Jihan

Jihan
chapter up 86


__ADS_3

Arah barat tersebut berakhir sebuah perkampungan, sudah ada satu rumah mereka dapati di tengah perjalanan. Sorrow yang menunggu di rumah kosong itu segera bergabung dengan Jihan dan Marcel. Mereka harus lanjut menembus tengah kampung untuk ke Bukit seberang.


"Kosong? Maksud lo, gak ada orang, Seed?" tanya Jihan, diam di sebelah Marcel membiarkan lelaki yang ditanyainya pergi duluan.


Jihan bisa tahu si bapak tua yang cuek adalah Sorrow dari cara jalan dan gaya interaksi si robot. Gerak lehernya barusan unik, mirip orang kena asam urat, gideg. Jihan langsung kenal, Sorrow memang suka caper dulu saat mau berinteraksi dengannya.


"Ada perabotan di dalem, tapi udah ditinggal pergi kayaknya. Pintu rumah digembok," lapor Sorrow di perjalanannya.


Gaya bicara si orangtua santai ala anak muda. Memang terdengar wajar, tapi leher Sorrow masih aneh hingga kepalanya gideg kembali. Dia bahkan tak peduli Jihan dan Marcel saling pandang atas kelakuannya.


"Nyentuh apaan sih sampe leher dia kaku gitu, Sel?" tanya Jihan mengomentari aksi robotnya.


"Bagusan gitu ketimbang gabut."


Orang yang dibahas, langkahnya makin jauh, makin kumat.


"Beneran dia aman dari paparan radiasi?" tanya Jihan, mengingat abad 26 ini masih banyak warga lokal yang hidup dengan mutasi selnya.


"Dia di-RPM koslet. Kena granat pun bakal terus begitu, Han."


Jihan mengendak ransel lalu mengajak Marcel lanjut jalan. Marcel mengikuti, mereka mulai bergerak lagi menapaki batuan tanah. Hari sudah menghangatkan bumi, jam sepuluh pagi.


Jalan batuan masih panjang menurun. Dari sini ketiganya bisa melihat perumahan alias kampung warga. Namun jalanan sepi dari aktivitas, mereka belum juga bertemu dengan orang setempat. Padahal ada sehampar sawah yang telah kuning di perjalanan satu jam ini, tapi belum ada seorang pun terlihat.


Akhirnya mereka sampai di tempat yang sudah banyak rumah. Jihan menyapu-nyapu sekelilingnya, rumah-rumah di sini semuanya tertutup. Sepi dan banyak jendela disegel kayu, beberapa rumah sudah roboh, dibiarkan terbengkalai. Kampung ini mirip tempat kerusuhan, mungkin suasananya mirip pasca perang antar suku.


"Pada ke mana ya?"


"Assalamualaikum!" ucap Marcel sambil mengetuk pintu rumah terkunjung, bangunan yang paling gede dari rumah yang lainnya.


"Gue bilang kosong," kata si lelaki tua.


"Assalamualaikum..!!"


Marcel mengeraskan suaranya, kemudian..


Dugh! Dugh! Dugh!


Si petapa mengetuk pintu dengan barbar, digedor keras. Tapi tak ada sahutan seperti yang Sorrow katakan. Bangunan yang terkunci itu rumah hantu.


"Slow aja Sel. Pintunya roboh ntar."


Dugh! Dugh! Dugh!


"Woy, ja dong! Da pa di ni?"


- Woi, jawab dong! Ada apa di sini?


"Lo ngomong apaan sih? Malah gak jelas," komen Jihan, tapi sia-sia, Marcel terus nyerocos.


"Ke ma wa rang? Ka tang tuk ban," kata Marcel lagi dengan bahasa alien-nya. "Pa da yang nal Gamma di si?"


- Ke mana semua orang? Kami datang untuk membantu.


- Apa ada yang mengenal Gamma di sini?


Jihan mengusap dahinya, terik mulai menyengat. Dia kembali kacak pinggang ikut menunggu jawaban orang rumah. Marcel yang pegang senjata kembali mengedor-gedor rumah kosong itu.


Tanpa sengaja, Jihan melihat Sorrow sudah berada agak jauh dari mereka. Jihan mengerutkan kening ketika si lelaki tua mengendus-endus tanah. Jihan segera memberitahu Marcel.


"Sel, dia ngapain di sono? Kayak nemu sesuatu."


"As.."


Saat hendak mengetuk, Marcel menggantungkan kata. Dirinya melihat Jihan pergi. Dia mendengar, tapi tak Jihan sudah berlalu dari situ.


Di tempatnya berdiri, Marcel dapat melihat Sorrow, dia melamun. Tak lama kemudian Marcel segera turun dari rumah panggung, berlari menyusul Jihan.


"Nemu apaan sih?" tanya Marcel setelah kedua kalinya melihat Sorrow masih mengendus tanah.


"Gak tau.." jawab Jihan tetap melangkah.


Tak lama keduanya sampai, si orangtua sedang jongkok melihat-lihat sekitar. Di tanah tampak ada cairan kental yang masih segar menggenang, encer dan hijau. Jihan dan Marcel turut menyapu pandang ke rumah-rumah, di sekeliling mereka semua bangunan bisu.


"Lo dapet apaan, Seed?" sidik Jihan, karena lokasi masih hening tak terdengar gerak jatuh, patah, pecah, atau apapun.


"Darah."


Jihan lanjut bertanya, sementara Marcel membidikkan senjata ke rumah yang digedor-gedornya tadi.


"Diem di sini," pinta Marcel sambil pergi.


"Eh, lo mau ke mana? Nih darah apaan?"


Marcel sudah beraksi ala petugas SWAT, kaki bergerak tapi mata fokus membidik pintu rumah. Dia cepat larinya namun tak tersandung. Padahal beban di punggungnya cukup berat, tapi dia terus mengintip target lewat scope bedil.


"Seed, lo bilang gak ada siapa-siapa di situ. Napa dia ngotot, mau nembak gitu coba?"


"Gue bener kok. Tuh rumah emang kosong, gak ada orang."


Brua..akkh...!


Dari jauh sini, Jihan lihat Marcel langsung menendang pintu saat sampai tujuan. Jihan diam menonton dengan wajah cemas dan khawatir. Sorrow ikut berdiri, ikut melihat dan memperhatikan kerja si prajurit.


Jihan masih diam saat robotnya melangkah maju, membiarkannya menonton lebih depan.


Di situ Sorrow seperti orang yang sedang menyadari sesuatu.

__ADS_1


Jihan rada bingung pada si orang tua. Saat ditanya, Sorrow agak membungkuk memfokuskan matanya yang sudah rabun. Jihan ulang pertanyaan padanya, mulut lelaki itu malah ternganga dalam diam.


"Heh, ada apa sih, iih? Jawab gue Oneng."


Hingga Sorrow mengangkat tangan kirinya, minta Jihan diam, rumah yang mereka resahkan tetap membisu. Jihan bertambah cemas karena Marcel masih di sana sendirian, belum juga nampak tanda-tandanya.


"Seed! Lo budeg apa?" cemas Jihan. "Ada apaan sih, cepet jawab iih.."


"Ck! Lihat sendiri.." kata orang tua segera menghadap lalu dirinya mengencer dan susut jadi kecil.


Byrrethh... byrrethh..


Sang robot segera melesat ke tangan Jihan. Lingkaran yang bertengger di kepala Jihan segera meredup, tiga detik kemudian lenyap bersamaan dengan hilangnya gelang "aneh" di tangan kiri Jihan.


Bruuaghh!!


Rumah yang diresahkan jebol, Marcel tiba-tiba terlempar ke luar menghamburkan bata-bata dinding hingga ransel dan bedilnya terlepas.


"Astaghfirullah! Marcel..!!"


Jihan berlari setelah melepaskan ranselnya.


Bregh!!


Tubuh Marcel menghantam tanah, dia meringis perih memegang sisi badannya. Tapi kemudian saat terjatuh begitu..


Trrrtthh!!


Marcel sembunyikan penampakan pedangnya. Jihan terkejut melihatnya. Marcel yang sedang kesakitan langsung mengibas udara.


Swuutth!!


Gucraat!!


Se-pancar air hijau terciprat di udara, di atas tubuh Marcel. Cairan yang tumpah dari "wadah" itu berhasil tersayat, sekaligus disobek lapisan stealth-nya.


'Wadah' yang terbelah dua itu jatuh bergerak-gerak.


"Nruuakk... nruuaak.. Kkuakrhh!! Nruuaak..!"


Terpisah dari dua kakinya yang bercakar besar, manusia Elang mengeak-ngeak sekarat. Mahluk ini pakai rompi canggih tapi sudah rusak memercikkan listrik. Akhirnya perisai makan tuan, si burung diam tak bergerak lagi akibat setrum di baju listriknya.


"Nruu.. uakhh.."


Jihan baru datang setelah si penyerang mati. Dia membantu Marcel berdiri sebab pundak kiri si teman berdarah, masih mengucur. Sementara tanah di situ sudah becek oleh darah manusia Gagak.


"Hhh, hhh.. Liat atas.. Hhh, hhh.." pinta Marcel saat dituntun berdiri.


"Lo gak apa-apa?"


Jihan ikut tengadah, memposisikan diri dekat Marcel. Objek yang didapati dengan mata violet-nya sedang menunggu di genteng-genteng rumah.


"Njir.. Napa gak bilang kita dikepung?"


"Gunain bedil.. hhh.. hhh.. Tele elo.. buat pamungkas.. Hhh, hhh.."


Jihan segera mengarahkan tangan pada barang yang dimaksud. Di sana, bedil Marcel masih tergeletak dekat halaman rumah panggung. Bagai ditarik magnet, Arc langsung bergerak dan melesat.


Syuu.. uut!


Gtukkh!


"Aakkh!!"


Jihan yang agak bungkuk bertelekinetis, kejeduk bedil. Saking kuatnya menarik Arc, kepalanya langsung ketabrak. Jihan memijat-mijat kening.


"Anjrit! Hiks! Takiit.."


"Seraaang!"


Trang! Tring..!


Tang! Taang!


Trii.. iing! Taang! Tang!


Salah seekor Gagak yang sedang santai menghampiri mereka, kaget dirinya dapat dilihat, tapi dia segera sigap menangkis saat Marcel datang.


Si pejalan santai itu berbeda dengan Gagak lainnya. Selain berjirah tebal, dia memiliki dua tangan yang berjari, sebagaimana manusia normal, dan juga aksinya persis jawara tombak. Tapi..


Tring! Tang! Tring..!


Tang-tang!


Begh!


Gebrugh..!!


"Denger Birdy. Gue tau kalian lagi apa di sini. Nyolong khan?"


"Gruuakh!"


Sang Gagak segera berdiri usai jatuh ditendang.


Trang..! Teng! Tring..!


Tang-tang..!

__ADS_1


Sementara itu Jihan yang sedang mengambil Arc berpas-pasan dengan datangnya bulu-bulu tajam. Dia langsung sadar lawannya mencuri start, kuping Jihan tajam mendengar suara benda yang menancap di situ.


Jihan segera berguling begitu dirinya ditembak lagi.


Swing-swing!


Gclaaph!! Gclaaph!


Setelah body scroll, Jihan bangkit lari sebab dirinya masih ditembaki panah pendek berbulu. Dia berhasil sembunyi tapi batal mengintip saat tembok tersebut ditancapi peluru.


Gclaaph!!


"Njir.. Kurang ajar."


Di saat bingung kena rentet gitu, Jihan tetap diam menempeli tembok. Dia juga langsung mengamati Arc. Dia sedang membawa bayi, tapi segera sadar, dirinya hanya menyelamatkan bedil. Layar mini di situ menampilkan teks; Birdy.


"Udah bagus Arc. Napa diganti?"


Dziing!!


Dziing..!


Jihan nongol dari persembunyian dan balas menembak dengan cukup berani.


Gclaaph!!


Tembakan balasan datang, menancap di tanah karena Jihan sudah ngumpet lagi.


"Tuh tangan apa kipas?" tanya Jihan yang ternyata nembak untuk melihat lawannya.


Dziing!!


Dhuaargh..!


Jihan menembak lagi dan kena sasaran. Tapi dia langsung sembunyi karena bunyi ledakan tadi cukup menjawab pertanyaannya.


"Tuh kipas.. Tangki yang pas."


Swigh!


Clephh..!


"Arrggghh!!"


Satu panah menancap di bahu Jihan. Bulu tersebut segera Jihan cabut. Saat dilihat ternyata bentuknya pipih mirip gagang sendok buntung.


Jihan menengok ke rumah seberang. Dia mendapati seekor birdy masih membuka ketiak.


Si Gagak lalu menurunkan sayapnya.


"Ngrruuaakh..! Nruak!"


"Maksudnya..?"


Jihan mengerjapkan mata beberapa kali, geleng-geleng singkat menyingkirkan gangguan karena mahluk berwajah Gagak itu tampak buram.


Hyuung..


Gebrugh..!!


Badan Jihan ternyata lemas. Tiba-tiba dia condong, langsung jatuh terkulai. Pandangannya gelap, Jihan pingsan di situ.


Entah benda yang menusuk Jihan mengandung racun atau bius. Barang sudah terlumur darah Jihan saat dilihat. Tidak ada warna lainnya selain merah segar.


"Han..??"


Samar-samar gelap yang ada mulai benderang menampakkan seraut wajah. Bagus jika panah tadi memang zat bius, karena korban hanya teler sementara. Mata Jihan masih lemah terbuka.


"Han? Lo gak apa-apa?"


Perlahan Jihan membuka matanya. Pipi mulusnya itu baru saja ditepuk-tepuk. Jihan tak juga menjawab, padahal itu suara yang dikenalnya.


"Yaa!!"


Jihan langsung kaget begitu siuman. Wajah yang dia lihat berlumur kentalan hijau. Rambut Marcel pun penuh dengan serpihan benda kecil dan bulu-bulu, sudah bermandikan anyir darah.


"Hhh, hhh.. astaghfirullah.. hal'adzim.."


"Han, kita harus terus cari tau. Tapi kita dah aman. Hhh.." kata Marcel sambil menepuk-nepuk jaket.


Jihan duduk menatap Marcel tanpa kedip. Si teman tampak belepotan bagai liar yang diultahin orang-orang iseng. Jihan diam saja saat Marcel mengecup keningnya.


"Lo gak apa-apa?" tanya Marcel diam menunggu tanggapan soal aksi dadakan- nya.


"Lagi Beb.."


Marcel menyeka bibir. Dia susut dengan lengan bajunya. Sekali, dua kali, dia bersihkan juga dengan tangannya tanpa peduli tatapan Jihan. Marcel tetap menekuk dua lutut di situ sambil terus sibuk.


Jihan yang sedang naik-turun nafas, bergerak pelan tanpa sepengetahuan. Dia langsung maju ******* bibir yang ada.


"Umhh.!!"


Marcel turut memegang kepala, membalas ciuman Jihan lebih dalam. Jihan yang sedang mengulumnya lalu agak maju. Keduanya beradu bibir dan saling ***** dibarengi suara mereka.


-


-

__ADS_1


__ADS_2