Jihan

Jihan
chapter up 68


__ADS_3

"Apaan tadi ya, Ratu?"


"Sebaiknya kau minumlah dulu. Fincez biasa demikian terhadap penyusup Ladang, mungkin memang pengendap. Minumlah."


"Oh.. gue pikir dia."


Akhirnya Prita ambil susu yang terhidang di meja.


"Pelan-pelan neguknya. Batuk ntar."


"Slow. I fine, Jim. Bismillah.."


Dalam duduknya sehabis tegang, Prita minum.


Saat diam menunggu, di bangkunya Jihan mendapati kuping Reinita berbunyi, terpasang Speaker, namun ratunya itu tak peduli selain terus senyum memandangi tamunya minum.


Usai menaruh gelas, Prita menghela nafas dan terlihat tenang. Reinita pun lalu memberitahu bahwa mereka akan berangkat dengan awan portal.


Reinita dan Prita berdiri berdampingan di hadapan Jihan. Selintang garis turut hadir di situ.


"Kami pergi dulu ya," pamit Reinita ketika Jihan bangkit berdiri.


"Iya Ratu. Ati-ati, Baginda Kesayangan."


Ngiii.. iiing.. Bluuph!!


Garis yang menyertai keduanya ternyata lingkaran. Blueprint tersebut lalu bergulung, menampakkan titik pusatnya. Maka lapisan putih tervisual dan mendenging hingga terhisap pusatnya tersebut, Bluuph!


Setelah ratunya pergi, Jihan duduk kembali. Layar di kulit tangan dia nyalakan. Lalu ujung jari Jihan tekan, lingkaran kepalanya pun turun. Jihan melepas tekanan jarinya dari tangan begitu 'perban' menyusut jadi monitor, lapisan apung. Kepalanya kembali digelangi laser.


"Hhh.."


Jihan duduk sambil menatap file, membiarkan berkas cahaya perut dari jins-nya yang baru datang.


Sekembali dari kamar sang ratu, sang jins duduk.


"Hamba pun memikirkannya, dan kita takkan lagi menggali makam yang baru di sana."


Jihan masih fokus, menggeser layar persis kaca tersebut, tak menjawab 'suara hati'nya barusan.


Isi awan-gepeng masih seputar kondisi refuge (kamp perlindungan). Mayat-mayat di situ sudah dia kubur bersama Nautri, TKP-nya sudah mereka buat jadi lahan TPU.


"Tapi, kita tak perlu membawa ini ke arena," titip Qorin, mengulang kalimat yang pernah diucapkannya untuk si majikan. "Doa kita telah Allah dengar, Jihan."


Qorin segera menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Selesai duduk dan bicara, dia biarkan sang majikan khusyu. Matanya tak kedip pada Jihan, menunggu tanggapan.


"Secara gak langsung Prita minta kita nguburin mereka.


Tapi Marcel, seolah lagi gabutin Server, takut aku ngancurinnya. Apa emang betulan.. ya dia, nyemasin Server yang rawan dengan sosokku pas keluyuran di sana?"


"Hamba pernah mengirim data, juga mengambil rumus ketika di Eksternal. Aku mengakses dari luar. Queen mengingatkan, atas kecerobohan tranmisiku yang tidak terprivat. Bisa jadi, Jihan."


"Dari Eksternal? Di pantai itu khan?"

__ADS_1


"Demikian. Hamba mengkhawatirkan-mu, terus-menerus. Hhh.. Lalai mengenkripsi sambungan."


"Apa lagi yang Queen omongin?"


"Hamba tak bisa merawat Riko lagi untukmu. Maka ketika dipindahkan, pasien menyerang petugas, sesuai perintah yang Riko ingat. Mereka memang telah mengincar Black Soul bersamanya."


"Aku yang salah, Rin."


Claph!


Gream muncul dan memberikan paper-board pada Qorin. "Dapur baru lo Giz. Eyemark di situ."


Qorin meraih papan yang disodorkan Gream padanya. Dia lihat dan membaca data-data, daftar alat, serta berita terkait lain tentang lab-nya.


Jihan biarkan kini jins-nya khusyu dengan urusan yang ada.


Qorin mengerjapkan dua matanya. Ada perubahan pada pintu dapur dalam hologram yang tengah diamati. Tanda retina.


"Ini. Terimakasih, Gream."


"Oh. Siap."


Claph..! Gream pun menghilang.


Tapi kemudian berkas sinar si pemuda, memotret sekitarnya laginya, hadir kembali.


"Nektar terenak," kata Gream mengambil Apel di meja, kemudian menggigitnya.


Kressh!


"Hhh, ya udah yuk..? Kita ngomong aja ke si Jilect. Nyelesein masalah dengannya secara baik-baik, kalo dia tuh lagi diperalat mereka."


Qorin segera beranjak bangkit, dengan PDL mirip kru Starflet itu dia terlihat galau, tapi bukan sedang malas kerja. "Hamba siap, Tuan."


Zwiitt!


Set! Qorin melesat masuk tubuh Jihan setelah menjelma jadi Bintang Kecil, langsunh masuk ke soulator-nya.


Gliitt!


Lengan Jihan pun kemudian bergelang alat alias bratle, lalu lingkaran alias 'perban' di kepalanya hilang tanpa bunyi.


Gwiit!! Muncul bayangan bluegraph di sebelah meja.


"Ikut-ikut.."


Robot biru datang-datang langsung rusuh mengambil apel-apel, dia kumpulkan ke lipatan tangan satunya. Jihan yang baru saja berdiri mendapatinya seperti melihat orang baru.


"Napa juga pake sorrow si Uno?"


"Biar bokin gue seneng."


"Tapi muka gue khan gak jelek-jelek amat?" tanya Jihan, protes.

__ADS_1


"Bodo amat."


Gliit! Blue Prita menyusut dan langsung melesat masuk ke dalam gelang Jihan.


Set!


Jihan mengangkat tangan, menatapnya lama. Dipertemukan dengan kekasih, robotnya malah ganti imej, mengikuti keinginan Oyon. Si benda lalu tenggelam jadi warna kulit. Jari manis Jihan pun langsung dilingkar cincin biru.


Kepala Jihan makin dipenuhi tanya, karena robot juga punya makanan, tak hanya emosi buatan.


Tukh!


"Item gak! Gue pukul lagi nih," pinta Jihan selesai menepuk jarinya, si lawan bicara.


Drrth!!


Warna cincin segera berubah jadi warna hitam menuruti keinginan empunya.


"Nyetok makanan dah kayak penimbun. Contoh si Spear. Dia gak banyak omong," kata Jihan, ngomonh sendiri.


Sepasang jejak kaki muncul di depan Jihan setinggi sandaran kursi. Biasanya Jihan mengucap 'mantra' panggilan dulu. Tapi kali ini sang tongkat menghadirkan tandanya tanpa dipinta.


Tubuh Jihan naik mengambang. Setelah di ketinggian setara, dia pijak 'keset' yang ada, di mana sudah sesuai ukuran tapak kakinya.


Thaaang!


"Lo lagi, pake bising. Hhh-hhh!" omel Jihan pada stenlis yang baru mendarat di dekatnya, tapi kemudian dirinya malu sendiri. Jihan tak jauh beda dengan SosFlat-nya kata Clone, asal-asalan.


Singkatnya, semenit kemudian Jihan sudah berada di Escort, duduk di tepi kasur gerbong meneguk Citruz. Sementara Qorin, diam menunggu, berdiri di hadapannya.


"Hhh. Nih kok jadi enak ya, Rin? Tadinya khan kebas, belum terasa vanila-nya."


"Berikan padaku."


Jihan senyum, tahu apa yang akan dia dengar atas kotak yang sedang dikomen. Segera dia sodorkan minuman tersebut pada sang jins. "Nih. Emang napa kalo kamu yang duluan minum?"


Qorin meneguk isi tapper ware putihnya tanpa jarak (tuang) alias dicimut langsung. Tak ada rasa jijik lagi, meniru gaya minum Jihan.


"Hhh.. Tanpa enzim bawaan, Citruz hanya air biasa. Larutan ini pula yang membuat dapurku dipretel," beritahu Qorin selesai minum.


"Kandungan sodanya yang kemarin, ke mana tuh?"


"Aku mengaturnya di sini, di nomer lima," kata Qorin lagi dengan kedua matanya yang telah ungu.


"Oh. Gitu. Jadi ada macem-macem rasa toh, dari situ?"


"Demikian."


Jins menaruh Citruz di meja, terlihat isinya tinggal setengah, sementara satu wadah lagi belum mereka buka.


"Tambah stok xmatter, Rin. Jilect mungkin sangat panas pas dia ketauan ngintip kita," kata Jihan sambil merebahkan badannya ke kasur.


"Sudah, Tuan."

__ADS_1


Benar, Qorin sudah mendapati majikannya tidur, terpejam mata. Pandangannya mengarah ke bibir Jihan. Qorin juga menoleh ke pintu gerbong, di sana ikon shower berganti jadi logo pintu lalu berganti lagi jadi ikon gembok, dikunci dari dalam oleh matanya.


__ADS_2