Jihan

Jihan
chapter up 51


__ADS_3

Peron Snail sama sekali tak mirip pinggiran atau trotoar, merupakan ruang seukuran lift, tempatnya memang tak berpintu. Semua peron terletak di timur stasiun-heksa (ruang besar segienam), alias di arah jam tiga ruangan.


Ada dua peron. Persis sepur kereta, sebelahan, yang artinya lift kanan tempat kedatangan, yang kiri tempat untuk masuk ke dalam gerbong. Lantainya, yang juga datar ala kaca, memiliki empat lingkaran sebagai status muatan maksimal.


Lingkaran yang Jihan pijak warnanya sedang aktif, merah, tanda peron tengah ditempati, lingkaran tersebut sedang terpakai. Sementara tiga keset lainnya masih hijau, atau sebut saja sedang pasif.


Peron Welcome beda dengan versi Goodbye (di sebelahnya), tak memiliki dinding-sentuh atau loket, hanya ada kaca bening, yang memagari lokasi dari laju Snail.


Sepertinya Jihan sudah pernah berkunjung ke banyak stasiun.


Di tengah aula terdapat nama Soulatorium, sesuai 'mantra' teleportasi yang diucapkan.


Jihan segera pergi dari peron Welcome, melangkah lurus melewati 'gapura' (selalu di tengah, karena di antah berantah hampir semua mungkin alias asal-asalan).


Dan di lima dinding lainnya, tiap stasiun pastia ada pintu-potret dan pintu-geser, tapi komunitas menamakannya blizt (kata yang sudah umum). Kisye juga pernah cerita pada Jihan, lempeng datar banyak terpasang di tiga markas mereka, Snail paling utama alias memiliki jumlah terbanyak, sebab markas satu ini merupakan lingkaran.


Lingkaran cakupan bidangnya lebih luas dari pada segidelapan dan persegi. Maka dianggap penting oleh komunitas dan jadi ikon Snail.


Claph!


Perut Jihan persis lampu kamera, menghapus keberadaan empunya di lokasi.


Gelap yang mengurung Jihan, menempatkan penumpangnya ke lab yang berisi banyak layar transparan pengorbit gelembung besar.


Si gadis piyama tiba di Soulatorium.


Jihan biarkan lokasi sepi, ada dua pengunjung lain yang sibuk mengobrol agak jauh dari blizt.


"Nih orangnya lho.."


"Kaliatan lebih muda dari gue, Guru."


"Dia datang sendiri."


Sang murid meninggalkan gurunya.


"Jihan!"


Baru lima meter jalan kaki, yang dipanggil langsung bingung. "Ehh."


Jihan dihampiri si Pemanggil ketika menoleh.


"Hai.. Gue Nautri. Elo dateng sama Rinjani khan? Deti Rinjani, si Telecard."


"Oh. Gak, Tri. Umm.." pikir Jihan, garuk kepala. "Gue nyeker. Sendirian ke sini."


"Ahh.. sial. Samaan," kata Nautri sambil lihat kakinya. "Kita emang.. sudah kayak penghuni asrama, yang ngalong di sekolahannya."


"Onmind. Kalo ngalong pake topeng, nunggu di atap gedung."


"Peronda Gotham. Oh gini. Gue harus ketemu si Librarian Gambit. Terus.. Itu guru saya. Kata guru, lo Lady of Light. Siluman udara."


"Kalo alay sih.. iya. Tapi siluman, umm.."


"Hei, Han," sapa Guru, datang dan ikut nimbrung. "Gue anter elo ke spot deathflat."


"Ehh," tegun Jihan menatap wajah yang tak asing di hadapannya. "Mbak? Mbak Prita?"


"Buyut gue yang mengutus kami ke sini. Elo lagi nyemasin jins yang pernah nyuruh pas lo megang biografi mantan. Tapi, itu masih kata buyut."


"Siapa emang buyutnya Mbak Prita?" tanya Jihan dengan wajah makin kepo. "Tuh prediktor ulung kayaknya. Iya. Gue mau ke spotter. Gabut banget sama pilihan gue yang nilep aset server. Buyut Mbak lagi diganggu cewek Saturnus khan?"


"Hhh.." hela Prita, berubah galau. "Gak penting Han. Gue duluan ke spot. Ntar juga lo tau."


Prita meninggalkan Jihan dan Nautri.


"Kalian astraler? Gue suprise njir," tanya Jihan pada Nautri setelah menatap Prita.


"Tapi gue baru ke Snail. Di luar sana ada apaan ya? Pengen muter-muter jadinya."


"Main hall. Di sono peron. Emang lo masuk ke sini lewat apa?"


"Ngikutin jejak kaki. Tau-tau gelap, trus udah di sono," lirik Nautri ke tempat dia dan Prita menunggu.


Claph! Cahaya kilat menerpa mereka, menampakkan gadis SMA, berpiyama batik. Deti mendapati mereka juga.


"Apaan nih? Ragnarok-nya betul. Kejadian," gumam Jihan memandangi Deti, bukan takjub tapi komentar soal ramalan.


"Kak!" panggil Deti segera datang begitu diam melihat Jihan.


"Lo ngapain onmind?" tanya Jihan setelah si teman sampai.


"Deti mau.. Ngng.."


"Hah? Siapa lo..? Deti??" tatap Nautri, berkerut kening demi kupingnya yang dimasuki nama barusan.


"Be.. betul. Ke.. napa ya Mbak?" gagap Deti yang sedang di-layangi kunang-kunang (tica).


"Hei.. gue pikir seumuran Guru."


Nautri meninggalkan tempat, melangkah ke arah Prita pergi, dipandangi lawan bicaranya.


Jihan dan Deti saling pandang setelah Nautri agak jauh. "Dia pikir elo janda, De. Gue setuju banget."


"Huff.. " tenang Deti, menarik nafas dan agak ditahan. "Hhh. Deti mau scan tica. Ada yang bisa dikulik buat meringankan massa tubuh Deti Kak."


"Khan bisa langsung, anywhere lewat jins elo."


"Haa? Emang bisa Kak?"


"Gue ubah letak tiket pake lemari kamar, De."


"Haa? Lemari? Emang bisa..? Gak harus ke mari maksudnya?"


"Aduh," bingung Jihan. "Kiraen.."


Jihan mengaruk kening, agak menunduk, tangan satunya kacak pinggang. Sadar dari sesuatu.


"Mungkin driver Deti belum bisa Kak. Ngapain ke lab kalo ada yang mudah sama praktis. Masuk Jan.."


Set! Slaph!


Kunang Deti melesat ke layar apung terdekat, lapis transparan jadi tampak terisi, bergrafik absurd usai bintik sinar larut di dalamnya.


Zwiiitt! Zwwaat..!!


Kaca apung menyusut dan mengembang, tanda sudah dikendalikan sang tica.


"Nama dia kayak cowok," komen Jihan. "Jan.. da Rinjani."


Deti sudah sibuk memandangi layar transparan yang dihuni tica-nya, diam dalam duduk.


"Lo tadi ada yang nyariin. Kayaknya pengen belajar maen kartu Yugioh tuh. Pas elo dateng, Nautri malah pergi."


Deti bersandar ke pagar pelingkar, ke pembatas area. Bola Bening di belakang situ bagian tengah Soulatorium, turut bisu seperti Deti.


"Kalo gue mau nge-boost catetan. Rasanya, rada gak tenang. Itu yang bawa gue ke sini."


Deti tak menjawab, fokus sentuh-sentuh lempengan halus di depannya yang selebar monitor laptop.


"Hhh. Sori.." hela Jihan, mulai tak enak didiamkan lawan bicara. "Kalo gue udah nyinggung lo. Janda bukan berarti sendiri lagi. Tuh janur dua maksudnya."


"Nama tuh doa. Udah ih, gak usah dibahas.."


"Amin."


Jihan balik badan, melangkah pergi menyusul Nautri, tak menggoda Deti lagi. Anak yang diganggunya kini tengah menatap lama.


"Dia gak tau yaa.. aku pura-pura sibuk?"


Si Teteh ini baru kenal sama kamu. Sepertinya greget ingin melihatmu marah


"Tertular Kak Marcel.." tegun Deti, memandang punggung Jihan.


Jihan sudah seperti orang yang sedang ditunggu untuk rapat penting, jalan dengan agak cepat. Maka tak lama setelah melewati layar-layar apung, Jihan tiba di utara lab di mana ada Prita dan Nautri.


"Eh Mbak. Gue di sono bikin kacau khan, kayak Lectrin, jadi buruannya PBB?"


"Dah baiknya cepat. Ricek deh Es En yang nentuin fakta paradok. Kita lihat dulu Smoke Note lo."


Jihan menghampiri dinding di situ, ada banyak slot ukuran kartu ATM. Dia sentuh salah satunya. Taph!


Nama pada slot tersebut tertera teks; Diandra.


Glit! Kaca aneh tiba-tiba muncul mengisi legokan.


Syuut!! Selapis layar apung ditarik masuk ke spotter, lokasi colekan.


"Katanya kayak jam. Gak ada jarum ato angka gini," pandang Nautri pada spotter Diandra tersebut.


"Emang polos Tri. Bening. Kalo pengen liat isinya, harus diguncang dulu. Asepnya ntar keliatan, trus nampilin angka."


"Lusid jadi paradok. Astraler jadi mutan. Gue pengen keluyuran di negeri kajajaden, soalnya nih alam.. jadi kiamat.."


"Dipatrol gak bakal finish. Gue touring seminggu.. lupa lagi. Gak ada urutan atau peta fisik. Banyak yang penting emang."


"Hhh.. Ri, biar dia konsen dulu," sela Prita, menghela nafas.


"Upss. Kalo gitu gue ketemu Deti dulu Guru."


"Sana," ucap Prita agak dingin.


"Makasih. Lo konsen baca ya, Han."


"Iya," jawab Jihan menatap lawan bicara hingga kepala-nya diputar. "Minta guide ke Deti aja touring-nya ya, Tri."


Tidak ada sahutan, Nautri sudah menjauh.


Saat melirik Prita, Jihan turut diam menunggu. Wajah Gadis Pasus seperti orang ngambek Jihan lihat.


Prita masih berwajah bosan, resah, dingin, seperti orang tengah dibebani segudang perintah dalam tugas yang sedang diemban. Dia tetap bersilang tangan, tak balas melirik Jihan.


Rasa penasaran makin menjadi, Jihan lebih gelisah dari Prita saat benda yang mereka tunggu membisu.


Prita menghela nafas menenangkan diri, sementara Jihan kacak pinggang melototi spotter, ada aura tipis warna biru menyelimuti tubuh sang lusid.


"Lacak. Lo mesin canggih.. cepat.. Lacak paradok.. di abad mereka, secepatnya.."


Krakh..!


"Dah. Valid. Meteran rusak.." kata Prita, berdecak sambil meninggalkan tempat. Wuutts!


"Haa..?" pandang Jihan, ternganga bingung melihat deathflat-nya retak. "Kok ngaruh ya?"


"Lo salah naro.." beritahu Prita yang sudah jauh, bicara lewat radio.


"Ehh."


Jihan tambah kikuk mendengar telesound barusan.


"Innalilah.. iya, aku nyentuh kotak si Dian. Kirain Smoke Note bisa dikinetis ke sebelahnya, Rin."


Saranmu sudah ditampung driver labora berkenaan dengan pemindaian dan dering koreksi


"Hhh.." lemas Jihan. "Benar katamu, jangan dipamerin. Aku malah terburu-buru pamer. Jadi hiburan deh akhirnya."


Set! Jihan melesat.


Ckiit..!


Sang Jet berhenti di depan blizt, lalu menyentuh kaca hitam tersebut. "SosCamp," ucapnya, dalam hati.


Claph! Perut Jihan menjadi berkas cahaya, blizt membuatnya jadi seperti kilat.

__ADS_1


Di tempat tujuan, Jihan mendapati Prita.


"Anggap gue Kondektur Snail. Ngawal elo, si Objek Future. Bukan ngeralat sejarah. Sori harus jaga point, ngebiarin blue-aura lo mancar."


"Gue dateng khan Mbak? Yuk, kabur ke Server," ajak Jihan pada Prita saat tiba di markas besar SosCamp-nya.


Jihan melangkah duluan menuju ke bawah gumpalan awan besar, dibuntuti Prita. Mereka abai beberapa lusid menatap dan bersiul memanggil.


"Rin sama gue jarang saling suruh pas urusannya sangat penting," cerita Jihan. "Tadi waktu di Minion tuh, Qorin kayaknya mikul kontener, jadi gue bantuin dia bawa tuh soulator. Soalnya berat kalo tica dah diekstrak. Beratnya buat orang, kayak berat lokomotif-diesel."


Jihan tutup pagar elevator dengan menge-tap layar, kaca fences yang bisa ditembus penumpang pun lalu berubah jadi harder, padat. Glit!


"Ada protokol taunya. Tuh tica harus dikasih ke Ratu, ke pengurusnya. Nah.."


"Dah dah," pinta Prita, buru-buru memotong kalimat Jihan, memintanya diam.


"Iya Mbak. Gue yang ghoib tuh malah bawa kabur soulator. Kejadiannya pas mau ke hangar, pas ngobrol sama Mbak itu, ngedadak khan.. gue diem, kayak orang linglung. Nah itu tanda paradok kerealis. Tapi ada yang skip adegan. Dihapus mungkin."


"Hhh..!"


Taph! Tip-tiph!


Jihan sentuh-sentuh monitor lift.


Ge-jligh..!


Mereka segera dibawa naik. Jihan dan Prita saling diam dan bediri sebelahan. Mereka tak saling bicara, alias sedang menunggu.


Mata Jihan mengekor. Dia seperti ingin bercerita banyak, namun tampak sungkan.


Prita lagi-lagi pasang sikap dingin, menyilangkan tangan dalam fokusnya bertugas. Yang Jihan kenal, sang agen orangnya antusias, tapi kini Prita yang di kamp Minion sudah hilang. Astraler satu ini seperti memendam rasa kecewa yang dalam pada lusid di sampingnya.


Gumpalan asap diorbit beberapa sinar 'bohlam', dimasuki dua penumpang lift.


Bola-bolanya yang mengorbiti Labirin, tembus saat jalur orbitnya mengenai tubuh Jihan dan Prita. Ikon SosCamp tersebut merupakan ingatan dari seunit robot Im V Un, juga sebagai pintu masuk ke Server.


Robotnya memang ada di mana? Sudah dimusiumkan di gudang khusus, telah dipisahkan dari 'hardisk'-nya. Acara touring yang Jihan jalani hari itu masih sangat banyak, sehingga tak bertanya lebih dalam soal Labirin.


Jihan tak begitu kaku lagi menjelajah, tak lagi dipandu jins-nya.


Tapi ketika ada orang baru, orangnya tidak ada mau mendengar promosi Jihan.


Prita mungkin sudah hapal tentang alam yang mereka diinderai.


Karena sang teman masih bete, akhirnya Jihan ikut diam dibawa menghening-cipta begitu.


Tegh..!


Ceklik..! Selesai mengangkat penumpangnya, memasukkan mereka ke Labirin, elevator turun kembali tanpa muatannya.


Di lorong atau perjalanan menuju Server, sekeliling Jihan hanya berupa dinding dengan enam rel vertikal, dan juga merupakan lubang heksa sesuai bentuk lantai-besi yang sedang mereka dipijak.


Tap! Tap..!


Tiddit!!


Laju roda Jihan ubah, lift pun bergerak dua kali lebih cepat dari kecepatan semula. Prita sedikit terperangah membuka lipat tangan, tengok sekitar, lihat kiri, lihat kanan. Jihan dipinta menyudahi candaan tersebut.


"Ehh," sadar Jihan. "Iya. Roger that Mbak."


"Lo ngapain sih? Mo ke mana emang?"


"Jalan pintas.. ke lantai Server, Mbak."


"Hhh..! Dah gue bilang. Gak perlu elo tambah, Han. Elo sebelas, Si Ri duabelas. Hhh. Plis Han. Kalian jangan bikin gue gabut."


Jihan tak menimpali selain tengadah. Prita ikut mendongak pada sebuah lapisan persis plastik di atas mereka. Objek Bersinar Neon pun lama-lama makin dekat, dan..


Zwiiitt..!! Tubuh dua gadis piyama terhapus citra kongkritnya, Jihan dan Prita jadi tranparan saat dilewati ja-pin (jalan pintas).


"Lihat deh, di bawah lift nih bukan sisi lain. Tuh samaan kayak atasnya."


Prita mendapati lempeng-besi yang mengantarkan mereka memang datar seperti bagian atas, sama-sama lantai.


Jihan lanjut bicara bahwa dirinya pernah mengira elevator yang kini tranparan adalah mesin hidrolik. "Taunya, nih lift ilusi favorit."


Lift yang dibahas, sudah tranparan begitu Jihan tinggalkan, makin naik dan tembus ke langit-langit.


"Hhh.." hela Prita, memandang Jihan agak lama.


"Welcome di Server.." ucap Jihan berlagak orang yang sedang shower-an, bergaya superhero yang dapat menghisap energi Matahari.


BRUAKH!!


Jihan kaget mengendik pundak. Dia tak berani melihat ke sebelahnya, di mana sudah tak ada helaan nafas. Di situ sumber suara berasal.


"Wah.. sori Ratu. Dindingnya dirusak astraler. Gue banget di Bumi Ultimate.."


Sleegh!! Tlap!! Tlap!


Tlap!!


Serpihan tembok mendadak 'parkir' kembali menutupi ngangga yang ada. Dari ukuran bola sampai debu, pecahan balik jadi dinding yang rata dan mulus, di-reverse tanpa menghadirkan penghantamnya.


"Sori Mbak.." gumam Jihan di ruang heksa yang polos, tak ada jendela, ataupun blizt, persis sebuah kurungan-mati.


Set! Jihan melesat vertikal, menembus langit-langit hexaroom gaya siluman.


"Kamu datang sendiri ke sini, apa berdua?"


"Onsoul sama Nautri. Apa bener paradok kejadiannya begitu saja Mbak? Dia beda-sangat, waktu kami tangani."


Layar tipis tersebut sedang ditonton Gadis Piyama; Jihan.


Sang Mahasiswi sudah duduk santai di tepian tembok yang mirip Great Wall negara Mandarin, duduknya menghadap ufuk daratan, memunggungi seberang benteng.


"Of course. Kita sebut itu remaker alias pengulang. Sulit karena dia otodidak. Gue sebut paradok soalnya masih ketanem bratle.


"Trus sapa yang nyetir di dalem nih soulator Mbak?"


"Bratle. Robot juga, bisa lho. Seeder harusnya lambat. Gesit begitu karna udah kelatih lama."


Tayangan menyorot sebuah nampan-legok, atau reader, lemari CPU dengan foto tranparan wajah Riko.


Jihan mengernyit dahi karena tak melihat butiran cahaya di dalam reader yang sedang menjulur di slot CPU-nya. "Nih visual kamu atau secret secure, Rin? Kok gak ada soulator-nya?"


"Datanya utuh kok. Will lusid kalo dibidik kamera, penampakannya onlyone, Han," tatap Reinit, petugas utama yang mengurus lemari-lemari CPU di ruang bernama Hisend. "Artinya cuma keliat di ujung garis waktu. Ray masuk kategori visual macem will. Penampakannya fresh-time."


"Ehh, Ratu ngomong sama Jihan?"


"Qorin kamu di sini. Ini Hisend yang dulu gue kisahin ke kamu. Level amannya dobel S. Masa iya aku larang warga sendiri ke sini?


Kalo di ladang Analog-Gue mungkin emang invisible, gak keliatan.


Gue lanjut bahasan. Will emang bisa digunain, bahkan dijadiin penyerta non-gruop, orang biasa. Tentunya paradok pun bisa.


Gue istilahin dengan taming, atau ngandang. Makanya.. Gak pake cara sulit, kalo will tujuan belum di-warp. Karena Wil otomatis nginep di dalam kenangan. Maka.. kelamaan inangnya jadi lusid.


Gak ada teknik khusus buat dapet will. Satwa atau kucing yang pernah kesengat listrik pun bisa jadi lusid. Mimpi doang modalnya.


Orang tanpa pengalaman kesetrum, gak dapet liat will. Sengaja nyetrum diri, tetep genset mahalnya sia-sia aja.


Pengalaman khusus yang ditakdir Allah, alami sebuah anugerah. Maka, itulah alesan gue di sini, ngamanin riwayat lusid yang udah tiada. Lagian Sarang udah di pegang si Reinita.


Gue di Server ngasisten temen. Ladang ini udah mirip brankas arsip yang ditulis Rokib dan Atid."


"Hapus ajalah mimpinya Mbak," tatap Prita ke kamera, dia sedang melihat tica di antara barisan lemari, memandang butiran putih dengan dingin di tempatnya.


"Oh ya. Justru lusid dapet nge-warp will-nya dengan cara ngedelet ingatan. Protokolnya ada gak, Ta? Di situ caranya. Nama command-nya pro-mekanisme."


"Sok aja apus memori gue. Yang ada, pager pokis nambah di kebon karet. Koran situs, dijudulin.. Karyawati Swasta Tulis Pesan Terakhirnya Demi Tipe-x," tutur Jihan berapi-api.


"Gimana jika dirubah demi orang-orang abad dua puluh empat?" tawar Prita. "Nih origin, Jihan yang di Minion khan?"


Tukh!


Jihan hendak menimpali Prita lewat layarnya, sebuah ketukan mendarat di kepala.


"Ehh?" bingung Jihan sambil menoleh ke belakangnya.


"Pada ngapain sih? Hhh, hhh.. Mau ngancurin server juga? Hhh, hhh.. Hhh..!! Duty calling you, Lady .. of Light. Hhh, hhh.."


Jihan turun. Gadis di depannya masih kelelahan, menundukkan kepala.


"Sel..?" tanya Jihan, memicingkan mata, mengenal pakaian lawan bicaranya, lalu..


"Ha, astaghfirullah..!!" belalak Jihan begitu Marcel mengangkat wajah.


Jihan mendapati Marcel, si Doremon Bersenapan, makin sesak terengah-engah. Wajah dan rambut si teman berlumuran darah, celana plus baju serta rompi perangnya lusuh, Marcel tampak sudah kotor namun baunya tawar. Jihan tak peduli, dadanya turut kembang kempis saking kagetnya.


Marcel ngos-ngosan memegang bahu, tangan kirinya tampak masih kuat mencengkram pedang samurai.


"Kami butuh.. elo.. Hhh, Hhh.. Onmind di Escort.. Gue tunggu.. di Minion... Hhh, hhh.."


Tubuh Marsel perlahan-lahan tranparan, lalu menghilang tanpa suara.


Jihan langsung minta Qorin parkir, masuk tubuhnya, saat menuruni tangga batu. Sampai di bawah, dia segera lari menuju elevator. Magis-nya tercekal di Daratan Server, jadi tak bisa melesat.


"Pindai tranmisi barusan," pinta Jihan jongkok tekuk satu lututnya, tak mempedulikan glowing di jari yang baru dimasuki Bintang Kecil. "Hhh, hhh, bisa jadi, tuh scam Paradok.."


Taph! Ikon pintu di lantai port heksa Jihan sentuh.


Memproses riwayat transmisi


Ge..jligh! Lantai agak turun mengeluarkan layar apung. Gliit..!


"Hhh, hhh, hhh.. Go to mabes, quick to gerbong," kata Jihan bicara sendiri.


Transmisi murni. Tidak termuat enskripsi. Dia diri Marcelina sendiri


Nafas sudah tenang, tapi saat Jihan hendak menyentuh monitor, lift sudah memproses nama tempat yang disebutkan.


Gadis Piyama bingung mendapati layar sudah hitam tak lagi tranparan, menampilkan logo parasut.


Kau baru saja menginput voice


"..??!"


Syuuutt..!!!


"Kya..aaa!!"


Jihan tiba-tiba jatuh begitu melihat dua kakinya sudah tak memijak pad. Dinding di lubang elevator pun ter-perspektif jadi buram. Dua detik kemudian..


Brugh!!


"Mmgh..!!"


Giliranku


Set! Claph! Di dinding ruang SosCamp, depan blizt, bayangan yang menghampiri langsung menjejakkan cahaya.


Claph! Set!


Tidit! Kaca peron tersentuh kelebat yang datang hingga cahaya turun menyambar bayangan piyama.


Zhhaang!!


Sllpph! Pintu gerbong baru melesat ke samping setelah ditembus objek sensornya.


Putar


Jihan mengambang di depan meja proyektor, kedua matanya setengah watt alias berwajah ngantuk, badan tampak lemas, dua tangan dan kaki menjuntai tanpa tenaga

__ADS_1


"Bapak tahu tahi lalat kamu di mana."


Tubuh Jihan menampakkan kelebat cahaya di permukaan kulit usai perintah disimulasikan.


Set!


Zwiiitt..!


Jihan langsung terbaring lewat gerakan hantunya, Bintang Kecil pun melesat keluar dari lajunya di kulit tubuh sang gadis.


"Mmgh..!!" suara Jihan, dada seperti disentak jantung, kedua matanya langsung terbuka lebar. "Ehh?"


Setelah duduk, Jihan tengok kanan-kiri di depan jins-nya, mananyakan lorong elevator Server.


"Hamba melewatinya, membawa engkau ke sini. Sekarang tunggulah barang sebentar."


"Mau ke mana Rin?" tanya Jihan lagi melihat lawan bicara pergi menuju pintu gerbong. "Aku haus."


"Demikian pula hamba, Tuanku. Akan kuambil bekalku di Sarang. Tunggulah air minummu."


"Hu umz," angguk Jihan.


Set! Qorin melesat masuk pintu.


Yang ditembus baru merespon. Sllpph!


Jihan biarkan pintu Escort-nya menutup lagi. Dia beranjak rebahan, berbaring lagi di ranjang apung. Dia melamun. "Kok bisa, dari Server ke gerbong.. ya? Gara-gara voice tadi gitu?"


Padahal Qorin sudah menerangkan hal tersebut, Jihan menanyakannya lagi.


Set! Zihan sudah datang dengan dua kotak air di tangan.


"Hamba membawamu demi Citruz ini," tunjuk Qorin, disodorkan pada Jihan. "Sekira tiga detik untuk perjalanan pulang dan pergi."


Jihan langsung buka penutup mini jerigen, dia teguk isinya.


"Cepet amit. Nih Citruz, ramuanmu di lab Sarang ya, Rin? Euu!!"


"Demikian," jawab Qorin sambil menaruh Citruz yang satunya di meja proyektor, membiarkan lampu antena di kuping kanannya berkedip-kedip. "Prita telah kembali ke masanya. Deti dan Nautri masih di lab."


"Hhh. Aku mau nyobain onmind di Escort. Nih empuk juga.." raba Jihan ke kanan dan kiri sprai usai memberikan minumannya pada Qorin.


"Euu! Terasa seperti nektar," pandang sang jins ke wadah di tanganya, begitu menerima wadah, Zihan langsung meminum isinya.


"Umm? Tawar kok.."


"Tidak. Ini manis," beritahu Qorin meneguk Citruz lagi.


Glukh..! Glukh!


"Kamu gak jijian. Tuh bekas aku, Rin. Ya udah. Aku duluan. Terapin internal voice kalo dah di kantor."


"Euu!"


Qorin mendapati majikannya sudah berbaring di kasur.


Zihan simpan Citruz di sebelah wadah serupa, membiarkan miniatur gerbong mengambang. Sendawanya terdengar kembali. "Euu! Alhamdulillah."


Zwiiitt! Qorin susut jadi bintang kecil.


Set! Bintang Kecil melesat masuk ke jari kanan empunya.


Jihan yang sedang pegang stenlis kereta, mengerjap-ngerjap mata. Kuping dia jarikan dengan kelingking. "Internal wave dah aktif."


Hamba sudah di ruangan


"Spear gak bisa mode silent. Dia bangunin aku sampe kuping pecah gini, Rin."


Tak ada komentar


Jihan sudahi kegiatannya, diam belum bermonolog sepatah katapun, hanya bicara dalam hati.


Gelembung stenlis yang tengah menggasing mulai menembaki puzzle-puzzle, Jihan menunggunya. Dia tidak protes perjalanannya sedikit lama sebab alamat yang dipinta adalah Minion tahun 2300-an.


Xmatter stock tersedia dua kali berat badan. Jika menambahkan di kemudian waktu transfer tak memungkinkan untuk ditunggu


"Tambah satu kali."


Status terpenuhi


"Gimana caramu keluar tadi?"


Aduhai, hamba terlambat beritahu engkau. Hamba tranmisikan suaramu ke mediator Escort. Akses meja dapat dienkripsi hingga tak ada pengguna selain engkau


"Miliki aku.. Rin."


Kau mempercayai hamba, Tuan?


"Tak ada komentar."


Lapis gelembung berubah jadi kepingan dimensi, banyak jumlahnya hingga jadi pemandang menarik. Pecahan dengan sendirinya terlepas dari orbit, menempati jejak atau bekas yang sesuai bentuk.


Jihan biarkan kepingan merangkai ruang-waktu yang dipinta. Benda-benda khayalan tersebut persis menempeli dinding datar sebuah ruang kubus. Dikepo Spear sedemikian rupa, senyum Jihan makin berkembang, melihat ke sekitar. Padahal ruang balon sudah berisi bayang oranye orang-orang bersenapan. Jutaan puzzle akhir selesai 'merakit' ruang-waktu, Jihan segera mengangkat dua tangannya di sebelah stenlis yang kemudian hilang usai mengantar.


"Mando, di ni Ard Kam. Get su sing dan dimon. Sih ri Rens dan nang rah," kata pria berpakaian Bunglon, melapor lewat kancing di kerah seragamnya.


"Apa yang dia omongin, Rin?" tanya Jihan memandangi si Pelapor, dua tangannya masih teracung dalam kerubung orang berhelm.


Komando, di sini Guardian Kamp. Target sudah singgah dan dimonitor. Bersih dari Fluerens dan Benang Merah


"Han bi ka, ya ke lo," suara di seberang kancing, menjawab laporan anak buahnya.


Tahan biolet kalian, saya ke lokasi


"Nih puebi masa depan?" gumam Jihan, diam melihat wajah orang-orang yang menodongnya.


Demikian


Ckiiit..! Sehembus angin datang ke tengah kerumun, menjejakkan kepulan debu, sang kelebat berpakaian tidur lengan panjang.


Di depan Jihan, Komandan menggerak tangan, berisyarat pada orang-orang di situ. Anak buahnya segera menurunkan senjata, sementara pria baju Bunglon, melanjutkan perintah dengan isyarat juga, lalu dia berdiri di sisi Komandannya.


Orang-orang membubarkan diri, langkah mereka ke arah empat lokasi alias balik berjaga di Minion malam ini.


"Udah turunin tangan lo.." kata si komandan, mengenal Jihan, ada Kunang Kunang yang sedang melayang-layang di dekat badannya.


Perintahin angkat dua kaki aja sekalian


"Lo gak tidur Nay?" tanya Jihan pada Kunang Kunang.


Nekmar, Mimpi Buruk


"Dah turunin, gue Dian elo, Han."


"Kalian dah pada beres operasi kapal-nya?" tanya Jihan tanpa merubah posisi tanganya.


"Gak bisa bujuknya gue Han. Belum dapet lusid baru. Susah kalo bukan protokol," kisah Diandra, mengabaikan jins-nya pergi.


"Nay! Mo mana lo?!"


Diandra menoleh pada bintik yang ditanya Jihan. "Palingan tidur lagi dia."


"Dia masih aja abadi muaknya ke gue Yan."


"Lo gak pegel?"


"Pegel," jawab Jihan, kain lengannya yang menutupi hasta sudah terkerut turun dekat ketiak. "Bau ya?"


"Hhh. Ting ka wa, Lead."


"Sii!!" sahut Lead sambil hormat.


"Apaan tuh ting-ka-wa?"


"Tinggalkan kami berdua."


"Gue udah pegel nih, Yan. Suruh si Nay ke mari."


"Gue mimpi buruk. Ini tempat yang gue mimpiin. Paradok elo di mana-mana."


"Dia bawa kabur will almarhum. Marcel yang minta gue turun tangan."


"Ya udah turunin. Elo kenapa sih?"


Jihan memijat-mijat bahu. "Pegel ngurusin yang kehubung ma almarhum. Tuh paradok nilep soulator. Lo tau biar apa dia bela-belain nilep aset?"


"Belum tau," timpal Diandra. "Aneh emang. Bekal ingatan aja udah dapet piaraan lagi."


"Ratu gue juga bilang gitu. Eh ya. Si Marcel di mana? Gue udah dateng, nih. Ngedadak diminta angkat kaki lagi. Khan aneh jins elo tuh."


"Ya udah. Kita ke tenda PMI sekarang. Dia baru beresin urusannya di gua McWell."


"Mak wel tuh apaan? Soulator juga?"


Jihan menjajari langkah Diandra yang sudah berjalan meninggalkan saung peralatan dapur, lokasi penodongan tadi. Dia menyimak penjelasan temannya soal McWell. Jihan salah paham, karena ternyata bukan tentang tica, adalah nama ratu para mutant yang ber-DNA Marcel.


"Gadis ini lucu sekali. Bukan alindatik yang aku buru.."


Di kegelapan seseorang bermonolog atas objek yang sedang di teropongnya dalam persembunyian. Alat yang dipegangnya seperti penangkap suara juga, pengguna bisa mengamati sambil mendengarkan perkataan.


Benda tersebut pun ada logonya yang berupa cincin, tak lain ikon Snail.


Di saung tujuan yang terparkir cargo apung, carry pengangkut, Jihan mendapati Marcel sudah menunggunya.


Gadis yang didapati Jihan, terbelit perban di kepalanya, ber-ais kain untuk tangan kirinya yang mungkin sudah patah.


"Sel, gue pikir lo dah tamat."


"Gue selamat kok. Nih lagi kebawa emosi aja. Parah ya?" tanya Marcel dengan senyum di wajah yang terjejak lebam.


"Lo gentayangin gue pas lagi sekarat. Oke. Kasih gue perintah. Asal bukan ngebunuh."


"Slow.. Tungguin Al Hood. Dia masih di eksternal. Sam.. bil.. Ugh!"


Marcel mendadak meraba tenguknya. Jihan langsung cemas dan bertanya sambil ikut memegang tengkuk. Sementara Diandra masuk ke dalam tenda.


"Hey.. oke. Slow aja Sel."


"Gue harus.. anjrit.. agh!"


"Dia belum balik ke panti. Tubuh dia yang kasih warning. Bukan luka dan patah tulangnya."


"Ehh, Kak Ririn.." pandang Jihan mendapati wajah saudari tirinya yang baru saja keluar bersama Dian dari dalam tenda. "Ya udah Kak. Gimana nih sekarang?"


"Baringkan. Dia maksain diri. Biar Dian yang kasih kamu briefing."


Jihan membantu Marcel duduk ke blangkar jangkung, menuntun si teman berjalan. Setiba di blangkar, Marcel segera duduk.


"Aduh! Please, dont touch..!" pinta Marcel meringis saat tangan Jihan menyentuh perban di lengan. "Thanks.."


"I-iya.. Sori," gugup Jihan. "I hear your hand."


"Aha.. hahha.."


"Iya. Gue sok Inggris. Sori kalo kesentuh."


"Bu.. kan. Maksud gue.. muka kita Han."


"Ya. Orang lagi fokus nonton, digebuk."


"Mu.. ka gue.. sangar.. khan?" tanya Marcel saat Jihan menahan punggungnya, membaringkan diri.


"Gue suka gaya kritis lo pas ngasih pesan ala drama film."

__ADS_1


__ADS_2