
Jihan ingat Prita membawa sampel darah mutan, segera melesat tranparan meninggalkan gudang.
Wuutts!
Di luar, Jihan mendarat karena Prita kebingungan. Ada tujuh paradok sedang diam mengepung, salah satunya sedang menyorotkan hologram lewat mata kanan, menayangkan DNA-bercincin, mereka mirip Nebula-nya Thanos.
"Njir, diapain bodi gue, dah kayak Batle Angel gini?" tanya Jihan yang sudah berpunggungan dengan Prita. "Gue pikir cuma Ratu doang yang digital."
"Mereka minta gue nyerahin pipet. Nih T-x mutusin transmisi juga, Jim."
Di aspal tampak glove Prita berasap alias rusak.
"Gue bakal dibedah jadi nomer delapan. Beda cerita kalo dibebasin beraksi," tutur Jihan, menunggu perintah sekaligus diskusi.
"Jangan sembrono gunain magis. Liat si Head Ring Kuning. Dia terminator mantra. Penyihir!"
"Kalo gitu kontek om Arnold, Mbak."
"Kita emang genting. Tapi kepala mereka beda warna. Sesuai urusan. Komplit."
"Iya! Trus musti apa? Cepet!"
Jihan mulai darah tinggi dan kesal dibuat bingung. Sementara Prita lihat, hologram yang dipancarkan untuknya masih tampilan DNA blood. Mereka ingin sampel darah.
"Tes ability."
Dengan tangan bergetar, Prita merogoh saku celana. Segenggam pil diambilnya hingga beberapa butir berjatuhan.
Seperti yang pernah dikatakan Marcel dan Ririn, astraler punya kendala dengan xmatter atau bekal mereka saat terdesak. Tidak seperti Doremon yang asal comot, problem kelar.
Prita segera membanting semua "petasan" saking banyak "alamat" di genggamannya. Dia persis mencari sebutir beras yang agak putih di tangannya. XD
Sat! Sit! Set!
Benar saja, paradok ber-head ring kuning menahan pil-pil telesmoke yang Prita buang, mengendalikannya hingga semua petasan mengambang hanya dengan tiga gerakan tangan.
"Tinggal enam warna!" beritahu Prita.
"Napa gak nanya langsung ke mereka?!"
"Coba sendiri! Gue mikirin refuge! " balas Prita tak kalah tinggi bersuara.
"Jadi Rainbow Killer habis di sono?!"
"Tanya mereka!"
"Kalian dari mana pada kena darah gitu?! Jawab!"
Swiit!
Nebula Hijau menayangkan gedung yang telah rata lewat layar dari mata kanannya.
Swaatt!
Nebula Putih menayangkan wajah bapak Spesialis Gen, yang kemudian berganti jadi foto orang terbaring tanpa kepala.
Layar milik Nebula Hijau pun turut berganti menampilkan mayat-mayat yang bergelimpangan dekat runtuhan apartemen.
"Jim! Ji..miii!!"
Prita baru sadar dirinya sudah sendirian. Sambil pucat pasi, dia tengok kanan dan kiri, tidak ada jawaban dari teriakannya. "Jimi! Lo di manaaa..!!"
Nebula Biru mendongak ke atas, lalu menoleh ke kiri, sadar dari sesuatu yang tidak terdeteksi oleh enam partnernya.
Ketika diam, mengekorkan glow-pupil matanya, Nebula Biru bergerak. Dan sekali berjalan, angle satu ini sudah menyekap Prita, menghadapkannya ke objek yang disadari.
"Uggh..!" ringis Prita saat lehernya tercekat sesak. "Ighh!!"
Swiing!!
Belati mengkilat keluar dari tengkuk Head Ring Blue.
Ujung lancip benda langsung ditempelkan ke leher atau bawah dagu Prita begitu pisau diambil dan terpegang Head Ring Blue.
Ke enam Nebula bersiaga dalam pose kuda-kuda, sebab tempat masih sunyi, Head Ring Blue sudah sibuk, sampai harus menyandera Prita. Team harus membantunya dan ber-perimeter.
Zwiitt!!
Hologram orang mengangkat dua tangan, terpancar dari mata kanan Nebula Biru, meminta objek menyerah.
Twiit!
Hologram berganti jadi kepala Jihan yang sedang mengeleng-geleng.
Zwiitt!
Bayang grafik berubah lagi jadi orang yang bersebelahan dengan tanda tanya berkedip-kedip - entah apa artinya.
Twiit!! Bayang grafik berganti lagi jadi wajah Jihan yang sedang menjulurkan lidah.
Cetrakh! Drrtth - drrtth!!
Getrikh.. cetriikh..!!
Mata Nebula Biru mendadak koslet. Kepalanya bergerak-gerak kaku, lengan satunya yang dipegang Prita langsung dijadikan gagang banting.
__ADS_1
Sat-set! Syuung!
Gebrugh!!
Prita lari meninggalkan para nebula sambil merogoh saku
Dia tak mau lanjut bergulat.
Bwuush!! Asap mengepul di mana Prita segera lanjut berlari namun tersungkur jatuh menyandung seonggok mayat.
Bruugh!!
"Hhh, hhh, hhh!! Aargg.." engah Prita sambil bangkit lagi.
Bruugh..!!
Prita terjatuh lagi begitu bangun dan bergerak. Saking tergesa ingin kabur, kakinya malah tersandung. Akhirnya dia membiarkan diri telungkup, mengatur nafasnya yang memburu.
"Hhh... Hhhh... Ummg! Hhh.. Hhh.."
UNO. Itu yang terbaca di punggung Prita. Entah kenapa, orangnya masih diam tengkurap di antara mayat yang bergelimpangan, tidak nampak kembang-kempis nafasnya. Padahal, dia sudah berada di lokasi yang aman.
Matahari pagi menyinari punggung Prita, sudah menampakkan keadaan TKP dengan terang benderang. Lingkungan di situ persis dalam foto yang pernah Nebula Hijau tunjukkan, lokasinya penuh potongan badan dan tumpahan darah, serta beberapa bangunan yang telah roboh.
Prita menangkap suara gadis yang dikenalnya, dia segera gulingkan badan ke samping, menajamkan kupingnya.
Prita bangkit dari rebahnya, mendapati Jihan, sesuai yang diduganya.
"Hhh, dah gue pikir, bakal gini.." komen Prita sambil menyapu pandang ke sekelilingnya, abai dengan orang yang dihampirinya, membiarkan Jihan terisak.
"Hikk..! Hiik! Te.. tega.. ba.. banget.. hikk!"
"Napa laser di LHC belom muncul juga?" tatap Prita ke arah yang disebutkan sambil melindungi matanya dengan tangan.
"Hikk-hiks! Hikk..!"
Jihan masih memeluk empat Arc, di depannya teronggok badan tak berkaki yang dia kenali. Juga tubuh lain di sekitarnya, para jenazah memang sudah tak ada yang bergerak. Jihan tetap terduduk, seperti tak kuat lagi menanggung keterlambatannya ini.
"Nih juga yang sering gue liat.. selaen tampang lo, plus para psikopatnya."
"Hikk... hikk..! Udah! Ahah whaaa! Udaaah!!"
Jihan agak bungkuk mengeratkan dekapan. "Udaah!!"
Prita pun pergi, membawa matanya ke tempat objek yang baru dia lihat. "Diem dulu di sini.."
Jihan tak peduli Prita meninggalkannya. Dadanya kian sesak atas omongan si teman, teriakannya mendadak jadi isak. "Emgh! Hikk-hiks!! Hikk..!"
Rasanya memang sakit jika orang dekat tidak memberitahu. Tapi mau bagaimana, karena Prita sendiri sangat bingung dan terjebak di sini bersama wajah yang dibencinya.
Prita jongkok mengamati percik listrik di serat kabel, dibuat penasaran oleh sebatang lengan yang didatanginya. "Gue harus nyari perakit lo, Biadab. Biar kami gak toxic lagi."
"Udah keles, sakit dengernya Jim. Qinetik nunggu di sana. Sign udah dia pancarin," kata Prita sekembalinya pada Jihan, tangannya sudah memegang serongsok hasta bionik.
Jauh di belakang Prita, tampak garis tegak lurus terpancar menembus awan, arah tenggara.
"Hikk! Hikk.."
"...?" Prita diam menatap senapan yang dipeluk sahabatnya.
"Hikkh, hiks," senguk Jihan dengan ratapnya yang masih pilu.
"Ya udah. Gue ashar dulu.."
Di jarak yang sudah agak jauh dari posisi Jihan, Prita sekali lagi menatap di tempatnya berdiri. Jihan tampak putus asa di matanya, tak tega juga jika harus meninggalkan si teman.
Berhubungan unit psikopat sukses dilumpuhkan dara cengeng tersebut, Prita hapus ragunya. Kini ada urusan tersendiri baginya, menyimpan niat pada benda rakitan yang sudah ada di tangannya.
Prita merogoh saku PDL. Dia segera banting pil ninja-nya begitu didapat.
Set!
Bwuush!!
"Hikkh.. Hikk..."
Suara asap tidak menarik perhatian Jihan, dia masih ingin memeluk empat senapan. Model benda, persis Arc yang dibawa-bawa Marcel. Jika saja mereka selamat, Marcel akan punya pasukan orang Prancis. Akhirnya harus Jihan simpan sendiri impian mereka soal kecanggihan bedil.
Di tempat sign, lokasi suar, kondisinya sama berantakan. Sebangun gedung atau laboratorium tampak hancur setengahnya, yang mana cairan lab sudah tumpah mengasapi TKP. Sementara dekat bangunan, kapal S4 yang sedang terparkir di situ.
Bwuush!
Jihan dan Nautri muncul dalam gumpalan. Prita menoleh mendapati keduanya. Nik Nik yang sedang bicara, turut menoleh. "Dia kok bengong gitu sih, Mbak?"
"Temen lo nih pernah bilang, di plot laen, kalo dia nyolong tugas angle Izrail. Samaan sekarang, jadi auto dingin. Hhh.. Dia belom mau ngomong."
Nautri menuntun Jihan masuk ke kapal, Prita yang menyuruhnya, sang guru hanya memeriksa empat Arc yang dibawa si murid.
Sementara Nik Nik tak bisa berbuat apapun atas gabut terdalam temannya, dia hanya menatap botol kecil alias sampel darah yang lagi dibahasnya.
Di dalam kapal Jihan mendapati Qinetik sedang terduduk lemas berlumuran darah, paradoknya lebih galau.
"Maaf, a..aku yang beritahu Silent Sev.. Ji.. Jihan," beritahu Bandana sambil terus menutupi perutnya dengan kain.
"Dah," pinta Jihan, segera berisyarat dengan jari. "Shh.."
__ADS_1
"Dah, Qin. Usus lo, kejang ntar," ucap Prita sudah duduk nimbrung, dia juga menaruh Arc di dekat kaki, di situ pun ada lengan setengah robot.
Set!
Nik Nik mendadak muncul di kursi kokpit.
"Ini berarti, kita udah dapet lokasi soulator, udah deket tempat final kayaknya," kata Nik Nik sambil pasang helm.
"Gue harus siapin tamu-nya dulu. Gabut gini, rawan repeat. Gue gak mau ngulang," jawab Prita di kursi penumpang. "Kasian dibikin ngamuk terus."
"Mending sampel kita ukur langsung di Snail aja. Di wahana minim air, gak ada alkemis lagi. Semua tolong pegangan."
Swwrrth!!
Lapis anti-radar merambat di permukaan S4, melenyapkan kapal dari pandangan, sementara empat kakinya tengah menekuk, kemudian..
SET..!!
Sekali loncat, kapal tak kasat mata terbang gaya roket, lurus vertikal, hingga ketinggian awan. Nik Nik tampaknya hapal cara masuk Snail dengan kendaraan.
THAAANG!!
Sleereekh!! Lapis perisai mendadak tervisual bulat begitu ditancapi Spear. Awan di situ adem, tak terpengaruh, tetap diam mengabuti kejadian.
"Udah tinggal nunggu bunyi sampai. Gue belum sholat."
Jihan lihat Nik Nik kembali duduk selesai bicara pada penumpang. Segera dia seka pipinya dan mengikuti Nik Nik, duduk bersandar.
"Eh.. eh..!"
Brugh..
Punggung Jihan belum menyentuh sandaran, tubuhnya mendadak jatuh, terbaring di kasur gerbong.
"Hikk.." senguk Jihan, hirau dengan perpindahannya barusan, tak peduli PDL-nya berganti jadi piyama.
Jihan beranjak turun dari ranjang apung dengan malas. Dia gerakkan dua kakinya ke sudut gerbong, tempat besi stenlis terparkir.
"Hhh!"
Sesampainya, Jihan bersandar sambil pegangan pada Spear. Lantai, atap, dan dinding Escort mendadak terpisah, Jihan tetap melamun. Dia sedang dikurung balon putih yang menggasing.
Di atas atap rumah, Matahari sore menyinari Jihan, cukup silau jam ashar ini bagi matanya yang tampak mengantuk.
"Thanks, Spear.." ucap Jihan pada stenlis yang lama disandarinya.
Ngu..uung!
Spear segera menghilang di depan Jihan.
Jihan yang sudah berat mata, langsung close-mind, menutup timeline dengan cara memejam penglihatannya.
Drrtth!
Bagai disengat mesin jantung, badan Jihan tersentak di ranjang kamar. Anehnya, gadis ini masih lemas dan berguling malas. "Ya Allah.. ampuun.."
Jihan tampak mulai stress.
Beberapa menit berlalu, di kamarnya ini Jihan sedang duduk tahiyat di sajadah. Jam dinding dekat pintu menunjukkan pukul empat.
Setelah tengok kanan tengok kiri, Jihan mengangkat dua tangannya, berdoa.
Sebenarnya Jihan bisa onmind selama yang diinginkan. Escort seperti layanannya Ray, auto set alias free-time, tidak perlu ke pregister karena sudah ada pengatur skala waktu. Service ini ada setelah kejadian Lintang Paradok, di mana Bumi berputar permanen dengan laju persis gasing. Supaya tidak terjadi pemborosan xmatter lagi.
Tapi alam bawah sadar masih menguji penginderanya. Di sana justru lebih "bermain-main", banyak drama yang disengaja. Jihan bisa lebih nekat dari paradoknya jika sendirian, tak didampingi saksi yang bijak.
Xmatter ibarat bahan baku semua materi di antah berantah. Darinya segala atom ditetapkan. Dan tidak mandiri, ada energi atau lingkaran yang membuatnya eksis sebagai atom jadi-jadian. Dengan Snail sebagai "elektron", xmatter tidaklah hilang atau hangus.
Konon energi penggerak Snail bertenaga Dewan Indri. Sumber adalah jins tercepat. Dialah yang selalu dicemaskan para astraler dan lusid, karena Indri soulator itu sendiri, titik terang yang terus-menerus menyusut.
Mereka khawatir jika Indri nantinya padam alias lelah jadi energi di antah berantah.
Belum ada yang menceritakan, bagaimana asal usul kereta Snail. Kendaraan ini harus lepas dari ikatan sumber tenaganya, supaya Indri bisa bersosialisasi seperti jins lainnya. Tapi masih mustahil, dia belum mengetahui siapa jins pendahulunya.
Indri harus terus menghuni 'hard disk' atau bekas ingatan robot Im V Un.
Jika antah berantah dijelajahi, Jihan sendiri mengatakan touring-nya akan amat singkat, dia juga masih terikat dengan dunia nyata. Mungkin nanti, di minggu-minggu berikutnya dia akan lanjut ber-ekpedisi lebih jauh.
Karena sebenarnya antah berantah mirip labirin mimpi. Mati di kota A, bangun di kota B, hidup lagi sebagai orang baru di tempat tersebut. Bagaimana bisa pikiran membantu empunya keluar dari "perulangan" tersebut.
"Hani," panggil Bapak di bawah. "Bapak mau jenguk teman. Kamu sudah sholatnya?"
"Udah!"
"Teman Bapak kena demam berdarah. Bapak sekalian mau berangkat kerja dari sana!"
Di ruang tengah, Jihan cium tangan Bapak. Mukena baru dibukanya.
"Sudah. Kamu jangan berlarutan," kata Bapak, tahu kondisi Jihan karena memantau lewat rapot dan robot, dua alat tersebut masih tergeletak di meja.
"Gak tau, Pak.. Gabut jadi psikopat."
"Sudah. Bapak pergi dulu. Teman Bapak di rumah sakit."
Bapak sudah bersepatu dan pakai jaket segera melangkah keluar sambil memasang masker. "Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam.." bete Jihan di sofa. "Hhh! Mana gue setuju nih muka dijadiin pejagal. Pusing njir."
Jihan akhirnya hanya bisa duduk bersandar. Bingung siapa kini yang harus dia datangi di alam bawah sadar. "Hhh. Ckk! Pusing.. Cengeng salah, berani juga salah."