
Kemudian arsip berikutnya sebuah foto gua dan menara chaff (pengganggu sinyal satelit). Tempat tersebut sarang para mutan. Judul fotonya; McWell cave Jawa land, Indonesia. Tidak ada detail GPS, berhubung anti-radar menyamarkan lokasi.
Reinita menggeser gambar lainnya dari flashdisk milik Ghost tersebut. Dia mendapati foto Jilect berjabat tangan dengan McWell.
Ada keterangan di situ, yang dihimpun dari Qinetik, bahwa Jilect selesai dibedah, sudah melepas batu merah dari perutnya, sehingga Luna kesulitan mencari Jilect di Belanda.
Reinita menyentuh wajah Ghost si narasumber arsip, abai dengan foto Prita dan Qinetik. Tapi rasa keponya tidak berlanjut setelah mendapati sebaris kalimat:
'Gizi teruskan pesanku ini pada Jihan, bahwa sighter yang bersamanya adalah tanggunganku.'
Layar kembali menampilkan foto gua McWell. Jihan yang turut menyimak kegiatan ratunya, hanya menghela nafas, punya penasaran yang sama pada Ghost.
"Kalo pucet, dia Luna banget muka-nya, Ratu," komen Jihan.
Reinita tak menimpali, dia swipe layar dan melihat foto Alun alun diserang, diratakan oleh McWell dan pasukan head-ring.
"Mereka menculik orang-orang yang diselamatkan dari kamp Minion, sekaligus menulari TKP. Warga yang selamat, berubah jadi mutan."
Foto berikutnya adalah Radiator. Alat aneh tersebut ditaruh di Alun alun, mirip Kura Kura ber-ekor ular Kobra, robot tapi memiliki sel organisme. Ada daftar atau catatan, bahwa Radiator lainnya aktif di banyak negara. Wajah kreator-nya tersemat bersama gambar, yang tak lain adalah Lectrin.
Jihan tetap menyimak saat Reinita menyentuh foto Lectrin. Dia melihat foto si Alindatik sedang bereksperimen di Snail dengan akses indentitas Riko.
File selanjutnya yaitu Radiator versi terbaru. Namanya Corad, Corona Radiator. Bentuknya bukan lagi Kura Kura, melainkan virus murni. DNA Warga yang mereka culik pun akhirnya berhasil mutasi, susunan asam-nya. Kreatornya adalah Jilect. Radiator parasas sukses merubah WNI jadi mutan.
Selanjutnya foto Corad-19. Proyek tersebut dikerjakan oleh Qinetik di luar negeri karena masih ada DNA-kontra lainnya yang masih tahan frekuensi.
Beberapa tahun kemudian Corad-19 dicoba di Prancis dan sukses membuat kelumpuhan, menjadikan darah-bening ber-radiasi.
Selain foto DNA sel darah, ada foto-foto demonstran dari beberapa negara adikuasa, yang mana Indonesia makin disorot dunia.
"Negara kita khan salah satu pioner perdamaian. Kini jadi pemicu perang."
Dari file-file yang berhasil dikumpulkan, dari foto dan keterangan para saksi, maka tampaklah suatu kronologi.
Inti dari masalah tersebut adalah soulator alias pustaka, yang mana membuat parasas jadi alindatik, kontra dengan peradaban manusia demi ambisi McWell.
Dan kini Jilect sedang menunggu origin-nya di Endfield. Entah apa yang diinginkannya sekarang. Yang jelas, Jihan tak ingin ada pemborosan dari aksi mereka nanti saat sudah bertemu.
Gliitt! Layar arsip menyusut dan kemudian titik tersebut hilang.
".. gak apa-apa kalo Jihan emang harus latihan mental. Paling ujungnya jadi nekat ngebunuh."
"Ray yang harus membunuhku. Tanpa android, lawanku akan terus kesulitan."
"Tapi Ratu masih ada katanya pas berhasil dibunuh."
"Hhh, itu juga benar. Suatu saat Ray akan membawa alasan. Misalnya untuk Rey, saudari ultahku. Hand of God."
"Kalo manusia sih Izrail mautnya, Ratu. Sama titlenya, tangan Tuhan."
"Kamu ada rencana ke Library? Di sana Rey terbaring setelah mengamankan Server. Semua selamat dari serangan kami, berdelapan."
__ADS_1
"Black Soul? Siapa saja? Apa kaitannya sama Rey, Ratu?"
"Empat pasangan. Aku dengan Mona, Bulan dengan Deyita, Mal dengan Night of Light, Luna dengan Vitaloka.
Semua dewan sudah tiada, dua kubu masih terus berseteru di Eksternal.
Kami seteru dengan pasangan masing-masing, tak lagi mempedulikan kondisi Internal yang waktu itu masih ditinggali Reinit, Scope, dan Rey.
Akhirnya server pun hancur karena Reinit terikat dengan Indri, turut hilang sehingga Internal di ujung tanduk.
Kubu kita terlambat, aku tak percaya pencipta-ku, Reinit, sudah tiada.
Seteru berhenti saat guncangan terjadi pada Internal, keruntuhan dapat Rey tahan.
Kami semua tersadar dari rencana seseorang, bahwa Mona benar selama ini mengenai siapa yang dilawan Bulan. Namun kami semua sudah terlambat, Deyita sudah menguasai kami bertujuh.
Black Soul tak sabar ingin segera melihat akhir dari Internal, namun tak juga terjadi. Saudariku bersikeras menahan bebannya.
Kami tak bisa berbuat apapun dalam diri Black Soul. Sesalku hanya menambah kekuatan Duplikat, sedih tak terbendung melihat Internal sekarat.
Kami-lah kekuatan yang sedang Rey tahan, dan dia terus menipis, menyusut, tertekan bebannya, Rey amat kepayahan saat menyampaikan protokol untuk kami, Black Soul.
Perkataan Rey menyinggung Duplikat hingga Deyita abai, dia nekat masuk dan mengakhiri Rey, Jihan.
Ya sudah, terwujudlah maksud dari perkataan Rey. Disuruh pergi malah datang.
Ledakan Internal membuat kami masuk ke dalam kurungan yang Jhid buat, menggantikan Rey.
"Apa emang gak ada manusia yang kelibat seteru kalian, Ratu?"
"Tidak ada. Semua-nya jins."
"Apa Rey seterusnya tidur seperti itu, Ratu, di Library?"
"Seterusnya. Mungkin sampai ada delapan kekuatannya lagi atau lebih. Rey akan menetap pada pilihannya sendiri, bertahan demi mengenal kalian."
"Iya. Marcel pernah bilang, nih alam pernah sekarat. Terus kalo kejadian, nasib kami di sini gimana, Ratu?"
"Entah. Scope hilang bersamaan dengan Reinit. Manusia yang masih ada akhirnya turut musnah.
Berdasarkan hal itu, kamu sudah tahu. Maka manusia yang sedang kami kenali hanyalah validator. Khayalan.
Kami sedang mencari umat Rasulullah, Jihan. Mencari ketentraman seperti ini."
"Tapi khan, ngejaga lebih susah Ratu. Ada lagi, ada lagi, masalahnya."
"Apa aku bukan produk-alay, Jihan? Aku dulu tidak ada, masih sebatas proyek Reinit di jaman peperangan. Sepintar dia menghindar, memisah arah, membagi-bagi diri, Allah tetap menguji mahlukNya.
Para dewan sendiri, menghadapi diri mereka. Ada Enik lainnya, bercerita pada dirinya sendiri, Enik pubertas. Ada Asma yang malas menulis. Ada Olive yang hanya duduk gonta-ganti channel. Ada Uut yang masih bingung siapa para pendengarnya. Sementara Indri tak tahu siapa dirinya, malah mencari kembaran. Dan Tuhan terus-menerus mengurus mahlukNya."
"Jadi kira-kira mana lebih baik, gila ato meninggal Ratu?"
__ADS_1
"Gila, Jihan."
"Alesannya? Hayo?"
"Dia masih dapat memilih. Gelarnya hanya sebutan, bukan sebutan dari Tuhan Yang Maha Tahu. Tidak ada ayat diperuntukkan pada mahlukNya, yang semisal wahai-orang-gila.
Masih dapat memilih. Jika pilih mati, bunuh diri itulah hal yang gila."
"Jadi dapet sembuh?"
"Jika Tuhan berkehendak, tidak ada sesuatu pun dapat menghalangiNya. Gizi sepertimu, pernah kekurangan jiwa. Dapurnya pernah berantakan seperti itu."
"Ngamuk?"
Reinita menaikkan satu kakinya, menatap Jihan seperti lajang tomboy. Tangannya bertengger di sandaran, tampak seperti sedang merangkul pundak Jihan.
"Tidak. Dia stress. Selalu diburu paradokmu. Sekian lama dikejar dan menghindar, akhirnya Gizi benar-benar melihatmu sebagai manusia."
"Tapi bantuin kami. Ratu gak ada kharisma sama sekali. Hadeeh. Nyebelin."
"Gizi-ku hilang, dua terbilang, Jihan."
"Umm. Tak ada komentar."
"Katakan saja."
"Ratu kayak cowok, ih."
"Ya sudah. Jelaskan, Jihan.." gantung Reinita memposisikan duduk ala nyonya besar, tetap menyilang kaki tapi kini rapat dan menaruh dua tangannya di situ. "..bagaimana kamu bisa hadir di alam ini?"
"Nyari jodoh? Gak lah."
"Mungkin karena kamu galak, Jihan."
"Hii.. sok tau. Apa buat gantiin Ratu? Itu juga bukan. Di mana aja Jihan berada, diri ini tuh saksi."
"Bagus. Teruskan, Sayang. Kamulah yang harus membekali dirimu sendiri di kelas privat kita. Perangi dirimu dengan keterangan-Nya."
"Ya, tuh sering Ratu ucapin ke Jihan. Sampe akhirnya kita yakin dan nemu alesannya."
"Alasannya apa, Jihan?"
"Tuh khan lupa. Gak tau Ratu. Kasih tau clue-nya. "
"Bagaimana kamu bisa hadir di alam ini?"
"Gak bisa dijelasin. Soalnya tuh pertanyaan, bukan clue."
"Gelang karet, Jihan. Mudah dijelaskan dan diingat."
"Iya, kalo satu. Bratle sih Jihan udah tahu, kenal perumusnya. Nih dua karet yang ter-taut, gak ada sambungan pula. Gimana ngejelasinnya?"
__ADS_1