
Jihan duduk menyantap Kepiting bakarnya. Trerbayar sudah upayanya menahan lapar berhari-hari, demo perutnya sudan berhenti sejak dia mengunyah panggangan itu, karena daging Kepiting yang ada tak bercangkang.
Tak hanya makan, Jihan sudah menaruh kaleng di perapian, yakni sedang masak air hujan.
"Wuu.. uh! Abis ini nyetok lagi ah. Wuhh!"
Si gadis meniup-niup makanan lalu menggigit Crab garing. Kresh!
Beberapa menit kemudian, Jihan membersihkan bibirnya. Dia dapati rebusan sudah menguap, air minum masih panas. Jihan mencapit kaleng sarden dengan kayu panggang.
"Nyaem.. nyam.. masih panas. Ntar aja minumnya deh."
Jihan berdiri selesai menaruh kaleng di sela tumpukan kayu persediaan. Dia harus mencari sungai. Jihan segera meninggalkan saung "legend"-nya.
"Gue pergi dulu, nyari river. Diem di situ."
Jadi seorang Marcel yang seratus persen memang sulit, Jihan mencoba meniru kegigihan si teman saja dalam hal bertahan.
"Stress tuh taunya kayak gini. Ngomong sendiri. Nyari makan, nyari minum pake tenaga sendiri. Na.. nana.. naa.."
Mental bertahan Jihan tampak lain dari manusia umumnya dalam bertahan hidup. Dia tak terlihat primitif, tapi juga tidak tampak susah.
"Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua.."
Jihan berjalan menapaki pantai, mungkin pilih mencari hilir sungai. Dia tak beralas kaki, bisa jadi itu alasannya menelusuri pesisir. Untuk minum air saja, dia harus nekat membuang tenaganya lagi.
Jihan memungut sampah lagi, menemukan ember yang kering dan retak. Dia komentari benda tersebut karena baru ketahuan retaknya. Jihan lanjut membawa sampah tersebut.
"Ya udah gak apa-apa. Mayan buat wadah aer."
__ADS_1
Saat santai bermonolog, Jihan berhenti lagi.
"Njir, sarang Kepiting? Aaa..aarh!"
Bukh! Bukh! Bukh..!
Jihan jongkok dan segera memukul-mukul pasir di situ dengan ember "langka". Dia sibuk getok sana, getok sini selayak main doll punch Timezone di mall.
"Haa?"
Jihan berhenti, ember pecah tapi objek yang dipukulnya hilang. Dia halusinasi, memukul tanpa sebab. Jihan pun lemas karena di situ tak ada Kepiting satu ekor pun, apa lagi sarangnya.
"Hhh.. maaf Beb. Aku gagal panen. Pengen nyari makanan lagi buat kamu seorang."
Dengan kecewa Jihan bergerak lagi meninggalkan ember mininya di situ. Dia kali ini mengideg kepala supaya konsen pada realita. Jihan melihat pepohonan di kejauhan sana, ada batuan besar.
"Ilang, plis.. ilang," kata Jihan sambil fokus pada objek tujuannya. "Dari kemaren di situ, tapi berapa jauh sih. Plis ilang lo, jangan ngecewain pengunjung. Ilang gak.."
Lima belas menit kemudian..
"Hhh.. hhhh.. hhh..!!"
Jihan sampai di tempat minum, ruku sambil terengah-engah dekat pohon Kelapa.
"Dunia emang kejam. Ngasih arepan idup kayak gini, siapa yang pengen mati.. Hhh.. hhh.."
Tak lama kemudian, Jihan sudah have fun di tengah hilir sambil menyembur-nyemburkan air sungai. Dia mandi, duduk di salah satu batu yang agak besar. Jihan tampaknya sudah bercita-cita ke hilir ini sejak kemarin, namun dia tercegat senja dan lelah.
Cbyur..! Cbyur!
__ADS_1
Bbyuu..ur!
"Hahaah! Beb akhirnya kita punya pulau. Yuhuu! Nih surga kita Sel. Huhuu.."
Jihan memainkan air. Dia sembur-semburkan ke arah depannya seperti sedang perang cipratan dengan seseorang.
"Ahahaa..!! Aarrh! Curang, ih.. Ampun, hihi.. Ampun, Sel. Auuw.. Hahaa!"
Cbyuur!
Cbyuur-byuur!
Tak hanya Kepiting, Jihan pun tampaknya punya halu yang permanen. Dia punya teman bermain dan mengobrol. Jihan seperi tidak sedang berpura-pura, lelahnya hilang dan tetap bicara sambil mandi menggosok-gosok kulit badannya.
".. mending namain sama paduan ngaran kita aja, Beb. Kalo pulau Jimar gimana?"
Cbyuur! Cebur!
"Kok terserah sih, khan yang beli kamu, Bebeb. Masa iya, kita namain pulau Komodo? Gimana ternaknya, Beb?"
nb:
hihi😁halu permanen.
DRE met aktivitas yaa😙chups!
-
-
__ADS_1
-