
Tak lama mereka sampai di dalam hutan, Jihan ceritakan kisahnya dikejar macan. Billi Elisa kemudian minta diantar ke pantai, Jihan pun menuntun mereka ke tujuan. Di pantai itu Jihan ceritakan apa-apa yang pernah dialaminya sepanjang hari survive.
"Terimakasih sudah mengantar kami sampai ke pantai ini. Selesai sudah perjalanan menembus belantara. Dokumentasi ini akan disimpan untuk laporan pekerjaan."
Siang ini pun Jihan mengantar mereka kembali ke barak, ke parkiran heli. Acara jalan-jalan itu memuaskan mereka bertiga karena katanya belum ada yang menjamah hutan tersebut selain Jihan, mereka senang menjadi orang yang berikutnya.
"Oh begitu. Yaa gak seangker yang disangka khan tempatnya..? Jadi kalo Tiger muncul lagi, saya akan usahakan mengabadikannya. Kalo gak muncul, saya gak akan berbuat yang gak-gak kok. Yang bikin kepo itu kameranya ya khan? Sekali lagi saya katakan, para robot itu emang bisa ngilang. Saya akan usahain penampakan yang satu ini karena saya memang pernah liat nyonya Rey."
"Baiklah. Sekarang kami harus pergi. Sungguh menyenangkan sekali bisa bertemu dengan nona Gizi yang ramah dan santai ini."
"Oh iya. Sama-sama ya, Mbak. Terimakasih juga buat kunjungan Anda semua."
Helikopter yang sudah dinyalakan Asep, segera dinaiki Billi Elisa. Kendaraan pun meninggi membawa penumpangnya. Jihan melambaikan tangan untuk mereka yang sudah mau datang ke lokasi.
"Hhh.. keren juga ditamu perwakilan brand."
Maka hari ini Jihan sendirian lagi. Namun sekarang sudah tidak sesepi bulan-bulan kemarin saat dirinya masih jadi anak rimba, Jihan sekarang sudah bisa online, maen HP.
"Gini nasipnya kalo dah bisa nyari makan sendiri pake kangen, rejeki nyangkut dengan dadakannya. Kangen malah nambah."
Jihan duduk melamun kata, memikirkan seseorang. Siapa lagi jika bukan Marcel, yang ternyata punya duplikat dengan status sebagai orang penting dan berpengaruh. Dia bernama Erika.
Sedangkan paradok Jihan yang semisal Hoax dan Nia, tidak jelas hadir ke dunia ini demi apa.
".. gue rasa, rata-rata paradok gue abstrak semua kehadirannya. Hhh.. Kamu mah gak, Beb. Gak ada jahatnya. Jadi tokoh antagonis pun malah tobat, eling dari numpahin darah."
Sebulan kemudian di lahan parkir, Jihan mulai membuat pagar untuk halaman tempat tinggal, tenda itu sudah dibatasi areanya.
Jihan mengisi hari dengan bertani biji buah-buahan yang dimakannya. Perkakas seperti cangkul tidak disediakan Rey, tapi Jihan tak habis pikir, segera membuatnya dari batu.
Biji-biji itu Jihan sirami dengan air sungai. Walau sesekali pakai air galon.
Tiap malam, Jihan meronda mencari Tiger legenda. Sang creature belum terlihat sejak hari laparnya itu.
"Ke mana ya si Belang..?"
Kriik.. kriik..
Larut malam, Jihan putuskan menunggu di bawah pohon tersebut. Dia berjaket dan membuat bonfire untuk menghangati tempat. Sambil menunggu, Jihan melihat-lihat galeri hape, dia berhasil selfi dengan background robot pengantar galon, dan file itu sudah Jihan kirim ke Erika corp. Lalu acaranya melihat-lihat album, dua jam kemudian, dia gabut karena satwa yang ditunggunya tak juga menyuarakan kehadiran alias absen.
"Emang misterius lo ini, Lang. Gue balik deh ke kemah kalo emang lo gak punya inspirasi lagi buat muncul."
Minggu berikutnya Jihan ditelepon pihak brand. Dia ditanyai kesediaannya memerankan seorang tokoh wanita, Jihan bingung karena tiba-tiba brand Erika menawarkan syuting film fantasi.
Jihan diberi script lewat aplikasi khusus milik korporasi di mana aplikasi itu memuat semua dialog dan cuplikan. Naskah tersebut Jihan pelajari setiap hari karena berkaitan dengan Internal.
"Aneh banget.. kok miripan sama idup gue yang kini sebatang kara. Nama tokoh, latar, sinopsis.. siapa bapak penyusun naskah ini sebenarnya? Gaya kalimatnya mirip cara ngomong dia (Jhid)."
Setelah dua minggu, hari itu ada beberapa orang kru film yang sudah duluan datang dari rombongannya. Terutama om Bambang dan Billi Elisa yang memang heli mania.
Mereka tidak ragu dengan kemampuan akting Jihan. Dari update video yang Rey unggah di suatu tempat, Jihan direkam saat sedang berlatih dialog, sampai aksi tidurnya yang nyeleneh itu dipraktekkan.
__ADS_1
Hari ini rombongan kru film sudah hadir semua bersama truk sembako dan peralatan. Semua angkutan barang ada sepuluh unit kontener, dua unit truk menggangkut genset. Jihan terpana dengan brand yang bukan sembarang brand ini.
"Hhh.. keren. Udah kaya perusahaannya Tony Stark gini."
Dua hari mereka membangun kemah. Tanah pinggiran hutan mendadak jadi perum, jadi seperti kemah proyek penelitian UFO dari LAPAN.
Empat minggu sejak ditelepon pihak brand, hari ini Jihan mulai syuting. Dia didandan jadi mahasiswa kampus. Lokasi pengambilan gambar dilakukan di studio buatan, rumah rakitan.
Scene yang telah diproses tim:
Jihan duduk tertidur di ruang kelas. Dia tersentak, terbangun oleh sebuah sengatan di tangannya. Tapi ternyata dia sedang disentuh seseorang yang mana temannya itu ikutan terkejut.
"Astaghfirullah! Han.." ucap Diandra yang diperankan oleh gadis pengganti, kaget mendapati Jihan bangun.
Saking tegangnya, Diandra terengah-engah. "Hhh.. hhh.. hhh.. Kaget njir. Haduh... hhhh, astaghfirullah.."
Mereka kemudian berbincang soal mimpi. Setelah sholat Ashar, Jihan dan Dian pulang meninggalkan kampus. Di tengah jalan, keduanya dicegat dua anak SMP, kemudian datang satu siswi SMA.
Skip. Jihan syuting dengan seorang gadis yang memerankan ratu jins, mereka duduk berdialog di sebuah taman.
".. Bagaimana kita bisa berinteraksi di dalamnya (onmind), sebelum semua blueprint dikemas xmatter?" tanya ratu jins.
"Nyimak. Hhh-hhh..!" kata Jihan dengan pundak bergetaran.
"Garis lingkaran adalah cahaya dari bola. Semua kepala sepertimu sekarang, di-satelit oleh Snail yang ditenagai Indri.
Empat indera kamu (itu) tadinya masih di dalam inti server; Labirin SosCam. Sementara pengrabaan, pikiran, dan will kamu berada di luar Labirin, di tempat yang kamu sebut Bumi Ultimate.
Berhubung Indri masih di dalam inti, dialah backing peningmu ketika Diandra menyetrum.
Saking cepatnya Indri, kita tidak dapat merasakannya, Jihan. Juga ada milyaran Reinit di server, aktor dari virtualisasi sosial, sehingga kamu masih menghuni basetime dengan status bayangan tersebut. Masih bisa bekerja, masih bolak-balik di restoran, masih dapat kuliah, membaca-baca catatan pacar, dan tidur. Bahkan mungkin kondisi mental kamu itu murni frustasi, alami depresi, psikis seorang manusia.
Tapi tetap indera kamu yang terpisah harus dipadu kembali, tidak terbagi seperti demikian. Lambat laun pemiliknya akan pening luar biasa atas indera ketujuhnya (itu), tiketmu.
Ketika masa perannya dianggap habis, Reinit ditendang sistem, sudah waktunya keluar dari ruang indentitas. Hari itulah kamu mimpi disetrum dosen, terbangun di Bumi kosong, saat itu juga Gizi-ku hilang di Ladang ini, Jihan.."
Sebulan syuting, Jihan makin kuat ingatannya pada kejadian yang pernah dialami. Hanya saja yang membuatnya penasaran adalah offmind-nya ini, karena 'kompas' yang dia pakai untuk me-render mimpi tak menghadirkan bintik sinar, tidak ada peran untuk Gizi.
Srekh! Srekh..!
"Napa gak ada tokoh yang gantiin Gizi di sini. Jangan-jangan udah konek ke area Lima."
Sore ini Jihan keluar dari tenda. Dia mencari seseorang di antaranya hilir mudik para pekerja. Matanya tertuju ke tenda administrasi di mana ada beberapa remaja dan yang lainnya yang antri mengambil upah untuk figuran. Jihan segera bergerak ke sana.
"Mbak Nia.."
"Ehh, iya. Ih ngangetin," kata perempuan ini, wajahnya agak mirip Jihan.
"Gimana? Udah ngomong belum?"
"Udah. Saya juga udah kirim video demo ke rekrutmen. Katanya tunggu aja. Minggu depan diumumkan di website."
__ADS_1
"Mbak harus lolos pokoknya. Kalo gak, saya bakal lembur lagi, gak ada stunman."
"Amin. Tapi ngomong-ngomong, bukan cuma saya saja yang mirip. Bantuin dong biar bisa keterima jadi stunman. Saya pengen dapet kerjaan."
"Jadi banyak yang daftar ya?"
"Iya, mbak. Banyak banget."
"Pasti kurang deh kayaknya."
"Ah masa sih? Khan perannya buat bayangan, tokoh yang gue lamar ini punya wawasan luas. Saya cuma tamatan sekolah esde."
"Slow. Pokoknya kurang orang. Jujur, nih film panjangnya kayak jalan bawah laut. Gue masih syuting di skin yang masih sedikit jumlah tokohnya."
Seorang gadis menyenggol tubuh Jihan karena di situ agak ramai tendanya dengan orang yang masih menunggu jatah figuran.
"Oh maaf, Mbak."
"..?!!"
"Kabar baik kalo gitu. Makasih ya. Saya ada di barak ujung kalo Mbak ada perlu."
"Iya. Tetep semangat ya. Yuk akh."
Jihan pamit, dia pergi dari tenda penampungan yang bejibun oleh calon figuran. Langkahnya mengikuti gadis yang tadi nabrak.
"Napa kamu di sini, Beb.. Sejak kapan."
"Ck.. di mana sih pak Bambang ini. Muter-muter di suruh ke sini, ke situ, gak ada yang mau ngakuin namanya."
"Hai. Kamu kayak lagi bingung. Ada apa ya?"
"..??!"
"Iya. Boleh tau nama kamu gak?"
"Ehh.. Mmm, gue Mer.. Mercy, Mbak."
"Oh. Mercy.. Lagi apa di sini? Boleh aku bantu?"
"Mmm.. Gue.. gue lagi nyari si Bambang. Di mana sih nih orang?"
"Oh. Nyari pak Bambang. Ayo. Tendanya ada di sana. Yuk?"
"Ehh.. tunggu. Lo.. Erika?"
"Umm. I-iya. Terserah sih. Nama saya.. Yaa, boleh kok dipanggil gitu juga. Yuk?" ajak Jihan sambil menatap lawan bicara, menyelipkan rambutnya ke telinga.
"Hahaa.. Ya udah. Anter gue ketemu pak Bambang."
-
__ADS_1
-