil pake eyemark segala," komen Jihan, membicarakan tongkat stenlis yang sedang dipegangnya.


Tak ada komentar Tuan Giziania


"Kita ke mana dulu ya, Rin?"


Hamba follow-up only, Tuan


"Minion atau Paris, ya? Apa kita ke LHC aja gitu? Soalnya di lab si Bekeul ada banyak mayat mutan sama paradok. Tuh jejak tempurnya siapa ya, Rin? Kamu tau?"


Teman-teman kita Tuan. Deti dan Nautri


"Oh ashar tadi si Deti juga ada ya? Di mana dia sekarang?"


Mengajar di Endfield bengkel, Tuan


"Apa Ghost juga masih di sana?"


Demikian


"Mereka pada ngapain sih ngumpul di sono, Rin?"


Menunggu kita, bertemu Jilect


"Hii acara gak jelas ditonton. Hhh," hela Jihan kemudian, langsung gabut karena dirinya tak hanya ditunggu paradok, teman-temannya pun sedang menantikan dia.


"Nina, Diandra, di sono juga khan?"


Keduanya masih bertugas, satu di gua McWell (Nina), satunya lagi di Minion (Diandra)


"Oh iya, aku belom ketemu si Bonin. Kita ke gua McWell aja.


Spear, lakuin tugas lo," pinta Jihan, akhirnya memutuskan tempat tujuan.


Balon besar yang mengurung Jihan, menambah kecepatannya.


Spear yang mengendalikan gelembung tersebut, tidak ikut menggasing karena Jihan akan terpelintir si tongkat. Tangannya selalu 'dikunci' oleh handle, karena Spear sekali dipegang tak dapat dilepas selama di perjalanan.


Dari kegelapan ruang, muncul jutaan keping dimensi. Ada yang besar ada yang kecil, dari ukuran kuku sampai selembar kartu, semuanya dihisap dari ruang hitam, dan turut terbawa oleh rotasi gelembung.


Nguu.. uung!!


Dilihat dari luar kurungan, atau disorot lewat kamera Spear, di situ ada garis, rusuk-rusuk kubus. Pada enam lapisan tersebut pun ada cetakan, mirip retak-retak kaca, tapi polanya tampak teratur. Di situlah tempat semua kepingan, lokasi 'parkir' pecahan-dimensi yang tengah mengorbiti Jihan.


Spear mulai menembaki lapisan tersebut dengan 'peluru-pelurunya'. Oleh karena di ruang hampa, suara yang ada hanyalah dengungan. Jika bisa didengar, mungkin mirip bunyi mesin jahit.


Nguu.. uung!


"Thanks.." ucap Jihan setelah didaratkan, berjalan kaki begitu lepas tangan dari handle.


Ada menara di kejauhan, langkah Jihan menuju padanya, arah utara.


Tiap turun atau keluar, penumpang belum ada yang protes soal titik drop-nya. Kenapa Kisye, sang kondektur, tidak mengawal lagi?


Kisye mungkin kerja di belakang layar, karena ada masinis yang bingung saat mau buang air, dan dia harus bantu mengawas laju Snail.


Bagaimana jika nanti Spear menaruh penumpangnya di permukaan laut, tercebur? Pastinya Kisye murka pada Spear, Jihan sendiri pernah mencekik sang handle. XD


Swuu.. uung! Bregh!


Jihan terjengah saat seseorang jongkok mendarat, langkahnya menapaki tanah berumput, baru melewati satu pohon, dicegat dan nyaris beradu jika dia tidak berhenti.


"Ehh..?"


"Your welcome, Kakak Judes.."


JREE.. EEENG!


Sang pencegat berdiri dengan dua mata menyala terang. Dia hadir lagi.


"Nin??"


"He-hee.."


"Hei, anter gue ke Enfield. Habis itu kita by one."


"Lo serius?" tanya gadis ini, bersetelan orang kantor, pakai dasi dan girl in black pun kacak pinggang. "Heu??"


"Liat aja, ntar."


"Gue mo liat sekarang."


"Gak di sini."


"Di mana?" Nina langsung antusias.


"Di Endfield-lah," tanggap Jihan ke lawan bicara. "Sekarang lo gores nih ruang-waktu, pake tangan lo itu, trus kita masuk ke balik lapisannya."


"Tau dari mana?" tanya Nina yang sudah bermata normal sejak kekeh centil-nya tadi, membiarkan Kunang-nya melayang-layang di sebelah.


"Insting gue ngomong gitu, Nin."


"Gue emang bocah, Judes. Tapi gak bisa, lo tipu.."


Nina balik badan, pergi meninggalkan Jihan.


Sat set.. sat set.. sat set!


Taang!!


Kepala Jihan miring ke kanan dihantam Mjolnir hingga lapisan proteksinya terlihat.


"Anjrit.."


Jihan biarkan video efek barusan, dia memanggil Nina sambil lanjut berjalan. "Nin! Nina..! Tunggu Bonin. Nih, penting banget."


Setelah berjalan agak jauh, Nina akhirnya berhenti. Dia sudah mirip penjaga yang menolak disogok, tapi mungkin masih bisa dibujuk.


"Nih penting Bonin. Soalnya secara gak langsung.."


Jihan berhenti bicara saat Nina menadahkan tangan. Dia langsung bingung. Saat bertanya soal isyarat tersebut, Nina tetap diam menatapnya.


"Sumpah. Gue gak bawa duit, Bocah. Apaan sih maksud lo ini?"


"Maju dikit sini," pinta Nina, badannya melangkah mundur sambil menggerakkan tangannya tersebut.


Jihan menengok ke belakang, karena mungkin temannya sengaja kepo demi keselamatan mereka. Tapi di belakang hanya lapangan stepa, hanya ada penerang dan pinggiran hutan.


Diminta jalan, akhirnya Jihan segera menurut, berjalan menghampiri Nina.


"Apa sih, gak ada apa-apa juga, Bonin! Nih gue, Jihan, temen lo."


"Mana?" tanya Nina begitu Jihan sampai.


"Apanya?"


"Masalah elo. Katanya lo ke mari karena penting, Judes. Mana buktinya?"


"Ouh," sadar Jihan atas sesuatu. "Dasar Tengil. Bilang kek dari tadi."


"Ya nih gue masih nampan. Elo emang bukan penyusup, tapi gue juga lagi gawe, ngamanin lokasi ini. Tetep, harus ati-atilah."

__ADS_1


Zwaatt! Jihan mengangkat satu tangan, muncul layar canggih berisi foto paradok membawa Bola Naga.


Kini gantian, Jihan yang kacak pinggang, membiarkan layar arsipnya bertengger di udara dekat kepala.


"Nah tuh elo paham maksud gue apa," kata Nina lagi, tak kalah serius.


Prok! Prokh!


Nina menepuk dua kali. Tanda konfirmasi atau aplous, hanya Nina yang tahu.


Zwaatt!


Ternyata tepukan Nina untuk buka file. Ada layar transparan yang berisi foto Hisend, bagian dari Server. Jihan lihat dalam arsip tersebut banyak lemari harddisk, dan salah satunya kosong tidak memiliki Bola Naga, pustaka Riko.


"Server kita bolong, Judes. Gue denger sub-dewan udah tenang."


"Valid. Trus?"


"Mending lo langsung tanyain Kak Marcel."


Zwiiitt! Layar menyusut jadi Kunang saat Nina berbalik pergi, meninggalkan Jihan lagi, Kunang mengikuti.


"Dia harus rest time, Nin," sambung Jihan, menjajari langkah temannya.


"Lo tau, di sinilah dia sadar. Ditipu paradok elo, Kak. Cucu-nya juga mati di sini."


"Gak Bonin. Prita udah respawn, dia gak bener-bener mati."


Nina tak menanggapi, Jihan membiarkannya terus bergerak ke perapian kemah.


Mereka menghampiri bonfire yang sudah terlihat dari situ, di mana ada beberapa anak lain yang malam ini ikut patroli bersama Nina, dan mereka sedang duduk menghangatkan diri sambil mengobrol.


"Lo kenal mereka khan, Kak?"


Nina berhenti, Jihan pun ikut berhenti, matanya teralih pada api yang sedang dipakai memanggang ikan. "Si Wallet ngapain?"


Jihan baru sadar yang dia lihat dari jauh ternyata bukan api asli, tapi burung Phoenix. Dan robot Nina cuek persis ayam Jago yang sedang dikomentari pembelinya.


"Ah, madame.."


Belum selesai dikepo si Wallet, Jihan terjengah mendengar logat suara yang dikenalnya. "Ehh.."


"We are here, Madame," kata pemuda Prancis dengan wajah berseri-seri.


"Elo khan.. You are?"


"Yes, Madame.. We are here."


Si pemuda duduk kembali memanaskan ikan. Dia menepuk bahu temannya di sebelah, yang disuruh segera berdiri dan hormat pada Jihan.


"Si!!"


Jihan lalu melihat yang lainnya satu per satu. Benar saja dugaannya, kedua wajah lainnya yang didapati adalah para penjaga pos di kamp Refuge. Mereka ikut berdiri setelah menaruh Arc, senapan yang sedang mereka bahas.


"Si, Madame!"


"Si..! We are here."


"Wah iya. Hahaa.. Umm. Welcome back, Guys. Yes i am Jihan."


Jihan balas sambutan mereka, balik hormat menaruh tegap jarinya dekat alis sambil menahan haru. "Hiks.."


"Please stand here okay..?" pinta Nina.


"Si..!!" sahut ketiga pemuda, bersamaan.


Jihan menurunkan tangannya. Mereka mengikuti dan segera duduk kembali, lanjut menggosok-gosok senapan.


"Hikk..!"


Jihan hampir tak bisa berkata-kata melihat mereka berempat. Nina tak berkomentar selain turut diam di sebelahnya. Jihan segera menyeka pipi.


Nina melangkah kembali, meninggalkan Jihan tanpa suara. Tapi Jihan tahu dan menoleh.


Jihan bergerak, jalan kaki mengikuti Nina, karena menara gua McWell sudah kelihatan dari sini.


Menara anti-radar dikenai oleh cahaya penerangan dari tenda-tenda di halaman depan gua.


Lagi-lagi Jihan tertegun. Sesampainya di pertengahan kamp, sambil berjalan slow mo, dia tengok kiri ada orang-orang tengah duduk makan dalam satu meja, Jihan tengok kanan ada pakar gen berserta kru-nya sibuk menyinari mata seorang mutan. Sebagian besar sudah berbaring tidur dalam tenda masing-masing dengan kasur gelar.


Mereka yang ada di sini, wajah orang-orang yang pernah Jihan lihat di Paris, orang eropa.


Jihan abai dengan kedua pipinya yang sudah dibasahi airmata, menangis atas kondisi mereka. Wajahnya lebih sendu dibanding ketenangan yang dia dapat.


Nina berhenti di depan mulut gua, berdiri menunggu Jihan yang tertinggal di belakangnya.


Sementara tampak di situ, gua sudah mereka segel dengan pagar seng. Terbaca di depannya, ada sebuah pesan: under contruction.


"Hikk, hiks.."


Jihan terlihat menyesal di mata sahabatnya.


Gliitt..!


Sebuah kacamata menutup pandangan Nina, sengaja dilakukan.


Jihan dapati Nina jadi lebih ensentrik dengan pakaiannya yang full office, lalu menoleh ke samping. Di dekat mereka ada pohon yang sedang disandar seseorang.


"Gue mau lanjut bangun kamp di dalem, Kak. Gate Endfield di sono," tunjuk Nina lagi ke arah pohon, menggerakkan kepalanya.


"Hikk.. Thanks. Gue nitip mereka ya Nin. Hikk-hiks!"


"Gue juga minta lo konsen di arena. Dian masih gawe sama garis-garis pergerakan, nyari McWell, udah gak di Tanah Air. Trus nih tempat udah anti paradok, Wallet yang bikin.


Dewan lo kayaknya mau nyampein hal penting juga, Kak."


Wuutts!


Nina langsung pergi masuk gua. Jihan yang masih membersihkan wajah, hirau gerakan tersebut, segera berjalan menghampiri Enik.


Jihan biarkan dewannya menatap saat melangkah datang.


Pose Enik memang selalu santai, dia masih bersilang tangan sejak memperhatikan mereka.


"Lo baik-baik aja?" tanya sang dewan begitu Jihan tiba di depannya. Suaranya yang pelan dan perhatian persis nada suara milik Nike Ardila, melankolis.


"Hikk..!"


Jihan buru-buru menggangguk cepat. Namun dia justru menyendu saking tak tahan menyimpan rasa sedihnya. "Uhuuhu.. huu..Hikks"


Enik menghela nafas melihat lusid-nya menangis menyeka wajah, tangisan Jihan menambah dalam ketenangan di wajah manis miliknya. Enik pun diam menatap, menunggu Jihan.


"Huhuu.. Uhuh!"


Enik juga membiarkan garis vertikal di dekatnya, gate tersebut yang Jihan minta pada Nina. Namun sang dewan tak peduli. Mata sayu-nya tetap mengarah, memperhatikan Jihan.


"Hikk, hiks.. Ma..makasih, Mbak.. Uhuh!"


"Gue nerima protokol yang kelihatannya ngelangitkan diri lo, Han."


"Hiks.. Uhuhuu.."


"Namanya juga novel fantasi."


"Hiks! Hikk.."


"Hal yang gak membumi nih, beredar di genre-nya sendiri.."


"Hiks.."


Suara tangis Jihan mereda, berhenti dari larut kesedihan-nya.


Enik menatap Jihan tanpa hirau rasa pegal di dalam bahu. Dewan ini tetap tenang seperti warna pakaiannya.


Enik mungkin dulunya seorang karyawati, milik sebuah toko yang paling sepi, sudah terbiasa pegal.


"Maksudnya, Mbak? Hiks-hiks.."


"Lupain. Kiraen apa. Gue ngikutin siar si Uut barusan."


"Oh."


"Hhh. Gue udah bilang, kerjaan kami pada aneh, Hani."


"Jadi.. Ke mana sedih Jihan tadi, Mbak?"


"Ada, tapi penulisnya dah gak kuat ngimej ati elo itu."


"Jhid?"


"Siapa.. lagi? Ngaran dia paling deket sama nama pengarang."


"Jins kurus."

__ADS_1


"Emang bukan sapa-sapa. Tapi perhatiannya lagi fokus ke elo sekarang."


"Gitu ya?"


Enik kembali menatap Jihan. "Gue balik ke panti ya, Han?"


"Pantes.. Jihan dikenalin sama tokoh Marcel. Eh, iya.. iya.."


Enik ber-opacity, diam mengabaikan tubuhnya tranparan.


Jihan lihat dewannya masih saja santai bersandar. Tidak tepuk kulit saat nyamuk menggigit, tidak mengucek mata saat mata perih, seperti yang pernah dilihatnya saat touring. Pertama kali bertemu pose Enik pasti begitu, jika bukan bahu, dia bersandar punggung.


"Emang siapa ya gue, pake diperhatiin.." lamun Jihan setelah Enik hilang di situ. "Nih plot lagi ngarah ke si Marcel."


Garis yang diabaikan sejak tadi, turut Jihan lamunkan. Tapi tatapan sang gadis tak begitu lama. Jihan jalan menghampirinya.


"Sedih hilang, gue pun datang.."


Srrkh..


Tanpa ragu lagi, Jihan sibak lapis sobekan. Tampaklah di balik situ daratan gelanggang, lantai dari logam yang cukup luas dan lega. Endfield.


Tapi begitu Jihan sudah melangkah masuk, tidak ada suara suporter menyambut.


Apa cara masuk dengan kangkang itu salah? Karena panjang garis sayatan memang tidak sampai ke permukaan tanah, seperti garis di kain karet.


Grrrth!!


Sayatan 'portal' terhapus. Garis merah menyala itu tampaknya menutup sendiri saat Jihan berdiri memijak lantai Endfield.


Jihan tetap tenang, mengabaikan space close tersebut. Karena tidak hanya itu yang ada di arena, ada mayat yang sudah terbaring menggenaskan di dekatnya.


Pakaian si jenazah adalah piyama yang dikenakan Jihan.


Si gadis mengawas tribun penonton sambil mendekati mayat terdekat. Benar, memang ada mayat-mayat lainnya yang serupa di gelanggang maut ini. Jihan tampak bergerak berhati-hati, ada banyak tanya memenuhi kepalanya, bagaimana para pendahulunya mati.


"Apa emang gue..?" tanya Jihan, menatap wajahnya sendiri yang sedang melotot.


Jihan juga menendang lemah tangan mayatnya. Sang mayat masih diam, sudah tak ada gerak sisa. "Diapain sampe putus gini tangan lo, Jim?"


Sepi. Jihan tunggu, mayat tetap bisu. Darah di situ sudah agak kering. Entah sudah meninggal berapa lama, sejak kapan mereka ada.


Apa Jihan akan bernasib sama seperti mereka, atau pemandangan tersebut hanya sebatas dekorasi?


"Napa lo belum ngetik to-be-continue.. pas gue gini, Jhid?"


Jihan bermonolog sambil terus mencari-cari dengan pandangannya.


Agak jauh dari mayat pertama, terdekat kedua di posisi Jihan, tampak mayat di sana utuh, bersimbah darah.


"Please, mayat baru," harap Jihan, ternyata sedang mencari waktu terdekat dengan jam datangnya.


Jihan menghampiri objek temuannya sambil pasang kuping alias pura-pura lengah, matanya mengekor. Dia juga selalu nyeker di mana pun selama onmind, jadi mirip orang sedang tersesat di alam tidurnya.


Sampai di tempat tujuannya, Jihan tak juga mendengar suara yang dianggapnya sedang mengintai. Dia menoleh ke belakangnya untuk memastikan keadaan dan ragunya. Arah tersebut, aman.


Mungkin di atas. Area udara pun Jihan dapati masih sama, tetap menampakkan langit malam. Enfield ibarat kapal yang melenggang di ruang angkasa. Di sini tampak putih karena arena di cahayai pagar lapangan, bibir ke enam tebing cukup benderang menerangi lantai Endfield.


Jihan jongkok melipat satu kaki. Dia lalu memposisikan wajah mayat ke hadapan. Sang mayat ternyata masih wajahnya sendiri. Jihan menghela nafasnya, dia dalam matinya tidak menutup mata, nanar saat meninggal. Dia lalu melirik perut, sumber ceceran darah.


"Hhh.. Sama aja, dah pucat."


Jihan raba, merogoh isi perut jenazah. Hadeeh.. Jika tanpa skill psikopatnya, Jihan mungkin takkan melakukan acara mirip ngobok air tersebut. Dia


Apa yang sedang dipikirkannya? Mungkin Jihan sedang mencari Pnin. Mayat tersebut meninggal karena kehilangan organ tubuhnya. Lewat situ, Jihan bisa tahu seberapa bahaya jika korban minta bantuan Luna.


"Duh gak disisain gini. Emang udah steril dari Pnin. Tapi napa cuma lo yang diginiin..?"


Jihan menyusutkan tangannya ke lantai Endfield, jejak pun terbekas di situ. Merah segar. Walau tak sepenuhnya bersih dari darah, Jihan segera bangkit berdiri membiarkan tangannya kotor.


"Apa si Bonin salah buka Endfield gitu? Nih lahan dah kayak namanya.. gue telat."


Kembali Jihan mencari mayat berikutnya, menyapu pandang ke sekeliling. Yang kedua ini letaknya di jam dua, timur laut. Sedangkan mayat pertama di arah jam tiga alias timur-nya titik Jihan datang.


Seperti yang disangkanya, ada mayat ketiga terdekat di posisi Jihan. Yaitu arah utara.


"Napa pola mayat pada ngatur gini?" tatap Jihan ke objek yang ditemukannya.


Jihan segera melangkah menuju mayat terdekat itu, yang sebenarnya agak jauh. Tapi belum berapa lama jalan, dia sadar ada bunyi lain mengikuti gerak langkahnya. Jihan segera melihat kakinya, matanya langsung membulat.


"Sejak kapan.."


Jihan memutar pundak, melihat bagian bawah di belakangnya, memeriksa pemilik tangan yang memegang kakinya.


"Nature," sebut Mayat Perut dengan seringai gigi dan mulut berliur merah darah.


"Jilect?"


Set!


Jihan segera mengayun kaki ke depan, melemparkan bebannya.


Gebrugh! Jihan justeru malah jatuh seperti terpeleset.


Si gadis kebingungan, karena tidak menindih tubuh yang mencekal kakinya. Jilect sudah tidak di bawahnya saat Jihan lihat.


"Hhh.. Slow. Gue gak papa. Tetep fokus," ucap Jihan, menahan diri dan masih diam dalam rebahnya yang di topang dua siku tangan.


Swrreett!


Sebentuk badan hadir di depan Jihan ala wadah yang diisi pasir. Setelahnya tampaklah gadis yang disebut Jilect. Dialah mayat yang perutnya dikobok Jihan tadi, kini tubuhnya utuh. Kunang yang tengah melayang di dekatnya jadi perhatian Jihan.


"Jilect, lo gak mikir, kita lagi di mana?"


"Namaku terdengar kampungan. Kau sebut apa diriku?" tanya Jilect, sudah jongkok menatap wajahnya.


Tampaklah perbedaan, mana yang berias dan mana yang belum didandani. Pakaian mereka sama, piyama favorit, batik ungu. Namun Jihan satunya berambut sebahu.


"Jilect, Jihan Lectrin alias klepto."


Jilect berdiri. "Sebut aku Nia, Jihan."


"Bucin. Gak ada sebutan itu lagi buat kita, Jil."


"Tidak, Jihan. Kami telah lama bersama."


"Kami siapa maksud lo? Hahaa! Lo sama suami orang, Jil."


"Ya. Kenapa?" tanya Nia, tetap di posisinya, tenang membiarkan Jihan berdiri.


Jihan pun sudah berdiri untuk diskusi lebih lanjut dengan Nia. Keduanya berjarak satu tangan. Tapi Jihan tak langsung menjawab pertanyaan Nia, melainkan ngajak salaman. Dia menyodorkan tangannya.


"Damai. Kalo gitu selamat buat kalian," ucap Jihan, berseri-seri.


"Cabut magisnya."


Set!


Bugh!


Sekali tendang Jihan terbungkuk mental ke belakang, mengerang usai Nia bicara pada bintik sinar alias penyerta-nya.


Bruugh..!!


Jihan jatuh agak jauh dari Nia, dia meringis, memejamkan mata.


"Aagh.." lenguh Jihan terbaring bersama rasa pegal di perut. Tangannya memegang namun rasa ngilu di situ tetap terasa, membuatnya tak ingin berdiri. "Uhuukh..! Uhuk!"


Darah pun tersembur dari mulut Jihan, tetesannya memercik ke wajah. Bibirnya kini basah oleh cairan, pendarahan dalam.


Nia yang datang melayang, segera mendarat di samping Jihan. Korban masih rebah kesakitan, Nia jongkok melipat satu kaki, mengeluskan ujung jari ke dagu Jihan.


Srrllpp!


Nia mengecap darah yang ada di ujung telunjuknya dengan tenang. Jarinya kembali bersih.


"Ya," lirik Nia pada bintik sinar di samping yang masih melayang-layang. "Dia telah mengonsumsi Citruz-nya. Ini lebih manis dari sebelumnya."


"Uhukk! Ohokk.. Uumgh.. Hikks!"


Nia meraih bahu Jihan. Posisi korbannya sedang bungkuk Udang, memunggungin. Namun begitu menyentuh, tangan Jihan menepis. Akhirnya Nia memilih berdiri.


"Jadi untuk apa kau ke mari Jihan? Kau sama saja seperti mereka ini," kata Nia membicarakan mayat-mayat yang ada. "Berlagak Nature."


"Lo diperalat.. uhuk.. lagi dibutain.. Balikin.. tuh.. pustaka.."


"Itu kalimat mereka juga, Jihan. Dasar para anj*ng."


Nia meninggalkan Jihan. "Membusuk sajalah."


Di sini, tampak punggung Jihan berguncang begitu Nia pergi.


"Uhuh.. huhuu.. Sakit ya Allah.. huu.. hu."

__ADS_1


__ADS_2