
"Bener nih sarang mereka paling kiri. Lagi dibangun. Anak-anak sampe ikut kerja gini. Hmm.. Tapi siapa nih?"
Marcel menceritakan apa yang dilihatnya lewat teropong. Dia sedang tengkurap di sebelah batu agak besar, mengintip lembah bersama Gamma. Sementara Jihan tengah santai bersandar, sedang di depan layar transparan, menonton tangkapan teropong.
Jihan membuka mulutnya kemudian robot Gamma menyuapkan sereal padanya, ikut menonton. Jihan dapat penghargaan atas keselamatan sang robot, dapat perlakuan khusus.
Sore ini, Rute Camar menempatkan mereka di sebuah lokasi yang banyak batu besar, dari batu yang seukuran tabung gas sampai ukuran rumah ada di sini. Mereka sampai di tujuan perjalanannya, di tempat paling tepat untuk memantau markas para preman dan birdy.
"Ini semua orang yang mereka culik, Sel. Warga kampung Bekasi, orang Cikampek juga ada di sini. Trus, Jakarta.. ada nih," kata Gamma yang memang telah hidup lama di nomand abad 26, dia tampak mengenal banyak kampung dan orang-orangnya. "Di mana mereka, gue gak lihat, Sel."
"Lo salah lensa," pandang Marcel, mengoreksi. "Liatnya kebalik, Gam. Sini biar gue aja."
"Siang malem kayaknya, kerja mereka Sel."
"Bukannya lo baru ke sini?"
"Maksud gue bukan cuma peta yang Camar bikin. Dia ngerekam juga. Gue liat lima taun kemaren kawasan kiri ini masih lembah kosong. Gue dapet infonya dari arsip dia."
"Heran gue."
"Heran kenapa?"
Marcel tak segera menjawab. Dia merayap mundur agar aman dari sensor CCTV 'pagar' yang dioperasikan mirip mercusuar. Gamma mengikutinya mundur supaya tetap terkamuflase sebagai batu.
"Nih Gam liat sendiri."
Jihan biarkan Marcel membawa layar tontonannya. Dia masih anteng disuapi, dan tidak ada yang protes pada kegiatannya tersebut. Jihan juga memperhatikan Marcel dengan sok imut, serius menyimak sambil menilai bibir si teman.
"Umm.. Tipis, ranum ranum baiknya diapain ya.." bingung Jihan dalam hati menatap bibir Marcel. "Hhh.. Godain aja."
Sementara Gamma pura-pura serius berkomentar. "Sejak kapan lo rekam si Gaza ini, Sel? Udah lama dia di sana?"
"Gue rasa Camar peduli sama elo, bela-belain nyatet peta, ngikutin, nyari Gaza sampe ke lokasi rawan ini. Dia keluyuran pas hamil gitu, ya ini maksud dia. Gak lain nyari Gaza, Gam."
Di layar tersebut, durasinya sudah 'dikurung', difokuskan, tampak satu pekerja menatap ke kamera, lensa teropong Marcel. Wajahnya persis Gamma, dan Gaza tahu dia sedang diintip. Gaza berakting, melihat sesuatu hingga perhatian kameramennya teralih menyoroti menara suar. Kamera tak melihat objek aneh di bangunan tinggi yang dipertanyakan Gaza. Saat Gaza disorot lagi, di sana hanya ada alat gali, kursi kosong, operatornya sudah perginya. Video kembali ke detik yang dipertanyakan Marcel; hmm.. tapi siapa nih?
Gamma masih tetap menonton rekaman. Marcel yang menunggu tanggapan, tak sengaja melihat Jihan sudah menopang kepala.
Marcel bersemu merah saat Jihan senyumi. Dia rebut monitor dari tangan Gamma. Marcel lanjutkan diskusinya dengan Gamma.
"Bentar lagi gelap, Gam. Kita selesain kerjaan bini lo ini. Kita susun gerakan buat besok pagi. Gue bikin skema dulu."
Gamma beranjak bangkit. Pas begitu, ada banyak laser menyoroti lokasi. Gamma cepat-cepat jongkok sambil jalan.
"Sialan.. gue lupa lagi disensor."
__ADS_1
Tak lama setelah Gamma pergi, semenit kemudian, lokasi diterangi lampu suar menara menggantikan visual drone yang lanjut patroli menelusuri pagar kawasan.
Malam ini sudah ada dua tenda kubah bertempat cukup jauh dari titik pengintaian, lokasi mereka sore tadi. CCTV (drone) datang ke batu besar itu dan untungnya sudah sepi, tak ada yang perlu dicermati lagi. Entah mereka menundanya ataukah memang tak bisa menjangkau jarak yang lebih jauh.
Berdasarkan jejak, ada beberapa "bangkai" drone yang gosong, ada juga yang sudah berkeping-keping, mereka mengira lokasi masih dihuni para Terminator.
"Jadi lo pernah ke nih nomand bareng Lintang?"
"Ray nangkep frekuensi blooming (bola antiparadok). Makanya tiap datang ke satu nomand, gue keduluan sama driver lo. Arahnya maju padahal, gue nyari sampe abad 40. Tapi ya gitu, Gizi dah pergi lagi, cuma nyisain medan yang udah berantakan."
Di dalam tenda, Jihan bersila membiarkan Marcel rebahan manteng layar. Dia menyisir-nyisir rambut si petapa sambil menyimak cerita. Jihan sendiri yang menginginkan.
"Napa gak nyari ke salon, Sel? Sebagai paradok tersisa, gue gratisin deh. Sekalian salonnya jadi mahar nikah kita, buat lo."
"Dari nomand terujung tuh gue kembali ke sini nyetujuin usulan Lintang. Tiba di desa gue nemuin Camar. Abis itu gue ajarin Nature cara manggil Ray, soalnya Camar dah nulusin, toh para bandit juga dikepalai bocah."
Chup! Jihan turunkan kepalanya sampai bunyi kecupnya terdengar di kening Marcel.
"Nature sebatas fighting skill, gak gue ajarin nyeberang antar nomand. Bingungnya di situ. Soalnya Gizi dibawa ma siapa.. Ya kalo iya, ekplorasi-nya si Epsi, lo harusnya kebawa jalan-jalan juga."
"Sumpah Sel, by one gue paling jauh di Green Flat. Tarang (kening) lo lembut gini sih ya?"
"Gini aja kalo lo masih bingung. Prekuel sama Sekuel lo khan punya plotnya sendiri tuh. Termasuk bratle lusid bersangkutan, diri lo.
Titik awal Gizi ber-ekplorasi, ngejar Hoax, di Endfield. Dia nge-blooming paradok. Gizi nginang sekuel lo.
Makanya gue heran. Lo kok masih di Endfield. Tuh bratle milik elo sendiri, bukan bratle paradok seperti yang dianalisa dan diprediksi Lintang.
Tubuh Gizi yang labil kebeban sama Citruz, itu juga meleset. Yang kejadian justru Nia kuat gara-gara ramuan Citruz versi gue. Dia betah di Endfield nungguin anak lo, si Nature.
Gue awal-awal ngejar Hoax, tadinya tuh niat ngingetin Gizi soal alarm valdisk. Tuh bunyi milik aktivitas Gizi, yang kalo gue cuekin mungkin ke sananya Sorrow kena hyperload.
Valdisk bunyi semasa gue cekcok sama Heart. Gue abaikan. Mau lanjut ngabisin dia, Ray minta vitalitas, tubuh gue belum gitu prima narget jantung Heart. Kata dia sih, tuh organ blueprint murni, bukan hak Server. Ya udah gue cabut dari gua, ricek langsung ke Server.
Gue pikir Ray ngibul. Prita khan dah gak ada. Ray bilang, gue sendiri yang ngutus Prita. Liat dia, gue jadi lupa soal alarm valdisk.
Gue kepikiran terus siapa si Prita ini. Ray gak tau, Ririn gak tau. Healer mengira Prita tuh The Losted, soalnya tuh kabar dari Nautri yang emang astraler baru.
Pas nongol si Prita, langsung gue tanya-tanya ke dia. Ternyata dia sendiri lagi bingung, lagi kejebak di plot elo, Han. Dia ngaku, guelah yang nyuruh dia nyari elo di basetime. Juga ngaku kalo Nautri emang murid dia yang dulu. Hari itu orangnya lagi sama Deti, pengen belajar telkin.
Gue suruh Prita nyari Ghost, soalnya gue sendiri udah ngundang lo dateng ke Minion. Alesannya, Diandra belom tau siapa Ghost.
Sebelum Prita dateng tuh, tadinya di Minion gue lagi nitip cerita ke Dian. Ntar kalo Jihan dateng, Yan.. Lo tolongin gue ya, ceritain ke dia dari terakhir gue pergi sampai ketemu dia lagi di Server.
Baru deh Ririn datang sama Prita. Mereka kaget liat kondisi gue pas masuk barak. Ririn masih ngotot minta gue pulang dulu, tapi gue belum mau.
__ADS_1
Habis ketemu sama lo, sepulih dari kerusakan, gue onmind lagi trus ngajak Lintang ikut gue. Dia juga gak tau siapa The Losted dan Ghost.
Habis dari mabes BIN, gue balik ke Belanda minta pengawalan. Di sana Lintang yang nyeritain urusan kita soal paradok lo.
Di sana juga gue cerita soal McWell dan Heart. Suer lama banget bikin mereka paham. Mereka tau gue terlibat world war V, tapi soal Internal, soal Server pada belum ngeh.
Otomatis akhirnya valdisk juga ikut kebahas. Ya gue nyeritain Panti juga. Kasian, si Prita khan kejebak di plot elo.
Empat orang dapet tuh, dan mereka ikut gue nyari Gizi.
Lo masih inget khan topik kita di angkot tadi, sejak kapan Gizi beredar di ekplorasi Ray? Jawabannya ya di si Nature tadi.
Lo sendiri bilang, Gizi minta Nature menyudahi petualangan mereka memburu Hoax seberes nangkep Nand. Padahal habis dari sini gue ke Endfield lewat portal Lintang, Ray yang nyuruh.
Portal itulah yang Gizi gunakan buat nyeberang nomand, dia bawa Ray masuk ekplorasi yang emang radiusnya khodam. Begitu juga portalnya si Lintang; masa lalu gue, makanya portal inilah yang ngejar Gizi.
Ray emang udah biasa liat perulangan, plot lo kusut dan makin ngejelimet. Soalnya Gizi sehabis dari sini nerusin blooming-nya khan? Seabad, dua abad, mau berapa pun lamanya dia berburu, plot Hoax gak berubah, karena kita mulai lagi dari Endfield dengan urusannya masing-masing."
"Hhh-hhh..!!"
Marcel memposisikan kepalanya di pangkuan Jihan. Dia panteng lagi layar yang dia taruh di dada selama bercerita. Marcel masih membuka-buka arsip Camar, catatan di situ tinggal dia pakai untuk skema atau menyusun strategi.
"Soalnya buat gue, Prita juga muter-muter terus di Minion. Home dia belum ketahuan di Panti. Badannya tuh tidur di sel mana, kami termasuk Nautri gak tahu. Dah kayak nyari si Gaza ini, Han."
"Apalagi gue coba, yang baru ke Panti. Dia dikepo sama perakit Rainbow Silent. Ada hubungannya sama bahan baku samurai kata dia. Bisa jadi ntar, Ray yang nemu home cucu elo nih di Panti."
"Berarti titik awalnya tuh berangkat dari plot lo. Tapi baiknya kita urus Gaza dulu deh. Gaza-nya basetime sih kita tinggal ke Palestine aja."
"Nih tempat, bukan penghuni. Ummh!"
Jihan mengecup kening Marcel dengan gemas.
Penerangan di tenda bersumber dari tulang kain atau penyanggaan, di luar memang telah gelap.
Jihan menguap. Marcel bangkit duduk menuluskan permintaan, beralih ke bantal miliknya. Setelah Marcel lanjut rebahan baca-baca data, Jihan berbaring di sebelah menaikkan kaki ke paha si petapa.
"Gue tidur duluan ya, Sel," kata Jihan yang juga berbantal empuk, masih hangat bekas suhu Marcel.
"Iya. Jangan diturunin kakinya."
Astraler tidak seperti lusid, Marcel harusnya yang beristirahat.
Jihan segera tidur dengan wajah berseri, istirahat duluan. Marcel emang masih sibuk, tapi dia minta ditemani. Jihan senyum karena dia pun ingin terus barengan dengan Marcel, bahkan diperbolehkan memeluknya.
Sebelas - dua belas.
__ADS_1
-
-